
Ashma tercengang saat banyak sekali baju gamis yang dibelikan oleh Adam beserta dengan hijab berbagai model, lelaki itu memang sangat royal dan terlalu berlebihan.
“Aku hanya butuh beberapa Adam,” Ashma protes karena dia tidak bisa menerima pemberian Adam yang terlalu berlebihan itu.
Adam menatap Ashma sekilas lalu pandangannya Kembali lagi pada laptop dihadapannya. “Kau istriku, jadi tidak ada salahnya membelikan apapun untukmu. Pakai saja, kalau tidak mau tinggal buang beberapa.” Ashma melebarkan matanya, kakinya melangkah mendekati Adam yang sedang sibuk dengan laptopnya itu.
“Ba-baiklah akan aku terima semuanya.”
Adam tidak memberikan respon apapun lagi tetapi Ashma masih berdiam diri dihadapan Adam, sebenarnya dia ingin mengatakan sesuatu pada suaminya itu tapi melihat Adam yang sedang sibuk sekali Ashma pun mengurungkan niatnya.
Adam menghentikan tangannya yang sedang mengetik. Matanya tertuju pada Ashma lagi dan dia pun bangkit perlahan dari kursinya. “Terus terang lah, sebenarnya apa yang ingin kau katakan?” Adam memasukan satu tangannya kedalam saku celana.
Ashma menggaruk pipi kanannya yang tidak gatal, dia sedikit malu sebenarnya saat Adam mengetahui gelagatnya.
“I-itu…Ada yang ingin aku katakan padamu,” cicitnya gugup.
“Katakanlah.”
“Adam, aku merasa bosan hampir dua minggu ini hanya berdiam diri di mansion. Aku sangat rindu bekerja sebagai perawat, kalua begitu bolehkah aku be-“
Adam memotong ucapan Ashma dengan tatapan yang menghunus. “Tidak boleh!”
Adam langsung menolak keinginan Ashma. Ashma mengernyitkan dahinya tidak suka. “Kenapa tidak boleh?”
Adam menggeleng pelan. “Diluar berbahaya Ashma, setidaknya tunggu sampai kita berpisah.” ucapnya begitu enteng tanpa menjaga perasaan Ashma.
Ashma mengangkat wajahnya untuk menatap Adam lebih dekat lagi, Adam yang sedikit tinggi darinya lantas menunduk melihat raut wajah Ashma yang mulai marah.
"Kau harus tau bahwa aku merindukan dunia di luar sana, ingin merasakan kembali bagaimana menjadi perawat, membantu orang lain. Aku ingin merasa berguna." Suara Ashma sedikit meninggi.
Adam menatap manik mata Ashma dengan dingin. "Tunggu sampai kita berpisah."
“Apa kau mempermainkan pernikahan kita?” Ashma mengepalkan tangannya. Mendengar ucapan Adam itu membuat perasaannya menjadi dongkol.
Adam memalingkan wajahnya dari Ashma lelaki itu memilih untuk tidak menjawab dan memutuskan untuk meninggalkan Ashma namun belum juga Adam akan melangkahkan kakinya, Ashma telah mendorong Adam bersamaan dengannya hingga bahu Adam menyentuh dinding dan mereka saling menatap satu sama lain.
Kedua mata Ashma berkaca-kaca, Adam mengeratkan rahangnya. “Saya tidak mempermainkan pernikahan ini, karena saya akan bertanggung jawab penuh atas keselamatan mu hingga kau pulang dengan selamat nanti ke Palestina.
Ashma sungguh tidak mengerti jalan pikiran Adam yang telah meremehkan arti sebuah pernikahan. “Lupakan tentang tanggung jawab untuk memulangkan aku Adam. Kita sudah menikah dan aku menjalankannya karena ibadah, kita sudah bersaksi di hadapan tuhan, kau jangan lupakan itu.”
“Itu memang benar, tapi saya tetap akan menepati janji saya untuk memulangkan mu ke Palestina.” Ashma sangat kecewa terhadap Adam. Saat itu juga tangis Ashma pecah.
Adam tidak tahan melihat Ashma yang menangis tetapi dia tidak bisa melakukan apapun sebab Adam akan tetap pada pendiriannya. “Berhenti menangis Ashma!” Suara Adam meninggi satu oktaf terdengar penuh ketegasan, Ashma tidak takut menatap mata tajamnya.
"Kalau begitu mengapa kamu menikahi ku dan bersikap manis kemarin-kemarin?" Ditengah isakannya Ashma bertanya menuntut jawaban.
Adam menggeram kesal, dia mencoba melepaskan dari kungkungan Ashma namun wanita itu menarik keras kerah baju Adam sehingga jarak mereka sangat dekat sekali. Adam merasakan deru nafas hangat Ashma menerpa wajahnya.
"Bertanggung jawab atas kejadian malam itu." gumam Ashma, Ashma jengah dengan jawaban Adam yang selalu menggunakan alasan yang sama.
"Persetan dengan semua itu Adam. Kita sudah menikah dan aku tidak bisa dipermainkan seperti ini!" Ashma sangat frustasi saat Adam hanya memberikan alasan tanggung jawab karena peristiwa malam itu.
"Lalu apa yang kamu inginkan Ashma?"
Simfoni dari keduanya membuat ruangan menjadi mencekam. Adam menarik Ashma untuk lebih mendekat lagi, dia meletakan tangan kanannya untuk memeluk pinggang ramping Ashma.
Entah dorongan dari mana Ashma berani memegang halus rahang tegas Adam.
"Aku hanya akan menikah satu kali seumur hidupku, artinya kau lah yang akan menjadi satu-satunya." Suara Ashma membuat Adam sedikit merinding.
"Aku akan memperjuangkan pernikahan kita!" Lanjutnya, Ashma berbisik di telinga Adam seketika membuat kepala Adam pening.
"Kau tidak perlu sampai memperjuangan pernikahan yang sementara ini," suara Adam tertahan berusaha tidak terpengaruh oleh Ashma yang mulai membuatnya ingin menyentuh wanita itu.
"Tidak Adam, aku akan tetap memperjuangkannya. Bahkan akan berusaha untuk mencintai suamiku!" Adam menatap Ashma dengan intens, wanita itu mengatakannya dengan percaya diri.
Adam tersenyum simpul. "Kalau kau bisa. Tapi itu tidak akan pernah terjadi! Karena saya hanya akan mencintai satu wanita saja yaitu lily." Desis Adam namun tidak membuat Ashma gentar.
"Kita lihat saja nanti tuan Adam." Ashma mendorong dada Adam tepat mengenai dinding tembok hingga lelaki itu melepaskan tangannya dari pinggang Ashma.
"Dasar keras kepala!" Adam memijat pangkal hidungnya, wanita itu benar-benar merusak pikirannya.
...•••...
"Bagaimana?Ayolah Ashma berpikir!" Ashma berpikir keras agar dia mempunyai ide untuk bisa keluar dari mansion tanpa ketahuan dengan Adam.
Ashma yang sudah menemukan ide tersenyum senang. "Mama." Gumamnya.
Ashma melangkahkan kakinya mencari bibi Marianee, Mansion milik Adam sangat besar hingga Ashma kebingungan karena dia belum terlalu mengetahui seluk beluk mansion itu.
"Nona..." Panggil salah satu maid disana.
Ashma menoleh dan mendapati wanita cantik yang dia yakini umurnya lebih muda darinya. Dia sangat menawan dengan rambut pirang miliknya.
"Ah kebetulan." Gumam Ashma.
"Nona sedang mencari siapa?" Tanya gadis itu.
"Aku sedang mencari bibi Marianee, apakah kamu melihatnya?"
"Bibi Marianee sedang berada di taman belakang nona, apakah kamu ingin aku mengantarmu?" ucapnya menawarkan.
"Jika kau tidak keberatan gadis cantik."
"Terimakasih atas pujianmu, tapi kau juga sangat cantik nona." ucapnya terkekeh kecil, pipi putihnya bersemu merah menambah kesan sangat menawan. "Baiklah, mari aku antar." Lanjutnya, gadis itu melangkah terlebih dahulu.
Ashma mengikuti langkah gadis cantik itu. "Siapa namamu?" Tanya Ashma, gadis itu tersenyum tipis dengan manik hijau yang mengkilat.
"Nama saya Karina."
"Karina...Kau sangat cantik." Ashma memuji lagi, Karina tertunduk malu.
"Aku rasa umurmu masih sangat belia, boleh aku tahu?" Karina menoleh pelan, lalu gadis itu menghentikan langkahnya tepat di pintu yang menuju taman belakang.
"18 nona. Nah kita sudah sampai."
Saat berada di taman belakang, Ashma melihat bibi Marianee tengah memindahkan tanaman yang tertutupi oleh salju.
"Baiklah Karina, terimakasih sudah mengantarkan aku bertemu dengan bibi Marianee. Nanti kita lanjutkan lagi obrolan kita ya, senang bertemu denganmu." Ujar Ashma tersenyum hangat. Karina merasa kagum didalam hatinya pada wanita berhijab yang berada dihadapannya ini.
"Sama-sama nona, kalau begitu saya permisi."
Karina melangkah pergi meninggalkan Ashma bersama bibi Marianee, dia harus kembali mengerjakan pekerjaannya lagi.
"Ashma, apa yang membawa kamu ke sini? Dan kenapa tidak menggunakan baju tebal? Disini sangat dingin." Bibi Marianee tersenyum tipis sambil menyambut kedatangan Ashma namun dia juga khawatir melihat Ashma yang tidak memakai baju tebal.
"Aku merasa bosan di dalam mansion, Ma. Apakah boleh Ashma berjalan-jalan sebentar di luar?" Tanya Ashma dengan harapannya.
Bibi Marianee memandang Ashma dengan penuh perhatian. Dia tahu bahwa Ashma merindukan kebebasan dan kesempatan untuk keluar dari mansion. Namun, dia juga sadar bahwa Adam melarang Ashma meninggalkan tempat itu karena alasan keamanan.
"Itu...Mama tidak yakin." cicitnya ragu mengingat Adam telah mewanti-wanti bibi Marianee, tetapi melihat wajah Ashma yang sangat ingin merasakan kebebasan bibi Marianee jadi semakin bimbang.
"Ma, tolong bantu Ashma keluar sebentar saja. Aku merasa sangat tertekan di sini," pinta Ashma dengan penuh harap.
Bibi Marianee tersenyum lembut. "Sayang, kamu tahu betapa khawatirnya Adam padamu dan betapa dia ingin melindungi mu. Di luar sana mungkin berbahaya."
Ashma mengangguk memahami, namun tetap bertekad. "Tapi Ma, aku sangat ingin menghirup udara bebas diluar, aku juga ingin melihat keindahan di negara ini Ma."
Bibi Marianee merasa sangat bimbang namun melihat wajah Ashma yang memelas bibi Marianee jadi tidak tega. "Baiklah, tapi aku tidak bisa memberitahu Adam tentang ini. Mama juga sudah memutuskan akan menemanimu sayang."
Ashma mengangguk dengan cepat. "Terima kasih, Ma! dan terimakasih sudah mau menemani Ashma, Ashma senang sekali."
Bibi Marianee memberikan senyuman penuh kasih sayang. "Tentu, sayang. Ingat, Adam melakukan semua ini karena dia sangat mencintaimu dan khawatir kehilanganmu."
Ashma tersenyum miris didalam hatinya. Adam, lelaki itu hanya memikirkan rasa tanggungjawab atas kesalahannya saja.
Ashma berpelukan dengan bibi Marianee sebagai tanda terima kasih. Kemudian, dia dan bibi Marianee meninggalkan mansion dengan hati berbunga-bunga karena dia merasa memiliki kesempatan untuk merasakan kebebasan sejenak.
Adam yang berada dikamar dan masih fokus dengan laptopnya seketika teralihkan perhatiannya pada sebuah alat kecil berbentuk segi empat yang tiba-tiba menyala berkedip-kedip berwarna merah. Adam membuka layar ponselnya, raut wajah Adam menjadi khawatir dan seketika itu dia meninggalkan kamarnya dengan tergesa-gesa.
"Wanita itu benar-benar keras kepala!"
#TBC