A Little Hope For Ashma

A Little Hope For Ashma
61. Sorot mata yang berbeda



"Mari bercerai."


Adam langsung merebut kertas itu dari tangan Ashma dan langsung merobeknya menjadi beberapa bagian kecil, kertas itu dia terbangkan ke udara dengan ekspresi wajahnya yang dingin.


Wajah Ashma langsung merengut marah.


"Apa-apaan kamu? Kenapa dirobek?" Tanyanya dengan emosi yang menjadi.


"Kamu yang apa-apaan Ashma? Kita tidak akan pernah bercerai!" Ucapnya menegaskan, Adam mengeraskan rahangnya menahan marah, dia harus bisa mengontrol emosinya untuk Ashma karena wanita itu terlihat tengah kehilangan kestabilan emosinya.


"Aku ingin berpisah denganmu Adam! Aku ingin pulang, aku ingin pulang ke Palestina!" Pekik Ashma, dia segera menghadang Adam dan mencekal kerah bajunya dengan keras.


"Kenapa kamu menahan aku? kenapa kamu jahat kepadaku Adam?" Teriaknya begitu keras sehingga suaranya terdengar sampai keluar, kebetulan Lily yang sedang lewat mendengar keributan didalam kamar pasutri itu.


"Sayang, gak seperti ini," Adam mencoba menenangkan Ashma yang tengah kalut.


"Aku mohon, mohon kepadamu tolong... tolong biarkan aku pergi." Ashma memohon kepadanya dengan wajah yang memelas, itu sangat mengganggu bagi Adam.


Adam rasa ada yang berbeda dengan istrinya, "sett..." Adam menangkup wajahnya dan mengusap air mata Ashma dengan perlahan.


"Tenang kan dulu dirimu, jangan seperti ini."


Ashma melepaskan cengkraman di kerah baju suaminya dia menjauhkan dirinya dari Adam.


Adam cemas sekali melihat kondisi Ashma, dia seperti dalam ketakutan. Apa mungkin karena kedatangannya sehingga membuat Ashma menjadi seperti itu.


"Kenapa kamu tidak mengerti, aku ingin pulang kerumah nenek ku." Ucapnya lirih sambil menangis, Adam yang berniat mendekati Ashma urung karena seseorang mengetuk pintu kamarnya.


"Ini aku Lily,"


Adam menghela napas kasar, dia berjalan kearah pintu dan membukanya. Lily segera bertanya padanya.


"Aku tadi mendengar keributan didalam kamar kalian, kalian bertengkar?"


Adam mengangguk kecil sepertinya dia memang membutuhkan Lily untuk menenangkan istrinya yang tiba-tiba tantrum.


"Aku butuh bantuanmu, tolong tenangkan Ashma." Suaranya begitu parau, dia tidak tahu lagi harus menghadapi Ashma seperti apa. Setelah bangun dari koma nya wanita itu jadi lebih agresif padanya, Ashma memang berhak marah dan membencinya karena perlakuan Adam selama ini tapi jujur saja Adam menjadi takut saat tadi melihat sorot matanya yang terlihat berbeda.


Lily mengangguk, langsung saja dia masuk kedalam untuk menemui Ashma yang saat ini tengah menangis.


"Ashma," panggil Lily, sang empu segera menatapnya.


"Lily, dia kenapa tidak ingin berpisah denganku, kenapa?"


Lily merasa kasihan melihat keadaan Ashma , dia segera menoleh pada Adam yang berdiam diri diambang pintu sambil menunduk kecil, ternyata lelaki itu yang lebih patut dikasihani.


"Sudah ya jangan dulu bahas ini, kamu harus tenangkan diri dulu Ashma," Katanya berusaha menenangkan Ashma yang terlihat kalut sekali.


Lily membawa Ashma untuk duduk di sofa dan memberikannya air minum yang ada di atas nakas.


"Tenangkan dulu dirimu Ashma, ingat ada nyawa lain didalam perutmu. Kalau ibunya sedih anak yang ada didalam kandunganmu pasti ikut sedih juga."


Ashma baru menyadari nya, dia benar-benar sudah terbawa oleh emosi dan melupakan ada nyawa lain yang harus dia lindungi.


Saat Lily menatap kearah pintu, Adam sudah tidak ada lagi disana. Sepertinya lelaki itu tengah merenung nelangsa setelah melihat keadaan istrinya ini.


Lily tidak tahu harus bagaimana lagi karena dia bingung dengan cara apa supaya bisa membantu memperbaiki hubungan mereka.


"Bagaimana, apa kamu sudah merasa lebih tenang?" Tanya Lily, Ashma mengangguk kecil.


Ashma menggigit bibir bawahnya, dia sepertinya telah banyak melontarkan kata-kata tidak baik pada Adam karena emosinya tadi yang tiba-tiba membuncah hebat.


"Astaghfirullah."


Dia tidak tahu mengapa bisa seemosional itu saat menghadapi Adam, yang ada di benaknya saat ini hanyalah ingin berpisah darinya.


Sedangkan Adam tengah melamun dikamar sebelah, dia mendadak sendu melihat keadaan istrinya saat ini.


Apa benar karena dia yang membuat sekarang Ashma menjadi menderita?


Dia bertanya-tanya dalam hatinya.


Adam tersenyum kecut, tentu saja dia penyebabnya.


Kalau saja waktu itu dia tidak mabuk dan hampir melecehkan Ashma tidak mungkin sekarang wanita itu terjerembab dalam masalah hidupnya sehingga membuat Ashma menderita.


"Ya Allah saya harus berbuat apa?"


Adam terduduk nelangsa di atas sofa sambil memegangi kepalanya yang terasa pening.


Tidak lama itu pintu kamar Adam diketuk oleh seseorang, Adam segera memberinya masuk karena dia tahu itu pasti Lily.


"Boleh bicara ditempat lain kak," kata Lily meminta Adam untuk berbicara ditempat yang lebih nyaman supaya Ashma juga tidak berpikiran aneh takut-takut dia nanti keluar dan melihat mereka bersama didalam kamar dan tentunya akan membuat dia semakin tidak percaya pada suaminya.


Mereka duduk ditaman depan, tempat terbuka yang Lily rekomendasikan untuk membuat hati lelaki itu sedikit tenang juga.


Semilir angin menerpa wajah Adam membuat dia merasa sedikit lebih tenang, pikirannya pun sedikit terurai dan terealisasi karena melihat tumbuh-tumbuhan.


Tentunya mereka duduk ditempat yang tidak panas.


"Apa dia sudah lebih tenang?" Tanya Adam tentang kondisi istrinya.


Lily mendesah kecil, "sudah, mama juga sedang menemaninya."


Adam menghela napas lega, "aku benar-benar sudah mengacaukan hidupnya,"


Lily mengangkat alisnya, wajahnya merengut.


"Baru menyadari nya sekarang?"


Adam tidak menjawab dia sekarang tengah bingung dengan perasaannya.


"Baru menyadari bahwa kamu memang sudah jatuh cinta dengannya sebelum aku kembali hadir kan, tapi kamu tidak menyadarinya." Ucapnya melanjutkan.


"Heumm," gumam Adam.


Lily tersenyum kecut, "nah sekarang kamu tau kan Adam, betapa bodohnya dirimu ini. Makannya kalau jadi pria itu harus punya pendirian, jangan plin-plan!" Cecar Lily dengan kesal. Adam turut mendengarkan ocehan Lily.


Lily menghirup napas lalu membuangnya dengan perlahan, "jadi sekarang kamu benar-benar sudah jatuh hati padanya?" Lily ingin memastikan lagi tentang perasaan Adam.


Adam mengangguk lemas, "tentu saja saya mencintainya."


"Baguslah, setidaknya kamu memang memiliki alasan kuat untuk terus mempertahankan nya di sisi mu,"


"Tapi Adam," ucapnya melanjutkan, raut wajah Lily juga berubah menjadi serius.


"Beberapa hari terakhir memang emosinya tidak stabil. Aku sendiri yang melihat dia kadang sering menangis ditengah malam, dia juga selalu gundah saat tertidur dan selalu meracau menyebut nama ayah, ibu dan neneknya."


Adam seketika langsung menatap Lily dengan intens, "kenapa kamu tidak memberitahuku?"


Lily berdecak kesal, "aku waktu itu ingin memberitahumu lewat telepon tapi ponselmu selalu tidak aktif!"


Adam memberang kesal pada dirinya sendiri karena baru mengetahui hal penting seperti ini.


Lily menatap kakaknya itu yang tengah frustasi.


"Apa Ashma memiliki luka masa lalu yang traumatis?" Tanyanya, Lily memiliki pendapatnya tentang kondisi Ashma saat ini.


Adam nampak terdiam sejenak, dia mengingat waktu itu Ashma pernah menceritakan padanya bahwa ibu dan bapaknya sudah meninggal.


Lily berpikir sejenak sebelum mengucapkan pendapatnya.


"Aku tidak tahu dia memiliki permasalahan apa dimasa lalu tapi menurut apa yang aku lihat tentang kondisinya sekarang ini, sepertinya dia memiliki luka traumatis. Selain itu bisa jadi penyebab kecelakaan membuat dia menjadi trauma juga." Ujarnya menurut pendapat Lily tetapi dia merasa yakin bahwa Ashma memang sedang mengenang luka traumatis nya.


Adam menutup matanya sejenak meresapi perkataan Lily dan segala kesalahannya selama ini pada istrinya.


Selama menikah dengannya Adam tidak pernah memberikan bahu untuk mendengar segala keluh kesahnya, yang ada dia malah egois sendiri dengan dirinya yang masih terjebak dalam masa lalu.


Adam bangkit dari duduknya dengan helaan napas panjang, dia harus menelpon dokter Alicia untuk bertemu dan konsultasi perihal keadaan Ashma sekarang.


"Terimakasih Lily, kau sudah menjaga Ashma selama aku seminggu kemarin bertugas."


Tanpa mendengar respon Lily, Adam segera pergi dari taman itu dengan langkah besarnya.


Lily menatap kepergian kakaknya dengan sendu, dia sangat berharap pernikahan mereka masih bisa dipertahankan.


#TBC