
Adam memandangi kedua wanita yang sangat dia cintai. Bibi Marianee menuahkah segala rindu dan air matanya untuk anaknya yang sudah lama dia anggap telah tiada, Lily.
Bibi Marianee sempat syok mendapati putrinya berada jelas didepan penglihatannya, dia tidak bisa berpikir apapun sampai Adam berdiri disamping Lily dan bibi Marianee langsung memeluknya erat.
Ini seperti mimpi, betapa indahnya takdir Tuhan yang telah memberi kesempatan pada mereka untuk saling berjumpa kembali. Isak tangis tak terbendung dari keduanya membuat Adam turut merasakan rasa haru itu.
Larut dalam gelora bahagia diliputi kehangatan, tiba-tiba Ashma mendapati bibi Marianee yang tengah menangis sambil memeluk seorang wanita, wanita yang dimaksud oleh Adam, yang selalu dia cintai dan tetap akan begitu.
Katanya dia telah tiada, tetapi sekarang tepat didepan matanya Ashma dapat melihat dengan jelas sosok wanita itu. Benar, dia sekilas mirip dengannya. Potret wanita itu selalu terpasang dilayar handphone Adam, mana mungkin Ashma tidak tahu bahwa dia adalah Lily.
Adam bangkit dari duduknya, menatap Ashma penuh dengan perasaan campur aduk. Mata wanita itu menyiratkan penuh pertanyaan, kebingungan dan kekecewaan.
"Assalamualaikum,"
Bibi Marianee dan Lily menoleh cepat, mendapati seorang wanita hamil yang tengah menatap mereka dengan senyuman manis diwajahnya.
"Waalaikumsalam," jawab mereka bertiga. Lily tercengang ditempatnya, memandangi seorang wanita yang samar-samar mirip dengan wajahnya. Tetapi wanita itu amat cantik dan menawan, hijabnya menambah kesan keelokan wajahnya yang rupawan.
Bibi Marianee melupakan sesuatu, dia Ashma menantunya. Bagaimana caranya menjelaskan pada Ashma bahwa putrinya ternyata masih hidup dan dia adalah orang yang dicintai oleh Adam.
Bibi Marianee hanya takut, Adam akan berpaling dari Ashma hanya untuk kembali pada cinta pertamanya, walaupun Lily adalah anak nya tetap saja bibi Marianee tidak akan pernah ridho jika Adam menyakiti Ashma.
"Sayang, kemarilah!" panggil bibi Marianee pada Ashma supaya menantunya mendekat.
Ashma berjalan kecil sambil memegang tentengannya yang sempat tergeletak dilantai.
Ashma berdiri didekat mereka dia tersenyum kecil pada Lily, walau bagaimanapun perasaannya tetap tidak boleh egois sendiri.
Ditempatnya Adam hanya berharap Ashma tidak memberitahu dulu siapa dirinya pada Lily, awalnya Adam ingin memberi tahu tetapi mengingat kembali Ashma tengah keluar dengan Jhon lantas Adam tidak memiliki kesempatan untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada Ashma. Sekarang Adam hanya berharap semoga Ashma paham akan situasinya yang belum memungkinkan ini.
"Dia siapa Ma?" tanya Lily masih terkagum-kagum atas kecantikan Ashma, wanita itu juga tengah berbadan dua.
"Dia is-" Ashma segera memotong ucapan bibi Marianee.
"Aku seorang perawat, tengah bekerja disini untuk tuan Adam," ujarnya dengan hati yang mencelos, perkataan Ashma didengar jelas oleh Adam dan bibi Marianee. Adam tertegun mendapati jawaban Ashma yang sebenarnya sesuai dengan inginnya tetapi jauh didalam hatinya dia juga tidak berniat menutupi hubungan mereka.
Bibi Marianee juga ikut terkejut mendengarnya, seharusnya Ashma mengatakan yang sebenarnya bahwa dia adalah seorang istri dari Adam. Tetapi melihat raut wajahnya yang tersenyum penuh keikhlasan itu bibi Marianee akhirnya memahami.
"Jadi kamu perawat, lalu kamu bekerja dalam keadaan hamil itukan tidak baik nanti kalau terjadi apa-apa denganmu bagaimana?" tanya Lily dengan perasaan khawatir, bagaimanapun juga bekerja dengan kondisi seperti itu pasti menyulitkan.
Ashma menggeleng kecil lalu pandangan matanya tertuju pada Adam, "tidak apa-apa, tidak ada pilihan lain juga. Lagipula aku bahagia bisa menjadi seorang perawat." Jelas Ashma, dia usap-usap perut buncitnya dengan sayang, hal itulah yang membuat Adam menjadi terganggu.
"Sayang sudahlah lebih baik kamu istirahat sekarang, kondisimu masih belum pulih," bibi Marianee mengalihkan pembicaraan supaya Lily tidak banyak bertanya.
Bibi Marianee segera membawa Lily untuk pergi dari sana, meninggalkan Adam dan Ashma untuk memberikan ruang berbicara pada mereka.
Suasana menjadi lebih senyap saat hanya ada mereka berdua. Adam segera meraih pinggang Ashma untuk duduk di sofa tetapi Ashma segera menahan tangan Adam.
Adam memberengut, wajahnya penuh dengan pertanyaan. "Nanti saja dijelaskannya, aku mau istirahat." Ucap Ashma dengan acuh, dia tidak mahu mendengar kebenarannya secepat itu. Ashma hanya ingin istirahat sebentar dengan kepala yang tenang walaupun sebenarnya tidak karena bagaimanapun dia pasti tetap kepikiran.
Adam juga turut paham maka dari itu dia membiarkan Ashma pergi ke kamarnya seorang diri, memberikan ruang supaya Ashma tidak terlalu memikirkan banyak hal.
Didalam kamar Ashma hanya merenung sambil berbaring, Ashma merasa dia sudah kehilangan semua amarahnya untuk Adam. Ingin menangisi juga rasanya susah sebab telah banyak kekecewaan yang dia dapatkan dari bibir manis suaminya.
Dia memilih untuk memejamkan mata, berharap kantuk datang untuk menjemputnya ditengah pergelutan pikiran yang belum juga bisa terurai.
Siang itu Ashma berhasil tidur, meninggalkan segala biduk prahara dalam rumah tangganya, tak mengapa hanya sebentar dan Ashma hanya butuh istirahat untuk bersiap menerima kabar selanjutnya.
Adam masuk kedalam kamar mereka, memandangi istrinya yang tengah tertidur damai. Tenang sekali seperti sedang tidak mengemban beban.
Adam memutuskan ikut berbaring disamping istrinya, namun sebelum itu dia turut mencium perut Ashma yang semakin membesar dengan perasaan campur aduk.
Adam turut ikut nimbrung menyusul Ashma mengemban mimpi bersama dalam tidurnya. Dia memeluk Ashma begitu lembut membuatnya semakin nyaman dalam tidurnya yang semakin lelap. Mereka membiarkan masalah yang sedang menghadang terbengkalai begitu saja, meninggalkannya sejenak sebelum kembali diterpa ujian kehidupan.
Dikamar yang lain, Lily tengah membolak-balikkan majalah yang sedang dia baca. Dia menghela napas berat, rasanya sangat bosan berdiam diri terus di dalam kamar.
Lily memutuskan untuk mencari buku diary nya, dia mengingat lagi. Lily ingin kembali membacanya, dia juga berharap semoga ingatannya cepat pulih agar bisa mengingat secepatnya hal-hal yang telah banyak Lily lupakan.
Lily menemukannya didalam lemari, dia segera mengambilnya dan mengusap-usap cover bukunya yang berdebu.
Lily tersenyum kecil melihat tulisan miliknya dilembar pertama, dia terus membacanya hingga akhirnya masuk kelembar pertengahan. Lily menjadi serius saat membaca tulisannya yang mengungkapkan sebuah perasaan pada seseorang, itu ditulis olehnya tiga tahun yang lalu pada lelaki yang bernama, Edward.
Lily langsung tercengang mendapati nama tersebut, karena penasaran Lily terus membaca buku diary itu sampai selesai dan hampir semua yang terdapat di buku itu adalah ungkapan perasaannya untuk Edward.
"Kenapa aku tidak bisa mengingat orang yg bernama Edward ini!" kesal Lily, dia berusaha untuk mengingat-ingat tetapi kepalanya yang ada malah kesakitan.
Lily menangis karena kesal, dia tidak tahu mengapa seemosional ini berusaha mengingat lelaki bernama Edward itu, apa benar dia sangat jatuh hati pada lelaki itu tetapi mengapa dia hanya mengingat ungkapan perasaan Adam kepada dirinya bukan lelaki itu.
"Aku harus bertanya langsung pada Mama. Adam tidak pernah suka saat aku bertanya tentang lelaki ini." Lily langsung melenggang keluar kamarnya untuk segera bertanya pada bibi Marianee, ibunya pasti tahu siapa itu Edward.
#TBC