
Adam tergugu atas pertanyaan Ashma, melihat keinginan tahuan wanita itu terhadap masa lalunya Adam memutuskan untuk memberitahunya. Adam juga tidak ingin menutup lagi, biarkan Ashma mengetahui supaya wanita itu tidak selalu rewel bertanya.
"Pria bedebah itu adalah suami Lily,"
Ashma terkejut mendengar ucapan Adam, yang dia tahu dari mulut Adam sebelumnya Lily itu adalah kekasihnya tetapi bagaimana bisa dia memiliki suami sedangkan Adam saja terlihat sangat cinta mati.
"Kau berselingkuh dengan Lily?" Tanya Ashma mencurigai. Adam menggeleng kuat.
"Dia yang merebut Lily dari diriku!" Adam menampilkan raut wajah sarkas seakan musuhnya berada dihadapannya.
"Tetapi Lily malah memilih dia dan mencampakkan saya. Dia membatalkan pernikahan kami secara tiba-tiba lalu saya mendapati berita menyakitkan bahwa mereka telah menikah,"
"Saya kira Lily mengkhianati saya, tetapi wanita itu malah rela mengorbankan kehidupannya hanya untuk menyelamatkan saya dari Edward." Adam melanjutkan dengan perasaan marah.
Ashma mendengarnya dengan seksama. "Saya sangat bodoh pada saat itu, Lily ku merenggang nyawa karena berusaha menolong saya dari peluru yang ingin ditembakkan Edward yang seharusnya mengenai saya."
"Dia meninggal pada saat itu, dengan senyuman manis yang menghiasi wajahnya seakan menyiratkan penuh arti."
"Sejak saat itu saya kehilangan sebagian kehidupan saya, dan berjanji untuk membalaskan rasa sakit yang sudah Lily alami, saya tidak akan pernah melepaskan Edward sampai kapanpun!"
Sorot wajah Adam begitu kentara menukik amarah dan kehilangan, mencerminkan kedalaman rasa sakit di dalam hatinya. Setiap kata yang diucapkan terasa seperti pukulan, mengingatkannya pada kenangan indah yang kini menjadi reruntuhan. Dia merasakan beban berat di dadanya, seakan jantungnya hancur menjadi pecahan-pecahan kecil akibat kehilangan yang begitu mendalam.
Disisi lain Ashma juga merasa sesak hatinya, dia harus bisa menerima bahwa Adam belum bisa berdamai dengan masa lalunya. Dengan ketegaran hati, Ashma tersenyum kecil lalu menangkup kedua rahang Adam dengan penuh kelembutan.
"Jadi ini alasanmu ingin menyelamatkan aku Adam. Aku tahu, kehilangan seseorang yang sangat kau sayangi itu pasti rasanya sangat sakit. Sekarang aku juga jadi paham sebesar itu rasa cintamu untuk Lily, aku sepertinya tidak ada kesempatan untuk bisa mengisi hatimu itu," dada Ashma semakin sesak mengucapkan isi hatinya yang begitu lara.
"Tetapi aku mohon, sesuai dengan apa yang kamu janjikan, bahwa setelah satu tahun perjanjian pernikahan kita maka saat itu pula kita akan bercerai. Karena itu tolong ijinkan aku untuk memenuhi kewajibanku sebagai seorang istri, selama kontrak pernikahan kita belum selesai."
Adam tertegun mendengar penuturan Ashma, wanita itu begitu tabah padahal Adam tahu dia telah menyakiti hatinya.
"Aku berjanji tidak akan meminta apapun setelah satu tahun ini, dan pada saat waktunya tiba, tolong pulangkan aku dengan janjimu yang selalu kau ucapkan berulang kali." Ashma melanjutkan kata-katanya dengan air mata yang menggenang.
"Aku tarik kata-kata ku yang ingin memperjuangkan pernika-
CUPP
Adam membungkam mulut Ashma segera, tidak mengijinkan lagi istrinya untuk berbicara. Ashma merasakan benda kenyal itu di bibirnya. Air matanya luruh bersamaan dengan rasa sakit, seperti ada duri tajam yang menusuk-nusuk hatinya.
Adam menangkup kedua pipi Ashma dan mengusap air matanya. Adam tidak ingin mendengar ucapan selanjutnya dari mulut Ashma, entah mengapa dia tidak menyukai Ashma berkata demikian padahal tentu itu adalah janjinya yang pernah dia ucapkan hanya saja Adam tiba-tiba tidak menyukainya.
"Maafkan saya Ashma. Sejujurnya saat pertama kali saya melihat kamu di pesawat saya teringat pada Lily, wajahmu sekilas mirip dengannya tapi saya tahu itu bukan dia. Saya juga tidak pernah menyangka, takdir malah menjerat kita bersama. Saya tidak tahu apa yang Tuhan rencanakan untuk saya sehingga mendatangkan kamu."
"Saya bersumpah akan melindungimu dari Edward, dia tidak boleh mengambil milik saya lagi!" Ujar Adam begitu mantap. Bedebah seperti Edward harus merasakan hukuman dan penderitaan, Adam akan memastikan semua itu terjadi.
Ashma tersenyum getir, hubungan nya dengan Adam benar-benar sangat rumit. Lelaki itu selalu memberi perhatian lebih kepada Ashma sedangkan dia juga memiliki janji untuk memulangkan Ashma setelah satu tahun. Ashma hanya takut dia akan jatuh cinta pada Adam jika terus seperti ini.
Walaupun begitu senyum tipis terukir di wajah Ashma, mencoba menyembunyikan perasaannya yang terluka dengan binar-binar kebohongan yang mengukir wajah cantiknya.
"Adam, jika boleh apa aku bisa memanggilmu dengan sebutan 'Mas'?" Ashma mencari topik lain biar meredam kesedihan dan runyamnya masalah rumah tangga mereka saat ini.
Adam juga yang tidak ingin semakin larut dalam amarah dan kesedihannya ikut meredamkan diri dan segera menjawab keinginan Ashma.
"Mas?" Adam kebingungan dengan sebutan tersebut, dia tidak pernah mendengar sebelumnya tetapi terdengar sangat romantis di telinganya.
Ashma terkekeh kecil mendapati wajah kebingungan Adam. "Semacam panggilan khusus untuk suami, nah orang Indonesia biasa menyebutnya seperti itu kepada suaminya."
Adam segera manggut-manggut kecil setelah mendengar penjelasan dari Ashma.
"Saya suka panggilan itu, terdengar romantis."
Ashma yang mendapati persetujuan dari Adam tersenyum senang, "terimakasih Mas,"
Seperti ada ribuan kupu-kupu yang menggelitik perut Adam, saat Ashma memanggilnya demikian dan Adam sangat menyukainya.
"Coba katakan lagi," Adam secandu itu mendengar panggilan barunya dari Ashma.
Ashma terkekeh geli, "terimakasih Mas Adam..."
Adam yang hendak menarik Ashma kedalam dekapannya seketika tak jadi karena seseorang mengetuk pintu kamar.
"Siapa si? Ganggu saja!" Batin Adam mendadak kesal, tidak tahu apa dirinya sedang bahagia mendengar panggilan baru dari Ashma.
Adam menarik handle pintu dan mendapati wajah Jhon yang nampak begitu serius.
"Ada apa Jhon?"
Jhonny, pengawal kepercayaan nya itu nampak mendekatkan diri untuk berbicara berbisik supaya tidak ada yang mendengar.
"Tuan Zavier ingin bertemu dengan anda, dia ada diluar mansion."
Tidak biasanya Zavier datang tiba-tiba, biasanya lelaki menyebalkan itu selalu mengabarinya terlebih dahulu.
"Biarkan dia masuk, saya segera menyusul." Ucap Adam memberikan izin, Jhon mengangguk paham lalu segera beranjak untuk menemui Zavier.
Adam Menutup kembali pintu dan segera berbalik untuk mendekati Ashma. Nampak wanita itu tengah melipat mukena-nya.
"Saya ada urusan penting sebentar," Adam pamit ada urusan, sebelum pergi Adam mencium puncak kepala istrinya yang tidak memakai hijab.
"Baiklah Mas, aku juga ingin bertemu mama," sahut Ashma ingin bertemu bibi Marianee.
Memandangi punggung suaminya sudah tidak ada lagi Ashma segera bersiap menggunakan hijab nya untuk pergi keluar kamar.
Ashma berjalan menuju lantai tiga, ruangan yang belum sama sekali dia jejaki, maklum saja Mansion Adam sangat luas sehingga Ashma belum terlalu hafal setiap sudut di Mansion Adam.
Pria itu sudah begitu mapan, Ashma juga baru mengetahui bahwa selain Adam bekerja sebagai agen rahasia dia juga ternyata seorang pemilik perusahaan sekaligus pimpinan pada salah satu perusahaan yang cukup ternama di Rusia.
Tetapi orang-orang hanya tahu pekerjaan Adam itu sebagai seorang pebisnis, karena pekerjaan yang sebenarnya dia rahasiakan mengingat memang sangat begitu privasi dan tidak boleh ada yang tahu selain mungkin dirinya dan bibi Marianee.
Sebagai seorang istri, Ashma tidak terlalu memikirkan seberapa banyak materi yang dimiliki oleh suaminya. Selagi harta yang didapatkan dengan cara yang halal Ashma akan selalu mendukung apapun itu pekerjaannya.
Tetapi mengingat Adam adalah orang yang sangat penting juga pekerjaan nya yang sangat beresiko Ashma juga kadang merasakan cemas mengingat bahaya yang kapan saja akan mengintai suaminya.
Ashma tidak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa dia akan menjadi istri dari seseorang yang berkewarganegaraan asing, bahkan sampai ikut masuk kedalam kehidupannya yang tidak pernah dia duga-duga selama ini.
Menarik napas panjang Ashma memusatkan kembali langkah kakinya untuk mencari bibi Marianee.
Ashma akhirnya sampai didepan pintu balkon. Bibi Marianee sedang berada disana, dia tengah memainkan tangannya merajut benang membentuk pakaian hangat yang setengah jadi.
"Mama..." Panggil Ashma membuat wanita paruh baya itu menoleh cepat. Dia tersenyum hangat dengan kerutan yang nampak disekitar wajahnya.
"Kemarilah sayang," Ashma mendekati bibi Marianee yang sedang merajut begitu lihai, Ashma terkagum-kagum melihatnya.
Ashma duduk disebelah bibi Marianne, "Masyaallah ma, jadi mama bisa merajut," mata Ashma berbinar, dengan ucapan kagum yang beberapa kali keluar dari mulutnya.
Bibi Marianee tersenyum bahagia mendapati wajah Ashma yang terlihat segar, "Keterampilan merajut ini salah satu warisan dari ibuku,"
"Nah apakah kamu ingin mencobanya?" lanjut bibi Marianee sembari menawarkan, siapa tahu Ashma tertarik untuk belajar merajut.
Ashma mengangguk girang, dia ingin sekali belajar merajut.
"Jika mama tidak keberatan,"
"Tidak sayang, nah sekarang kamu coba pegang benang dan hakpen ini, lihat bagaimana cara bibi memegangnya." Ashma mengikuti cara tangan bibi Marianee yang memegang hakpen.
"Pertama kita buat simpul terlebih dahulu, nah seperti ini," Ashma mengikuti instruksi bibi Marianee.
"Lalu kita buat simpul rantai sebagai permulaan untuk melanjutkan simpul selanjutnya untuk membuat pola."
Ashma sedikit kesulitan dalam membuat pola selanjutnya tetapi dengan telaten dan penuh kesabaran akhirnya Ashma sudah bisa membentuk pola pada rajutan yang sedang dia buat.
"Masyaallah ini sedikit sulit ya ma," Ashma menghela napas panjang diikuti kekehan kecil.
"Benar sayang, tetapi dengan sabar dan ketelatenan insyaallah lambat laun pasti bisa,"
Ashma manggut-manggut. Benar, tidak ada yang tidak mungkin jika dilakukan dengan niat yang benar dan konsisten dalam mengerjakannya.
Bibi Marianee meraih pundak Ashma dan mengusapnya lembut, "sudah hampir setengah jam lebih kamu belajar merajut, Ashma mari kita lanjutkan nanti," tanpa sadar Ashma sudah berkutat disana cukup lama.
"Iya ma." Ashma dan Bibi Marianee pergi meninggalkan balkon.
Ashma juga ingin kembali ke kamarnya, dia merasa sangat letih padahal Ashma tidak melakukan pekerjaan berat sedari tadi dia hanya duduk-duduk saja bersama bibi Marianee sambil belajar merajut.
Bibi Marianee berpisah dengan Ashma dilantai dua, Ashma terus melanjutkan langkahnya menuju kamar, dia ingin sekali merebahkan dirinya diatas ranjang kasur yang empuk.
Ashma malah berpapasan dengan suaminya dan juga... sepertinya teman Adam, Ashma menduga demikian.
Lelaki disamping Adam terdiam dengan raut wajahnya yang seperti terkejut, Ashma tidak terlalu peduli ia juga langsung melepas kontak matanya dengan lelaki itu.
Adam segera membuka suara melepas keheningan diantara mereka, "kamu dari mana?" tanya Adam dengan suara lembut.
"Balkon atas, menemui bibi Marianee,"
"Kamu sekilas mirip seperti Lily!" Zavier ikut berbicara, melepaskan rasa keterkejutan nya saat melihat Ashma.
Ashma tersenyum sekilas, tidak terlalu suka mendengar dirinya selalu disamakan dengan orang lain walaupun itu adalah mendiang kekasih suaminya yang begitu dia cintai.
Adam mengetahui raut wajah Ashma itu, segera dia meminta istrinya untuk masuk kedalam kamar.
"Masuklah kedalam kamar, saya akan menyusul." Paham akan perintah Adam, Ashma beranjak pergi dari sana dengan meninggalkan ucapan pamitnya pada Zavier.
Adam terus memandangi punggung Ashma hingga wanita itu benar-benar masuk kedalam kamarnya, lalu atensinya beralih pada Zavier dengan tatapan dingin.
"Apa?" Tanya Zavier sarkas seakan dirinya sudah berbuat salah.
"Jangan memandang istriku seperti itu!"
Zavier mengernyitkan dahinya merasa bingung, memang apa salahnya memandangi wanita yang sedikit mirip dengan Lily itu.
"Saya hanya terkejut Adam, wanita itu sekilas mirip kekasihmu tau!" katanya melanjutkan.
Adam tidak menanggapi lagi, dia kembali melangkahkan kakinya untuk pergi kelantai bawah. Zavier mengikuti dengan kepalanya yang berkeliaran memikirkan sesuatu tentang hubungan Adam dan wanita itu.
"Jangan-jangan kamu menikahi wanita itu karena dia terlihat mirip dengan mendiang kekasihmu ya?"
#TBC