A Little Hope For Ashma

A Little Hope For Ashma
42. Perkebunan anggur



Edward langsung merengkuh tubuh istrinya dengan perasaan rindu yang membuncah, dia benar-benar nyata dan sekarang berada didalam dekapannya.


"Le-lepaskan!" Lily ingin mendorong tubuh tegap itu namun kekuatannya tidak cukup.


"Aku benar-benar merindukanmu sayang. Setiap hari selalu seperti ini dan kamu sekarang berada didalam dekapanku lagi!" ucap Edward sangat bahagia, dia menciumi bahu istrinya, mencium aroma khas tubuh Lily yang sudah lama sekali tidak ia rasakan.


"Tolong lepaskan!" Lily memberontak keras membuat Edward tertegun, dia melepaskannya dan menakup kedua pipi Lily yang kurus.


"Apa kau merindukanku?"


Lily melihat wajah lelaki itu yang menganggu ingatannya, dia bisa melihat matanya berkaca-kaca.


"Kamu siapa?" pertanyaan Lily membuat Edward terkekeh geli, apa istrinya sedang bercanda dengannya.


"Kamu lupa dengan suami tampanmu ini baby, hmm?" Lelaki itu nampak sangat Percaya diri pikir Lily, dia ingin sekali pergi darinya.


"Apasih, aku ini tidak tahu siapa kamu. Enak aja ngaku-ngaku suamiku aku saja belum menikah!" Lily merengut kesal membuat Adam terdiam beberapa saat.


"Edward, namaku Edward!" Dia memberitahunya, ada yang salah dengan ingatan Lily, Edward pikir apa wanita itu kehilangan ingatannya, dia juga bertanya-tanya.


"Sial!" Batin Edward merasa nelangsa kalau benar kondisinya seperti itu.


Lily mengingat nama itu, nama yang banyak sekali ia tulis dibuku diary nya. Apa benar lelaki itu adalah suaminya, dia mencintai dan menjadi istrinya. Kenyataan itu belum bisa terbukti sebab ingatannya belum bisa kembali, Lily ingin tapi dia juga memiliki ketakutan apabila dia dan lelaki dihadapannya ini mempunyai masalah sehingga membuat dia kehilangan ingatannya.


Lily tidak tahu lagi harus bertanya pada siapa, semua orang tidak ingin memberitahunya. Mama ataupun Adam, mereka seperti tidak ingin Lily mengingat kenangan memorinya yang separuh menghilang.


"Mengapa? Mengapa anda tiba-tiba datang dan mengakui sebagai suami saya?" Pekik Lily dengan balutan emosi, dia merasa seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa.


Edward menatapnya dengan nelangsa, "karena kamu adalah takdir untukku," halus, ucapan itu begitu halus hingga membuat Lily merinding.


"Kenapa kamu tidak mencariku kalau aku ini adalah takdirmu! Mengapa kamu meninggalkan aku dalam ingatan yang hilang, aku...aku tidak tahu dan aku hanya mengingat orang dimasa laluku saat aku masih kecil. Aku tidak pernah mengingatmu!" Suara yang naik turun itu mendominasi emosinya yang menyeruak dihadapan Edward, dia juga tidak tahu tapi hanya dihadapan wajah asing ini dia dapat meluapkan kekesalannya.


"Tidak ada yang mau memberitahuku, aku dalam kebingungan yang nyata dan kesal saat wajah asing mu ini selalu datang untuk membuat kelapaku berdenyut nyeri!" Pekiknya begitu keras membuat beberapa orang memerhatikan kegaduhan itu. Nafasnya tersenggal-senggal, dia sangat terluka untuk hal-hal yang tidak ia ketahui.


"Enyalah dari hadapanku untuk sementara waktu!" Ucapan terakhir itu mempertegas betapa bingung nya Lily sekarang, dia mengusir Edward dengan wajah letih.


Edward merasakan sakit yang sama, betapa jahatnya dia sempat percaya dan menghentikan pencarian Lily karena frustasi tidak pernah mendapatkannya kembali, sekalipun ditemukan itu bukan olehnya.


Edward melepaskan Lily, membiarkan wanita itu pergi menaiki taksi dengan perasaan suram.


Edward tidak tahu harus bahagia atau sebaliknya, atas kehilangan ingatan wanita itu. Hanya saja Edward takut dia akan pergi lagi setelah ingatannya kembali.


"Apa kamu akan tetap berada disisku kalau tahu siapa sebenarnya aku. Dulu kamu menerimaku apa adanya tapi apakah itu akan bisa, untuk... sekarang?" Pertanyaan itu melayang diudara, berbisik pada angin untuk disampaikan pada kekasihnya yang telah menjauh dari genggamannya lagi.


Edward memutuskan kembali untuk menuju ketempat selanjutnya yang akan ia datangi, menemui Daxter. Namun, tidak jauh dari sana berdiri seorang pria jangkung yang melihat mereka sedari tadi, Lily dan Edward. Jhon melihat pasangan itu kembali bertemu.


Jhon tidak ingin sekalipun menganggu pertemuan mereka setelah sekian lama, walaupun dia berpihak pada Adam tetap saja dia adalah pria yang menginginkan cinta yang tulus semestinya diberikan pada orang-orang yang dikasihi.


Bukan seperti tuannya, Adam yang memaksa cintanya untuk wanita yang mencintai orang lain. Dia terlalu naif menginginkan sesuatu yang diluar kendalinya.


Edward segera masuk kedalam mobil dan menghiraukan Jhon, pengawal kepercayaan Adam yang masih berdiri disisi jalan.


Jhon tidak akan memberitahu Adam sebab dia tidak ingin menganggu wanita yang menjadi istrinya itu, Ashma ya, nonanya tidak boleh masuk kedalam rumah sakit lagi hanya karena memikirkan laki-laki yang tidak tahu diri, tuannya yang terhormat, Adam sibuk mengurusi wanita yang sudah bersuami.


...•••...


Angin malam membuat tubuh Ashma menggelinjang kedinginan dan dengan siap siaga Adam mendekapnya dengan penuh kehangatan.


Ini juga pertanda bahwa musim panas akan berganti dengan musim gugur. Ditanah eropa ini, beruang merah sebagai julukan negara Rusia yang terbesar di Eropa dan juga negara terluas di dunia.


"Maaf, disini tidak ada penghangat ruangan," suara bariton itu menusuk pendengar Ashma begitu halus, dia bergelung manja didalam dekapan suaminya.


"Aku tidak mempermasalahkan itu Mas, ini membuatku lebih hangat karena berasa didalam sini lebih aman dan damai," wanita itu melakukannya lagi, mengungkapkan perasaannya yang mendamba.


"Besok saya akan memperkenalkan kamu pada nyonya Tanya, dia seorang tetangga saya yang sudah lanjut usia. Selain itu dia juga bekerja diperkebunan anggur, kita besok akan memetiknya, mereka sedang panen." Ucapnya dengan sapuan lembut, Ashma mendengarnya menjadi sangat tertarik untuk besok, mereka akan pergi ke kebun anggur dan memetik mereka.


"Aku menantikan untuk besok!" ucapnya antusias membuat Adam gemas, wanita itu terkadang bisa membuatnya ingin selalu mencium pipinya yang sudah seperti kue bakpao.


"Berapa berat badanmu?" tiba-tiba Adam menanyai bobot badannya, Ashma jadi sedikit insecure.


"Itu-" Ashma menghela nafas berat sebelum menjawab pertanyaan Adam, "Enam puluh lima kilogram!" dia memberitahunya dengan nada suara yang mengecil karena tidak percaya diri.


"Itu sangat normal, lagipula saya tidak ingin anak saya kekurangan nutrisi. Kamu harus banyak makan yang sehat-sehat supaya dia dapat tumbuh baik didalam sini!" Ashma tersenyum kecil mendengarnya, dia senang Adam memerhatikan makanannya.


"Sudah pukul sembilan malam lebih baik kamu segera tidur!" itu terdengar seperti perintah, Ashma mengangguk pasrah dan menenggelamkan kepalanya didada bidang Adam, mendengar suara detak jantungnya yang normal berdetak, sepertinya lelaki itu memang tidak memiliki perasaan apapun kepadanya.


Mendengar deru nafas istrinya yang sudah teratur Adam tersenyum tipis dan dia mencium puncak kepalanya dengan sangat lama.


"Rambutnya sangat Wangi."


Malam yang dingin di rumah sederhana yang menjadi saksi pertumbuhan masa kanak-kanak Adam nampak menyuarakan suasana damai. Adam sendiri masih tidak menyangka Ashma adalah perempuan yang dia bawa kerumah ini sebagai istrinya kepada rumah yang tidak pernah meninggalkan penderitaan.


...•••...


Binar-binar rawi muncul bersamaan dengan senyuman manis yang terbit di wajah cantiknya. Adam membawa tubuh Ashma untuk duduk kursi makan, diatas meja sudah terhidang sarapan sehat berupa roti dan juga salad sayuran.


"Terimakasih Mas, maaf jadi merepotkan kamu," ucapnya merasa bersalah karena seharusnya dia yang menyiapkan sarapan.


Adam tiba-tiba mencium pipi istrinya membuat Ashma terdiam setelah merasakan pipinya dikecup Adam.


"Tidak usah dipikirkan lebih baik sekarang kamu makan sarapanmu." Adam mengucapkannya dengan lembut, mata sebiru laut itu menyihir perasaan Ashma yang semakin mendambakannya.


"Hmm, baiklah."


Pagi itu mereka awali dengan sarapan sebelum agenda disiang hari yang akan pergi kekebun anggur untuk memetik buahnya.


Waktu bergulir begitu cepat tidak terasa pagi yang sejuk sudah digantikan dengan siang yang cukup terik tetapi itu semua tidak menganggu semangat Ashma untuk pergi kekebun anggur.


Dia sekarang sudah berada disana dan berkenalan dengan nyonya Tanya. Ashma bahagia sekali bisa bertemu dan berkenalan dengannya, dia seorang wanita paruh baya yang sangat sopan dan santun dalam berbicara seperti bibi Marianee, ah dia merindukan ibu mertuanya di Mansion.


Selama Ashma berada di Rusia, dia belajar bahasanya untuk memperlancar dalam berkomunikasi, karena Rusia adalah salah satu pilihan negara yang ingin sekali ia kunjungi jadi Ashma belajar bahasa yang lumayan sulit ini sudah dari dia duduk dibangku SMA, dan tanpa disadari ini benar-benar sangat berguna sehingga dia dapat berkomunikasi dengan baik.


Tetapi jika Dengan Adam, dia menggunakan bahasa campuran seperti Inggris dan Indonesia sebab Adam juga mampu berbahasa Indonesia, itu sangat keren.


"Kamu sangat beruntung mendapatkan wanita secantik ini boy!" puji nyonya Tanya, Ashma hanya tersenyum kecil sedangkan Adam menampilkan kepemilikannya saat dia merangkul pundak Ashma sambil mengusap halus pundaknya.


"Begitukah? Yeah saya memang beruntung!" Adam setuju dengan pujian nyonya Tanya, dia memang beruntung mendapatkan bidadari yang sangat murah hati ini.


"Baiklah kalau begitu mari saya akan antar kalian menuju perkebunan anggur, tidak jauh dari sini."


Adam dan Ashma mengikuti langkah nyonya Tanya menuju perkebunan anggur milik suaminya, ya benar lelaki itu memiliki kebun anggur seluas dua hektar.


Pemandangan yang masih asri dan jauh dari perkotaan membuat kehidupan di desa kecil pada bagian ujung kota Moscow menjadi pilihan terbaik untuk tinggal dan menepi dulu dari hiruk-pikuk kota yang jauh lebih tenang dan damai.


"Kita sudah sampai!"


Ashma mengucapkan kekagumannya, "Subhanallah!"


Dia mendapati perkebunan anggur yang luas, tentu saja mereka sedang panen melihat buah anggur yang sangat cantik berwarna purple mencuri perhatian Ashma, buah segar itu bergelantung ria di pohon nya.


"Apa aku boleh memetik dan memakannya?" tanya Ashma dengan masih menatap pohon anggur yang berbuah lebat.


"Tentu saja Nona, ini adalah milik suami anda!"


Ashma akhirnya dapat memetik dan juga mencicipi anggur yang sangat manis didalam mulutnya, dia lebih banyak memakannya dari pada memetik untuk keranjang yang dia pegang, itu membuat Adam sangat gemas melihatnya.


Ashma seperti kalap sendiri melihat nikmat dunia yang sangat menyenangkan hati ini, dia sampai bingung mau memetiknya di pohon yang mana.


Mereka masih betah diperkebunan anggur, sampai matahari sudah berada diatas kepala barulah Adam dan Ashma kembali untuk pulang ke rumah kecil yang menjadi tempat favorit Ashma.


Dia membawa keranjang sedang dengan buah anggur yang tidak terlalu banyak. sayang juga nanti kalau mubazir, dia juga sudah kenyang sebab memakan langsung buahnya disana.


"Terimakasih nyonya Tanya, ini sangat menyenangkan!" ucap Ashma dia begitu senang. Adam turut berterimakasih juga dan dia segera membawa Ashma untuk pulang.


Pada perjalanan menuju rumah kecil mereka, Ashma mendapati seorang gadis kecil sedang bermain sendirian ditepi sungai, dia memiliki wajah yang sangat cantik seperti boneka hidup.


"Mas, anak kecil itu sangat cantik!" katanya dengan perasaan kagum, gadis itu menoleh kearah mereka lalu berlari entah kemana.


"Yah kok malah lari?!" Ashma mengerucutkan bibirnya, padahal dia ingin menyapa anak gadis itu dan ingin berkenalan dengannya.


"Gadis itu bernama Gelya, cucu nya nyonya Tanya. Dia memang seperti itu jika ada seseorang asing yang melihatnya," ucap Adam memberitahu, Ashma menghela nafas berat karena dia ingin sekali berkenalan dengan gadis itu, sangat ingin sampai-sampai matanya berkaca-kaca dan Adam melihat itu dengan kebingungan.


"Ada apa denganmu? Apa perutmu sakit lagi?" raut muka Adam berganti menjadi khawatir.


Ashma menggeleng pelan dia langsung masuk kedalam pelukan Adam. "Aku ingin berkenalan dengannya!" katanya membuat Adam memikirkan nya sebentar lalu ia menyadari bahwa Ashma sepertinya tengah mengidam.


"Masyaallah!" Adam hampir saja tertawa lepas kalau dia tidak teringat istrinya tengah menangis kecil didalam pelukannya hanya karena ingin berkenalan dengan gadis kecil yang baru saja ia temui.


#TBC