A Little Hope For Ashma

A Little Hope For Ashma
62. Menegakan sandaran



Dokter Alicia kebetulan jadwal nya malam nanti jadi dia bisa berkunjung ke Mansion Adam untuk mengecek kondisi Ashma.


Dokter Alicia segera menghampirinya dikamar, wanita itu tengah selesai meminum obatnya, disana ada ibu mertuanya yang turut menemani.


Adam terdiam dibelakang dokter, dia memandangi Ashma dengan perasaan campur aduk.


Kalau dibolehkan Adam ingin terus menggenggam tangannya, dan selalu ada disisi nya tapi untuk saat ini dia tidak bisa karena Ashma pasti akan emosional lagi berdekatan dengan Adam.


"Bagaimana kabarmu Ashma?" Tanya dokter Alicia menyapa wanita itu dengan senyuman cerahnya.


Ashma balas tersenyum tipis, "aku, aku tidak tahu." Ucapnya dengan segala yang dia rasakan didalam hati dan pikirannya.


"Baiklah, tidak apa. Saya akan memeriksa kondisi kamu jadi tidak perlu ada yang dikhawatirkan."


Dokter Alicia mendekati Ashma yang tengah duduk di ranjang tidur, dia akan memeriksanya.


Selama pemeriksaan, mata Adam tidak lepas memandanginya namun tepukan dari mamanya membuat dia segera menoleh kearah samping.


"Ma," gumamnya, Adam tersenyum tipis pada bibi Marianee.


"Semuanya akan baik-baik saja," ucap mamanya menenangkan Adam, dia tahu putranya tengah khawatir terhadap kondisi istrinya.


Adam menukik senyum tipis lalu mengangguk kecil, dia juga yakin bahwa semuanya pasti akan baik-baik saja.


Adam merasakan ponselnya berdering disaku celananya, saat dilihat dia mendapatkan telepon dari Zavier maka dari itu Adam segera keluar dari sana.


Beberapa saat berlalu Dokter Alicia yang sudah selesai memeriksa Ashma segera pergi mengikuti Adam untuk menjelaskan tentang kondisi istrinya ditempat yang lain.


Dokter Alicia menghela napas sejenak, dia ingin membuat suasana tidak menegangkan.


"Jadi bagaimana dok?" Tanya Adam tidak sabaran lagi, dia hanya ingin mendengar seperti apa kondisi Ashma saat ini.


"Kondisi fisik tergantung dari kondisi psikisnya, tidak ada yang harus dikhawatirkan dengan kondisi badan Ashma namun kau juga harus rutin membawa dia untuk check up melakukan pemeriksaan lebih mendetail lagi." Jelas dokter Alicia, Adam mengangguk paham.


"Tapi Adam, kondisi psikis istrimu yang tidak baik. Kecelakaan itu bisa jadi membuat nya trauma atau bisa jadi istrimu mengingat hal traumatis pada masa lalunya. Maaf tapi saya tidak bisa menjelaskan lebih, ada ranahnya ini dijelaskan oleh yang lebih ahli. Saya menyarankan  untuk membawa Ashma ke psikolog, mereka yang lebih paham apa yang terjadi pada Ashma."


Penjelasan dari dokter Alicia sama seperti pendapat Lily, Adam juga berpikir untuk membawa Ashma ke psikolog.


"Baiklah dokter terimakasih sudah menyempatkan diri untuk datang kesini memeriksa kondisi istri saya," ujar Adam, dokter Alicia terkekeh kecil.


"Tidak, ini sudah menjadi tugas dan kewajiban saya sebagai seorang dokter dan pastinya harus selalu siap dibutuhkan oleh pasiennya."


Setelah selesai dengan tugasnya dokter Alicia segera kembali untuk mengemban tugasnya, dia diantarkan oleh pengawal Adam.


Adam menyiapkan dirinya untuk bertemu dengan istrinya dia harap kali ini Ashma akan tenang saat melihatnya.


Adam mengetuk pintu dengan perlahan, bibi Marianee segera mempersilahkannya masuk. Saat dia melangkahkan kakinya kedalam Ashma segera melihat dirinya yang berhenti diambang pintu.


Mereka terlibat saling melemparkan tatapan mata namun Ashma segera memutusnya terlebih dahulu.


"Saya ingin berbicara denganmu Ashma, apa boleh?" Tanyanya meminta izin barang kali Ashma tidak mau.


Ashma tidak langsung menjawabnya dia membiarkan keheningan menyelimuti mereka namun beberapa saat kemudian Ashma akhirnya mengangguk untuk memberinya izin.


Adam tersenyum tipis dengan perasaan bahagia, dia melangkahkan kakinya untuk mendekati Ashma.


Bibi Marianee menyising dari mereka untuk memberikan ruang komunikasi, dia berharap semoga hubungan mereka akan kembali membaik.


Adam berdiri disampingnya dengan canggung dia jadi bingung ingin memulai pembicaraan seperti apa, namun Ashma menepuk kasur disebelahnya dia mengijinkan Adam untuk duduk.


Adam masih terdiam sejenak untuk mencerna apa yang Ashma lakukan.


Melihat respon Adam yang bingung Ashma memberikan maksud dari ucapannya, "Duduk disini,"


Adam akhirnya mengerti, karena tidak ingin membuang kesempatan emas ini akhirnya Adam segera duduk disebelah istrinya lebih tepatnya mereka duduk saling berhadapan.


Ashma mendesah panjang, "kamu tidak usah percaya diri dulu, aku tetap masih membencimu."


Adam tersenyum kecil, "tidak apa kalau kamu masih membenci saya, lebih buruk dari itu juga tidak apa asal kamu selalu berada disisi saya."


Tangannya terurur untuk meraih jemari Ashma namun istrinya segera menepis.


"Katakan saja, tidak usah pegang-pegang!" Dia begitu sensi dan galak, Adam hanya bisa menghela napas dengan lesu.


"Maaf. Saya--" dia tidak segera melanjutkan ucapannya dia hanya takut menyinggung perasaannya.


"Saya minta maaf jika kehadiran saya membuat kamu sakit hati, maaf karena saya banyak mengabaikan kamu selama ini." Adam menundukkan pandangannya dengan perasaan bersalah, dia mencoba menghadapinya dengan perasaan yang lebih terbuka berharap wanita itu mau membuka lagi secercah harapan untuk Adam.


Ashma sebenarnya tidak suka melihat ekspresi wajah menyedihkan Adam, baru kali ini dia melihat lelaki itu sungguh sangat berantakan. Bahkan entah dari kapan disekitaran wajahnya sudah dipenuhi bulu-bulu halus yang memanjang, rambutnya gondrong dan berantakan dan lingkaran mata panda terlihat jelas diwajahnya.


Ashma selama ini bersikap tidak peduli kepadanya karena dia tidak ingin lagi terlibat perasaan dengan Adam.


Setelah bangun dari koma nya Ashma sudah tidak memiliki kepercayaan lagi untuk Adam Dia sengaja mengunci hatinya untuk tidak luluh lagi, cukup perasaannya yang kemarin dimainkan oleh Adam tetapi tidak lagi untuk sekarang dan seterusnya.


Kalau Adam bisa egois dulu dengan perasaannya berarti Ashma pun bisa egois sekarang dengan menolaknya.


Jadi itu impas kan, pikir Ashma.


Adam tidak tahu apa yang dipikirkan Ashma saat ini, mungkin Adam terlihat begitu menyedihkan dimatanya.


"Apa kamu cuma ingin membicarakan itu saja?" Ashma yakin Adam ingin membicarakan hal yang lain.


Tentu saja Adam membenarkan ucapan Ashma, tapi dia takut istrinya berpikiran yang tidak-tidak kalau Adam ingin memberi tahu niatnya membawa Ashma ke psikolog.


"Tapi kamu janji jangan marah," Adam terlihat seperti sedang meminta izin pada ibunya, entah mengapa Ashma jadi ingin tertawa tetapi dia segera memalingkan wajahnya untuk menampilkan raut wajah biasa.


"Hmm, katakanlah!"


"Tentang kondisi mu sekarang, dokter Alicia mengatakan kamu sudah jauh lebih sehat, tapi dengan kondisi psikis mu itu--" Adam mengatakannya dengan gelagapan membuat Ashma gemas sendiri.


"Iya aku tahu, dokter Alicia sudah mengatakannya padaku. Jadi kamu mau apa?"


Adam menatap iris cokelat Ashma dengan intens. "Maaf kalau saya lancang tapi maukah kamu pergi ke psikolog?"


Mata Ashma melebar tetapi dia tidak menampilkan respon marah padanya hanya saja dia terdiam memikirkannya.


Adam menghela napas berat, "maafkan saya yang selama ini tidak memahami perasaanmu, saya tidak pernah menegakkan bahu saya untuk memberi sandaran padamu untuk bercerita, saya tidak memahami luka didalam hatimu. Saya hanya egois dengan diri saya sendiri." Ucap Adam penuh penyesalan.


Ashma tahu dirinya akhir-akhir ini kehilangan ketenangannya dan berubah menjadi emosional. Sepenuhnya bukan karena Adam, tetapi Ashma menjadi sulit mempercayainya lagi karena luka trauma saat kecelakaan masih terjerembab didalam ingatannya sebab Adam sudah memberikannya luka yang tidak bisa ia toleran lagi.


Dia juga akhir-akhir ini selalu memimpikan kedua orang tuanya, Ashma selalu bermimpi tentang kematian mereka dan luka kehilangan itu kembali mengusiknya lagi, ditambah pula rasa sakit hatinya pada suaminya sendiri, sebab dari itu Ashma ingin segera berpisah dengan Adam dia hanya ingin hidup tenang dengan bayinya di Palestina.


"Tidak, aku tidak berminat dengan tawaranmu. Aku lebih berminat jika itu adalah tawaran perpisahan."


Adam lagi-lagi harus menahan dirinya agar tidak terbawa emosi, dia harus bisa lebih tenang lagi dalam menghadapi sikap acuh tak acuh Ashma.


"Kalau kamu tidak mau tidak apa, tapi mulai saat ini dan seterusnya saya akan selalu ada disisi mu, saya akan selalu mendengarkan keluh kesah mu sekalipun kamu membenci saya."


Ashma mengerjapkan matanya ikut menyelami iris biru Adam, anehnya dia tidak menemukan kebohongan disana tetapi dia segera membuang pandangannya kearah lain dengan kesal.


"Ayolah Ashma kamu tidak boleh mudah goyah hanya karena melihat ekspresi wajahnya yang meyakinkan!" Dia membatin sendiri dengan segala pemikirannya.


"Aku mau istirahat." Ashma menyudahi pembicaraan itu terlebih dahulu, dia segera merebahkan dirinya dan memunggungi Adam dari belakang.


Adam tidak mempermasalahkan Ashma yang langsung memutuskan pembicaraan mereka, terus terang Adam merasa lega karena bisa berbicara dengannya tanpa emosi seperti tadi pagi.


Adam bangkit dari duduknya untuk segera kembali keruang kerja, dia akan mengambil laptop dan berkas-berkas untuk membereskan pekerjaannya segera. Adam akan menemani Ashma dikamar sambil mengerjakan pekerjaannya yang tertunda.


Ashma tentu saja masih memunggungi Adam yang ternyata malah kembali ke kamar mereka.


sepuluh menit berlalu, Ashma rasanya ingin berpindah posisi tetapi dia gengsi jika harus bertatap mata dengan Adam. Namun semakin lama dia berbaring dengan posisi yang sama semakin pula badannya terasa pegal dan tidak enak. Ashma mau tidak mau harus menurunkan gengsinya maka dari itu dengan perlahan dia merubah posisinya sambil memejamkan mata.


Adam yang sekarang tengah duduk disofa sambil memangku laptop segera berpaling menatap Ashma, dia tersenyum kecil karena tahu Ashma hanya pura-pura tertidur.


#TBC