
"Jangan-jangan kamu menikahi wanita itu karena dia terlihat mirip dengan mendiang kekasihmu ya?"
Langkah kaki Adam terhenti ditengah-tengah membuat Zavier langsung menelan salivanya, aura lelaki itu nampak mencuat menyeramkan.
"Dia nampak sama dengan Lily-ku ataupun hal lain itu bukan urusanmu!"
Zavier tidak mahu menyahuti lagi, aura lelaki itu sangat berbahaya hingga bulu kuduknya meremang.
Adam melanjutkan langkahnya membiarkan Zavier memikirkan apapun tentang mereka, Adam tidak peduli.
Didalam kamar Ashma tengah berbaring sambil menatap layar televisi, tetapi dia tidak ada minat untuk menontonnya membiarkan tetap menyala sementara matanya mulai menutup, Ashma terlelap dalam tidurnya.
Hingga satu jam berlalu Ashma masih nyaman terlelap, memberikan kesempatan Adam yang sudah berada dikamar dari lima belas menit lalu untuk memandangi wajah damai Ashma sambil tersenyum tipis. Adam yang juga tergiur melihat Ashma tertidur membuat dirinya memutuskan untuk menaiki ranjang dan berbaring disebelah Ashma, dia ikut menyelami mimpi bersama istrinya.
Ashma sayup-sayup mendengar suara Adzan dari handphonenya lantas dia membuka matanya perlahan-lahan. Ashma merasakan deru napas seseorang nampak hangat di lehernya Ashma yang kaget segera melihat kesamping.
Mendapati Adam terlelap disebelahnya sambil memeluknya membuat Ashma tersenyum kecil, dia juga tidak melakukan pergerakan banyak hanya berusaha meraih ponselnya yang menampilkan suara adzan Ashar.
Ashma melepas tangan Adam yang mendekapnya dengan perlahan, setelah berhasil lepas Ashma segera menepuk-nepuk lengan suaminya.
"Mas bangun, sudah Ashar."
Adam menggeliat membuka matanya perlahan-lahan karena merasakan elusan lembut seseorang.
Ashma segera berdiri, mengikat rambutnya yang panjang. Dia berniat untuk mengambil air wudhu.
"Sudah masuk waktu sholat ya?" Tanya Adam dengan suara serak khas baru bangun tidur. Ashma mengangguk lalu melenggang pergi menuju kamar mandi.
Sambil menunggu istrinya bersuci, Adam membuka layar ponselnya untuk melihat apa saja informasi yang masuk.
Adam memijat pangkal hidungnya saat membaca salah satu chat yang sangat penting.
"Saya harus meninggalkan Ashma lagi," gumam Adam, rasanya dia tidak ingin meninggalkan Ashma. Adam ingin selalu dekat dengan istrinya, entah mengapa Adam tidak bisa jauh darinya.
Tidak lama itu Ashma keluar dari kamar mandi sesuai berwudhu, Adam menarik perhatiannya pada Ashma lalu meletakkan ponselnya diatas nakas.
"Tunggu saya berwudhu, kita sholat berjamaah."
Ashma segera mengangguk dan menunggu suaminya yang sedang bersuci. Dia menggelar sejadah lalu mendudukkan dirinya sambil berdzikir.
Melihat istrinya yang sudah bersiap segera Adam menuju tempat sholat.
"Sudah Mas?"
"Hm,"
Adam mengimami lagi, Ashma bersyukur sekali bisa sholat berjamaah dengan suaminya.
Sholat Ashar berjamaah itu nampak khusyuk dan syahdu, setelah selesai Ashma mencium punggung tangan Adam dengan takzim.
"Saya mau izin bertugas," Ucap Adam tiba-tiba membuat Ashma segera menarik pandangannya pada Adam. Ini juga kali pertama Adam meminta izin padanya padahal sebelum-sebelumnya lelaki itu pergi tanpa ada percakapan dengannya.
Ashma macam tidak rela, tetapi suaminya memiliki pekerjaan yang sangat penting tidak bisa juga dia mencegah apalagi pekerjaannya mengharuskan Adam untuk selalu siap bertugas.
"Berapa hari?"
"Saya akan mengabarimu setiap hari," Jawab Adam belum memastikan akan berapa lama menyelesaikan tugasnya.
"Tidak pasti ya," Ashma menghela napas berat, lagi-lagi dia harus siap ditinggalkan setiap saat.
"Yasudah, aku mengijinkan."
Adam menarik Ashma untuk masuk kedalam dekapannya, "saya janji akan segera pulang jika tugas saya sudah selesai."
"Biarkan lebih lama lagi, aku begitu tenang saat menghirup aroma tubuhmu," Ucap Ashma tiba-tiba yang sedikit frontal dipendengaran Adam.
"Aroma tubuhku memang harum, kamu saja sampai candu!" Ashma memekik tertahan didalam pelukan Adam, sebenarnya dia tidak terima Adam mengatakan hal tersebut namun dia tidak ingin menanggapi karena jujur saja menghirup aroma tubuh Adam jauh lebih membuatnya nyaman.
Adam masih tidak menyangka Ashma akan segamblang itu mengeluarkan isi kepalanya. "Malam ini kamu harus bertugas!" Ashma melepas pelukannya dengan Adam. Kata-kata pria itu pasti merujuk pada jatahnya.
Ashma mencebik sebal melihat wajah Adam yang senyum-senyum sambil mengedipkan sebelah matanya, menggoda Ashma hingga pipinya bersemu merah seperti tomat.
"Ihhh...gausa masang wajah kaya gitu Mas!" Ashma merasa seperti sedang ditatap oleh pria genit.
Adam tertawa lepas, perutnya tergelitik geli melihat Ashma yang salah tingkah. Ashma juga tertegun beberapa saat karena baru melihat Adam tertawa lepas.
"Mas genit ih, kaya cowok playboy!" kesal Ashma langsung membuang mukanya. Gelak tawa Adam mereda, dia menarik napas perlahan untuk menetralkan wajahnya.
"Kamu pernah mengalaminya?" Tanya Adam, kali ini ia serius.
"Waktu aku masih jadi perawat dirumah sakit, banyak sekali pasien lelaki yang seperti itu." Adam semakin mendengarkan dengan serius diliputi rasa kesal tiba-tiba.
"Bahkan sampai ada yang beberapa kali mampir lagi kerumah sakit dengan alasan-alasan aneh, eh ternyata mengaku juga cuma mau melihat suster-suster cantik dirumah sakit."
Adam yang mendengarnya geram sendiri, sampai rahangnya mengeras. Ashma yang melihat itu tersenyum tipis.
"Ceritanya sudah lewat tapi malah buat mas kesal ya,"
Adam segera sadar dan langsung bersikap setenang mungkin, "Hm," gumamnya, tidak ingin menjawab secara gamblang.
"Sudahlah tidak usah membahas itu," Ashma bangkit dari duduknya diikuti oleh Adam.
"Aku mau masak untuk makan malam, Mas mau dimasakin apa?"
Adam memikirkannya sebentar, "terserah, yang penting buatan kamu," Ashma menggelengkan kepalanya, dia kira lelaki itu menginginkan sesuatu karena diberikan kesempatan oleh Ashma eh taunya malah terserah.
Adam memang ketagihan memakan masakan Ashma, khususnya makanan Indonesia yang sudah familiar di lidahnya.
"Yasudah, kalau begitu aku mau turun kebawah."
Belum juga melangkah Adam sudah menarik Ashma hingga dia hampir saja terjatuh jika Adam tidak menyangga tubuhnya.
"Astaghfirullah...Mas, kaget tau!"
Adam meraih pundak Ashma, tatapan mereka bertemu saling terkunci membuat hati kecil Ashma deg-degan.
Pipi Ashma diraih oleh kedua tangan Adam yang kekar, mengusapnya halus seperti barang yang sangat mudah pecah.
"Beberapa hari ke-depan saya tidak akan bisa melihatmu seperti ini,"
Ashma ingin memalingkan wajahnya namun nampak susah karena Adam bertingkah seperti ini, Ashma mendadak sendu sehingga dia ingin sekali menangis.
Ashma tidak tahu mengapa dirinya menjadi mudah baper seperti ini, hanya merasa Ashma tidak mau jauh-jauh dari Adam.
"Tidak usah dramatis seperti ini Mas, biasanya juga kamu tidak seperti ini!" Ashma menggerutu kecil, mengeluarkan unek-uneknya yang sudah diujung lidah.
Adam tertegun beberapa saat mendapati istrinya nampak kesal. "Enggak lagi seperti itu, saya minta maaf," Ashma sudah kadung membumbung air matanya hingga menetas begitu saja membuat Adam diliputi perasaan bersalah.
Perasaan sensitifnya akhir-akhir ini mudah merubah suasana hati Ashma, puncaknya saat tiba-tiba Ashma begitu rindu dipeluk oleh Adam. Walaupun tidak ada cinta diantara mereka, sebenarnya mereka saling merindu.
Adam membawa Ashma dalam pelukan, membiarkan dirinya semakin terjatuh pada dasar kepalsuan hatinya. Adam tahu dia sudah menyakiti Ashma jika wanita itu tau, tapi bagaimanapun juga perasaannya tidak mudah tergeser seperti itu saja, dan Lily tetaplah menjadi pemenang didalam hatinya.
#TBC