
Sudah memasuki musim gugur, udara semakin dingin dan dia sudah berada dirumah kecil milik keluarga suaminya selama kurang lebih satu bulan.
Kandungannya juga berpindah usia menjadi lima bulan, kemarin Ashma melakukan pengecekan kandungan rutin setiap satu bulan sekali sebenarnya lebih lama jangkanya dari itu tidak apa hanya saja Adam tidak ingin melewatkan setiap pertumbuhan dan Kesehatan ibu dan anak.
Dihari yang penuh hujan daun berguguran itu Ashma merenungi kehidupannya, dia tersenyum miris kedepan sana dalam pemandangan indah yang menjadi ketenangannya selama ini, pada kenyataanya Ashma hanya pura-pura bahagia dan menghibur diri sendiri. Dia merasa bosan dengan hubungan pernikahannya yang hanya berdiam ditempat, Adam tidak pernah memberikan kejelasan tentang perasaanya dan Ashma sudah Lelah batin.
Dia hanya mencintainya sendirian. Ashma sudah berusaha meminta cintanya tetapi Adam selalu tidak pernah ingin mencoba.
Waktu yang bergulir begitu cepat. Suara jangkrik terdengar nyaring pada malam yang amat lebih dingin itu, Ashma memeluk tubuhnya sendiri diruang utama, dia mencoba menghabiskan susu nya tapi lidahnya selalu menolak. Ashma tidak terlalu suka dengan baunya maka dari itu ia selalu kesulitan meminum susu ibu hamil, Adam selalu rewel saat ia hampir melupakan untuk meminum susu bahkan Adam sampai memaksa untuk Ashma meminumnya.
Jacket tebal terpasang di bahu Ashma, dia segera menoleh kearah belakang dan mendongak melihat Adam berada dibelakangnya sambil tersenyum kecil, dia ikut duduk setelah mengecup puncak kepala Ashma.
“Masih mual meminumnya?” tanya Adam melihat isi gelas Ashma yang hanya berkurang sedikit.
“Iya Mas, aku tidak bisa.” Adam menautkan alisnya, dia mengambil gelas itu diatas meja.
“Mas bantu."
Ashma sudah menduganya, Adam pasti tidak membiarkan dia tidak meminum susunya.
“Sedikit aja ya,” Ashma meminta penawaran padanya, Adam mengangguk kecil.
Adam memegang hidung mancung Ashma untuk membantunya agar tidak menghirup bau dari susunya. Ashma meneguknya lumayan banyak dan dia segera menelannya.
“Sudah Mas aku tidak sanggup lagi menghabiskannya!” Lidahnya masih merasa-rasa, Adam dengan sigap membawakan air hangat untuk Ashma.
“Terimakasih,” Ashma segera meneguk air hangat yang diberikan Adam, lidahnya sudah merasa baikan.
Adam melihat jam, ternyata baru pukul sembilan malam. Dia menatap Ashma lagi, matanya jatuh dalam tatapan teduh milik istrinya.
Matanya terpejam sesaat saat napasnya menjadi tenang dengan irama lembut. Mata Adam melayang kearahnya lagi. Ashma merasa bingung dengannya seperti melihat orang aneh, lantas dia bertanya.
“Apa ada yang salah dengan diriku?” Ashma cukup curiga karena Adam memandanginya lain.
Dia terkekeh pelan, “ tidak, tidak ada.” Itu adalah jawaban yang sangat tidak memuaskan untuk didengar.
Ashma menyilangkan tangannya, dia menatap Adam dengan tajam seperti sedang mengintimidasi. “bohong!” kilah Ashma, dia menampilkan raut wajah tidak bersahabat.
Adam menyunggingkan senyuman nyentrik, dia suka melihat Ashma menjadi garang. “itu, sepertinya sudah boleh melakukan hal yang lebih mesra.” Katanya dengan nada suara tercekat, Ashma merinding sendiri mendengarnya.
“A—apa?”
“Ibadah suami istri Ashma,” kata Adam memperjelas. Ashma semakin meregangkan jarak dengan Adam, laki-laki itu auranya begitu menakutkan. Tetapi mengingat sudah satu bulan lebih seharusnya sudah bisa kan? Ashma membatin kebingungan.
Adam tertawa saat Ashma menjauh darinya dengan tergesa-gesa bangkit dari duduknya dan segera masuk kedalam kamar.
“Masuklah Mas!” katanya berteriak.
Adam terdiam sejenak dengan kepala yang masih mencerna teriakan Ashma dari bilik kamar, namun sepersekian detik berikutnya dia mulai menyadari kenakalan Ashma. Adam tertawa geli melihat tingkah Wanita itu, dia jadi merasa digoda olehnya
Adam masuk kedalam bilik kamarnya dengan Langkah pelan, lalu setelah masuk kedalam ia segera mengunci pintu. Dia, Wanita itu disana tengah menunduk malu dengan masih tetap menggunakan jacket yang ia pasangkan ditubuhnya.
Adam menggeleng kecil, “Tidak, saya tidak akan melakukan itu dulu sebelum bertanya pada dokter apa sudah boleh,” katanya sambil melepaskan baju hangatnya. Walaupun dia memiliki niatnya sebagai suami akan haknya tetap saja Adam memikirkan Kesehatan ibu dan bayinya mana mungkin dia egois demi kepuasannya sendiri.
Ashma menatap Adam dengan raut wajah bertanya-tanya. “Apa? Kenapa Mas, aku padahal tidak menolak.” Tanyanya sedikit aneh walaupun didalam hatinya Ashma sangat lega.
Adam mendekati Ashma di ranjang, dia meraih kedua tangan Ashma untuk ia kecup. “Menurutku kamu ingin mengatakan hal lain, sejak tadi siang kamu terlihat gelisah walaupun kamu tersenyum tapi saya tidak bisa dibohongi, jadi apa yang membuat kepalamu begitu memikirkan sesuatu?” suara Adam begitu halus masuk kedalam Indera pendengarannya, seperti tiupan kecil yang berbisik ria dengan sayup-sayup.
Ashma memikirkan sebentar, dia menghela nafas Panjang. “Itu sepertinya tidak penting untukmu, aku juga tidak yakin mengatakannya.”
Adam berkata dengan alis mengkerut bingung “Apa? Kenapa kamu membuat saya bingung?!”
Keduanya bertukar pandangan dengan saling melemparkan tatapan tak terbaca, “itu—” Ashma menarik nafas lagi.
“Cintai aku!” kata Ashma dengan mata yang menatapnya penuh seakan ingin menunjukan kepadanya bahwa dia benar-benar telah jatuh hati pada suaminya.
Adam tertawa kecil dengan jari-jari tangannya menyisir rambutnya kebelakang. Mengingat Kembali kata-kata yang baru saja Ashma lontarkan. “Saya sudah memberikan kasih sayang saya kepadamu Ashma jadi—” dia mengerutkan keningnya, “untuk apa meminta cinta saya?” itu adalah lanjutan dari ucapannya yang amat kejam.
Bibir Ashma bergerak , tapi tidak ada kata-kata yang keluar seakan menyangkut diantara tenggorokannya.
“Sudahlah kamu tidak usah mulai memancing amarah saya Ashma, pergilah tidur.” Katanya melanjutkan seperti perkataannya mudah untuk diterima. Dia segera bergegas keluar dari kamar, selalu seperti itu untuk menghindari topik sensitif.
“Pengecut!” Ashma melemparkan tatapan penuh kecewa.
Adam berbaring di sofa kecil ruang kerjanya, dia memijat pangkal hidungnya dengan pikiran yang berat. Adam selalu menghindar saat Ashma selalu memintanya untuk mencintai dia, itu sangat sulit karena Adam selalu mengikuti keegoisannya untuk tetap mencintai satu orang yang sama sejak dulu.
...•••...
Ashma terbangun sendirian dalam keheningan didalam hatinya, Mentari pun tidak memunculkan riak cahayanya seperti biasa membuat suasana semakin dingin, itu adalah hatinya yang ikut membeku.
Ashma turun dari ranjang dan duduk di kursi depan cermin untuk melihat penampilannya, dia tersenyum kecil melihat perutnya dengan gemas, dia sangat mencintai anaknya. Ashma merasakan cinta, mencintai seseorang yang tidak tahu seperti apa rupa wajahnya ataupun jenis kelaminnya, entah putra atau putri dia mencintai anak didalam kandungannya.
Ashma segera teringat pada manusia terbaik sepanjang zaman. Nabi nya, Rasulullah. Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. seperti cintanya kepada beliau, padahal dia belum pernah melihat seperti apa rupanya dan dia amat begitu mencintai baginda Rasulullah.
“Mayaallah,”
“Masyaallah,”
“Masyaallah.”
Air matanya luruh dengan semburat rindu kepada beliau, baginda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. mengingat bagaimana kemuliaan beliau dan kegigihannya dalam menegakan agama Islam, dia juga mencintai umatnya, sangat mencintai sampai-sampai beliau masih menunggu kepulangan terbaik kami disana, beliau menunggu kami untuk membantu peradilan perbuatan umatnya, yang akan mengulurkan tangannya saat kami akan terperanjat antara Lembah kesengsaraan yang sebenarnya.
“Dapatkah aku bertemu dengan beliau nanti dengan diri yang berlumuran dosa ini?”
“Ya Rasulullah, jika aku diberikan kesempatan oleh Allah untuk bertemu denganmu maka aku hanya ingin mengatakan kepadamu, bahwa aku sangat mencintaimu.” Kata-katanya melayang di udara dengan segala perasaan rindu yang membuncah. Itu seperti harapan nya yang berbisik kepada angin untuk disampaikan kepada beliau.
Ashma Kembali pada cermin, dia tersenyum pada dirinya sendiri. Setelah puas Ashma beranjak mengambil kuncir rambutnya diatas meja untuk mengikat rambut panjangnya yang sedikit mengganggu, setelahnya dia segera melangkahkan kakinya ke kamar mandi untuk melakukan ritual mandi pagi.
Diruang yang lain, Adam tengah merenung. Matanya melihat keluar jendela, memandangi suasana yang tidak seceria biasanya, perasaannya memiliki firasat tidak baik, entah apa itu tapi Adam berusaha menepisnya, tidak peduli walaupun rasa gelisah bercokol didalam hatinya.
Puas merenung Adam akhirnya memutuskan untuk keluar dari ruang kerjanya, perutnya terasa lapar dan ia ingin membuat sarapan untuknya dan Ashma, ah mengingat Wanita itu dia jadi selalu teringat permintaanya yang menginginkan cinta dari Adam. Itu menggelitik hatinya.
Dim menepis pikirannya dan segera keluar dari ruangannya untuk beranjak pergi ke dapur, namun belum juga sampai Adam sudah melihat punggung seorang Wanita yang tengah berkutat di dapur tengah membuat sarapan.
Bau roti panggang menyeruak kedalam Indera penciumannya, istrinya pasti tengah memanggang roti. Adam memutuskan untuk duduk saja di kursi sambil memandangi Ashma dari belakang.
Ashma berbalik, disana—disana dia mendapatkan Adam yang tengah memandanginya, Ashma tidak memperdulikan dan dia tetap melakukan tugasnya sebagai seorang istri.
Dia segera membawa sarapan itu keatas meja makan dan duduk perlahan sambil memegangi perutnya, Ashma mengabaikan Adam.
Adam tahu istrinya tengah marah padanya, dan dia tidak menyukainya. “Selamat pagi,” kata Adam menyapa Ashma namun sang empu tidak kunjung menjawab.
Adam mendesah kasar, “maaf, saya minta maaf tentang semalam.” Ucapnya dengan berusaha meraih pergelangan tangan Ashma namun Ashma segera menjauhkan tangannya.
“Itu sudah biasa,” Ashma berucap ketus, dia sudah terbiasa mendapatkan permintaan maaf palsu dari suaminya.
Adam mengambil udara, dia berusaha bernafas dengan benar. “Saya sudah memikirkannya semalaman, ya benar katamu saya memang egois dan saya pengecut. Ashma saya sudah mempertimbangkannya jadi…saya akan mencoba membuka hati saya untukmu dan berusaha mencintaimu,”
Ashma yang tengah mengunyah roti panggang didalam mulutnya langsung berhenti, dia segera menatap mata lelaki itu penuh selidik.
“Tidak usah bercanda!” katanya tidak yakin. Adam memberikan senyumannya untuk memberikan keyakinan pada Ashma bahwa dia akan mencoba membuka hatinya.
“Saya akan mencobanya!”
Ashma meringis mendengarnya, “mengapa? Mengapa kamu melukai hatiku dengan perkataan semu itu?”
Adam menggeleng kecil, “tidak. Saya akan berusaha membuka hatiku Ashma jadi tolong percaya!” Dia mengucapkannya penuh dengan keyakinan.
Ashma mencari kebohongan didalam matanya tapi dia tidak menemukannya namun Ashma masih merasa ragu, tapi dia juga berpikir lagi apa salahnya untuk dicoba.
“Lalu apa tindakanmu?”
“Mari kita berkencan!”
Ashma ingin tertawa lepas namun ia juga tidak bisa, seperti suaranya tercekat diantara tenggorokan dan sulit untuk dikeluarkan.
“Jadi itu tindakanmu?”
“Ya, dan saya ingin kamu berkencan denganku.”
“Apa itu sebuah penawaran?”
“Tentu saja.”
Ashma berdecak kesal, “apa aku harus menerima penawaran kencanmu?”
“Itu harus!”
Ashma mendesah berat, sekali lagi ia melihat kedalam matanya dan mencari kebohongan namun Ashma tetap tidak menemukannya.
Adam memaksa meraih pergelangan tangan Ashma dan dia menatapnya dengan intens.
"Mari kita berkencan sayang.” Dia menegaskan dan memperjelas lagi ucapannya dengan senyuman yang ia berikan untuk Ashma.
#TBC