
Adam begitu murka dihadapan para polisi yang terbukti telah melakukan pemalsuan kematian Paul remer, dengan segala amarahnya Adam segera melaporkan tindakan mereka pada atasannya agar melihat betapa belangnya mereka.
Setelah mendapatkan bukti yang konkrit dalam penyelidikan pada kasus kematian Paul remer Adam dan Zavier akhirnya dapat menyelesaikan tugas mereka selama seminggu, mereka telah membenarkan kematian hakim itu pada publik bahwa Paul remer meninggal dibunuh bukan melenyapkan dirinya sendiri.
Namun sayangnya mereka belum mendapatkan bukti tentang siapa pelaku yang telah menghabisi Paul remer. Kasus kematian Paul remer pun kembali dibuka, kali ini pihak kepolisian akan benar-benar melakukan penyelidikan dibawah pengawasan Zavier, mereka harus mencari pelaku yang membunuh Paul remer.
Daxter, mafia itu belum bisa dikatakan sebagai pelakunya karena mereka berdua belum bisa membuktikan apapun jika yang membunuh Paul remer adalah Daxter tetapi ada beberapa petunjuk yang mengarah pada dirinya.
Saat menyelidiki kasus hakim itu Adam menemukan kartu nama atas nama Daxter dibawah kolong ranjang tempat tidur Paul remer, itu menunjukkan bahwa Daxter memang pernah datang kerumah dinas Paul remer.
Kemudian Adam mendapatkan petunjuk dari pihak hotel xx bahwa mereka pernah bertemu dalam acara perkumpulan bisnis perusahaan. Itu terdengar aneh karena Paul remer tidak memiliki bakat berbisnis.
Melepaskan segala kepeningan dikepalanya, Adam menghela napas lega, akhirnya dia dapat beristirahat sejenak.
Zavier menepuk pundak Adam, sang empu segera menoleh. "Apa yang akan kamu lakukan setelah ini?"
Adam tidak langsung menjawab dia memikirkan beberapa hal yang mengusik pikirannya.
"Saya harus menangkap orang ini segera, dia sangat berbahaya!"
Zavier mendesah panjang, "biarkan orang-orang mu yang mencari bukti kejahatannya aku juga akan terus menyelidiki kejahatan Daxter." ujarnya memberikan saran supaya Adam dapat menghirup napas sebentar sebelum kembali sibuk dengan pekerjaannya ini, dia tahu karena Adam sangat gila bekerja.
"Hey bukankah istrimu baru siuman dari koma nya, lebih baik kau temani dia dulu!" Ucap Zavier melanjutkan, dia mengingat kabar istri temannya itu mengalami kecelakaan.
Adam mengangguk kecil, "ya saya memang mau pulang."
Alis Zavier terangkat, "oh-o jadi kau sudah memiliki tempat untuk pulang ya?!"
Adam tersenyum kecil, "tentu saja."
...•••...
Selama satu minggu setelah pulang dari rumah sakit Ashma merasa tubuhnya semakin sehat dia juga sudah melakukan aktivitas rumah padahal mama mertuanya dan yang lainnya selalu melarang tetapi Ashma tetap kekeuh karena dia merasa bosan tidak melakukan apa-apa dirumah yang besar itu.
Pagi itu dengan senandung kecil membersamai langkah Ashma kesana kemari untuk menyirami bunga-bunga di taman.
Dia melihat bunga-bunga mawar putih yang bertumbuh, Ashma menyunggingkan senyum indahnya saat bunga kegemarannya bermekaran.
Tiba-tiba tangan besar seseorang melingkar tubuhnya dari belakang, Ashma tentu tahu harum tubuh milik siapa yang sedang memeluknya dari belakang itu, hanya saja dia tidak tertarik untuk membuka suara apalagi berbalik kearahnya.
"Pagi sweetheart," bisik lelaki itu tepat ditelinga Ashma dengan suara berat dan sedikit serak.
"Mas sungguh merindukanmu sayang," dia mencium kepala Ashma yang tertutupi oleh hijab.
"Sayangku," dia memanggil lagi dengan panggilan rayuannya, pikir Ashma.
Ashma masih sibuk menyirami bunga-bunga yang bermekaran tanpa menghiraukan Adam yang memeluknya dari belakang.
Angin pagi berhembus kencang membuat udara pagi itu begitu dingin namun tubuh Ashma terasa hangat karena direngkuh oleh Adam tetapi hatinya tetap dingin sebab tidak mau tersentuh oleh lelaki itu.
Adam mendesah panjang, "Kamu masih mau mengabaikan saya ya?" Lalu tangannya tertuju pada perut istrinya yang besar, dia mengusapnya dengan lembut.
"Walaupun begitu kamu tidak boleh menjauhkan ayah dari anaknya." Ujar Adam membuat Ashma kesal.
"Lihatlah sayang anak kita bergerak didalam sana saat ayahnya menyentuhnya, apakah kamu merasakan nya?"
Ashma memandang kearah perutnya, dia merasakan pergerakan didalam sana. Ashma cukup kesal juga karena anaknya akan bergerak lebih aktif bergerak setiap disentuh oleh ayahnya.
"Anak ayah pasti rindu ya, nah Mommy juga pasti--"
"Jangan membuat pengakuan sendiri! Aku tidak sama sekali merindukanmu, mau kamu pulang berbulan-bulan atau pun bertahun-tahun aku sudah tidak peduli!" Ucapnya ketus dan penuh sensi membuat Adam gemas ingin sekali mengulum bibir Ashma yang selalu menggoda imannya.
Ashma malu sendiri, dia mengingat saat tidak sengaja memencet panggilan telepon pada nomor kontak Adam.
"I-itu tidak sengaja aku memencetnya!" Cicitnya sambil menegaskan.
Adam tersenyum miring, "saya tidak yakin."
Ashma mendengus sebal, "terserah!" Dia menghempas kedua tangan Adam yang memeluknya dari belakang.
Ashma segera pergi dari sana tanpa mengucapkan sepatah katapun lagi, dia sangat kesal pada lelaki itu. Sedangkan Adam tersenyum tipis menatap kepergian wanitanya.
"Jangan berdalih sayangku." Gumamnya, angin sepoi-sepoi menggerakkan rambutnya menjadi sedikit berantakan, Adam memperbaiki nya lagi dengan menyisir rambutnya dengan jari-jari tangannya.
Didalam kamarnya Ashma tengah mondar-mandir resah karena Adam sudah kembali dan dia akan memberikan surat itu pada Adam, hanya saja dia masih sedikit takut berhadapan dengannya karena mengingat emosi meledak yang pernah lelaki itu perlihatkan saat mereka dirumah sakit.
"Tapi aku tidak sabar ingin memberikan surat ini padanya," katanya dengan tangan yang memegang surat perceraian mereka.
Ashma sudah berniat nekat untuk mengakhiri pernikahannya dengan Adam, dia sungguh tidak bisa lagi bertahan disisi nya.
"Malam ini, ya malam ini aku akan memberikan surat perpisahan ini padanya." Ashma begitu sangat percaya diri bahwa Adam pasti akan menandatangani nya, dia pikir memang ini yang diinginkan oleh Adam sejak dulu, jadi lelaki itu pasti tidak akan keberatan kan.
Entahlah pikiran Ashma akhir-akhir ini sangat buntu, dia juga selalu resah. Dia hanya ingin bercerai dengan Adam dan segera pulang ke Palestina, saat ini Ashma hanya menginginkan hal itu segera dapat terwujud.
Ashma mendengar suara langkah kaki dari luar, sepertinya Adam akan masuk kedalam kemar nya jadi segera mungkin Ashma menyembunyikan surat perpisahan itu kedalam laci, dia tidak berniat memberikannya sekarang.
Saat pintu terbuka wajah lelaki itu muncul dalam penglihatannya, dia juga menatap Ashma dengan alis berkerut karena mendapati wajah tegang istrinya.
"Ada apa sayang, kenapa wajahmu tegang seperti itu?"
Dengan langkah besar Adam mendekati istrinya.
"Jangan mendekat lagi!" Sergah Ashma meminta Adam untuk tidak mendekatinya lagi. Adam tidak menghiraukannya dia tetap melangkah maju dan sekarang berdiri tepat dihadapannya.
"Kamu terlihat resah dan tidak tenang sedari pagi, ada apa?" Tanyanya, dia mengusap lembut wajah Ashma.
"Itu karena kamu!"
"Kamu mengusik ketenanganku." lanjutnya dengan penuh sensi.
Ashma menepis tangan Adam, matanya menatap sinis penuh permusuhan.
Adam menghela napas dengan berat, "sampai kapan kamu mau membenci saya? Apakah tidak ada sedikit pun maaf untukku?"
Ashma tersenyum getir, "setiap kali melihat wajahmu hanya ada rasa sakit didalam hatiku, kamu telah menghancurkan kepercayaanku Adam!" Dia berbicara dengan nada suara tidak teratur, Adam mengeratkan rahangnya untuk menahan diri agar tidak terpancing emosi.
"Apa yang bisa saya lakukan agar kamu mau memaafkan saya?" tanya Adam karena frustasi selalu mendapatkan respon ketus dari Ashma.
Ashma terdiam sejenak lalu memutuskan memberikannya sekarang. Dia membalikan badannya membuka laci nakas untuk mengambil surat perpisahan yang tadi sempat dia sembunyikan.
Dia membalikan tubuhnya lagi dengan sangat pelan untuk menghadap Adam. Ashma menatap intens kedalam netra milik Adam berusaha untuk menberanikan diri sebelum dia menyerahkan surat perpisahan itu pada Adam.
Adam tidak kalah menatapnya dengan intens diliputi rasa penasaran apa yang ingin Ashma berikan padanya, mendadak perasaannya tidak enak.
Dia menyodorkan selembar kertas pada Adam.
"Mari bercerai."
#TBC