A Little Hope For Ashma

A Little Hope For Ashma
53. Melewati masa kritis



Seorang dokter perempuan dengan nametag bertuliskan nama Alicia keluar dari ruang Ashma, dia melepas maskernya dan menghela nafas panjang. melihat itu Adam segera datang menghampiri dokter Alicia yang menangani istrinya.


"Dokter bagaimana kondisi istri dan anak saya?" Tanya Adam secepat mungkin dia sungguh tidak sabar.


Dokter Alicia tersenyum kecil, "Puji Tuhan, bayinya bisa diselamatkan dia masih ingin teru berjuang dengan ibunya. Ini adalah mukjizat yang sangat luar biasa. Sepertinya dia akan lahir dengan tekad yang kuat."


Mendengar itu Adam mengucapkan rasa syukur dengan penuh haru, dia sangat lega mendengarnya. Maha baik sekali Tuhan kepada keluarga kecilnya.


"Tapi tuan," ucapnya melanjutkan, Adam menjadi was-was lagi.


"Pasien kritis dan kehilangan banyak darah, saya harus mengatakan yang sebenarnya kepada anda. Masalahnya jika istri anda terus dalam kondisi yang seperti ini kami harus melakukan tindakan kepada bayinya juga, walau bagaimanapun dia bertahan tetap saja jika ibunya kritis dan semakin lemah, kecil kemungkinan bayinya tidak bisa bertahan lama"


Adam membekap mulutnya mendengar penuturan menyakitkan yang diucapkan dokter mengenai kondisi Ashma. Dia benar-benar sangat terpukul dan merasa putus asa. Dia tidak bisa kehilangan anaknya tapi nyawa Ashma jauh lebih penting diatas segalanya.


"Sekarang kami membutuhkan lima kantung darah golongan AB untuk segera mentranfusi kan kedalam tubuh pasien, sayangnya stok golongan darah AB dirumah sakit ini hanya ada dua. Kami sudah mengupayakan dan menginformasikan kepada pihak rumah sakit hanya saja golongan darah tersebut tergolong langka dan harus mendapatkannya dalam jangka waktu yang lama. Kami harus melakukan transfusi darah secepatnya pada pasien jadi kami mohon bantuannya tuan. Selama kami menunggu dua kantung darah lagi saya berharap pihak rumah sakit dan segera mendapatkan nya." Ujar dokter tersebut. Adam sendiri begitu nelangsa mendengarnya, dia tidak memiliki golongan darah yang sama seperti Ashma, tetapi demi istrinya dia akan mendapatkan golongan darah tersebut.


Salah satu perawat keluar dari ruang Ashma dengan tergesa-gesa, "dokter detak jantung pasien melemah."


Adam langsung panik dia ingin masuk kedalam namun perawat tetap tidak mengijinkan. "Tolong tuan jangan dulu masuk kedalam." Perawat itu segera masuk lagi kedalam.


"Ya Tuhan tolong selamatkan Ashma dan bayi kami." Lirihnya membatin.


Edward menghela napas panjang. "Golongan darah saya AB, itu sama dengan golongan darah istri anda Mr. Kenedy. Saya bersedia memberikannya untuk istri anda," Sahut Edward yang mendengar percakapan Adam dengan dokter tadi.


Adam segera menengok kearahnya dengan tatapan menghunus. "Tidak. Saya tidak akan membiarkan darah penjahat ada didalam tubuh istri saya!" Adam menolaknya dengan tegas itu membuat Edward mendecih sebal.


"Saya hanya memberi penawaran saja Mr. Kenedy, kebetulan golongan darah saya sama dengan istri anda. Kalau tidak mau yasudah yang penting saya sudah menyampaikan niat baik."


Adam mengeram kesal dia hampir saja terpancing emosi namun segera meredamnya.


"Bisakah kau turunkan egomu Adam, setidaknya suamiku sudah mau memberikan darahnya untuk Ashma dan kau harus ingat dia didalam sana tengah kritis berjuang antara hidup dan mati!" Lily ikut menimpali membuat Adam semakin dirundung kesal.


"Tidak! Saya tidak akan membiarkan darah Ashma bercampur dengan miliknya!" Ucapnya begitu dingin, dia menjauh dari mereka untuk menghubungi seseorang. Adam akan meminta pengawalnya untuk segera mencari golongan darah AB.


Dia yakin dia akan mendapatkannya.


"Tolong bertahan Ashma, tolong..." lirihnya dengan mata terpejam.


Edward tersenyum sinis, dia ingin melihat seberapa bebalnya otak Adam sehingga tidak ingin menerima bantuannya yang sangat mahal.


Dari ujung koridor bibi Marianee juga Jhon menghampiri Adam dengan langkah tergesa-gesa, namun pandangan bibi Marianee tertuju pada Lily dan juga seorang lelaki disebelahnya. Bibi Marianee membelalakkan matanya, dia terkejut mendapati lelaki itu ada disana.


"Adam..." panggil bibi Marianee, dia menatap sayu melihat keadaan putranya yang sangat berantakan dengan noda darah yang menempel dikemeja putihnya.


"Mama..." Adam langsung berhambur kedalam pelukan bibi Marianee dengan air mata yang luruh. Dia tidak memperdulikan orang-orang disekitarnya, dia hanya merasa begitu hancur dan rapuh.


Jujur saja Edward, Lily dan Jhon tidak pernah mengira Adam akan menunjukkan sisi rapuhnya seperti itu dihadapan mereka karena yang mereka tahu lelaki itu tidak pernah memperlihatkan kesedihan bahkan setetes air matanya sedikit saja. Orang sekeras, seegois dan sedingin Adam hancur karena kehilangan istrinya.


Itu ada kenyataan yang mereka dapatkan.


"Maaf Ma, Adam sudah menyakiti hatinya. Adam juga gagal menjaga Ashma, dia ingin pergi Ma," ucapnya serak, bibi Marianee mengelus punggung Adam dengan halus.


"Sabar Adam, aku tahu ini pasti sangat berat untukmu tapi kau harus tetap optimis, kau harus mendoakannya selalu, kau harus meminta pertolongan kepada Allah. Dia pasti maha mendengar rintihan hambanya, tidak ada yang tidak mungkin sayang. Mintalah keselamatan istri dan bayinya kepada sang pencipta karena dialah yang maha memegang kuasa atas segalanya." Bibi Marianee memberikan nasihat juga berusaha menenangkan Adam yang tengah kalut.


Adam melepaskan pelukannya dengan bibi Marianee. "Kau benar ma, aku hampir saja putus asa karena terlalu kalut kehilangan mereka."


"Tuan Adam," Jhon memanggilnya Adam segera menoleh dan langsung menghampiri Jhon.


"Bagaimana? Apa mereka sudah mendapatkannya?" Tanyanya resah, dia berharap mereka segera mendapatkannya.


Jhon menggeleng kecil, "belum tuan, mereka menginformasikan bahwa golongan darah tersebut langka sehingga sulit didapatkan. Mereka juga sudah mengeceknya ke beberapa rumah sakit tetap hasilnya masih nihil."


Adam menghela napas berat, dia memijat keningnya yang berdenyut nyeri. "Ya Tuhan tolong mudahkanlah kami untuk mendapatkan golongan darah untuk istriku. Dengan kekuatan mu tolong selamatkan istri dan anakku." Doanya membatin dia begitu penuh harap.


Setengah jam berlalu Adam masih menunggu dokter memberikannya informasi lebih lanjut tentang kondisi Ashma dan setengah jam itu pula Adam tidak henti-hentinya selalu mendongakkan kepalanya melihat lampu diatas ruang Ashma berharap segera padam.


Seorang lelaki menggunakan baju serba hitam menghampiri Adam. "Tuan," dia salah satu pengawal Adam yang berhasil mendapatkan transfusi darah untuk Ashma.


"Kami mendapatkannya," ucapnya sambil memberikan nya pada Adam, "Hanya saja kami bisa mendapatkan satu kantung darah, maaf tuan tapi golongan darah ini begitu sulit didapatkan." Ucapnya sambil menunduk.


Adam mendesah berat, "tidak apa. Terimakasih. Tapi saya ingin kalian tetap mencarinya." Katanya memerintah pengawalnya, dia harus mendapatkan satu kantung darah lagi.


Edward tertawa mengejek didalam hatinya, "hey Adam apakah kau tidak ingin melihat istrimu selamat?" Tanya Edward yang seperti memprovokasi Adam. Sang empu terbawa emosi sehingga dia langsung mendekati Edward dengan penuh marah namun segera dicegah oleh Jhon dan Lily.


Lily menatap Edward dengan tatapan tajam lalu berbalik menatap Adam sama tajamnya. "Adam aku mohon terimalah penawaran Edward yang ingin memberikan darahnya untuk Ashma. Apa kau ingin terus membuatnya menderita hah?"


"Baiklah." Ucapnya menerim penawaran Edward. Sang empu tertawa puas didalam hatinya.


"Akhirnya kau menurunkan egomu itu." Katanya sinis, Edward dan Lily segera menuju ruang pengambilan darah untuk melakukan pemeriksaan terlebih dahulu apakah darahnya boleh di transfusi pada Ashma.


"Jhon sejak kapan mereka bersama?" Tanya bibi Marianee sedari tadi resah melihat mereka.


Jhon paham akan ketakutan nyonya nya. "Mereka sudah bertemu lama nyonya."


"Apa?" Bibi Marianee nampak syok namun ia tetap menjaga suaranya agar tidak terdengar Adam.


"Kenapa kau tidak memberitahu?!"


"Maaf nyonya tapi Nona Lily yang meminta. Tuan Adam juga tidak mengetahui sama sekali."


Bibi Marianee menghela nafas berat, "ya aku paham."


"Melihat Adam sekarang ini aku juga lega berarti dia sudah merelakan Lily dan mulai membuka hatinya untuk Ashma melihat seberapa terpukul nya Adam saat ini." Ucap bibi Marianee membatin.


Dua jam berlalu begitu lambat, Adam masih tetap menunggu pintu itu segera terbuka.


"Adam apa kamu tidak ingin berganti pakaian dulu?" Kata bibi Marianee menyarankan.


"Nanti saja ma," dia tidak ingin meninggalkan Ashma, takut saat dia siuman Adam tidak ada disisinya. Bibi Marianee menghela napas, sedari tadi ia terus membujuknya tetapi Adam tetap tidak ingin.


Pintu ruang IGD terbuka dan dokter yang menangani Ashma keluar dari sana.


"Tuan Adam,"


Adam segera menghampirinya, "bagaimana dokter, bagaimana kondisi istri saya sekarang?" Tanyanya tidak sabar dan penuh harap.


Dokter itu tersenyum tipis, "dia sudah melewati masa kritisnya. Luar biasa bayinya tetap bertahan dan berjuang bersama ibunya. Jujur saja ini diluar prediksi kami karena biasanya kemungkinan untuk bayinya hidup itu sangat kecil, namun istri anda dan bayi nya begitu gigih berjuang."


Adam lega mendengarnya, dia benar-benar sangat bersyukur kepada Tuhan. Air matanya tergenang dipelupuk mata birunya, dia sangat terharu.


"Saya tahu kamu kuat Ashma."


"Kalau begitu apa saya boleh masuk?" Pintanya, dia ingin segera berjumpa dengan istri dan anaknya didalam sana.


Dokter tersebut mengangguk kecil, "hanya boleh satu orang saja untuk membesuk pasien, dan gunakan pakaian juga perlengkapan lainnya untuk masuk kedalam."


Adam mengangguk mengerti dia segera memakai baju dan perlengkapan khusus untuk membesuk istrinya.


Adam melangkahkan kakinya masuk kedalam dengan jantung berdebar kencang. Mata birunya menatap satu objek yang membuat hatinya berdenyut nyeri.


Istrinya tengah terbaring lemah diatas ranjang dengan peralatan monitoring yang terpasang untuk memantau denyut jantung dan pernapasan, selang infus juga peralatan lainnya untuk membantu Ashma bertahan hidup.


Adam berdiri tepat disamping Ashma dengan air mata yang kembali luruh, dia menggenggam tangan dingin istrinya dengan perasaan rapuh.


"Sweetheart..." lirihnya memanggil Ashma.


"Maafkan Mas, maafkan telah meninggalkan kamu sayang. Maaf mas sudah banyak menyakiti hatimu. Tolong jangan pergi dari saya tolong Ashma jangan pergi saya mo--"


Suaranya terasa tercekat diantara tenggorokannya, dia terasa sulit melanjutkan kata-katanya.


Adam mencium kening istrinya yang terbalut kasa dengan penuh kelembutan dan hati-hati.


Dia menatap wajah cantik istrinya yang begitu pucat. "Katanya ingin mendengar saya mengucapkan perasaan saya padamu Ashma, jadi tolong bangun..."


Adam mendekatkan wajahnya di telinga Ashma.


"Demi Tuhan saya mencintaimu."


Ungkapan itu menyapu telinga Ashma dibawah alam kesadarannya seperti suara indah yang bergema didalam mimpi panjangnya.


Adam memandang perut Ashma dia mendekatinya.


"Anakku, terimakasih sudah bertahan dan berjuang dengan Ibumu sayang. Tolong nak, tolong sampaikan pada ibumu untuk segera pulang, ayah disini menunggu kalian sayang."


Adam mencium perut istrinya dengan perasaan begitu sedih. Dia berjanji akan mencintai Ashma dia akan menunggunya, dia akan menunggu kekasih halalnya.


#TBC