
Adam segera mendudukkan bokongnya dikursi kerjanya yang sudah lama ia tinggalkan.
Malam tadi pengawal baru Lily tidak bisa datang maka dari itu Adam segera memintanya untuk berbicara dengannya pagi itu juga, dia tidak bisa menunda-nunda lagi perihal keselamatan orang-orang yang dicintainya.
"Jadi bagaimana dengan kabarmu Gerald?" tanyanya, mata Adam menyising melihat pria yang duduk di sebrang meja.
Gerald meraih wiski yang ia bawa sebagai hadiah untuk Adam. "Hadiah lezat untukmu."
Adam melirik sebentar pada botol wiski itu namun tatapannya kembali melihat Gerald.
"Terimakasih, tetapi saya sudah tidak bisa meminum itu lagi." Katanya dengan sopan, dia meraih beberapa foto diatas meja.
"Oho tidak bisa minum lagi? Apa kau terkena penyakit berbahaya?" tanyanya dengan nada suara mengejek.
Adam menyunggingkan senyum tipis, "Saya tidak memiliki alasan untuk menjawab pertanyaanmu."
Gerald mendecih kasar, "sikap aroganmu ternyata tidak pernah hilang Adam!" ucapnya sambil membuka bungkus rokok sedangkan Adam menghiraukan ucapannya, dia fokus untuk melihat foto yang ia pegang.
"Mereka semua korban dari kekejian Daxter tahun ini, dia menguasai bisnis pasar gelap mereka dan membunuhnya dengan keji. Daxter selalu bermain rapi dan sulit untuk ditangkap!" Gerald menghela nafas berat setelah mengepulkan asap rokoknya.
"Kau mau?" Gerald menawarkan rokok untuk Adam namun Adam menolak.
"Sejak kapan hidupnya menjadi sehat? Padahal dia maniak minum dan merokok, apalagi saat sedang stress." Batin Gerald menangkap perubahan Adam yang terlihat signifikan.
Gerald meletakan gelasnya cukup bertenaga hingga menimbulkan suaranya berdenting cukup keras dengan meja yang terbuat dari kaca.
"Pada intinya saja, aku harus mengawal dan mengawasi siapa?"
Adam meletakan foto yang ia pegang dengan melemparkannya keatas meja. "Dia... Lily."
Mata Gerald membelakak kaget, apa mungkin dia salah dengar atau memang Adam benar-benar sudah bermasalah karena kehilangan Lily yang membuatnya gila seperti itu.
"Kegilaan macam apa yang kau katakan Adam? Yang benar saja jika aku harus mengawal orang mati!" Pekik Gerald merasa dimainkan oleh kegilaan Adam.
Adam bangkit dari duduknya dia beranjak menuju jendela memandangi taman diluar sana yang sering Ashma kunjungi, belahan tempat di Mansion nya dan hanya taman yang menjadi favorit Ashma.
Adam tersenyum kecil menatap kesana namun itu semakin menambah praduga Gerald bahwa dia sudah tidak waras.
"Hey tuan arogan!!!" Teriaknya, nada bicara Gerald semakin tidak terkendali karena kesal melihat Adam yang seperti itu.
Mata Adam berpaling dari taman dan melirik Gerald dengan tatapan dingin. "Lily masih hidup. Dia kembali padaku."
Gerald tertawa terbahak-bahak, Adam memang benar-benar sudah tidak waras pikirnya.
"Dia masih hidup!" Tandas Adam dengan tegas, Gerald berhenti tertawa.
"Oh ya kalau begitu dimana dia?"
"Dia berada dikamar nya."
Gerald menangkap ucapan serius dan penuh keyakinan dari Adam, apa benar?
"Bagaimana bisa?" tanyanya lagi masih belum yakin.
Adam memutar bola matanya dengan malas, "tentu, dia kembali padaku tapi... Lily hilang ingatan. Karena itu saya memanggilmu untuk menjaga dan mengawasinya dari Edward!"
Gerald masih berusaha mencerna perkataan Adam, "kalau begitu kenapa kau saja yang tidak menjaganya langsung?" tanyanya dengan kebingungan padahal dia tahu seberapa takut Adam kehilangan Lily.
"Tidak untuk saat ini maka dari itu saya butuh bantuanmu!" Jawabnya, Adam tidak ingin memberitahu alasannya sebab dia sedang menjaga Ashma yang jauh lebih waspada akan keselamatannya.
Gerald berpikir sejenak, "tapi Edward dia sua-" Adam memotong ucapan Gerald. "Tidak peduli seperti apa hubungannya dengan Lily dahulu, lelaki itu tetap seorang penjahat!" Katanya dengan aura yang menyeramkan mengingat Edward si mafia berdarah dingin.
Gerald tidak ingin menanyakan lagi, dia segera memenuhi saja keinginan tuan arogannya itu.
"Baiklah. Kau tak perlu khawatir, aku akan menjaga Lily dari Edward maupun penjahat lainnya!" Ucapnya mengakhiri pembicaraan mereka sebentar karena Adam tiba-tiba mendapatkan telepon dari Ashma.
Gerald dimintanya untuk keluar ruangan, dia mengangguk saja dari pada harus adu mulut dengan Adam.
"Hmm Ashma,"
Ashma mendengar suara suaminya nampak lega sebab dia memang sedang merindukan Adam.
"Mas, kapan kau akan pulang?" tanyanya dari sebrang sana dengan suara kecil.
"Siang ini, kenapa?"
Ashma terdiam sejenak lalu menatap perutnya yang besar, "aku ingin sesuatu boleh?"
Mendengar itu Adam menjadi semangat, entah mengapa mengidam nya Ashma adalah hal yang selalu Adam tunggu-tunggu.
"Kau ingin sesuatu? ah maksudku bayinya, jadi apa?" ucapnya begitu tak sabar, Adam merasa ditantang oleh calon anaknya.
Ashma tersenyum kecil mendengar suara Adam yang semangat sekali, "itu- aku ingin makan ramen!" katanya ngiler sendiri menyebutkan nama makanan khas dari Jepang itu.
"Tidak! Aku ingin ramen buatanmu Mas!" Cicitnya dengan tegas. Adam berpikir sejenak, "tapi saya tidak tahu cara membuatnya bagaimana kalau saya datangkan chef nya lang-" ucapannya terpotong dengan suara Ashma yang bergetar.
"Tidak mau! Aku hanya ingin ramen buatanmu!" Mendengar nada suaranya seperti menahan tangis Adam kelimpungan sendiri.
"Iya Ashma maaf, saya akan coba membuat. Siang ini saya segera pulang, tunggu saya dan saya akan membuatkan ramen spesial untuk mu." Adam mengikuti keinginan ngidamnya, walaupun dia tidak tahu cara membuat ramen dia akan berusaha demi sang ibu dan calon bayinya.
"Janji ya Mas?"
Adam menghela nafas kecil, "ya Ashma." Setelah itu panggilan telepon itu berakhir, Adam segera memakai jacket hitamnya dia harus bergegas pergi ke swalayan untuk membeli bahan-bahan membuat ramen.
...•••...
Daxter menatap nyalang seorang lelaki tua yang tengah merintih kesakitan penuh luka.
"Kau benar-benar tidak memiliki rasa kemanusiaan Daxter!" Ucap Edward menyaksikan kebiadaban Daxter dalam menyiksa mangsanya.
"Apa kau memiliki rasa kemanusiaan?" Daxter balik bertanya, dia tersenyum sinis pada Edward.
"Tentu saja, saya tidak suka mengotori tangan saya!"
Daxter yang mendengarnya tertawa terbahak-bahak, itu membuat Edward mendecih sebal.
"Jangan sok suci Edward, ini memang pekerjaan kita!" Daxter berkata dengan wajah bengisnya saat ia berhasil melepaskan satu peluru dikepala mangsanya.
Edward ikut tertawa, "tapi saya tidak sekotor permainan mu!" Desis Edward, dia segera mengambil jacketnya dan pergi dari tempat terkutuk milik Daxter si pria kejam.
Edward menghela nafas panjang didalam mobilnya dia sedikit kesal karena Daxter mendapatkan bisnis barunya dengan cara sekeji itu dengan merebut klien nya, pria tua yang sudah ia habisi.
Namun tidak lama dari itu Edward menyeringai mengingat nasib Adam nanti ditangan Daxter.
"Apa kau bisa selamat dari Daxter, Adam?"
...•••...
Adam siang itu memutuskan untuk segera pulang menemui istrinya yang tengah mengidam maka dari itu setelah berbelanja Adam kembali ke Mansion untuk berpamitan pada bibi Marianee dan juga Lily, dia belum sempat bertemu dengannya.
Adam melihat Lily sedang berada di taman. "Lily!" Seru Adam memanggil Lily yang tengah mesem-mesem pada layar handphonenya. Lily yang mendengar suara bariton begitu familiar ditelinganya segera mematikan ponselnya dia berusaha tidak menampilkan gelagat mencurigakan.
"A-adam?"
"Kapan kau datang?"
Adam ikut duduk disebelah Lily, "malam tadi."
Lily ber-Oh ria dia tidak terlalu antusias. Adam menatapnya dengan intens itu membuat dia sedikit gugup.
"Apa, ke-kenapa kau melihatku seperti itu?" cicitnya takut ketahuan.
Adam mengangkat bahunya acuh, "hanya saja kau semakin cantik!" Ucapnya dengan senyuman tipis, tapi tiba-tiba wajah Lily yang sekarang ia lihat malah menjadi wajah Istrinya, Adam benar-benar sudah tidak waras dan dia segera sadar.
"Apa-apaan itu?" batin Adam sedikit kesal.
Lily yang mendengar ucapannya sedikit lega, ia kira Adam curiga padanya. "Pekerjaanmu sudah selesai ya? makannya kau cepat pulang." Lily berusaha mencari topik supaya gugupnya tidak terlalu kentara.
"Tidak, ini aku akan pergi lagi."
Lily tidak salah mendengarnya kan, dia tiba-tiba senang karena ruang batasnya untuk bertemu Edward akan mudah.
"Oh seperti itu. Nah Adam apakah Ashma baik-baik saja? Aku tidak mendengar kabarnya lagi setelah kau menculik nya entah kemana?" Lily sempat bertanya-tanya kemana Adam membawa Ashma pergi dia juga penasaran pada mereka, sepertinya mereka memiliki hubungan khusus. Tidak mungkin juga Adam akan seperhatian itu pada perawat yang ia pekerjakan kalau bukan ada udang dibalik batu.
"Aku hanya membantunya menenangkan diri ditempat yang lebih tenang." Ucapnya menjawab dengan begitu tenang.
Lily menampilkan raut wajah jahil, "kau suka padanya kan? Ngaku saja lah Adam!"
Adam menggeleng kuat, "apa kau sudah lupa untuk siapa cintaku ini?" tanyanya dengan nada suara terdengar dingin.
Lily jengah sekali mendengar jawaban yang sama berulang seperti itu dari Adam. "Dasar kakak bodoh! Pria bodoh" Lily segera beranjak pergi meninggalkan Adam di taman.
Adam menghela nafas panjang, harus seperti apa lagi dia mengekspresikan rasa cintanya ini untuk Lily? Dia kebingungan sendiri.
Namun tiba-tiba ingatannya tertuju pada wajah Ashma lagi kali ini saat Ashma menangis kecil di pelukannya tempo lalu karena mengidam ingin berkenalan dengan Gelya.
"Kenapa dia selalu muncul di kepalaku seperti kaset rusak?!"
"Arghhhh!"
"Saya harus segera pulang untuk memenuhi ngidamnya!"
#TBC