
Jhon menatapnya penuh intimidasi namun setelah itu ia melanjutkan tangannya untuk memencet tombol merah dihadapannya, itu membuat Lily kebingungan.
"Pergilah!" katanya memberikan jalan, itu terlihat sangat tidak etis karena Jhon adalah pengawal kepercayaan Adam.
"Kau ingin berkhianat pada Adam?" tanya Lily sedikit resah.
Jhon menampilkan raut wajah dingin, "saat ini saya sudah berkhianat padanya demi mempertemukan nona Lily dengan Edward tapi hanya untuk kali ini, tidak dipertemuan selanjutnya!" ucapnya seperti ultimatum, itu terdengar seperti memberikan peluang dalam satu kali kesempatan saja.
Lily tersenyum menyeringai, wanita lincah itu nampak senang mendengar pengkhianatan kecil itu. "Terimakasih Jhon, saya tahu kamu adalah pengawal Adam yang sangat menepati janji."
Kalimat terakhir itu membuat dirinya menyegerakan langkah untuk keluar dari pintu rahasia itu yang menghubungkan dengan pintu belakang, itu sangat aman dan tidak ada penjagaan.
Lily membuka pintu belakang Mansion besar itu dengan perlahan walaupun dia pikir aman tetapi tetap harus main elegan.
Diluar sana Lily sudah melihat Edward menunggunya diluar mobil dia bersandar sambil tersenyum kearahnya, Lily tidak terlalu memperdulikan dia segera mendekati dan Edward memberikan pelayanan dirinya untuk membukakan pintu mobil untuk istrinya.
"Terimakasih."
Edward segera melajukan mobilnya, dia ingin menikmati kebersamaan nya dengan Lily setelah sekian lama walaupun dia sedikit terusik karena wanita itu tidak terlalu memperhatikan dirinya.
Sepanjang perjalanan Lily hanya fokus melihat kedepan dengan wajah seriusnya itu membuat Edward tidak nyaman.
"Apa kamu akan terus menampilkan raut wajah serius seperti itu?" tanya Edward membuka suara terlebih dahulu. Lily menoleh sebentar lalu pandangannya kembali kedepan jalan raya.
"Apa itu mengganggumu?" katanya berbalik bertanya, suaranya nampak tegas dan itu yang membuat Edward selalu jatuh cinta kepadanya.
Edward segera menggeleng, "hanya saja aku ingin melihat raut wajahmu yang santai." ucapnya terus terang itu membuat Lily menghela nafas sambil terkekeh.
"Baiklah, maafkan aku." Lily mengatakan hal yang selalu ia lontarkan, ada maaf setelah nada suaranya yang sedikit kurang bersahabat.
Adam tersenyum tipis dia ingin hati meriah jemari kurus itu namun urung karena Lily segera menaruhnya diatas pangkuan dirinya.
"Apa dulu kita Secanggaung ini?" tanya Lily membuat Edward sedikit kehilangan fokusnya, tentu saja karena didalam kepalanya hanya ada Lily, Lily dan Lily.
"Maaf, apa?"
"Apakah kita Secanggang ini dulu?" Lily mengulangi pertanyaannya, Edward rasa itu seperti pengakuan darinya bahwa mereka memang pasangan suami-isteri.
"Tidak, kamu lebih dominan daripada aku, lebih tepatnya agresif." Edward menjawabnya dengan senyuman licik, itu membuat Lily terkekeh.
"Apa benar aku seperti itu? Terdengar sangat memalukan!"
Edward ikut terkekeh, "itu akan menjadi benar kalau kamu mengingatnya."
Faktanya Lily kehilangan sebagian ingatannya dimasa lalu, dia turut merubah raut wajahnya menjadi dingin dan Edward menyadari perubahan itu.
"Tenang saja, aku akan selalu berada di sisimu dan membantu untuk mengingat hal-hal tentang kita yang sudah hilang didalam ingatanmu!"
Entahlah rasanya sangat tenang masuk kedalam dada Lily saat Edward berkata seperti itu, lelaki itu memiliki sesuatu yang membuatnya menghangat.
"Sekalipun itu akan tenggelam dan aku tidak berhasil mengingat, bagaimana?" Lily menanyainya kali ini dia begitu serius menanti jawaban Edward.
Edward sekarang berani meraih jemari Lily untuk ia genggam. "Aku akan tetap berusaha meyakinkan kamu, entah itu akan berhasil atau tidak tapi cukup mendapatkan kepercayaan darimu itu sudah lebih dari cukup untukku!"
Itu adalah jawaban yang membuat hatinya bergetar, lelaki itu terasa begitu tulus mengatakannya.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan ketempat yang hanya Edward dan Lily yang tahu, Edward berharap Lily dapat mengingatnya sedikit.
Mereka sampai ditempat tujuan itu yang terlihat seperti alam terbuka, ah tidak. Mereka berdiri diatas jembatan yang dibawahnya terdapat sungai dengan air yang begitu jernih, tidak ada sampah satupun.
"Sungai Moskva?" gumam Lily keheranan.
Adam menatapnya dengan sopan, "sungai ini adalah saksi pertemuan kita yang pertama, juga menyatukan kita." ucapnya dengan senyum tipis, tatapannya beralih pada sungai itu, yang menjadi kisah mereka bermula.
Lily menggeleng pelan, dia melihat mata kecewa Edward. "Ah aku terlalu berharap besar. Tidak apa-apa aku akan tetap menunggu." Suaranya terdengar lirih dipendengaran Lily.
Edward menarik nafas panjang dia lalu melepas jaketnya, dia peka Lily yang kedinginan karena udara malam.
Dia memakainya pada tubuh Lily, wanita itu merasakan tubuhnya hangat. Lily merona merah, dia mendapatkan debaran di dadanya.
"Apa kau sudah makan?" tanya Edward dia ingin dinner bersama istrinya setelah sekian purnama, mungkin lebih tepatnya satu kali bumi memutari matahari.
"Itu- aku belum sempat," Lily nampak menurunkan nada bicara menjadi sangat kecil.
Adam segera meraih jemarinya untuk ia genggam. "Mari kita pergi Dinner!" Belum sempat menyutujui Edward langsung menarik tangan Lily untuk mengikutinya.
"Akh- Edward!"
...•••...
Adam meraih tengkuknya yang terasa pegal, dia segera melepaskan kacamata yang bertengger dimatanya.
Dia melihat pada jam dinding disana sudah menunjukkan pukul dua belas malam tapi ia belum selesai mengerjakan pekerjaan yang menumpuk, dia benar-benar butuh Jhon.
Adam akan segera menghubunginya dan menggantikan Jhon dengan pengawal kepercayaan yang lainnya, dia bernama Gerald, pengawal yang sangat dingin dan acuh, walaupun begitu cara dia bekerja sangatlah baik jadi Adam akan segera menghubunginya untuk menugaskannya menjaga Lily.
Adam memutuskan untuk mengerjakan nya esok hari, dia juga berencana untuk pulang ke Mansion sebentar untuk melepas rindu pada bibi Marianee juga Lily.
Dengan langkah mengantuk Adam membuka handle pintu begitu hati-hati karena takut mengganggu Ashma. Adam segera berbaring disamping istrinya yang tengah meringkuk memunggunginya karena itu Adam meraih tubuhnya untuk ia peluk dari belakang.
Adam mencium tengkuk istrinya yang menenangkan, itu akan menjadi rutinitasnya sebelum tidur karena Adam akan cepat sekali mengantuk setelah menghirup aroma tubuh Ashma.
Dia akhirnya menyusul Ashma untuk mengarungi dunia mimpi, Ashma menggeliat dalam tidurnya dan merasakan kehangatan ditubuhnya namun ia kembali tertidur lelap karena merasa begitu nyaman. Malam yang dingin itu menjadi hangat dari dekapan suaminya.
Begitu matahari terbit dari ufuk timur, bulan menyingsing kan dirinya untuk bertukar tugas. Pagi yang cerah mewarnai wajah Ashma yang tengah menyiram kawanan bunga mawar dan Lili putih ditempatnya masing-masing.
Matahari pagi itu membuat tubuhnya merasa hangat, dia juga turut mengusap perutnya yang semakin hari semakin bertambah berat.
Sejauh mata memandang dia melihat siluet tubuh jangkung yang tengah berjalan kearah rumah kecil yang Ashma tinggali bersama Adam, Ashma terus memperhatikannya sebab lelaki itu menggunakan topi yang sedikit menutup wajahnya namun semakin dekat dia mulai tidak asing dengan wajah itu. Ya dia adalah Jhon, pengawal kepercayaan Adam.
Tubuh tegap itu sudah berada tepat didepannya, hanya beberapa langkah tidak jauh dan itu adalah jarak yang sangat sopan untuk mereka.
"Selamat pagi nona Ashma," ucapnya dengan senyuman secerah matahari pagi.
Ashma membalas senyuman itu, "Selamat pagi Jhon. Kau datang kemari, apa Adam yang meminta?" ucapnya menanyakan pasalnya lelaki itu pernah bilang tidak jadi untuk meminta Jhon datang tapi sekarang pengawalnya sudah berada dihadapannya, siapa lagi kalau bukan Adam yang meminta.
"Iya nona, tuan Adam meminta saya datang kemari perihal urusan pekerjaan." Jhon menjelaskan dengan ramah, dia ingin memberikan kesan baik kepada Nona nya.
Adam dari arah pintu segera keluar dan mendapati istrinya tengah berbincang dengan Jhon, dia sedikit tidak suka.
"Jhon!" panggil Adam sedikit berteriak karena dia masih berdiri diteras.
Jhon yang mendapati Adam segera menghampirinya dengan tenang. "Tuan Adam saya sudah datang."
Adam mengangguk singkat lalu segera mengintruksikan kepada Jhon untuk mengikuti langkahnya.
Sebelum suaminya itu masuk kedalam dia melemparkan tatapan tidak bersahabat pada Ashma. Dia jadi bertanya-tanya, ada apa dengan suaminya yang tiba-tiba menatapnya sinis begitu.
Mengakhiri pemikiran ruwetnya, Ashma kembali fokus untuk menyirami bunga-bunga dan tumbuhan lain.
Pagi itu adalah pagi yang cukup menyenangkan untuknya walaupun ada sedikit keganjalan karena melihat tatapan suaminya tadi.
Setelah selesai, Ashma segera masuk kedalam untuk menyiapkan camilan yang tentunya untuk Jhon, tamu mereka.
#TBC