
"Ashma," Panggil Adam untuk yang ketiga kalinya, istrinya itu sedari tadi melamun entah apa yang dia pikirkan.
Lamunan Ashma buyar, mendapati wajah Adam yang nampak bertanya-tanya. "Maaf Mas,"
"Ada apa? Kenapa melamun?"
"Ti-tidak, cuma melamun biasa aja Mas,"
Adam melihat kebohongan dimata istrinya tetapi dia tidak ingin tahu lebih, sudah tidak ada waktu untuk mengobrol lagi dia harus segera berangkat bertugas.
"Yasudah, saya pamit."
Ashma mencium punggung tangan Adam cukup lama. Merasakan gejolak tidak ingin berpisah dengannya.
Adam mengakhiri perpisahan mereka dengan mencium kening istrinya, "kalau rindu, tinggal menelpon atau video call," Ashma mengangguk kecil.
Adam melangkahkan kakinya menjauh dari Ashma, membawa bait-bait doa yang selalu Ashma panjatkan pada yang maha kuasa agar selalu melindungi Adam dimanapun dia berada.
Ashma menatap kepergian Adam dengan penuh keberatan didalam hatinya, mencegah pun rasanya tidak bisa.
"Kenapa aku sangat berat melepas Mas Adam ya? Ini tidak biasanya. Apakah aku sudah jatuh cinta dengannya?"
Ashma menghela napas panjang dengan senyuman kecil diwajahnya, berusaha ikhlas bersabar untuk menunggu kepulangan Adam.
Melangkahkan kakinya masuk kedalam, Ashma akan berusaha menyibukkan dirinya di Mansion yang sangat besar ini, walaupun sebagian pekerjaan rumah sudah dikerjakan oleh para pelayan Ashma tetap tidak bisa lepas tanggung jawab seperti itu saja.
Melihat Karina, gadis cantik yang bekerja di Mansion Adam itu lewat, segera Ashma memanggilnya. Mendengar majikannya memanggil Karina segera mendatangi Ashma.
"Iya Nona, ada yang bisa saya bantu?"
Ashma menatap wajah Karina yang nampak kelelahan, "Karina, istirahat dulu." Gadis itu menggeleng pelan, tidak berani istirahat jika pekerjaannya belum selesai.
"Tidak Nona, pekerjaan saya masih banyak."
Ashma membawa tubuh gadis itu untuk duduk di sofa, "ini perintah dari saya, sudah lebih baik kamu istirahat dulu. Saya akan mengerjakan sisanya."
Karina segera berdiri dari duduknya, dia menunduk kecil, "Jangan. itu bukan tugasmu!"
Ashma terkekeh pelan, "justru tugas rumah itu sebagian adalah pekerjaanku, saya sudah menikah dengan Adam berarti saya juga berhak ikut serta bertanggungjawab mengerjakan pekerjaan rumah," Jelas Ashma memberi pengertian.
"Tapi pelayan di mansion ini sudah banyak, Nona tidak usah membantu kami lagi, nanti bagaimana kalau tuan Adam marah?"
"Tidak akan, percaya ya padaku nah sudah sekarang istirahat dulu." Ucap Ashma memberikan seulas senyuman membuat Karina terpengarah, dia juga tidak bisa lagi menahannya, Nona nya itu sangat berhati besar.
Sepasang mata memperhatikan mereka, bibi Marianee sedari tadi tersenyum melihat kebesaran hati Ashma.
"Adam harus bisa sembuh dari masa lalunya, dan dia berhak bahagia dengan Ashma."
Bibi Marianee menyeka air matanya yang entah kapan luruh. Selalu seperti ini mengingat putranya, Adam telah lama menderita karena belum bisa mengikhlaskan kepergian Lily.
Beberapa waktu bergulir, Ashma yang tengah sibuk membersihkan ruangan tengah di mansion itu setengah merasakan pening kepalanya, namun dia berusaha menepisnya lagi pula Ashma hanya bersih-bersih kecil.
Namun disela-sela aktivitasnya itu Ashma merasakan gejolak aneh didalam tubuhnya, dia beristirahat sebentar.
"Aku kok tiba-tiba pening dan mual ya?"
...•••...
Pemandangan sore perlahan tenggelam dalam gelap, langit perlahan berubah menjadi nuansa biru tua, dan cahaya matahari perlahan memudar. Suasana berubah menjadi tenang dan hening saat malam semakin mendekat.
Syahdu suara Adzan di Handphone Ashma memekik keheningan memberikan ketenangan jiwa yang tengah dirundung kegelisahan.
"Katanya dia mau mengabari tapi saat ini belum juga ada pesan yang masuk," cemas mewarnai Ashma sedari siang, menunggu-nunggu kabar dari Adam tapi belum juga kunjung ada.
"Biarlah, nanti juga kalau ingat pasti berkabar!" Ashma menggerutu kecil mengeluarkan kekesalannya.
Dia segera melakukan tiga rakaat kewajibannya. Melupakan sejenak rasa cemas yang bertumpu, lebih baik bercerita saja pada sang pemilik hati supaya beban rindu pada hambanya berkurang dengan perasaan lega.
Tenggelam bersama doa yang dia langitkan, Ashma setelah selesai segera bangkit mengambil mushaf dalam lemari, membaca ayat-ayat Alquran sembari meresapi artinya.
Beberapa waktu berlalu, dia melanjutkan mengerjakan empat rakaat wajib setelah selesai adzan berbunyi di ponselnya.
Malam itu Ashma sendirian lagi tanpa kehadiran Adam, tidurnya pun tidak tenang sebab terbangun beberapa kali. Ashma mencari-cari ponselnya berharap Adam mengirimkan pesan dan alangkah senangnya Ashma saat mendapati beberapa pesan dari suaminya.
"Saya baik-baik saja,"
"Jangan begadang! Good night dear."
Pesan terakhir dari Adam mampu membuat Ashma salah tingkah, senyum-senyum sendiri macam budak cinta, wajahnya sampai bersemu merah.
"Good night Mas." Balas Ashma, lalu meletakan ponselnya diatas nakas. Membaringkan tubuhnya kembali dengan perasaan lega. Ashma langsung tertidur pulas setelah mendapatkan keinginannya.
Waktu berlalu begitu cepat hingga cahaya redup fajar muncul di cakrawala, merayapi lapisan awan dengan sentuhan keemasan. Udara yang sejuk dan sunyi mulai dipenuhi dengan suara gemericik air.
Ashma yang sudah selesai melaksanakan dua rakaat wajib memutuskan untuk segera membereskan kamarnya, namun tiba-tiba saja niatnya itu hempas saat gejolak mual minta dikeluarkan.
Pagi itu Ashma banyak sekali memuntahkan isi perutnya membuat badannya menjadi lemas, akhirnya Ashma terkulai diatas ranjang tidur.
Seharian pula bibi Marianee merawat Ashma walaupun menantunya itu enggan sebab merasa tidak sopan tetapi bibi Marianee tetap merawat dan menjaga menantunya itu.
"Sayang, ayolah kerumah sakit. Mama takut terjadi sesuatu dengan kamu," Ucapnya cemas. Sementara Ashma tetap menggeleng pelan, jujur saja dia hanya ingin Adam disampingnya.
Ponsel bibi Marianee berdering lagi, segera ia angkat panggilan dari Adam.
"Bagaimana Ma?" Tanya Adam dibalik telepon, suaranya nampak cemas.
Bibi Marianee menghela napas berat, "Tetap tidak mau, bahkan didatangkan dokter kerumah pun Ashma tidak mau. Mama hanya takut istrimu kenapa-kenapa Adam."
"Ma, tolong berikan ponselnya pada Ashma."
Ashma meraih ponsel yang disodorkan padanya, "Mas," Adam mendengar suara Ashma yang sayup-sayup.
"Kenapa tidak ingin diperiksa?" Tanya Adam selembut mungkin.
"Ashma cuma mau Mas disampingku," jujurnya, ia memang benar-benar menginginkan Adam berada disampingnya, walaupun terkesan egois tetapi keinginannya itu terasa tidak bisa diganggu gugat.
"Kamu ini kan perawat, seharusnya kamu paham dengan kondisi kamu Ashma. Saya juga belum bisa pulang." Ashma muram, seharusnya dia bisa meredam keinginannya ini.
"Maaf, Mas teruskan saja pekerjaan nya disana." Ashma segera memberikan ponsel itu pada bibi Marianee membuat Adam sedikit kesal.
"Adam, apakah kamu tidak bisa pulang dulu? Istrimu benar-benar membutuhkan kamu nak."
Adam menghela napas panjang, mana mungkin dia meninggalkan pekerjaannya ini lagipula ada tugas penting yang harus dia lakukan.
"Maaf Ma, saya tidak bisa pulang sekarang-sekarang. Sudahlah jangan terlalu menuruti keinginan Ashma yang tidak ingin diperiksa itu, saya segera hubungi dokter Martinez saja."
Adam menutup teleponnya lalu segera mencari kontak nomor dokter Martinez, dokter keluarganya yang sangat dia percayai.
Dokter Martinez sudah dia hubungi, Adam memijat pangkal hidungnya sebab dokter Martinez sedang berada di Singapura. Adam hanya bisa mempercayai dokter Martinez, selainnya dia takut karena musuhnya diluar sana bisa melakukan hal gila apapun seperti dulu pada Lily dan itu tidak bisa dia biarkan lagi pada Ashma.
Adam segera menghubungi lagi bibi Marianee memberi kabar bahwa dokter Martinez sedang berada di Singapura, dia hanya bisa meminta bibi Marianee untuk menjaga Ashma, biar bagaimanapun bibi Marianee mengingat betul peristiwa itu hingga membuat Adam tidak percaya pada dokter selain dokter Martinez untuk datang kerumahnya.
"Ashma sayang, bagaimana keadaanmu apakah sudah lebih mendingan?" Ashma mengangguk kecil, ajaibnya setelah mendengar suara Adam rasa mualnya hempas begitu saja.
"Mama buatkan teh madu lagi mau?" Ashma segera menggeleng, dia sudah merasa lebih baik.
"Tidak Ma, terimakasih."
"Baiklah, sayang Mama tinggal sebentar ya?" Ashma mengangguk dengan seulas senyuman pada wajahnya yang pucat.
Suara-suara sekitar seperti teredam, dan Ashma sepenuhnya terperangkap dalam aliran pikirannya sendiri. Merasakan momen dimana dunia luar seolah-olah menghilang, hanya menyisakan dirinya yang memangku kesepian.
Menilik kebelakang, mengingat hal-hal yang mengejutkan dirinya. Niat hati ingin menyembuhkan luka di tanah Palestina bersama neneknya, tetapi takdir membawa Ashma pada kejutan yang luar biasa.
Dipertemukan jodoh dengan cara yang tak terduga, sekarang dia telah menjadi istri dari seorang lelaki yang belum bisa mengikhlaskan masa lalunya.
Ashma tahu, tidak mudah memang berdamai dengan masa lalu, tetapi mengapa Adam tidak ingin mencobanya, sebegitu cintakah dia pada Lily? Ashma tahu diri dia tidak bisa memaksa, bagaimanapun juga Adam lah yang berhak memutuskan, tetapi Ashma lebih berhak sebagai istrinya.
Ashma tidak tahu kejutan apa lagi yang akan Allah berikan kepadanya, sehingga Ashma yang terpilih untuk mengemban takdirnya ini. Bisa jadi Allah ingin Ashma berjuang lebih keras lagi untuk menjadi cahaya bagi Adam.
"Aku akan berjuang semampuku, biarlah nanti Allah yang menentukan hasilnya seperti apa."
#TBC