A Little Hope For Ashma

A Little Hope For Ashma
27. Tidak siap ditinggalkan lagi



Adam sedikit bingung harus menjawab seperti apa tetapi dia tidak ingin membuat Lily kepikiran yang membuat beban di kepalanya akan semakin berat sehingga takut membuatnya stress.


"Untuk sementara waktu kita pulang ke apartemen ya," ucap Adam setenang mungkin.


Lily nampak mengernyitkan dahinya bingung, "kenapa? padahal aku ingin bertemu Mama." lirihnya dengan wajah lesu, Adam juga sebenarnya ingin mempertemukan mereka tetapi keadaannya belum tepat untuk sekarang.


"Belum waktunya, lebih baik fokus pada kesehatan tubuhmu dulu,"


Lily menghembuskan nafas panjang, dia tidak membuka suara lagi setelahnya.


Adam tiba-tiba teringat Ashma, entah mengapa hatinya gelisah mengingat istrinya. Wajah menangisnya tempo lalu tiba-tiba muncul dalam kepala Adam membuat dia semakin dirundung dilema tak berujung.


Setelah beberapa jam menempuh perjalanan akhirnya Adam dan Lily sampai di apartemen, Adam membawanya masuk kedalam dengan memapah tubuh ringkih Lily yang masih lemas untuk duduk diatas sofa.


"Besok kita periksa ya," ucap Adam dengan lembut, Lily segera mengangguk.


Adam segera bergerak pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam, tadi diperjalanan mereka sempat mampir untuk membeli makanan.


Setelah selesai menyiapkan makan malam Adam segera membawa Lily untuk duduk diatas kursi. "Kau harus makan yang banyak!" katanya sambil menyendokkan sup kedalam piring Lily.


Hati Lily menghangat mendapat perlakuan lembut kakaknya yang sudah lama dia nantikan.


"Aku terlihat kurus ya?" tanya Lily memastikan bahwa memang dia telah banyak kehilangan berat badannya.


Adam mengangguk kecil lalu dia ikut duduk berhadapan dengan Lily. Mereka menyantap makan malam dengan penuh kebahagiaan, saling bercengkrama ria untuk melepas rindu bersama.


Selepas makan malam Adam segera membawa Lily untuk istirahat dikamar nya sedangkan dia akan tidur diruang tengah.


Malam yang sepi itu membalut sembilu perasaannya yang gundah. Hari ini nampak terjadi suatu keajaiban yang tidak pernah Adam sangka sebelumnya, melihat Lily lagi adalah harapan besar Adam selama ini, tetapi disisi lain Adam juga memikirkan bagaimana caranya memberitahu Ashma tanpa harus menyakiti perasaannya, itu memang kemungkinan yang kecil tetapi Adam berharap Ashma mahu mengerti posisinya sekarang.


Lamunannya seketika buyar karena dering ponselnya, Adam segera mengangkat panggilan telepon dari Ashma. Sebenarnya Adam ingin memberi kabar bahwa dia ada urusan mendadak tetapi urung karena terlalu asik melepas rindu dengan Lily.


"Assalamualaikum," ucapnya memberi salam dari sebrang sana, sedangkan Adam masih belum menjawab salam istrinya, tiba-tiba dia lega bisa mendengar suara Ashma lagi.


"Waalaikumsalam,"


"Mas kamu gak pulang?" tanya Ashma khawatir. Mendadak perasaannya gundah dan tidak bisa tertidur lantaran mualnya kambuh lagi.


"Maaf Ashma, saya ada keperluan mendadak. Tidak apa-apa saya tinggal?" tanya Adam tak enak sebab dia telah membuat perangai atas kebohongannya ini.


"Sudah biasa Mas. Tapi jujur saja aku hanya ingin dianggap Mas, bisakah jika pergi apalagi tiba-tiba setidaknya beritahu aku!" Adam mendengar nada suara kecewa dari Ashma.


"Maaf, lain kali saya akan memberitahumu."


Ashma berusaha menahan air matanya, dia tidak ingin menangis karena sebenarnya menahan kesal pada Adam.


"Yasudah Mas, selamat malam. Assalamualaikum." Ashma segera mematikan teleponnya lalu menghela napas panjang diiringi buliran air mata yang jatuh


Adam menatap tak percaya pada ponselnya, dia sedikit kesal karena tiba-tiba Ashma menutup teleponnya begitu saja.


"Apa dia kesal?" batin Adam dirundung kebingungan.


Esoknya Adam menunaikan janji menemani Lily cek up ke dokter. Adam nampak cemas dengan hasil pemeriksaan nya takut ada bekas luka dalam pada Lily mengingat selama ini dia tidak mendapatkan pengobatan yang baik.


Adam duduk didepan dokter yang memeriksa Lily, dia menjelaskan sebab Lily bisa terkena amnesia.


"Dia hanya bisa mengingat sebagian ingatan dimasa lampau, Hilang ingatan setengah disebut "amnesia parsial" atau "amnesia sebagian." Ini adalah kondisi di mana seseorang kehilangan sebagian ingatannya, tetapi tidak semuanya. Biasanya, amnesia parsial dapat terjadi setelah cedera kepala ringan atau dalam beberapa kasus penyakit tertentu." Jelas Dokter tersebut mengenai kondisi Lily.


Adam tidak tahu harus bereaksi seperti apa karena amnesia nya Lily menjadi keuntungan sendiri baginya, setidak Lily tidak mengingat lagi Edward dan siapa sebenarnya lelaki tersebut.


"Tidak ada hal lain yang harus dikhawatirkan lagi, Lily hanya perlu istirahat yang cukup dan banyak makan makanan yang bernutrisi, selain itu dia juga harus rutin check up." Ucapnya melanjutkan.


Adam mengerti, dia akan selalu menjaga Lily dan akan selalu berusaha melindunginya, entah kapan ingatannya akan kembali pada sedia kala lagi Adam tetap akan menahan Lily disisinya.


Setelah pemeriksaan siang itu, mereka berdua bergegas kembali ke Apartemen. Adam mendapatkan tiga panggilan tak terjawab dari Ashma, mengingat istrinya Adam memutuskan untuk pulang ke Mansion.


"Aku harus pulang dulu, apa kamu tidak apa-apa aku tinggal?" tanya Adam, meminta izin pada Lily.


Lily tersenyum kecil, "tidak apa-apa, pekerjaanmu juga pasti banyak menumpuk gara-gara menjagaku," ujar Lily memahami situasinya.


Adam meraih kedua telapak tangan Lily dengan lembut, "kamu memang selalu mengerti aku, baiklah kalau begitu aku pamit."


Setelah ucapan perpisahan sementara itu Adam segera bergegas pulang ke Mansion.


Ashma menatap langit biru yang sangat indah, matanya berbinar bagaikan anak kecil. Hatinya merasa rindu pada kedua orangtuanya, bayangan masa kecil terlintas dalam benak Ashma saat dimana kebahagiaan kebersamaan keluarganya memenuhi isi kepala Ashma.


Ada satu perihal lagi yang memenuhi pikirannya, kali ini tentang Adam. Lelaki itu justru sebaliknya, masih belum bisa berdamai dengan masa lalu. Ashma menyadari bahwa selama ini dia belum bisa menjadi istri yang baik untuk Adam.


Selain kewajibannya melayani suaminya dengan baik, Ashma pun harus berusaha memberikan pengertian pada Adam perlahan-lahan, setidaknya Ashma tidak boleh sepasrah itu demi untuk memperjuangkan pernikahan mereka yang belum juga menemukan titik kepastian.


Seseorang membuka pintu kamarnya, Ashma sudah tahu siapa itu, lantas dia berjalan masuk kekamar meninggalkan balkon.


Mata mereka beradu pandang beberapa saat sebelum Ashma segera mengakhiri untuk meraih telapak tangan Adam, menyalaminya dengan khidmat sebagai bentuk baktinya pada Adam.


"Syukurlah mas sudah pulang,"


Ashma sangat lega, melihat wajah suaminya berada tepat dihadapannya. Adam tersenyum simpul, tanpa berlama-lama Adam segera meraih tubuh Ashma untuk masuk kedalam dekapannya.


Jujur saja dia tidak bisa menahan gejolak ingin selalu memeluk Ashma, harum tubuh wanita itu membuat dirinya menjadi tentram bahkan disaat Lily telah kembali Adam hanya bisa merasakan pelukan setenang ini dari Ashma. Adam rasa sepertinya ini karena bawaan si cabang bayi yang ingin Papa nya selalu dekat dengan sang Ibu.


"Mas sudah makan belum?" tanya Ashma didalam pelukan Adam.


"Sudah," sahut Adam pelan, mengendus-endus aroma khas tubuh Ashma.


Adam melepas pelukannya dengan Ashma, "Mas ingin mengelus perutmu boleh?" tanya Adam meminta izin, Ashma mengangguk sambil tersenyum simpul.


"Ashma memperhatikan Adam yang tengah mengelus perutnya yang masih rata sambil melihat interaksi lelaki itu yang berbicara pada si jabang bayi.


"Sayang, sehat-sehat didalam sana ya. Ayah janji akan selalu menjaga ibumu, karena itu adalah janji papa padanya," ucap Adam dengan sendu. Jujur saja perasaannya mulai goyah dan merasa bingung dengan perasaannya sendiri. Adam tahu dirinya sangat plinplan tetapi sejak mengetahui Ashma mengandung, Adam jadi tidak rela jika nanti mereka akan berpisah.


Ashma yang mendengar ucapan Adam pada sang calon bayi membuat hatinya bergetar lirih.


"Mas..." panggil Ashma. Adam mendongak, melihat genangan tertahan dari mata Ashma.


Adam menarik kursi didekatnya lalu duduk untuk berhadapan dengan Ashma, "Kenapa kamu menangis?"


"Apa aku boleh mengatakan sesuatu?" tanya Ashma meminta izin.


Adam mengusap lembut air mata disudut mata istrinya, "tentu saja," jawabnya memberi izin. Ashma menghela napas panjang, sebelum memulai berbicara serius dengan Adam.


"Aku hanya ingin meluapkan rasa tidak karuan didalam hatiku, tolong dengarkan aku sekarang sebagai seorang istri!" katanya mempertegas, Adam menatap wajah Ashma yang penuh keseriusan.


"Mas, aku tahu aku bukanlah wanita yang kamu pilih. Aku paham jauh didalam sini," tunjuk Ashma pada dada bidang Adam, "sudah terisi oleh wanita lain yang sudah lebih dulu menempati hatimu," lanjutnya dengan penuh sesak.


"Aku tidak ingin bersaing dengan wanita yang ada dihatimu itu sebab aku tidak memiliki hak akan itu. Tapi, aku memohon padamu Mas, tolong lihatlah aku sebagai istrimu, seorang wanita yatim-piatu yang telah kau minta untuk kau jadikan pendamping hidup pada Nenek dan paman di Palestina, tidakkah lupa manisnya rayuanmu pada mereka sehingga menyetujui kamu dapat meminang aku, tidakkah kamu lupa?"


Adam menggeleng pelan, mulutnya seakan kelu tidak bisa mengucapkan apa-apa pada Ashma. Melihat wanita itu berbicara lembut dengan air mata yang luruh saja sudah berhasil membuat Adam tersiksa.


"Aku tahu kamu memiliki luka dengan masa lalu mu, aku juga tahu tidaklah mudah untuk menyembuhkan nya. Aku juga tahu rasanya ditinggalkan oleh orang-orang tersayang kita, sakitnya luar biasa Mas."


"Aku pernah menyalahi takdir, mengatakan mengapa Tuhan tidak adil kepadaku. Merenggut Ayahku yang menjadi korban kebiadaban para zionis, sedangkan Ibuku meninggal karena luka batin ditinggalkan Ayah, meninggalkan aku seorang diri dengan luka yang masih belum pulih."


Adam terkejut mendengar penuturan Ashma mengenai kedua orang tuanya. Sebegitu egois kah Adam sampai-sampai tidak mengetahui penderitaan Ashma selama ini.


"Tidakkah menyakitkan berharap pada manusia itu, kamu hanya akan merasakan kepahitan karena segala milik manusia itu adalah kepunyaan nya sang Khaliq. Dia bisa mengambil nya kapan saja, Jodoh, rezeki, ataupun diri kita sendiri. Semuanya sudah ditentukan dalam buku lauhul Mahfudz,"


"Kalau pertemuan kita tempo lalu membawa kita sekarang pada pernikahan, bukankah ini semua berkat campur tangan Tuhan. Seperti apa caranya tentu dia yang maha tahu yang menurutnya baik untuk para hambanya,"


"Mas...berdamai lah dengan masa lalu," lirih Ashma begitu sesak.


"Aku tidak berniat memaksa kehendak mu Mas, aku hanya ingin kamu merasakan buah dari rasa ikhlas. Terhadap kedua orang tuamu, juga mendiang kekasihmu Lily,"


Hati Adam terasa tertohok saat Ashma menyebut nama Lily, dia tahu bahwa dirinya belum bisa berdamai dengan masa lalunya tetapi sekarang berbeda, Lily ternyata masih hidup dan Adam tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Adam tidaklah berbohong bahwa hatinya masih mencintai Lily walaupun Ashma mencoba mengetuk pintu hatinya tetap saja Adam tidak bisa memberikan izin.


"Selebihnya aku serahkan padamu Mas, kamulah yang akan memilih pada siapa kamu akan berlabuh," Ashma mengusap air matanya dengan perasaan lega. Akhirnya ia bisa menuahkan segala prahara didalam hatinya pada Adam.


"Adakah alasan lain mengapa kamu mengatakan kata-kata terakhir mu itu?" tanya Adam was-was karena kalimat terakhir Ashma membuatnya bertanya-tanya.


Ashma tersenyum tipis lalu dia meraih wajah Adam dengan lembut, "Aku akan bersiap pergi kalau kamu menginginkan itu, namun aku berjanji akan memperjuangkan pernikahan kita sampai dimana titik batasku sudah lelah. Saat itu terjadi, mari kita buka lembaran yang baru."


Adam ingin sekali protes dan mengatakan bahwa perkataan Ashma seakan sangat ingin berpisah dengannya tetapi mengingat dirinya juga yang sudah kejam mempermainkan hati Ashma, apalah daya Adam berani menyela perkataannya.


"Lalu bagaimana dengan anak kita?" tanya Adam yang langsung mengingat calon bayinya. Dia sadar bahwa anak mereka akan menjadi korban perpisahan antara kedua orangtuanya.


"Kita akan tetap andil dalam merawatnya!"


ujar Ashma dengan tegas, dia tahu bahwa Adam pasti memikirkan nasib anak mereka.


#TBC