
Mata cokelat Ashma memancarkan gemerlap cahaya dari langit-langit biru yang ia pandangi dengan perasaan penuh kagum. Dia berdiri diantara kemegahan lukisan ajaib ciptaan-Nya.
"Subhanallah," kekaguman tetap bertengger didalam kepalanya, tidak berkurang sedikitpun.
Dia memiliki teman, itu burung-burung yang menari dan berterbangan disekitar pohon pinus yang menjulang tinggi, tidak jauh dari sana juga terdengar gemericik air yang menenangkan. Sungai, terdapat sungai dengan perairan jernih, didalamnya ada beberapa ikan kecil yang hidup disana, itu semua dekat dengan rumah kecil milik keluarga Adam dahulu sebelum mereka pindah ketempat yang lebih megah dan melupakan dunia fantastis ini, sangat disayangkan.
Semuanya terlalu indah untuk dilihat oleh mata telanjang, ini sangat luar biasa sampai Ashma tidak bisa berkata-kata, dia hanya mampu mengucapkan kekagumannya kepada Tuhan betapa luar biasa atas lukisan nyata yang telah diciptakan-Nya ini.
Wajahnya yang tersenyum cantik itu menjadi tontonan gratis untuk Adam. Gadis itu, ah bukan wanita yang menjadi istrinya itu terlihat sangat bebas, seperti burung yang lepas dari jeratan mangsa, dan dialah predator yang telah memburunya.
Tapi itu untuk keselamatan Ashma, untuk bayinya juga. Dia juga tidak tahu apa langkahnya ini sudah benar atau tidak, yang jelas setelah memastikan semuanya nanti telah aman ia berjanji akan mengembalikan Ashma ditempat yang seharusnya dia tinggal.
Adam telah egois, membiarkan wanita itu sembuh sendiri padahal ternyata dia juga memiliki luka yang besar.
Adam mengetahui orang tuanya telah tiada, dia pernah memberitahu dengan buaian menyedihkan, tetapi pada saat itu ia terlalu sibuk dengan keegoisannya.
Malam tadi saat dirumah sakit, dia mendapatkan kebenaran bahwa kedua orangtuanya meninggal tragis dan ini yang tidak Adam ketahui. Ayahnya menjadi korban kekejaman Zionis dan Ibunya meninggal dengan cara mengakhiri hidupnya, lengkap sudah penderitaan Ashma selama ini. Adam mendapatkan informasi itu dari Jhon karena dia yang menyuruhnya untuk mencari latar belakang keluarga Ashma.
Adam menyesal sudah mengabaikan rasa sakitnya, dia telah merenggut kebahagian yang telah dia perjuangkan selama ini hanya karena obsesinya untuk menjaga wanita itu dari hasil perbuatannya.
Tetapi si bodoh ini masih menginginkan Lily, dia masih berada dihatinya tapi Ashma berada di genggaman nya. Adam serakah, dia tidak bisa memilih dan dia menyayangi keduanya.
"Mari masuk kedalam, kamu harus banyak beristirahat!" Adam membawa tubuh kecil dengan perut bengkak itu masuk kedalam rumahnya semasa kecil, sebelum keluarganya jaya.
Didalam sana begitu sederhana namun membuat aman, perasaannya ikut bergerilya menjadi pengingat kesederhanaan Ayah dan Ibunya dulu di Palestina. Demi Tuhan Ashma rindu, rindu hari-hari dimana dia dapat melihat mereka merangkulnya, membawa tangan mungil Ashma untuk melompat dalam genggaman kedua tangan mereka.
"Disini kamu aman!" Bisik Adam ditelinga Ashma, membuatnya geli dan segera menatap Adam yang tengah menatapnya dengan mata sayu.
"Aku tidak menyangka ada tempat yang seperti ini, begitu indah dan tenang. Ini adalah mimpiku sejak kecil, aku tidak menyangka fantasi itu menjadi kenyataan!" ucapnya menggebu-gebu terlalu senang, dia sampai menitihkan air mata nya yang sebening berlian.
Adam membawa Ashma untuk duduk dikursi yang terbuat dari kayu jati, itu adalah peninggalan satu-satunya yang sangat berharga, selebihnya Adam telah merenovasi dan mengganti beberapa bagian yang sudah tidak layak untuk dipandang dan digunakan.
Adam membukakan jendela supaya udara segar masuk kedalam, Ashma tidak terlalu terusik karena sebenarnya dia menikmati buaian kecil dari angin yang meniup hijabnya kesana-kemari.
"Saya sudah menepati janji untuk membawa istri saya kesini," Adam mengusap air mata disudut mata Ashma. Dia mengucapkan hal yang membingungkan, Ashma menyeringit tidak paham.
"Maksudmu apa Mas?"
Adam mencubit pipinya dengan gemas, mereka tumbuh sedikit seperti perut Ashma yang membengkak tetapi tidak banyak.
"Saya sudah berjanji sejak lama, bila sudah menikah maka saya akan membawa istri saya kesini"
"Aku, yang kau bawa kesini?"
"Hmm,"
"lalu Lily?"
"Tidak, dia tidak pernah bisa kesini. Kamu, hanya kamu sekarang sebagai istriku!"
"Satu-satunya?"
"Hmm,
"Sungguh?
"Iya Ashma
"Aku tidak yakin!
"Kamu adalah wanita pertama yang saya bawa kemari, apa itu kurang jelas!"
"Beneran kan?"
"Aku tidak per-"
Adam membungkam Ashma dengan kecupan manis di bibir nya yang sedikit kering, wanita itu terlalu banyak bicara tetapi Itu terlalu manis sampai Adam tidak mahu berhenti dan malah semakin memperdalamnya, mereka menikmati dengan ditemani semilir angin yang membuat wajah mereka tergelitik.
Mereka melayang keangan-angan saat mulai merasakan emosional masing-masing. Bagaikan simfoni mendamba yang mengudara, seperti pertunjukan paling romantis ditanah bumi itu, hanya ada mereka berdua dan sibuah hatinya yang menyaksikan ibu dan bapaknya saling mengasihi.
Saat akal mereka hampir menggila tiba-tiba sijabang bayi merajuk, itu seperti bergerak didalamnya walaupun hanya goncangan kecil dan begitu cepat.
"Ada apa?" tanya Adam yang terpaksa melepas pagutannya, mana bisa dia melihat Ashma meringis sedangkan dia malah terus menikmati.
"Tidak, hanya saja aku merasakan ada pergerakan dari dalam sini," tunjuk Ashma pada perutnya, Adam tertuju tepat pada perut kembung itu lalu dia mendekatkan telinganya untuk mendengar seperti apa keributan didalam sana.
Adam tersenyum kecil, tidak menyangka didalam sana terdengar merusuh. Adam lalu mengecupnya penuh sayang.
"Selain si jabang bayi merusuh ternyata kamu juga lapar ya?" Adam menanyainya dengan gemas, Ashma membuang muka malu, ya benar dia memang sedikit lapar.
"Yasudah kamu istirahat disini, saya akan membuatkan makanan untukmu," Adam bangkit dari duduknya untuk segera melangkah kearah dapur. Ashma bukannya diam ditempat dia malah mengikuti membuat Adam menghela nafas pasrah.
Ashma memerhatikan punggung tegap itu yang tengah memasak, lucu sekali memakai apron, ah tidak dia sangat keren.
Ashma merasakan perasaannya yang mendamba akan cinta, ya dia sudah jatuh cinta kepada lelaki itu yang menjadi suaminya, ayah dari sijabang bayi.
Dia tahu, dia tidak akan pernah bisa menggapai keinginannya untuk lelaki itu menoleh dan melihat cintanya, membalasnya dengan perasaan yang tulus, itu tidak akan pernah mungkin.
Dia tidak peduli sebesar apa dia ingin berpaling, lelaki itu tidak bisa dibuang begitu saja, dia pengganggu dan penghasut ulung dengan segala bentuk perhatian dan kata-kata manisnya yang berbahaya.
Ikhlas, suatu hari nanti dia akan mengikhlaskan Adam karena cintanya. Dia memberikan hatinya untuk lelaki itu sepenuhnya hanya untuk dia, mengikhlaskan untuk kebahagiaan nya disisi orang yang dia cintai walaupun bukan dia, tapi demi Tuhan sampai hari itu tiba Ashma akan berusaha berlapang dada.
"Adam," panggil Ashma dengan suara kecil sekali seolah tercekat dan terjebak di tenggorokan.
Adam tetap mendengar namun suara itu terdengar lirih dan menyedihkan, dia segera berpaling dari masakannya untuk melihat wajah Ashma.
Disana, wanita itu tersenyum hangat padanya dengan mata yang tergenang air mata.
Adam segera menghampirinya setelah mematikan api. Dia duduk disebelah Ashma dengan raut wajah bertanya-tanya, "Kenapa menangis?"
Ashma hanya diam, dia menjelajahi mata biru yang seperti langit, nampak tenang tapi berbahaya didalamnya.
"Kenapa?" Adam menanyainya lagi dengan perasaan aneh yang bercokol didalam hatinya. Wanita itu berusaha mengguncang pikirannya.
Ashma belum juga mahu berbicara sehingga Adam bertindak untuk meraih dagu kecil istrinya. "Kamu menginginkan sesuatu? Mengidam ya?"
Ashma lagi-lagi tidak menjawab, dia malah merengkuh tubuh Adam membuat sang empu tertegun. Adam membalas pelukan istrinya dengan isi kepala yang masih bingung.
Mungkin ibu hamil itu memang perasaannya gampang sensitif jadi melihat Ashma yang tiba-tiba menangis seperti ini membuatnya semakin paham bahwa perubahan suasana terhadap ibu hamil mudah sekali terjadi.
Seperti yang dikatakan dokter Miranda, ibu hamil tidak boleh stress dan banyak pikiran itu bisa mempengaruhi sibayi karena dia didalam sana merasakan apa yang dirasakan sang ibu.
"Peluk saya selama yang kamu mau," katanya dengan usapan lembut dipunggung istrinya.
"Mas,"
"Hmm,"
"Ana uhibbuka fillah, Mas!"
Kata-kata keramat itu terlontar dari mulut Ashma ditengah-tengah pelukan hangat keduanya. Adam pastinya mengetahui arti dari ucapan Ashma, dia hanya bisa terdiam dengan darah yang mendesir hebat.
Dia benar-benar mencintai lelaki brengsek ini.
#TBC