
Ashma menatap dirinya didalam cermin, dia masih tidak menyangka bahwa dirinya akan segera melepas masa lajangnya.
Baju pengantin Ashma sangat sederhana karena sedari dulu ia hanya ngin menikah dengan baju pengantin yang sederhana, lagipula pernikahan mereka hanya akan dihadiri oleh nenek dan pamannya dari palestina dan beberapa tamu yang Adam undang. Sedangkan keluarga besar di Indonesia hanya akan menyaksikan lewat video zoom.
Awalnya keputusan Ashma untuk menikah di Rusia ditentang oleh keluarga besarnya di Indonesia tapi Ashma meyakini bahwa ini adalah keputusan terbaiknya. Mereka juga sempat terkejut karena Ashma yang tiba-tiba menghubungi mereka dan memberi tahu tentang pernikahannya yang tiba-tiba.
Ashma sempat merasa sangat bersalah karena keluarganya tidak dilibatkan dalam keputusan Ashma untuk menikah, namun ini semua terjadi begitu mendadak dan Ashma bahkan tidak menyangka dia akan menikah dengan cara yang seperti ini. Jodoh memang benar-benar misteri.
"Masyallah, cucu nenek sangat cantik sekali..." Puji neneknya begitu bahagia melihat Ashma begitu cantik dengan riasan mak up yang sederhana.
Ashma begitu sangat senang dan bahagia karena Adam menepati janjinya untuk membawa nenek dan pamannya ke Rusia. Kedatangan neneknya seminggu yang lalu membuat Ashma menangis haru, dia sangat begitu merindukan neneknya.
"Nenek masih tidak menyangka kamu akan segera melepas masa lajang mu nak. Terlebih lagi keputusanmu untuk menikah terlalu terburu-buru namun nenek mendukung penuh jika ini adalah keputusan terbaik yang telah kalian pilih." Nenek menggenggam telapak tangan Ashma.
"Calon suamimu, Adam. Nenek sangat menyukainya. Saat dia datang ke Palestina dengan keberaniannya dia memperkenalkan diri sebagai calon suamimu dia begitu sopan menjelaskan maksud kedatangannya. Walaupun kami cukup terkejut tapi kami memaklumi hal itu."
Ashma yang mendengarnya turut bahagia, Ashma tidak tahu bagaimana Adam bisa meyakinkan nenek terlebih lagi paman Amith yang memiliki sifat tegas dan sedikit keras. Adam, lelaki itu memang patut untuk diapresiasi atas keberaniannya.
"Doakan kami ya nek agar kami jadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah."
"Tentu saja, Ashma. Aku akan mendoakan mu dan Adam agar kalian menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah. Semoga pernikahan kalian berjalan lancar dan penuh berkah."
"Aminn..Allahuma aminn..."
Mereka saling berpelukan, Ashma bersyukur masih diberikan kesempatan untuk bertemu dengan neneknya walaupun dengan cara yang seperti ini.
Tidak lama seseorang membukakan pintu, disana bibi Marianee tersenyum hangat melihat Ashma yang sangat begitu cantik, bibi Marianee sangat terpesona.
"Sayangku Ashma dan Ibu, ijab qobul akan segera dilaksanakan,"
Ashma mengangguk mengerti, dia meminta calon ibu mertuanya itu untuk menemaninya. Entah mengapa Ashma sangat begitu gugup, nenek yang melihat cucunya mencoba menenangkannya.
Bukan hanya Ashma yang gugup tetapi mempelai pria juga tampak gugup, baru seumur hidupnya Adam merasakan hal seperti ini, padahal saat akan menikah dengan mendiang kekasihnya dulu Adam tidak merasakan segugup ini.
Paman Amith yang melihatnya terkekeh geli. "Bernapaslah dengan baik Adam. Ini normal terjadi, kau harus percaya bahwa semuanya akan berjalan dengan lancar." Adam hanya mengangguk lalu dia berusaha mengatur napasnya.
"Is the bridegroom ready?" (Mempelai pria sudah siap?" Tanya penghulu dalam bahasa inggris, Adam menatap penghulu tersebut dengan penuh keyakinan.
"I am ready to do ijab qobul imam." Adam menjawab dengan penuh keyakinan.
Penghulu mengangguk mengerti dan melanjutkan upacara pernikahan. Adam telah menjabat tangan paman Amith, paman Amith merasakan telapak tangan Adam terasa sangat dingin.
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kami Ashma Zehra binti Almarhum Gazzi Al-Fatih dengan mas kawin dua puluh gram berlian dan seperangkat alat sholat dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Ashma Zehra binti Almarhum Gazzi Al-Fatih dengan maskawin tersebut dibayar tunai." Adam mengucapkan ijab qobul dengan percaya diri.
"Bagaimana para saksi sah?" Seru penghulu menatap sekelilingnya.
"SAH..."
Mereka semua memanjatkan puji dan syukur serta mendoakan untuk kebahagian dan kelancaran pernikahan mereka. Ashma yang berada di ruangan berbeda menitihkan air matanya saat kata sah terucap nyaring di pendengarannya. Kini Ashma telah berganti status menjadi seorang istri dari seorang Adam Kenedy, lelaki yang sebelumnya tidak pernah dia sangka akan menjadi pendamping hidupnya.
Bibi Marianee telah memberitahu Ashma untuk pergi ke altar pernikahan karena prosesi ijab qobul telah dilaksanakan. Ashma berjalan beriringan dengan neneknya dan bibi Marianee, bibi Marianee senang dan sangat terharu bisa mendampingi Ashma yang sekarang menjadi menantunya.
Semua mata memandang kearah Ashma dengan diikuti ucapan kagum. Adam tidak sedikitpun melepaskan pandangannya dari perempuan yang telah sah menjadi istrinya itu. Adam tidak bisa menampik bahwa Ashma seperti jelmaan bidadari, begitu anggun dan penuh karisma.
Adam berdiri dan mendekatkan diri pada Ashma untuk memberikan uluran tangannya. Ashma menerima uluran tangan Adam begitu lembut lalu mereka berjalan bersamaan menuju altar pernikahan mereka.
"Istriku sangat cantik." Bisik Adam dan hanya Ashma saja yang dapat mendengarnya. Ashma tersenyum malu namun tidak menjawab apa-apa. Tidak lama itu mereka akhirnya sampai di altar pernikahan dan duduk disana.
"Silahkan kepada mempelai pria untuk menautkan cincin di jari manis istrinya dan juga mempelai wanita melakukan hal yang sama."
Sadar akan pemikirannya yang melalang buana Adam menggeleng pelan dan itu disadari oleh Ashma. "Are you okey Adam?" Tanya Ashma berbisik disela-sela Adam menautkan cincin dijari manisnya, Adam tersenyum kecil sebagai jawaban. Selesai menautkan cincin pada jari manis Ashma kini giliran Ashma yang menautkan cincin kejari manis Adam.
Setelahnya Ashma meraih telapak tangan Adam dan menciumnya dengan penuh khidmat, dan setelah selesai tiba-tiba Adam menaruh telapak tangannya diatas ubun-ubun Ashma, lelaki itu berdoa untuk istrinya. Ashma terkejut, ternyata Adam mengetahui doa yang disunnahkan setelah ijab qobul.
Selesai berdoa Adam langsung mencium kening Ashma dengan penuh kelembutan, Ashma memejamkan matanya dan dia merasa sangat haru.
Tidak jauh dari tempatnya Ashma melihat neneknya yang menangis haru lalu dia dan Adam menghampiri nenek untuk memohon restu.
"Tolong jaga Ashma dengan baik, sayangi dan cintai Ashma dengan sungguh-sungguh. Nenek percaya padamu Adam."
"Saya pasti akan melindungi Ashma dengan penuh tanggung jawab, nenek tidak perlu khawatir." Ucap Adam sambil menatap Ashma dengan lembut.
Para tamu undangan mengucapkan selamat untuk pernikahan mereka juga tidak luput teman lama Adam yang telah membantunya bersyahadat, Daniel Amirov bersama istrinya yang sedang mengandung.
"Congratulation, saudaraku. Kau sudah membuktikan tanggung jawabmu dihadapan Allah dan menyempurnakan ibadah kalian." Daniel memberi selamat untuk Adam dan Ashma. Daniel turut bahagia karena Adam dapat memilih jalan hidupnya yang menurutnya lebih baik dari sebelumnya.
Adam juga turut berterimakasih kepada Daniel mengingat-ingat bantuan pria itu yang sangat berharga di hidup Adam.
"Nah kenalkan ini istriku Maryam." Daniel memperkenalkan istrinya. Ashma terpengarah melihat kecantikan istri Daniel. Bukan pada fisiknya saja melainkan atas ketertutupannya. Istri Daniel menggunakan cadar, dan Ashma yakin betapa cantiknya istri Daniel itu, melihat kedua matanya saja membuat Ashma sedikit insecure. Terlebih lagi istri Daniel tengah mengandung, Ashma sampai gemas melihat perutnya yang sudah besar.
Maryam tersenyum dan mengulurkan tangan untuk berjabat dengan Ashma. "Senang bertemu denganmu, Ashma. Selamat atas pernikahan kalian semoga pernikahan kalian diberkahi oleh Allah.
Ashma tersenyum hangat. "Amin, terima kasih Maryam. Aku juga senang bisa bertemu denganmu. Semoga kita dapat menjadi teman yang baik."
"Kita memang harus menjadi teman dekat Ashma." Maryam bercanda kecil, Ashma sangat senang bisa mengenal Maryam.
"Semoga kalian juga diberikan anak-anak yang sholeh dan sholeha." Sambung Maryam. Ashma melirik Adam dan lelaki itu yang membalasnya. "Amin...doakan ya." Ashma yang mendengarnya tersipu malu, rasanya pipinya terasa panas.
Mereka melanjutkan acara pernikahan mereka dengan penuh sukacita dan kebahagiaan. Ashma dan Adam saling berpandangan, mereka tersenyum hangat satu sama lain, melupakan sejenak kenyataan yang sebenarnya bahwa mereka tidak saling mencintai rapi rasanya itu tidak perlu karena Ashma yakin cinta akan tumbuh dalam hati mereka masing-masing, bahkan lebih indah lagi karena mereka sudah dalam hubungan yang halal.
...•••...
Malamnya Ashma sangat begitu gugup saat dia berada dikamar Adam. Walaupun pernikahan mereka tanpa cinta dan hanya didasari oleh tanggung jawab namun Adam ingin mereka seperti pasangan suami-istri pada umumnya yang tidur di dalam satu kamar yang sama.
Ashma dan Adam duduk di tepi tempat tidur, saling memandang dengan perasaan campur aduk. Ashma merasa gugup dan tidak yakin apa yang seharusnya dilakukan dalam situasi ini. Dia tahu bahwa ini adalah bagian dari pernikahan mereka, tetapi tanpa adanya cinta di antara mereka, semuanya terasa agak aneh.
"K-kau tidur saja duluan. Saya nanti menyusul." Ucap Adam sedikit terbata, Adam merasa sangat aneh pada dirinya yang seperti kehilangan kepercayaan diri dihadapan Ashma.
Ashma sempat diam sejenak lalu diapun mengangguk mengerti. Adam memperhatikan Ashma yang sedang membuka hijabnya. Ashma merasa sudah tidak mempermasalahkan rambutnya untuk diperlihatkan hanya untuk suaminya, Adam.
Adam terkesima melihat pemandangan luar biasa didepan matanya. Rambut hitam Ashma yang panjang bergelombang terurai bebas menambah kesan cantik yang sulit dideskripsikan oleh Adam.
Ashma tidak menyadari Adam yang sedari tadi memperhatikannya karena Ashma memunggungi lelaki itu. Ashma tidak tahu harus berbuat apa ditengah kecanggungan ini. Namun Ashma memutuskan untuk berbalik badan, Sadar istrinya itu akan berbalik Adam dengan cepat menyambar ponsel yang berada diatas meja dan duduk dengan tenang diatas sofa.
Ashma melihat lelaki itu tengah memainkan ponselnya dengan serius. "Apakah kamu tidak mengantuk Adam?" Adam yang seang berpura-pura itu lantas mengalihkan perhatiannya kearah Ashma. "Aku akan tidur di sofa." Ashma yang mendengarnya langsung bangkit dan menatap Adam tak suka atas jawabannya.
"Tidurlah diranjang kasur ini, aku yang akan disana." Adam juga tidak suka atas ucapan Ashma.
Adam bangkit dari duduknya datang mendekati Ashma dengan perlahan. Ashma sedikit was-was, tatapan lelaki itu sulit untuk diartikan. "Bilang saja kalau kamu ingin ditemani tidur olehku." Ucap Adam sangat percaya diri, lelaki itu langsung naik keatas ranjang tidur dan menarik selimut.
Ashma hanya bia terdiam melihat perilaku Adam yang tiba-tiba tetapi akhirnya dia ikut merebahkan diri di satu ranjang yang sama dengan suaminya. Adam mendapati Ashma yang masih terdiam melamun, sontak Adam memegang wajah Ashma dan mengelusnya dengan penuh kelembutan. "Tidurlah istriku." Setelahnya Adam mengecup kening Ashma begitu lama, Mata Ashma membulat sempurna.
Adam, lelaki itu langsung menutup matanya setelah mematikan lampu kamar. Sedangkan Ashma masih syok atas perbuatan Adam tadi, lelaki itu sangat tidak tahu malu dan sangat tidak bertanggung jawab atas debaran jantung Ashma yang berdetak sangat kencang. Dia memegangi keningnya yang sudah dua kali dicium oleh Adam.
"Inikah yang disebut nikmatnya menikah?"
#TBC