
Sudah lima hari berlalu semenjak kepergian Adam yang mengantar nenek dan pamannya ke Palestina, tapi sampai sekarang lelaki itu belum juga kunjung pulang.
Ashma juga sempat menghubungi Adam berkat bantuan bibi Marianee yang telah memberinya nomor handphone Adam. Ashma beberapa kali menelpon tapi ponsel lelaki itu tidak juga aktif.
Apakah Adam selalu seperti ini, tidak ada kabar dan menghilang begitu saja. Setidaknya sekarang dia harus sadar bahwa dia memiliki seorang istri dan Ashma sangat mencemaskan lelaki itu.
Bibi Marianne selalu menenangkan Ashma, dia juga bilang bahwa Adam memang selalu seperti ini. Bahkan kemungkinan yang buruk dia bisa tidak pulang hingga berminggu-minggu, Ashma sangat tercengang mendengar penuturan bibi Marianee itu.
Ditempat tidur Ashma sama sekali tidak bisa tertidur, dia beberapa kali berguling mengganti posisinya kesana-kemari karena pikirannya selalu dipenuhi kecemasan tentang Adam.
"Apakah aku sangat merindukannya?" Monolog Ashma, namun dia langsung menepis pemikiran nya itu.
Ashma berusaha menutup matanya lagi berharap dia akan segera tertidur, namun lagi-lagi ia harus terjaga karena mendengar seseorang membuka pintu kamar dan Ashma yakin bahwa itu adalah Adam mengingat lelaki itu memiliki kunci cadangan kamar mereka.
"Ashma..." Panggil Adam samar-samar.
Ashma bangkit dari tidurnya dia segera mendatangi Adam, lelaki itu nampak terlihat sangat letih terlihat dari wajahnya yang sangat lelah.
"Alhamdulillah Adam, kau sudah pulang." Adam mendapati Ashma yang terlihat khawatir kepadanya.
"Hm..." Adam hanya berdehem, dia terlalu sibuk memperhatikan wajah Ashma yang beberapa hari ini telah mengusik kepalanya.
Ashma langsung mencium telapak tangan Adam begitu khidmat, Adam tersenyum tipis dibalik wajahnya yang letih.
"Ashma... bolehkah kau menyiapkan air hangat untuk saya berendam." Ashma tentu mengangguk atas permintaan suaminya.
"Tunggu sebentar Adam, aku akan menyiapkan air hangat untukmu." Ashma segera bergegas untuk menyiapkan air hangat untuk Adam.
Adam menduduki dirinya diatas sofa, dia menghela napas panjang karena urusannya sudah selesai. Selain itu Adam tidak mengira wajah cemas Ashma membuat hatinya menjadi tenang.
Ashma telah selesai menyiapkan air hangat untuk Adam, didalam bathtub dia juga menambah aroma terapi untuk membuat tubuh Adam merasa lebih segar.
Ashma mendapati Adam yang sedang memijit keningnya. "Adam, air hangat nya sudah aku siapkan." Adam mengangguk lemah, terlihat sangat lelah. Dia bangkit dari sofa dan mengikuti Ashma ke kamar mandi. Ashma membantu Adam masuk ke dalam bak mandi, memastikan dia nyaman sebelum meninggalkannya untuk sejenak.
Sementara Adam berendam, Ashma duduk di tepi ranjang tidur. Dia merasa lega melihat suaminya pulang dan berada di sisinya. Namun, kecemasan Ashma masih belum hilang sepenuhnya mengingat kemana suaminya pergi sampai hampir satu minggu tanpa ada kabar sama sekali.
Setelah beberapa saat, Adam keluar dari bak mandi dengan tubuh yang terasa lebih segar. Dia mengeringkan dirinya dan memakai pakaian tidur sebelum kembali ke kamar tidur.
Ashma mendapati suaminya yang telah selesai membersihkan tubuhnya bahkan lelaki itu telah memakai pakaian tidur yang telah Ashma siapkan. Ashma mendekati Adam sambil membawa botol minyak aromaterapi.
"Adam kalau boleh ma-maukah em...aku memijat tubuhmu yang pegal?" Cicit Ashma yang menawarkan diri untuk memijat lelaki itu dengan terbata-bata, dia terlalu malu untuk menatap wajah Adam.
Adam terdiam sejenak mendengar tawaran dari Ashma, namun tak lama dari itu Adam tersenyum tipis dengan anggukan, pertanda bahwa Adam memberikan izin pada Ashma untuk memijat bagian tubuhnya yang pegal.
Adam duduk di ranjang kasur diikuti oleh Ashma. "Bagian yang mana yang ingin dipijat Adam?"
"Punggung ku." Ashma mengangguk paham namun ia sedikit kebingungan saat berpikir harus membuka baju yang dikenakan oleh suaminya. Sebaiknya dia meminta izin padanya.
"Bolehkah aku membuka bajumu Adam?" Tanyakan Ashma dengan suara yang kecil. Adam terheran-heran, mengapa istrinya itu meminta izin lagi padahal Adam sudah memberikannya izin sedari tadi.
"Lanjutkan saja." Kata Adam, Ashma membuka baju Adam dan dia sedikit terpengarah melihat bahu lebar suaminya yang sangat kokoh. Dengan penuh kelembutan, Ashma mulai memijat bahu Adam. Sentuhan tangannya lembut dan perlahan, berusaha meredakan rasa pegal yang ada di tubuh suaminya.
Adam merasa begitu tenang dan nyaman dengan pijatan Ashma. Tangannya yang lembut dan perhatiannya membuat dia merasa diurus, namun disisi lain Adam menahan keinginannya untuk menyentuh Ashma. Adam tidak bisa, karena dia telah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menyentuh wanita itu, hanya saja Adam tidak tahu apakah bisa karena setiap melihat Ashma dia selalu tidak tahan untuk menerkamnya.
Menepis keinginannya yang berbahaya itu, Adam memutuskan untuk menutup matanya dan membiarkan Ashma melanjutkan pijatannya.
Sambil memijat, Ashma merasa cemas masih menghantui pikirannya. Dia merasa perlu untuk mengetahui mengapa Adam menghilang begitu lama tanpa memberi kabar. Ashma rasa saat ini adalah saat yang tepat untuk menanyakan hal itu.
"Adam, apakah kamu baik-baik saja? Aku sangat khawatir saat kamu tiba-tiba menghilang begitu lama tanpa kabar, apakah selama itu kau berada di Palestina?" bisik Ashma perlahan.
Adam membuka matanya. "Maafkan saya, Ashma. Tapi kau tidak perlu repot-repot memikirkan atau mengetahui urusan saya." Ucapan Adam membuat hati Ashma tertohok sakit, namun dia juga tersenyum tabah. Ashma sadar bahwa pernikahan mereka hanya berdasarkan tanggung jawab jadi mereka tidak harus memberitahu urusan mereka masing-masing kan? Tapi Ashma tidak menginginkan hal seperti itu terjadi dalam pernikahannya.
"Bukan urusanku ya?" Gumamnya sangat kecewa.
Ashma terkekeh kecil dengan hati yang berdenyut nyeri. Adam tahu bahwa Ashma kecewa dengan jawabannya yang sangat menohok hati.
"Hm..." Adam hanya membalasnya dengan gumaman pelan.
Setelahnya Ashma tidak bertanya lagi, mereka sama -sama tidak saling membuka suara sampai sekitar lima belas menit Ashma selesai memijat punggung Adam.
Ashma berbalik lalu menatap Adam, "Bisakah temani saya untuk tidur Ashma?" Mendengar keinginan suaminya, Ashma tersenyum kecil dengan anggukan.
Adam dan Ashma berbaring diatas tempat tidur, suasana hening menyelimuti kamar. Mereka sedang bergelut dengan pikirannya masing-masing.
Adam merubah posisinya kearah kiri untuk menatap Ashma sontak Ashma ikut merubah posisinya, kini mereka saling berhadapan dan menatap satu sama lain. Adam memutuskan untuk memberi tahu Ashma karena dia terganggu melihat wajah kecewa Ashma tadi.
"Pasti kau selalu berpikir dan bertanya-tanya apa pekerjaan ku selama ini kan Ashma?" Ashma mengangguk, tatapan keduanya tidak sama sekali lepas.
"Saya bukan seorang kriminal, mafia atau semacamnya yang selalu kau bayangkan Ashma. Namun saya tidak bisa memungkiri pada momen dimana saya harus bisa melawan untuk perlindungan diri, sederhananya saya harus membunuh mereka."
Ashma tercengang, namun dia tidak ingin langsung mengambil kesimpulan.
"Karena pekerjaan ini saya jadi mengikat kamu, andai saja saat waktu itu koper kita tidak tertukar mungkin kamu tidak akan pernah terjebak dengan diriku bahkan dalam ikatan pernikahan yang tidak pernah kita sama-sama inginkan." Tutur Adam dalam kemelut diri Ashma yang tidak lagi menyalahkan atas takdir yang mempertemukan mereka dengan cara seperti ini.
Ashma mendengarkan Adam dengan perasaan campur aduk. Disi lain hatinya merasa lega karena Adam mau terbuka mengenai pekerjaannya sekarang.
"Adam, aku tahu bahwa pekerjaanmu mungkin berbahaya dan sulit untuk dibagikan dengan orang lain. Tapi sebagai istri, aku ingin tahu tentangmu dan apa yang sedang terjadi dalam hidupmu," ujar Ashma dengan tulus.
Adam beralih menatap langit-langit kamarnya berpikir sejenak tentang apa yang akan ia beritahukan pada Ashma.
"Saya bekerja sebagai agen rahasia di Amerika." Adam memberi tahu pekerjaannya, setelahnya mengatakannya Adam memejamkan mata bersiap mendengar respon dari istrinya.
Sedangkan Ashma terkejut mendapati kebenaran itu, ia juga merasa sangat bersalah karena sebelumnya Ashma sudah berprasangka buruk pada Adam.
"Apa itu sangat berbahaya?"
Adam kembali membuka matanya lalu menghela napas dengan berat seolah menyimpan banyak sekali beban. "Sangat...dan karena itu saya harus menjamin keselamatan mu. Setelah koper kita tertukar tempo lalu, kamu sudah menjadi sasaran bagi Daxter juga si bedebah Edward, mafia berdarah dingin."
"Edward, dia adalah yang paling ditakuti. Pria bedebah itu telah membawa Lily dihari pernikahan kami." Adam melanjutkan perkataannya, Ashma semakin penasaran dengan sosok Lily wanita yang sangat dicintai oleh Adam, tetapi Ashma merasa waktunya belum tepat untuk menanyai perihal Lily sekarang.
Ashma juga merasa aneh, mengapa dia bisa menjadi sasaran target mereka. "Itu tidak masuk akal. Mengapa mafia itu menargetkan aku hingga sekarang dalam bahaya?" Ashma bertanya karena sangat penasaran.
"Siapapun yang terlibat bersama saya, dia pasti akan menjadi targetnya apalagi waktu itu kau pernah memegang koper yang berisi mobil-mobilan itu kan,"
"Hmm,"
"Tapi apakah hanya karena mobil-mobilan?" tanyanya lagi karena merasa tidak mungkin hanya karena mainan anak-anak saja.
"Tidak. Masalah nya lebih krusial dari pada itu."
"lalu?"
"Ada rahasia milik negara didalamnya, mereka menginginkan dan pernah berhasil mendapatkan nya, tapi saya berhasil merampasnya kembali!"
Ashma masih belum puas atas jawaban Adam. "Tapi itu tetap tidak masuk akal. Mengapa tiba-tiba mereka menargetkan aku?" Adam menolehkan kepalanya ke kiri, menatap manik cokelat Ashma yang melihatnya dengan serius.
"Karena mereka mengira kau adalah bagian dari kami, bekerja sebagai agen rahasia." Ashma seakan tidak bisa mengatakan apapun lagi, mulutnya seakan kelu mendengar penjelasan Adam.
Adam masih belum lepas menatap Ashma, pun demikian. Ashma merasa rahasia lelaki itu sangat banyak sehingga Ashma tidak berani menerka-nerka apalagi sebelumnya dia pernah berpikir buruk tentang pekerjaan Adam.
Ashma ingin bertanya perihal musuhnya, Edward. Karena dia yakin musuh Adam itu memiliki dendam pribadi padanya, menangkap penjelasan Adam sebelumnya bahwa Edward pernah membawa Lily dihari pernikahan mereka.
Ashma yang penasaran lantas bertanya pada Adam. "Apakah Edward memiliki dendam pribadi padamu?"
Adam tidak memberikan jawaban setelah mendengar pertanyaan Ashma yang membuat perasaannya sedikit tersinggung, karena harus mengingat kembali peristiwa delapan belas tahun silam tepatnya saat kedua orang tua Adam terbunuh tepat didepan matanya.
Raut wajah lelaki itu berubah menjadi dingin, secepat itu juga dia bangkit dari tempat tidur dan pergi menuju kamar mandi. Ashma merasa bingung apakah pertanyaan nya menyinggung perasaannya, lelaki itu sangat sulit untuk ditebak.
"Aku sungguh bingung Adam pada sikapmu, yang terkadang dingin... terkadang juga menghangat," Ucap Ashma pelan ditengah hembusan angin yang menerpa gorden. Ashma menatap nanar pintu kamar mandi yang telah ditutup oleh Adam.
"Aku berjanji akan selalu sabar menunggu penjelasan tentang hubungan kita Adam. Aku juga telah bertekad akan mempertahankan pernikahan kita. Jika kau menjalaninya karena tanggung jawab, tapi tidak denganku Adam. Aku akan berjuang dan bertahan sampai nanti, mungkin sampai dimana aku mulai lelah dan menyerah."
Ashma bermonolog dengan dirinya seorang diri dalam redam. Seperti ada ruang hampa yang menerpa perasaannya yang ringkih berkelana didalam kebingungan pernikahan nya dengan Adam.
"Aku menerima ibadah pernikahan ini serta takdir darimu ya Rabb. Dan aku memohon kepadamu jatuh cintakanlah aku kepadanya pun sebaliknya."
#TBC