A Little Hope For Ashma

A Little Hope For Ashma
65. Serangan panik



'Zionis Israel melakukan aksi penyerangan terhadap rakyat Palestina dengan menjatuhkan bom nuklir tepat diperhuniah wilayah Gaza, akibat dari penyerangan itu diinformasikan sekitar dua ratus jiwa menjadi korban ledakan yang sangat dahsyat.'


Ashma membekap mulutnya saat mendengar berita memilukan itu dia langsung teringat nenek dan pamannya di Palestina karena mereka menetap di wilayah Gaza.


"Ya Allah Nenek, paman..." Lirih Ashma, perasannya seketika cemas luar biasa.


Jantungnya berdetak kencang dan napasnya terengah-engah, dia terkena serangan panik.


Ashma tidak kuasa menahan tangis dengan sesak di dadanya, dia yang ingat segera mencari handphonenya di dalam lemari dengan tergesa-gesa.


Ashma tak kunjung mendapatkan balasan membuat cemasnya malah semakin menjadi, dia berusaha mengatur napasnya agak tidak terlalu sesak, Ashma sadar bahwa dia harus melindungi nyawa lain didalam perutnya.


"Astaghfirullah..."


Ashma yang ingin meraih gelas diatas nakas malah membuat gelasnya pecah kelantai, suara nyaring itu terdengar oleh pelayan sesegera mungkin dia mengetuk pintunya, namun tak kunjung ada jawaban membuat pelayanan itu segera masuk kedalam kamar majikan mereka dan menemukan Nona nya tengah terduduk dilantai sambil memegangi dadanya.


"Nona Ashma," pekik pelayanan itu dan segera berlari mendekati Ashma.


Ashma masih merasa sesak rasanya namun dia berusaha untuk tenang agar tidak membahayakan bayi dalam kandungan nya.


"Nona, ada apa dengan anda?" Pelayanan itupun sama paniknya karena melihat Ashma dalam keadaan mengkhawatirkan, dia segera beranjak pergi untuk memanggil bibi Marianee.


Bibi Marianee dan Lily yang tengah mengobrol diruang tengah seketika langsung bergegas pergi untuk menemui Ashma.


Bibi Marianee dengan langkah tergesa-gesa segera menghampiri menantunya yang dalam keadaan menghawatirkan.


"Ashma sayang kamu kenapa?" Tanya bibi Marianee begitu panik melihat Ashma.


Ashma langsung merengkuh tubuh ibu mertuanya dengan badan bergetar.


"Nenek dan paman Amith di Palestina ma," ucapnya dengan sesegukan.


"Iya sayang pelan-pelan bicaranya," ucap bibi Marianee berusaha menenangkan Ashma.


Lily segera menghubungi Adam namun dia tidak kunjung mendapatkan jawaban membuat Lily menjadi kesal.


"Ini orang kemana sih?!" Kesal Lily.


"Ma, ada berita memilukan yang mengguncang Palestina!" Ucap Lily begitu syok melihat berita di handphonenya.


Bibi Marianee sekarang tahu mengapa Ashma bisa sesedih ini.


"Ma aku ingin pulang, tolong pulangkan aku ke Palestina ma..." Ucap Ashma begitu memelas, dia sangat memohon kepada mama mertuanya itu.


Bibi Marianee tidak dapat menjawab dia hanya bisa memenangkan Ashma karena Adam lah yang harus memberi keputusan.


"Li, bagaimana kakak mu apa bisa dihubungi?"


Lily menggeleng lemah, sudah sedari tadi dia menelponnya tetapi handphonenya tidak kunjung aktif, sepertinya Adam tengah melakukan tugasnya.


Tubuh Ashma terasa begitu lemas dan diapun pingsan dalam dekapan ibu mertuanya.


"Ya Allah Ashma!"


"Li, cepat panggil dokter Alicia sekarang juga! Ucap bibi Marianee, Lily segera menghubunginya.


•••


Adam akhirnya bisa beristirahat setelah menyelesaikan tugas dan pekerjaannya, dia amat begitu lelah hingga kepalanya terasa berdenyut nyeri.


Sudah tiga hari Adam meninggalkan istrinya dirumah dan rasanya dia begitu rindu kepayang hingga tidak sabar untuk segera menelponnya.


Ashma memang masih sangat dingin padanya, dia tidak akan membalas telepon maupun pesan darinya sebelum Adam mengirimkan sekitar 150 pesan dan dua puluh lima panggilan telepon.


Adam yang sudah mengaktifkan data seluler seketika terkejut mendapatkan tiga puluh panggilan tidak terjawab dari Lily, seketika perasaannya menjadi tidak tenang.


Adam segera menghubunginya kembali dan syukurnya Lily segera mengangkatnya.


"Kamu kemana aja si kak? Kenapa ga diaktifin handphone nya?" Tanyanya beruntun dengan nada suara penuh emosi.


"Maaf, aku baru bisa membuka handphone sekarang."


Lily mendesah berat, "pulang sekarang juga!" Katanya menyuruh Adam untuk bergegas pulang.


Adam semakin dirundung rasa cemas, "ada apa?"


"Siang tadi Ashma terkena serangan panik karena mendengar berita buruk yang berhubungan dengan Palestina, dia sangat syok kak. Cepet pulang!"


"Hey kau mau kemana?" Tanya Zavier namun tidak sempat dijawab oleh Adam, dia keburu lari menuju luar.


Adam segera menancap gas, dia melajukan mobilnya begitu kencang sekali hingga beberapa pengendara menegurnya dengan memberikan klakson.


"Ashma..." Gumam nya memanggil istrinya.


Jarak yang ditempuh Adam memang memakan waktu banyak namun di terus fokus kedepan untuk menyetir.


Sekitar tiga jam menempuh perjalanan akhirnya Adam sampai di Mansion nya, dia segera masuk kedalam dengan tergesa-gesa.


Lily yang melihat kedatangan Adam segera menyuruhnya untuk naik keatas menemui istrinya.


Adam dengan langkah besarnya naik keatas dia segera masuk kedalam kamar dan melihat istrinya yang tengah menangis didalam pelukan bibi Marianee.


"Sudah dari siang dia seperti ini aku khawatir kondisinya akan drop lagi, dokter Alicia sudah datang mengecek kondisinya dia bilang Ashma terkena serangan panik dan mengalami stress." Sanggah Lily, Adam segera mendekati Ashma namun istrinya itu segera melepaskan pelukan bibi Marianee dan menatap Adam dengan tatapan tak terbaca.


Ashma bangkit dari duduknya dan segera bertekuk lutut dihadapan Adam, Lily dan bibi Marianee seketika sangat tercengang apalagi Adam yang langsung mengeraskan rahangnya.


"Ashma kamu apa-apaan?" Tanya Adam memekik tidak suka melihat Ashma yang sangat merendah dihadapannya, dia sampai rela bertekuk lutut seperti itu.


"Mas, dengan segala permohonan ku kepadamu tolong...aku mohon tolong biarkan aku pergi ke Palestina." Ashma memohonkan dengan penuh ringkih membuka Adam marah sekaligus pada dirinya.


Adam langsung memegang kedua lengan Ashma dan mensejajarkan tubuhnya dengan dia. Adam menatap Ashma penuh kelembutan walau didalam hatinya begitu sedih dan perasannya berantakan.


"Maaf kan saya Ashma. Maafkan saya yang selama ini sudah banyak mengekangmu, maafkan saya yang telah banyak melukai dan menyakiti hatimu. Saya--" suaranya terasa tercekat diantara tenggorokannya.


"Saya akan datang ke Palestina dan membawa Nenek dan Pamanmu kemari dengan selamat, itu adalah janjiku kepadamu jadi saya mohon tolong diamlah disini. Jaga anak kita dan saya yang akan menjemput keluargamu dengan selamat." Ujar Adam dengan menahan air matanya, dihadapan Ashma dia tidak ingin terlihat seperti lelaki yang menyedihkan.


Ashma tertegun mendengar ucapan Adam dia langsung tersenyum dengan air mata yang jatuh dari pelupuk mata, Adam segera meraih wajah itu dan mengusap jejak-jejak air matanya lalu dia mencium kening Ashma begitu sangat lama.


"Im promise my sweetheart."


Adam segera beralih mencium perut Ashma begitu sayang.


"Tolong selalu tunggu kepulangan Ayah ya sayang." Bisiknya pada perut besar Ashma. Bibi Marianee dan Lily terharu melihat mereka, dengan besar harapan Adam dan Ashma dapat mengertakan tali pernikahan mereka lagi.


Lalu dia kembali mensejajarkan punggungnya untuk menegakan badannya menatap pujaan hatinya.


"Tolong doakan saya."


Setelah mengatakan itu Adam segera bergegas pergi dari luar dengan langkah besar sedangkan bibi Marianee ikut mengejarnya.


Ashma menatap kepergian punggung tegap suaminya dengan perasaan yang sangat sulit diartikan.


"Adam," panggil mama nya sedikit keras.


Adam yang sudah bersiap untuk pergi lagi segera menoleh kearah Mamanya.


"Iya ma?"


Bibi Marianee langsung mendekati putranya dan menatap wajah itu dengan tajam.


"Menangislah sayang, kamu manusia normal, seorang lelaki biasa yang sedang berusaha untuk memperbaiki pernikahan kalian, kamu tidak akan menjadi lemah hanya karena menangis Adam."


Adam tidak pernah bisa membohongi suasana hatinya dihadapan ibunya dia tidak bisa membohongi bibi Marianee yang sangat dia cintai.


Bibi Marianee merengkuh tubuh Adam, putranya itu langsung menangis didalam pelukan nya.


"Adam sudah lalai menjaga Ashma ma, Adam suami yang payah, dia begitu karena saya ma, saya sudah merusak kehidupannya..." Lirihnya dengan segala perasannya pada Ashma.


"No sayang, kamu adalah suami yang luar biasa. Terlepas dari segala kesalahanmu, ingat sayang kamu adalah manusia biasa yang bisa berbuat salah apabila kamu mau merubah dirimu menjadi manusia yang lebih baik lagi, insyaallah sayang Allah pasti membuka jalannya pada setiap hambanya yang mau berubah." Bibi Marianee menenangkan dan memberikan wejangan terhadapnya.


Adam mengangguk kecil dalam pelukan kasih sayang seorang ibu.


"Terimakasih ma, kau selalu menjadi obat disaat Adam tengah lara."


"Kamu adalah putraku yang sangat aku cintai Dam."


"I love you ma,"


"I love you too my boy!"


#TBC