A Little Hope For Ashma

A Little Hope For Ashma
58. Meminta untuk menunggu



Keadaan Ashma sudah semakin membaik setelah dua minggu menjalani perawatan pasca siuman dari koma nya. Dia juga sudah diperbolehkan pulang hari ini, Ashma tetap akan terus melakukan pemeriksaan rutin untuk memantau kesehatannya.


“Biar aku bantu sus.” Ucapnya pada suster, Lily membopong tubuh Ashma untuk duduk di kursi roda, walaupun dia sudah bisa berjalan seperti sedia kala lagi, Ashma tetap harus mengikuti saran dokter mengingat dia sedang hamil besar.


Adam datang dari arah pintu, dia sudah menyelesaikan administrasi istrinya. Lelaki itu tidak banyak bicara setelah pertengkaran mereka satu minggu yang lalu, Adam memilih untuk menjauh sementara darinya karena dia tidak ingin Ashma semakin membencinya dan takut pemulihannya terhambat gara-gara dia.


Tetapi Adam tidak pernah lupa memberikan perhatian-perhatian kecil untuk Ashma dia selalu ada untuk istrinya disaat dia membutuhkan sesuatu walaupun responnya masih dingin dan ketus, Adam tetap berusaha.


Sebelum pergi dokter Alicia memberikan bunga untuk Ashma sebagai bentuk kenang-kenangan untuk pasiennya. Tidak hanya itu beberapa perawat juga memberikan hadiah perpisahan untuk Ashma.


Adam menatap raut wajah berseri-seri istrinya, Adam ingin selalu melihat wajah bahagia itu setiap hari. Saat dia terbangun dari tidurnya dan mendapati wajah Ashma adalah yang pertama kali dia lihat.


“Kakak ipar apa kau sudah siap menghirup udara luar?” tanya Lily begitu antusias, Ashma mengangguk sambil tersenyum kecil.


Lily mendorong kursi roda Ashma sedangkan Adam membawa bawaan perlengkapan dan kebutuhan istrinya selama dirumah sakit.


Mereka akhirnya sampai didepan area parkiran untuk menaik mobil, Adam setelah meletakan barang-barang kedalam bagasi segera membantu istrinya untuk masuk kedalam mobil. Awalnya Ashma enggan tetapi melihat kegigihan lelaki itu mau tidak mau Ashma masuk kedalam mobil dibantu olehnya, walaupun sebenarnya dia bisa sendiri tapi Ashma tidak ingin terlibat percakapan apalagi pertengkaran dengan Adam.


Ashma dan Lily duduk dibelakang sedangkan Adam yang mengemudi, mobil pun bergerak pergi dari area rumah sakit.


Selama menempuh perjalanan menuju ke Mansion tidak ada sepatah katapun yang keluar ari mulut Adam, dia hanya mendengar kebanyakan ocehan Lily dan sesekali di respon oleh Ashma.


Adam tidak risih, dia malah senang karena bisa melihat Ashma tersenyum ditengah-tengah ocehan berupa candaan dari Lily.


Adam benar-benar telah move on dengan masa lalunya, sekarang dia ingin menatap masa depan dengan istrinya seorang, Ashma Zehra dan juga calon anak mereka.


“Kamu khayalin apa kak?” tanya Lily dengan embel-embel ‘kakak’ pada Adam dia sengaja karena ingin Ashma tidak berpikiran bahwa Adam masih memiliki perasaan kepadanya.


Adam sadar dari lamunannya, “apa?” dia bertanya balik karena tidak mendengar yang diucapkan oleh Lily.


“Kakak khayalin apa sampai senyum-senyum sendiri?”


Adam mengangkat alisnya aneh, tiba-tiba saja Lily menjadi sopan saat memanggil dirinya, ah Adam menyadarinya mungkin itu adalah upaya Lily agar tidak membuat Ashma tidak berpikir Adam masih menyimpan perasaan kepada adiknya sendiri.


“Wisata masa depan.” Katanya sambil menatap Ashma dibalik kaca mobil. Tatapan mereka saling bertemu.


“Hah?”


Ashma yang paham akan ucapan Adam meliriknya sekilas lalu segera membuang pandangannya lagi keluar jendela.


“Hmm seperti itu.” Lily mulai memahami lalu dia tersenyum kecil.


Setelahnya hening Kembali melanda mereka, Lily sibuk dengan handphonenya sedangkan Ashma lebih suka memandang keluar jendela.


Dia memikirkan dirinya dan anaknya nanti mungkin akan hidup lebih bahagia dari sekarang setelah perpisahannya, Ashma sangat menantikan hari itu tiba.


Adam tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh istrinya sampai-sampai wanita itu tersenyum tipis menatap kearah luar jendela, dia harap semoga itu sesuatu yang baik.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua puluh menit akhirnya mobil mereka sampai di pelataran Mansion megah milik Adam. Lelaki itu menoleh kebelakang dan mendapati istrinya yang tertidur, dia segera turun dan membukakan pintu untuk Ashma, Lily sudah lebih dulu keluar sedangkan Adam dengan hati-hati menggendong tubuh istrinya ala bridal style, dia tidak ingin Ashma terganggu tidurnya apalagi mendapati Wanita itu tengah di gendong olehnya bisa-bisa dia mengamuk.


Adam merasakan bobot tubuh Ashma yang semakin berat namun dia masih sanggup mengangkat tubuhnya, baginya tubuh Ashma masih sangat ringan walaupun dia tengah hamil besar dan bobot tubuhnya bertambah lebih banyak.


“Sayangin istrinya, jangan dibuat ngambek terus!” cibir Lily yang tengah duduk di sofa. Adam tidak menghiraukan ucapannya, ini adalah pertama kalinya dia sangat tidak mau menanggapi ucapan lily.


Bibi Marianne menuruni tangga satu persatu, dia sangat senang menantu dan anaknya sampai juga pulang. Tadinya bibi Marianne ingin memberikan surprise untuk menyambut kepulangan Ashma tetapi dia rasa itu tak perlu karena bibi Marianne ingin memberikan hadiah yang lebih bermakna untuk Ashma.


Melihat menantunya yang tertidur nyaman di gendongan Adam itu membuat senyuman bibi Marianee semakin merekah.


“Alhamdullilah kalian sudah sampai,”


“Iya ma.” Jawab lily.


“Ma Adam mau membaringkan Ashma di kamarnya,” ucap Adam meminta izin, bibi Marianee tentu saja mengangguk.


“Kamu harus menjaganya dengan baik-baik Adam, jangan lalai lagi!” ucap bibi Marianne mewanti-wanti putranya.


“Tentu Ma.”


Adam menaiki anak tangga satu persatu dengan sangat hati-hati sampai akhirnya dia sampai menaiki anak tangga terakhir, Adam segera berjalan menuju kamar mereka.


Dia meletakan tubuh Ashma begitu hati-hati diatas ranjang tidur, dia duduk disamping Ashma sambil memperhatikan wajah cantiknya.


Adam mengelus pipi yang sedikit tirus itu, dia tidak pernah bosan memandangi wajah Ashma seperti sudah menjadi hal candu baginya.


“Sekarang saya memahami perasaan mu waktu itu Ashma, ternyata rasanya sangat sakit ya,” gumam Adam dengan nada suara lesu lalu dia mendekati wajah istrinya untuk mencium kening Ashma.


...•••...


Adam menghela napas gusar karena mendapatkan tugas dari atasannya untuk menyelidiki kasus kematian seorang hakim dirumah dinasnya, mengingat kasus ini sangat penting karena masih menjadi tali penghubung dengan kejahatan yang dilakukan Daxter, mafia yang sedang dia buru jadi, Adam tetap harus melaksanakan tugasnya.


Namun disisi lain Adam bingung sekali karena berarti dia harus meninggalkan istrinya lagi apalagi jarak tempuh untuk tugasnya ini berada di negara lain. Kemungkinan buruknya dia akan meninggalkan Ashma selama satu minggu dan itu sangat membuat hatinya berat sekali untuk pergi mengingat hubungan mereka sekarang yang sedang renggang dan tidak baik-baik saja.


Tapi Adam tetap harus bersikap profesional jadi malam ini dia akan pergi untuk bertugas, sebelum itu Adam harus berupaya untuk meyakinkan Ashma terlebih dahulu, Adam butuh kepercayaan darinya.


Dia pergi kekamar istrinya untuk berbicara dengannya, dia sudah mempersiapkan diri apabila Ashma menolaknya, Adam tidak peduli.


Tangannya terurur untuk meraih handle pintu lalu mendorongnya dengan pelan agar tidak menganggu istrinya didalam.


Ashma menoleh kearah pintu dan mendapati Adam berdiri diambang sana dengan tatapan sayunya.


Dia mendekati Ashma yang tengah duduk di sofa, Adam ikut duduk disampingnya tetapi Ashma menepi memperlebar jarak mereka.


Adam tersenyum tipis, dia tidak masalah jika Ashma merasa jijik padanya.


"Saya tidak ingin bertengkar denganmu Ashma, jadi tolong dengarkan saja," ucapnya dengan pembawaan yang begitu tenang.


"Malam ini saya harus pergi bertugas jadi saya mohon padamu maukah kamu menungguku?" Adam meminta pada Ashma dengan suara lirih.


Ashma tentu tidak menyahuti ucapan Adam karena setiap kali dia ingin menjawab, Ashma selalu terbawa emosi.


Adam menghela napas panjang, dia akhirnya frustasi menghadapi diam nya Ashma.


"Mau sampai kapan mendiami saya sweetheart?"


Adam merapat kan tubuhnya dengan Ashma, dia segera melingkari pinggang nya agar wanita itu tidak kemana-mana, Ashma tentu berontak.


"Diamlah sweetie. Saya merindukan anak saya, jadi kamu tidak memiliki hak melepaskan diri dari saya!" Ucapnya tepat ditelinga Ashma, sapuan suara Adam membuatnya begitu merinding.


Adam mengusap perutnya dengan lembut dia juga mencondongkan tubuhnya untuk mencium perut besar istrinya.


"Anaknya Ayah tenang-tenang didalam perut Mommy mu ya, jangan merusuh. Beberapa bulan lagi kita akan bertemu, sayangku." Adam mencium lagi perut Ashma begitu lama seolah akan merindukan anaknya karena perpisahan mereka.


"Eh?"


Tiba-tiba Adam merasakan pergerakan didalam perut istrinya, dia memasang telinganya untuk mendengar respon anaknya didalam sana. Adam menyunggingkan senyum bahagia karena bisa mendengar suara rusuh didalam perut istrinya.


"Shh..." Ashma meringis kecil, Adam segera mendongakkan kepalanya melihat Ashma yang sedang menahan ringisan.


"Kenapa sayang?" raut wajah Adam berubah cemas.


"E--enngak, hanya terkejut karena dia menendang." cicitnya menjawab, Adam tersenyum tipis akhirnya istrinya merespon ucapannya.


Ashma sebenarnya terenyuh melihat interaksi antara Ayah dan calon anaknya itu, walau bagaimanapun didalam perutnya terdapat darah daging Adam jadi dia tidak akan sekejam itu tidak memberinya izin untuk menyapa calon buah hati mereka.


Adam kembali mensejajarkan tubuhnya dengan Ashma tanpa melepas tangannya yang masih melingkari pinggangnya.


"Seperti yang selalu kamu inginkan dulu, saya akan pulang cepat setelah tugas saya selesai," Adam tidak lepas memandangi wajah Ashma yang akan ia rindukan beberapa hari kedepan.


Ashma mengernyitkan dahinya, "itu dulu, sekarang aku tidak peduli kalau kamu mau kembali dengan jangka waktu yang lama atau mungkin sampai berbulan-bulan." Ashma masih saja berbicara sensi pada Adam membuat lelaki itu harus ekstra bersabar menghadapi mahkluk yang bernama 'perempuan' ini.


"Saya akan tetap kembali sesegera mungkin."


Adam segera meraih wajah istrinya dengan tangan satunya dan tanpa menghiraukan wajah galak Ashma dia segera mencium bibirnya dengan lembut.


Ashma berusaha mendorong tubuh Adam namun kekuatannya tidak cukup untuk membuat dirinya menjauh yang ada Adam malah semakin gencar mengabsen setiap inci didalam mulutnya.


Namun demikian Adam melepaskan pagutan mereka setelah berhasil membuat Ashma kewalahan hingga napasnya tersengal-sengal.


Adam tersenyum puas, "saya harus menahan diri lagi sayang."


Ashma menatapnya dengan tajam dan menghunus lalu dia beranjak dari duduknya setelah Ashma berhasil mendorong tubuh Adam.


"Ngeselin!"


Ashma pergi dari kamarnya dengan perasaan dongkol, bisa-bisanya Adam mencuri kesempatan untuk mencium bibirnya. Dia kira Ashma akan goyah dengan rayunnya itu, tentu saja tidak karena Ashma benar-benar tidak menginginkan perhatian dan cintanya lagi, dia sekarang hanya bisa membencinya.


#TBC