
Adam melepas pelukan Ashma, dia masih berusaha mencerna ungkapan perasaan istrinya. Sedangkan Ashma kecewa sebab Adam tidak merespon apapun, lelaki itu juga tidak sama sekali membalas pelukannya.
“Aku juga sadar diri mas, aku gak akan memaksa perasaan untuk diriku sendiri. Tetapi ada satu hal yang harus kamu tahu, ini sangat penting,” ujar Ashma, ingin memberitahu tentang kehamilannya.
Adam turut menatap Ashma, ingin mendengar hal penting yang dimaksud oleh Ashma. “Apa hal penting itu?”
Ashma menghela napas panjang, berusaha tersenyum walaupun sembilu dihatinya begitu terasa.
Ashma mengambil sebuah kotak kecil didalam lemari, lalu memberikannya pada Adam dengan harapan yang besar.
“Hadiah kecil untukmu,”
Adam membuka kotak kecil dari Ashma dengan perlahan-lahan, bola matanya membesar melihat tiga alat tes kehamilan didalamnya, membuat Adam tercenung dengan pikiran yang berantakan.
Raut wajah yang ditampilkan Adam Nampak terkejut, Ashma harap lelaki itu senang atas kehamilannya.
“Apa maksudnya ini Ashma?” nada suara Adam meninggi seperti tidak menerima hadiah yang baru saja dia dapatkan.
Senyum di wajah Ashma hempas begitu saja, harapan kebahagiaan itu hilang bersamaan dengan perasaan penuh kecewa. Ashma kira Adam akan senang mengetahui kabar kehamilannya, tetapi lelaki itu malah menunjukan wajah semrawut yang tidak terima.
“Apa kau kecewa? Kau tidak menerimanya?” cecar Ashma, dia benar-benar kecewa pada Adam yang seolah tidak menerima calon anak mereka.
Adam mengeratkan rahangnya, dia masih berusaha memahami apa yang terjadi sekarang. “Kenapa bisa?”
Ashma tertawa sukar, tubuhnya menjadi lemas. Tidak menyangka Adam akan sejahat itu pada calon bayinya.
“Kamu bertanya, kenapa bisa? Adam apakah kamu sadar akan pertanyaan mu itu? Kamu boleh tidak menerima aku tetapi tidak dengan anak ini Adam!” Ashma berteriak begitu keras membuat beberapa pelayan yang berlalu lalang didekat kamar mereka pun turut mendengar.
Ashma menangis sejadi-jadinya membiarkan Adam melihat bagaimana rapuhnya perasaan Ashma.
"Ternyata kamu lelaki egois, tidak berperasaan, jahat!" Teriak Ashma lagi, kali ini dia memukul-mukul dada bidang Adam, meluapkan segala kekesalannya.
Adam hanya bisa terdiam tanpa mahu membela diri, tatapannya dingin menatap Ashma namun dia turut merasa bersalah atas lontaran perkataannya tadi.
"Apakah selama ini kamu menikahiku hanya untuk dijadikan teman ranjangmu hah? Adam kau brengsek!"
Ashma kalut oleh amarahnya sehingga membuat tubuhnya lemas. Adam menyangga tubuh Ashma, memeluknya erat-erat. "Maafkan saya Ashma," lirih Adam, dia menyadari perkataannya yang sangat menohok hati Ashma.
"Kamu jahat Adam!" Suara Ashma semakin melemah, pandangannya samar-samar mengabur setelah itu Ashma tidak mengingat apapun lagi.
Adam segera membawa Ashma untuk segera dilarikan kerumah sakit melihat itu bibi Marianee ikut berlari mengejar Adam.
"Ashma kenapa Adam?" tanya bibi Marianee khawatir melihat Ashma yang tidak sadarkan diri digendongan Adam.
"Kami bertengkar, maaf Ma tapi aku harus segera membawa dia kerumah sakit."
Bibi Marianee menatap kepergian anak dan menantunya, dia berharap semoga Ashma dan calon bayinya baik-baik saja.
Didalam ruangan spesialis kandungan, Ashma dan Adam tengah menatap layar yang menampilkan calon bayi mereka.
Ashma menatap haru layar monitor, disana terdapat gambaran calon bayinya yang masih kecil. Sedangkan Adam menatapnya dengan perasaan campur aduk tetapi disisi lain ada perasaan bahagia yang tidak bisa dia deskripsikan.
"Yang titik kecil itu adalah calon bayi kalian. Umurnya sudah dua minggu, nanti dia akan bertumbuh semakin besar." Ujar dokter tersebut yang sedang memeriksa kandungan Ashma.
"Tetapi karena kandungan nya Masih muda dan rentan saya harap nona menjaganya dengan baik begitupun tuan Adam yang harus selalu menjaga istrinya, jangan membuat istri anda mengemban banyak sekali pikiran, karena itu tidak baik untuk ibu dan si janin." Jelas Dokter tersebut panjang lebar membuat Adam mengangguk paham.
"Apakah kandungan saya benar-benar baik Dok?" tanya Ashma cemas, mengingat tadi dirinya sempat pingsan.
"Sejauh ini tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Dan tolong ingat satu hal khususnya untuk tuan Adam, masa-masa kehamilan istri anda ini masih tergolong sangat rentan terjadinya keguguran jadi sekali lagi saya harap anda menjaga mereka baik-baik."
Adam mengangguk paham, lalu dia melihat Ashma yang langsung membuang wajahnya.
Ashma tidak terlalu berminat melihat wajah Adam, da masih sangat kesal pada suaminya bahkan Ashma merasa tidak ingin dekat-dekat dengan Adam sekarang ini. Mungkin si bayi juga merasakan perasaan ibunya yang ingin menepi dulu dari ayahnya.
Setelah beberapa saat, mereka keluar dari ruang periksa dokter spesialis kandungan, Ashma merasa lega karena bayinya baik-baik saja, sedangkan Adam menatapnya dengan penuh rasa bersalah.
Adam memilih untuk tidak mengatakan apapun dulu, dia ingin berbicara dan meminta maaf pada Ashma setelah sampai di Mansion.
Adam membukakan pintu mobil untuk Ashma namun Ashma memilih untuk memutar arah dan membuka pintu sebelahnya, Adam menghela napas panjang, istrinya benar-benar begitu kecewa padanya.
Mereka tidak berbicara disepanjang perjalanan. Ashma menatap jalanan sambil mengelus-elus perutnya, sedangkan Adam fokus pada kemudi mobil walaupun jujur saja dia sempat mencuri-curi pandang pada Ashma.
Ashma tiba-tiba menatap seorang lelaki yang sedang memainkan biola disisi jalan, Ashma segera minta berhenti pada Adam.
"Adam berhenti!" Ucap Ashma, memberhentikan mobil yang sedang Adam kendarai.
Adam mengernyitkan dahinya karena tiba-tiba Ashma menyuruhnya untuk berhenti. "Ada apa?"
"Aku ingin melihat lelaki yang bermain biola itu," tunjuk Ashma tepat pada sekumpulan orang yang tengah menyaksikan persembahan biola dijalanan.
Adam mengikuti arah tangan Ashma, dia terdiam sebentar lalu tak lama itu Adam mengangguk memperbolehkan. Adam tidak mau membuatnya kesal lagi, dia tidak ingin terjadi sesuatu pada Ashma.
"Baiklah." Ashma seketika itu mengembangkan senyum manisnya membuat Adam terpaku beberapa saat.
Ashma dan Adam yang telah sampai berdiri bersama orang-orang yang menyaksikan betapa hebatnya lelaki yang tengah memainkan biola itu.
Adam tidak terlalu tertarik tetapi melihat wajah istrinya yang begitu bahagia membuat perasaannya lega.
"Berikanlah," Adam menyodorkan lima lembar uang pada Ashma, istrinya segera mengambilnya dari tangan Adam lalu menaruh dengan sopan disebuah kotak yang tersimpan didekat si pemain biola.
Setelah beberapa saat menyaksikan pertunjukan biola yang sangat indah itu Adam segera mengajak istrinya untuk pulang tetapi Ashma menggeleng cepat, dia masih ingin berlama-lama untuk melihat sekitaran ditepian kota Moscow.
Adam mendesah berat, dia ingin sekali membawa Ashma pulang tetapi wanita itu masih ingin berlama-lama diluar, bukan apa Adam hanya takut musuhnya berkeliaran disekitarnya.
"Ashma kamu ini baru saja melakukan pemeriksaan pertamamu, bagaimana kalau nanti kamu dan anak kita kenapa-napa?"
Ashma mendengus sebal, "baru sadar ini anakmu?" sindir Ashma membuat Adam terdiam.
"Saya minta maaf, lebih baik kita bicarakan ini dirumah," pinta Adam, berharap Ashma mau pulang.
Ashma menghembuskan napas lesu, "baiklah ayok kita pulang!"
Sebenarnya Ashma masih ingin berlama-lama menikmati keindahan kota Moscow namun apa boleh buat, dia juga tidak boleh egois setidaknya ada nyawa yang harus Ashma jaga.
Beberapa menit mengemudikan mobil akhirnya Adam dan Ashma sampai dikediaman mereka. Ashma melihat pengawal Adam yang ingin membuang sebuah buket bunga, segera Ashma menghentikannya.
"Tunggu dulu!"
Pengawal Adam itu segera menoleh pada asal suara, melihat kedatangan istri atasannya.
"Iya Nona ada apa?"
Ashma mendekat melihat sebuket bunga yang akan dibuang oleh pengawal Adam.
"Bunga seindah itu mengapa dibuang?" tanya Ashma, dia jadi menginginkan bunga yang akan dibuang itu.
Adam berjalan mendekati Ashma dan pengawalnya, "ada apa?" Adam bertanya karena Ashma tiba-tiba saja mendatangi pengawalnya.
"Mas aku menginginkan bunga itu," tunjuk Ashma pada bunga yang dimaksud, Adam seketika langsung mengeratkan rahangnya.
"Tidak boleh!" tolak Adam cepat, membuat hati kecil Ashma teriris.
"Tapi itu masih segar, bunganya juga cantik," Ashma tetap menginginkannya membuat Adam semakin geram.
"Kalau saya bilang tidak boleh ya tidak boleh Ashma!" bentak Adam membuat Ashma meringis.
"Kamu boleh menginginkan bunga yang lain, bila perlu saya belikan taman bunga untukmu. Tetapi tidak yang itu!" tekan Adam, dia tidak sudi ada pemberian dari Edward didalam rumahnya.
"Aku membencimu Mas!" pekik Ashma, ia berlari kecil masuk kedalam Mansion.
Adam memijat pangkal hidungnya, dia seharusnya bisa menahan diri untuk tidak membentak Ashma, hormon ibu hamil yang mudah berubah-ubah itu benar-benar berhasil membuatnya pening.
Adam segera memerintahkan pada pengawalnya untuk segera membuang bunga menjijikan dari Edward, setelah itu Adam segera masuk menyusul Ashma yang tengah merajuk padanya.
Didalam kamar Ashma tengah menangis sesegukan, hatinya masih terasa sakit dibentak oleh Adam.
Adam segera duduk disamping Ashma, dia meraih kedua lengan istrinya dengan lembut. Lalu tangan satunya lagi mengusap air mata diwajahnya.
"Saya minta maaf. Maafkan saya yang sudah membentak kamu, bahkan hampir tidak ingin mengakui dia," ucapnya begitu lembut, tangan Adam lalu turun untuk mengelus perut rata Ashma, membuat darahnya mendesir.
"Saya hanya tidak ingin ada pemberian dari lelaki bedebah itu didalam rumah ini!" tutur Adam, membuat Ashma mulai mengerti.
"Maksudmu bunga itu dari Edward?" tanyanya memastikan. Adam segera mengangguk lemah.
"Maaf, aku tidak tahu," sesal Ashma. Adam segera meraih pinggang ramping itu untuk masuk kedalam dekapannya.
"Hangat." Gumam Ashma tenang, walaupun sempat ada perselisihan tadi pagi tetapi ia bersyukur akhirnya Adam menyadari kesalahannya dan mau menerima darah dagingnya.
"Saya minta maaf."
#TBC