A Little Hope For Ashma

A Little Hope For Ashma
52. Dia mencintai istrinya



Adam segera mengejar Lily dan juga si bedebah Edward dengan Langkah besar, dia diliputi amarah dan emosi yang hampir meledak, tangannya terkepal begitu kuat saat melihat mereka semakin mesra.


Adam sampai mengejar mereka dan dia langsung melayangkan bogeman keras pada wajah Edward saat dia menengok kebelakang.


Edward jatuh ditanah, dia melihat pelaku yang sudah dengan berani-beraninya memukul wajahnya. Mata mereka bertemu, saling menetap tajam, Lily terkejut dan berteriak saat Edward dipukul oleh seseorang.


“A—adam,” gumam Lily begitu terkejut dengan kehadiran Adam yang tidak ia sangka-sangka.


Edward bangkit dengan mengusap kasar darah yang mengalir di hidungnya.


“Senang bisa bertemu denganmu lagi Mr. Adam Kenedy.” Ucap Edward menyapanya dan itu semakin menyulut amarah Adam.


“Bedebah kau Edward!” Adam Kembali melayangkan pukulannya lagi dan Edward berhasil menepisnya dengan melawan. Lily berteriak meminta mereka untuk berhenti, mereka tidak mendengarkan dan masih saling melayangkan tinju serta pukulan satu sama lain.


“Kalian berdua, hentikan!”


“HENTIKAN!”


Tetap saja mereka tidak berhenti saling berduel mengadu kekuatan masing-masing dengan penuh amarah yang menggebu-gebu.


“TOLONG HENTIKAN!” Lily berteriak sampai suaranya hampir habis, semua orang yang melihatnya haya menonton mereka yang berduel tanpa ada yang mau memisahkan karena mereka tahu siapa Edward itu, jadi mereka tidak ada yang berani memisahkan dua lelaki itu.


Saat Adam akan melayangkan pukulannya pada Edward yang tengah terjungkal kebelakang saat itu juga Lily datang untuk melindunginya. Adam hampir saja memukul punggung Lily jika ia tidak cepat sadar.


Adam terdiam ditempatnya dengan nafas terengah-engah, dia memandang lily dengan perasaan hancur. Wanita itu rela mengorbankan dirinya untuk Edward, lelaki bedebah itu.


“Kenapa? Kenapa Lily?” katanya dengan raut wajah kecewa dan suara yang begitu lirih.


Lily membantu Edward untuk berdiri, mereka saling memegang tangan begitu erat, Edward juga memeluk pinggangnya dengan mesra. Adam menatap miris mereka berdua.


“Dia suamiku, Edward adalah kekasihku, lelaki yang aku cintai dan akan tetap seperti itu!” Katanya menegaskan dengan mata tajam menatap kearah Adam.


“Kau pasti sudah salah paham sejak awal, apa kamu mengira aku memutuskan pernikahanku denganmu karena aku ingin menyelamatkanmu saja? Ya itu memang benar tapi tidak sepenuhnya. Adam kau harus tahu bahwa kami saling mencintai, aku dan Edward. Kami menikah karena kami saling mencintai.”


Itu adalah deklarasi yang sangat kejam, Adam mendengarnya dengan seksama dan menyimaknya dengan baik. Dengan perasaan yang hancur.


“Kamu hanya terobsesi kepada keinginanmu yang tidak pernah bisa kamu dapatkan! Itu bukan cinta Adam!”


“Apa kamu tidak pernah bisa melihat seseorang yang selalu memikirkan mu dan mencintaimu dengan tulus? apa kamu pernah melihatnya dengan tatapan memohon? apa kamu pernah melihatnya hah?”


Adam tersentak atas ucapan lily, dia menatap mereka dengan nelangsa. Ya dia selalu kalah dengan Edward, dia mendapatkan cintanya, lily dia wanita itu. Adam telah dibohongi oleh dirinya sendiri selama ini karena keegoisannya yang ingin mendapatkan apa yang selalu ia inginkan.


Dia lebih pantas dilihat seperti seonggok sampah menjijikkan melebihi Edward, dia adalah lelaki yang sangat menyedihkan. Dialah yang brengsek selama ini karena telah memaksakan kehendak yang tida pernah bisa dia ubah.


“Apa kau  pernah melihat mata Wanita yang memohon kepadamu?” pertanyaan Lily berputar di kepalanya, Adam menunduk malu.


“Ashma.” Gumamnya dengan lirih bersamaan dengan suara sirine ambulance yang memekik pendengarannya, dia menatap ambulance yang lewat itu dengan perasaan takut, entah tapi Adam sangat takut melihat ambulance itu.


Itu adalah ketakutannya yang tidak pernah ia duga.


“Ashma…”


Benar, Dia mencintai istrinya.


...•••...


Adam sampai di rumah sakit bersamaan dengan tubuh Ashma yang dibawa kedalam rumah sakit oleh para tim medis.


Adam keluar dari mobilnya dengan begitu tergesa-gesa, dia sampai. Dia hampir sampai menggapai tubuh Ashma yang akan dibawa segera menuju ruang IGD. Disana, tubuh nya menjadi kaku saat matanya melihat Ashma, istrinya dengan tubuh yang berlumuran darah, dia tidak bergerak tidak juga sadar, matanya terpejam dengan kulit wajah yang semakin pucat.


“Sayangku!” Teriak Adam dengan langkah besar menghampiri tubuh yang terkulai lemas diatas brankar pasien.


Tim medis segera mendorong brankar itu menuju Ruang IGD, Adam berada disampingnya ikut berlari membawa tubuh lemah Ashma dengan air mata yang terus luruh.


Dia terus menggenggam tangannya erat yang semakin dingin, tangan Adam ikut berlumuran darah milik istrinya.


“Ashma sayangku tolong bertahan, tolong saya mohon Ash—” Mereka berpisah saat tubuh Ashma dibawa masuk kedalam ruang IGD, tubuh Adam segera ditahan oleh para perawat.


“Maaf tuan, anda tidak diizinkan masuk.”


“Istriku…” katanya masih memanggil Ashma saat pintu sudah hampir tertutup, disana Ashma tengah berjuang dengan kematiannya.


“Sayang Ashma, My Sweetheart bukankah kamu ingin mendengarnya sayang? Kenapa, kenapa kamu ingin pergi dari saya kamu—” suaranya tercekat diantara tenggorokannya serasa sulit untuk dikeluarkan. “Saya mencintaimu Ashma,” deklarasi ungkapan perasaan yang sebenarnya itu akhirnya keluar tulus dari mulutnya, tapi Ashma tidak bisa mendengarnya lagi.


“Saya mencintaimu,”


“Saya— sungguh telah jatuh cinta kepadamu. Ashma tolong bertahan, Kembali lagi pada saya. Kamu mau membenciku kan, ya tidak apa tapi tolong jangan pergi Ashma-ku, cintaku. Ashma…”


“Ini belum terlambat kan Ashma?”


“Demi Tuhan saya mencintaimu sayang!”


Jika saja ada orang yang mengenalinya dan melihat bagaimana keadaan Adam saat ini pastilah tidak akan menyangka. Dengan sangat berantakan dia tidak terlihat seperti lelaki yang penuh dengan wibawanya lagi. Rambutnya tidak serapih biasanya, wajahnya memelas sambil terus menitihkan air mata tak berujung, baju dan tangannya berdarah-darah, itu adalah milik istrinya.


Dua pasang mata mendatangi lelaki menyedihkan itu yang tengah menangis frustasi diambang pintu ruang IGD, mereka adalah Lily dan juga Edward yang melihat langsung bagaimana hancurnya seorang Adam Kenedy.


Edward didalam hatinya begitu puas melihat penderitaan Adam tapi dia juga diliputi kemarahan karena Daxter mengambil keputusan sendiri, dia si pria keparat itu yang sudah menyebabkan istri Adam masuk kedalam rumah sakit, Daxter yang sudah menabrak Ashma. Si maniak pembunuh berdarah dingin itu tadi saat di perjalanan menuju rumah sakit menelponnya, dia memberitahu bahwa dia sudah bergerak semaunya, disisi lain Edward juga tidak terlalu memikirkan sebab dia tidak ikut campur atas penabrakan yang sudah Daxter lakukan.


“Adam,” panggil Lily menatap nelangsa kakak angkatnya yang terlihat sangat berantakan. Adam menoleh menatap dua insan yang melihatnya dengan menyedihkan.


Adam tidak langsung menyahuti, dia mendongakkan pandangannya pada lampu IGD yang masih menyala yang menandakan istrinya masih sangat berjuang keras didalam sana.


“Dia Ashma, yang ada didalam sana adalah istriku.” Katanya sambil bangkit untuk berdiri. Dia tidak lagi menyembunyikan statusnya dengan Ashma karena itu sudah tidak penting lagi baginya.


Saat Adam menoleh untuk menghadap kearah Lily Wanita itu menamparnya dengan keras.


Rasa perih dan panas menjalar dibagian pipi kanannya, rasanya begitu gamang dan Adam terdiam mendapatkan tamparan tiba-tiba dari Lily.


Dia menggebu-gebu begitu marah pada Adam. “Aku tidak menyangka, kamu akan sejahat ini pada istrimu sendiri Adam!” ucapnya memekikkan nada suara yang keras.


“Ashma Wanita itu dia, dia rela memperkenalkan dirinya padaku sebagai orang luar didalam rumah yang seharusnya menjadi tempatnya, kau—” Lily menunjuk tepat didepan wajah Adam, “benar-benar lelaki brengsek Adam!” Pekik Lily begitu marah pada Adam sampai-sampai matanya memerah sambil menahan air mata. Dia juga seorang perempuan dan dia merasa sakit jika melihat perempuan lain diperlakukan semaunya oleh laki-laki.


“Bahkan dia sedang mengandung, dia mengandung anakmu, sialan!” Lily lepas kendali saat ia memekikkan kata-kata kasar padanya.


Adam mengeraskan rahangnya saat ia disadarkan oleh perkataan lily. Benar, Ashma tengah mengandung darah dagingnya dia disana sedang berjuang bersama anak mereka, Adam Kembali menatap ruang IGD yang masih tertutup rapat.


“Anakku…” lirihnya, kali ini ia benar-benar hancur tak bersisa. Adam mengingat perasaannya sejak awal sebelum mereka pergi berkencan saat dia sangat merindukan bayi didalam perut istrinya padahal anak itu belum lahir kedunia, perasaan rindu yang teramat itu apakah karena ini? Jadi karena ini? Adam membatin penuh sesak.


"Ya Allah. Istri dan anakku terluka." Gumam Adam lirih sekali, dia tidak memiliki kekuatan lagi untuk mengatakan apapun pada Lily.


Lily tidak ingin menghabiskan amarahnya untuk lelaki seperti Adam, dia membiarkan lelaki itu merenung dengan segala kesalahannya pada istrinya sendiri.


Edward meraih pundak istrinya, Lily segera menenggelamkan dirinya didalam pelukan Edward.


"Ed, Ashma dia--" ucapnya yang terpotong sambil terisak kecil.


"Syuttt iya sayang." Katanya sambil menenangkan Lily. Edward tahu bagaimana perasaan istrinya sekarang, dia juga merasa sedikit sedih atas Ashma karena bagaimanapun dia pernah berniat ingin merebut Ashma dari Adam yang mengetahui dia memiliki istri dan rupanya yang samar-samar mirip dengan Lily. Sampai-sampai dia pernah mengirimkan bunga ke Mansion Adam setiap hari sebagai bentuk ancaman juga menggertak Adam bahwa dia akan merebut apapun darinya termasuk istrinya itu, namun setelah mengetahui Lily masih hidup keinginan gila untuk merebut Ashma hempas pergi saat Lily kembali kedalam pelukannya lagi.


Lily melepaskan pelukannya dari Edward, "aku mau menelpon Mama."


Edward mempersilahkannya, dia duduk dibangku tunggu dan masih memperhatikan kearah Adam di depan pintu IGD, lelaki itu menyedihkan. Edward seperti melihat dirinya saat kehilangan Lily waktu itu.


Lily ditempatnya menghela nafas panjang saat sudah selesai menelpon Mamanya, dia segera datang kerumah sakit dengan Jhon.


Bibi Marianee yang berada di Mansion tengah menangis karena mendapatkan kabar duka dan menyakitkan dari Lily. Menantunya, Ashma dia mengalami kecelakaan.


Saat itu juga Jhon yang baru sampai kembali dari rumah keluarga tuannya semasa Adam kecil segera menghampiri bibi Marianee dengan langkah yang besar.


"Nyonya ada apa?" Tanya Jhon cemas melihat nyonya nya menangis dengan tubuh yang hampir jatuh kelantai.


"Ashma, Jhon...dia kecelakaan." Jawab bibi Marianee dengan sendu dan seketika itu membuat Jhon sangat terkejut dengan mata yang membelakak.


"Apa? Nona Ashma kecelakaan?" Jhon bergumam saat ia masih tidak yakin akan berita itu karena sebelumnya dia masih bisa melihat senyuman indah dari Nona nya sebelum pergi berangkat untuk berkencan dengan suaminya, Adam.


Darah Jhon saat itu juga mendidih hebat dengan rahang yang mengeras, sepertinya tuannya telah lalai menjaga istrinya.


"Jhon ayo Kita segera pergi kerumah sakit!"


Jhon segera mengangguk dan memapah tubuh bibi Marianee untuk pergi menyusul yang lainnya kerumah sakit.


#TBC