A Little Hope For Ashma

A Little Hope For Ashma
12. Saling terpesona



Didalam kamar Ashma terdiam cukup lama memandangi Adam dibalik cermin, lelaki itu dengan perlahan memasangkan kalung dilehernya.


"Apa ini tidak terlalu berlebihan Adam?" Tanya Ashma sedikit tidak yakin.


"Diamlah." Tukasnya dingin. Ashma berdecak kesal.


Setelah memasangkan kalung dilehernya, pandangan Adam beralih melihat Ashma dibalik cermin. Adam terpaku sesaat melihat visual Ashma yang sangat melewati batas kecantikan, wanita itu menyeruakan kharisma berbahaya.


Mereka sama-sama saling terpaku satu sama lain, ruangan yang besar itu menjadi sangat hening. Adam yang tanpa sadar menyibak rambut panjang bergelombang Ashma perlahan kearah kiri sehingga memperlihatkan leher jenjangnya yang putih.


Adam mulai tertarik dan menaruh kepalanya diceruk leher Ashma, mereka seperti saling tidak sadar. Adam tiba-tiba mengecup leher jenjang Ashma sehingga Ashma dibuat merinding olehnya.


Ashma dengan perlahan membalikan tubuhnya dan mendapati jarak mereka yang sangat dekat sekali. Netra mereka terkunci satu sama lain, wajah mereka saling mendekat hingga deru nafas keduanya terasa.


Adam yang terpaku melihat bibir kecil Ashma yang merah alami, lantas langsung melahapnya karena tergoda. Ashma seketika sadar namun karena suasana aneh yang membuatnya tidak bisa menolak akhirnya Ashma membalas ciuman Adam yang bermain dengan bibirnya. Ashma dengan instingnya memeluk tangannya dileher Adam.


Ashma tidak pandai melakukannya namun Adam seperti memberikannya sebuah pengalaman baru, lelaki itu sangat pandai sekali hingga membuat Ashma kehilangan pasokan oksigen dan segera melepaskan pagutannya.


Adam yang sudah diliputi kabut gairah menarik tubuh Ashma pelan dan kembali mencumbu bibir kecil Ashma yang sudah berubah sedikit bengkak karena ulahnya.


Mereka sama-sama diliputi oleh kabut gairah dan seakan lupa oleh perasaannya masing-masing. Tangan Adam sudah berhasil membuka resleting belakang baju gamis Ashma sehingga Adam dapat melihatnya dibalik cermin.


"Eunghh..."


Adam beralih mencumbui leher Ashma sehingga Ashma melenguh saat Adam memberikan sensasi merinding itu.


"A-Adam..." Cicit Ashma terbata-bata. Dia juga baru teringat dirinya yang sedang masa periode.


Adam tidak menjawab panggilan Ashma, dia tetap melanjutkan aksinya dan membawa tubuh Ashma keatas ranjang sambil terus mencumbuinya.


Mereka seakan sudah lupa daratan dan kini hanya saling mendambakan satu sama lain. Adam melepaskan pagutannya namun matanya masih terus menatap Ashma penuh gairah. Adam menanggalkan bajunya perlahan sehingga memperlihatkan tubuh kekarnya pada Ashma, wajah Ashma merona melihat tubuh atletis Adam dengan roti sobek yang terlihat sangat ****.


Adam langsung menyerang Ashma lagi, namun ditengah-tengah aktivitas mereka Adam yang tidak sadar malah menyebut nama Lily, sontak Ashma langsung mendorong keras dada bidang Adam dari tubuhnya.


Adam menatap Ashma tak terbaca, wanita itu mengeratkan rahangnya. Ashma sangat kecewa karena Adam malah memanggil wanita lain.


"Kau kenapa? Apakah saya membuatmu takut lagi? Tanya Adam hati-hati.


Kedua bola mata Ashma berkaca-kaca. "Tempo lalu kau berbuat yang tidak pantas, mencoba melecehkan aku yang kau anggap sebagai mantan pacarmu. Sekarang disaat kita sudah halal kau malah memanggil nama dia lagi, aku sungguh benci padamu Adam!" Ashma langsung pergi meninggalkan Adam kedalam kamar mandi dengan perasaan dongkol.


Adam menatap nanar kepergian Ashma, apakah benar dia menyebut lagi nama Lily, Adam merasa dia tidak sadar telah menyebutkan namanya.


Adam mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi sambil meminta maaf sedangkan Ashma didalam sedang terisak pelan, entah mengapa saat Adam malah menyebut nama mantannya itu membuat hatinya sangat sakit. Ashma tidak tahu mengapa menjadi seperti ini, padahal Ashma tahu diantara mereka tidak ada perasaan satu sama lain, tapi mengapa rasanya sangat sakit.


"Ashma saya benar-benar minta maaf jika saya malah menyebut nama dia. Saya tidak sadar..." Adam berharap Ashma mau membuka pintu kamar mandi, dia harus menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi.


"Pergilah Adam..." Adam menarik nafas panjang, lalu memutuskan untuk mematuhi keinginan Ashma.


Adam merasa bingung dengan dirinya, seharusnya Adam bisa meredam keinginannya untuk tidak menyentuh Ashma, dia harus bisa karena Adam tidak ingin menyakiti wanita itu disaat hatinya masih terdapat wanita dimasa lalunya.


"Saya tidak akan berbuat seperti itu lagi Ashma. Saya sudah berjanji setelah semua ini selesai saya akan segera mengembalikan kamu kepada nenek dan pamanmu." Monolog lelaki itu menatap foto Lily, wanita yang masih dia cintai.


...•••...


Ashma merasakan bilur yang mendera hatinya, dia rasanya tak sanggup bila harus berpisah lagi dengan neneknya. Ashma terisak didalam pelukan wanita paruh baya itu, menyeruakan tangisan yang selama ini dia redam sendiri. Dihadapan Adam dan paman Amith Ashma merapuhkan dirinya dipelukan nenek.


Adam mengepalkan tangannya, air mata Ashma entah mengapa membuat ulu hatinya berdenyut nyeri. Wanita itu seperti boneka rapuh, dan Adam semakin membuat nya tersiksa dalam ikatan pernikahan ini.


Melihat itu membuat Adam semakin berambisi untuk segera menyelesaikan masalahnya sehingga bisa membawa kembali Ashma untuk segera pulang berkumpul dengan keluarganya.


"Sudah Ashma... jangan menangis lagi." nenek mengelus halus bahu Ashma yang bergetar, cucu nya sangat rapuh sekali.


"Berbahagialah sayang. Adam pasti selalu ada untukmu," ucap nenek melanjutkan, matanya tertuju pada Adam lalu tersenyum kecil, Adam membalas senyuman itu seakan penuh syarat dan makna.


"Adam..." Paman Amith membuka suara.


"Saya titipkan Ashma padamu. Tolong jaga dan sayangi keponakan saya. Jangan pernah kamu sekali saja menyakitinya, kalau itu sampai terjadi saya tidak akan pernah ridho!" Ucap paman Amith memberikan ultimatum tegas pada Adam.


Dalam perasaan yang tidak rela Ashma melepas kepergian neneknya dan paman Amith untuk pulang ke Palestina. Tidak lupa Ashma selalu berdoa untuk mereka, semoga keselamatan dan kebahagiaan selalu membersamai langkah mereka.


"Jagalah dirimu baik-baik. Kami pamit." Ucap paman Amith mengelus halus kepala Ashma yang tertutupi oleh hijab.


Adam segera mendekati Ashma, lelaki itu menatap lama kedalam netra istrinya. "Tunggu saya pulang." Ashma tidak ingin mengatakan apapun kepada Adam. Adam tidak masalah karena Ashma mendiaminya sedari pagi. Lelaki itu langsung mengecup kening Ashma begitu lama, hati Ashma sebenarnya menghangat namun dia tidak berani membalas tatapan lelaki itu.


Paman Amith berdehem pelan, Adam membalikan tubuhnya dan pergi dengan langkah besar bersama paman Amith dan nenek.


Ashma menatap nanar kepergian mereka yang semakin jauh hingga pandangannya tidak bisa lagi menjangkau keberadaan mereka.


Bibi Marianne yang sedari tadi menyaksikan perpisahan itu ikut sedih, maka dari itu dia segera mendatangi Ashma dan memeluknya, Ashma seketika menangis sejadi-jadinya dipelukan bibi Marianee.


"Seperti inilah kehidupan sayang. Ada masanya orang-orang terdekat Kita akan meninggalkan kita satu persatu, tidak ada yang abadi di dunia ini."


Perkataan bibi Marianee benar, bahwa di dunia ini tidak ada yang benar-benar abadi.


Bibi Marianne membawa Ashma untuk duduk di sofa, tangan kasarnya itu mengusap halus air mata Ashma.


"Pantas Adam menyukai gadis cantik sepertimu." Ujar bibi Marianee, Ashma menyeka air matanya.


"Bukankah dia menyukai perempuan yang bernama Lily?" Ucap Ashma terus terang, bibi Marianee mulai mengerti mengapa Ashma berbicara demikian, dia juga melihat tatapan Ashma yang dingin pada suaminya tadi sebelum nenek dan pamannya pergi, mungkin sebabnya karena Ashma sudah mengetahuinya.


"Apakah Adam menyakiti hati bidadari nya ini?" Tanya bibi Marianee menepuk dada Ashma pelan.


"Pengantin baru tidak boleh bertengkar!" lanjut bibi Marianee menenangkan.


Ashma menghela nafas dengan berat, memikirkan kejadian tadi pagi Ashma jadi kesal. Bibi Marianee sadar akan perubahan wajah Ashma yang menjadi muram.


"Maukah kamu mendengarkan seperti apa Adam itu?" Ashma menoleh cepat, tanpa berpikir panjang Ashma mengangguk. Ashma ingin mendengar dari bibi Marianee seperti apa Adam itu. Bibi Marianne terkekeh geli secepat itu ingin melihat orbit cahaya di wajah Ashma lagi.


"Aku ingin mendengarnya!"


"Tapi tolong jangan bilang-bilang pada Adam ya Ashma." Ashma mengangguk mengerti.


"Aku akan tutup mulut." Ashma sangat antusias hingga membuat bibi Marianee tertawa.


"Baiklah, baiklah..."


Bibi Marianne mulai menceritakan sosok Adam. "Bibi sudah merawat Adam sedari kecil, saat umurnya delapan tahun. Adam adalah tipe anak yang pendiam juga tidak banyak berbicara. Kedua orang tua Adam sangat menyayanginya, namun naas tepat dimalam hari ulangtahunnya yang ke-10 kedua orang tua Adam meninggal tepat didepan matanya, mereka dibunuh oleh musuh dari saingan bisnisnya."


"Anak itu sangat terpukul atas kepergian orang tuanya, bibi tidak tega melihat Adam dalam keadaan seperti itu. Bibi memutuskan untuk membesarkan Adam Karena saudara-saudaranya tidak ada yang mau merawat Adam yang sudah tidak memiliki apapun."


Ashma tidak menyangka Adam memiliki masalalu yang kelam, Ashma seharusnya bisa mengerti kenapa Adam bisa menjadi lelaki yang misterius seperti itu. Mengenai pekerjaannya, Ashma akan bertanya langsung padanya.


"Adam tumbuh besar dengan didikan kami yang seorang muslim, maka jika kamu merasa terkejut mengapa Adam sudah paham mengenai Islam itu karena dulu Adam selalu antusias jika bertanya tentang agama Islam." Ucap Bibi Marianee melanjutkan.


Penjelasan dari bibi Marianee membuat Ashma tercengang jadi selama ini bibi Marianee seorang muslim dan Ashma sangat tidak menyangka akan hal itu.


"Masyaallah...Aku tidak menyangka bibi Marianee ternyata seorang muslim." Ashma tersenyum bahagia, lagi-lagi dia menemukan saudara muslim di tanah eropa ini.


"Saat pertama kali bibi melihatmu Ashma, rasanya bibi melihat secercah cahaya didalam dirimu yang dapat menerangi Adam. Anak itu sudah kehilangan jati dirinya semenjak kehilangan orang-orang yang dia sayangi terutama yang kau tahu sendiri, dia...Lily." Bibi Marianee nampak sedikit gusar saat menyebut nama Lily.


"Aku tidak bisa menceritakan tentang Lily karena Adam yang harus menceritakan nya kepadamu." Ucap bibi Marianee melanjutkan Ashma mengangguk mengerti, lagipula Ashma masih belum ingin mendengar siapa itu Lily.


"Ashma, Mama sangat bersyukur Adam menikah denganmu. Aku juga sangat bahagia saat Adam memutuskan menjadi seorang mualaf dan menikah denganmu, kau sudah mengubah pemikiran Adam, sayang."


Ashma tersenyum miris, padahal alasan mereka menikah adalah karena Adam yang ingin bertanggungjawab tentang kejadian tempo lalu. Namun Ashma tidak bisa mengatakan apapun perihal keputusan Adam yang memilih menjadi seorang mualaf, yang Ashma tahu bahwa lelaki itu tulus untuk menjadi seorang muslim.


"Semua itu adalah hidayah-Nya Ma, doakan saja semoga dia bisa Istiqomah selalu."


Bibi Marianee sangat bersyukur Ashma bisa masuk kedalam kehidupan Adam, dia yakin suatu saat nanti Adam akan melupakan Lily dan akan mencintai Ashma dengan sepenuh jiwa nya.


#TBC