A Little Hope For Ashma

A Little Hope For Ashma
36. Pudarnya kepercayaan



Ashma menatap kosong jalanan disampingnya, keputusan untuk meninggalkan Mansion Adam dimalam hari ini ternyata malah menimbulkan peristiwa menakutkan baginya.


Apakah ini adalah teguran untuk Ashma supaya lebih sabar lagi dalam menghadapi biduk rumah tangga mereka, tetapi Ashma melakukan aksi nekatnya untuk melarikan diri karena dia takut Adam benar-benar akan mengambil hak asuh bayinya.


Adam melirik kearah Ashma, dia menarik nafas lega karena istrinya baik-baik saja. Setelah kejadian ini dia akan memperketat lagi keamanan di Mansion, Adam juga tidak akan pernah lalai melepaskan penglihatannya untuk meninggalkan Ashma lagi.


"Wanita ini benar-benar nekat!" batin Adam. Sepanjang perjalanan itu Adam tidak ingin menganggu Ashma yang tengah merenung, biarkan dia menenangkan dirinya untuk beberapa waktu.


Jhon mengikuti Adam dari belakang setelah berhasil menangkap dan menyerahkan supir taxi mesum yang hampir saja melakukan tindak asusila pada Nona nya kepada pihak yang berwajib.


Jujur saja Jhon begitu khawatir mendengar Ashma pergi diam-diam dari Mansion Adam, wanita itu pasti tertekan karena sikap suaminya yang sangat egois hingga dia nekat memutuskan untuk kabur.


Jhon tidak suka melihat Ashma diperlakukan tidak baik oleh Adam, lelaki itu sungguh sangat plinplan. Istri sebaik Ashma tidak pantas mendapatkan perlakuan seperti itu dari lelaki sepertinya.


Diam-diam Jhon tertarik pada Nona milik tuannya itu, Jhon selalu memperhatikan hal-hal kecil dari Ashma, saat wanita itu mendatangi taman sebagai tempat favoritnya. Daya tarik Ashma mampu membuat Jhon ingin semakin mengenal sosoknya lebih jauh lagi.


Kembali pada pasangan dua anak Adam yang masih meredam suara sepanjang perjalanan pulang. mencuri-curi pandang satu sama lain tapi tidak kunjung berminat membuka suara.


Ashma yang sudah tidak tahan atas kebisuan itu akhirnya memutuskan membuka percakapan terlebih dahulu.


"Terimakasih atas pertolonganmu," ucap Ashma dengan canggung.


Adam melirik sebentar sambil berdecak kesal, "Apakah setelah ini kau berniat untuk kabur lagi?" Adam bertanya seakan menyindir Ashma.


"Tentu saja!" tandas Ashma cepat. Adam merengut kesal mendengar jawaban istrinya.


"Dasar kepala batu!"


Ashma sebenarnya tidak berniat menjawab seperti itu tetapi mendengar reaksi Adam, dia jadi tidak merasa bersalah hanya saja Ashma masih trauma atas kejadian malam ini.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama mereka akhirnya sampai di Mansion. Adam segera membantu Ashma untuk keluar dari mobil.


Ashma memegangi perutnya yang sedikit sakit, melihat itu Adam segera membawa Ashma kedalam gendongannya. "Apakah sakit?" tanya Adam cemas, Ashma mengangguk kecil. "Hm," gumam Ashma. Adam membawa Ashma untuk masuk kedalam.


Dengan hati-hati Adam meletakan tubuh Ashma diatas ranjang tidur. Tangan besar Adam menyentuh perut Ashma lalu mengusap nya dengan lembut.


"Saya akan menelpon dokter," Ashma segera meraih pergelangan tangan Adam.


"Tidak usah, ini hanya kram biasa nanti juga reda!"


"Benar?" tanya Adam memastikan.


Ashma mengangguk kecil. Pada akhirnya Ashma belum bisa keluar dari tempat ini, Adam selalu bisa menjangkau keberadaannya dimanapun Ashma berada. Dia hampir lupa bahwa Adam bukanlah lelaki sembarangan yang dengan mudahnya dapat dikelabui oleh trik biasa.


Ashma menghela nafas berat itu didengar oleh Adam membuat lelaki itu menatap Ashma dengan tatapan menghunus.


"Apa? Kenapa kau melihatku seperti itu?!" Ashma tidak suka Adam menatap nya seperti ingin mengulitinya.


Adam kembali menampilkan raut wajah dingin, dia menyisir rambutnya dengan jari. "Istirahatlah!" suara itu pergi bersamaan dengan langkahnya yang masuk kedalam bilik kamar mandi.


Ashma kira Adam akan murka dan memarahinya karena kepergiannya yang nekat sehingga membuat lelaki itu frustasi dan juga menyesal sudah melukai hatinya.


Ashma segera menggeleng pelan, "tidak mungkin!" Keyakinan itu Ashma pegang supaya tidak jatuh lagi dalam tipu muslihat Adam.


...•••...


Ashma memandangi dirinya di cermin, menelisik ingatannya malam tadi saat Ashma berusaha mengusir Adam dari kamar, dia masih belum bisa tidur jika ada lelaki itu bersamanya sehingga membuatnya jengkel dan melontarkan perkataan penuh sensi.


Tapi Ashma menangkap satu ucapan Adam yang sampai sekarang masih terngiang dikepalanya, itu berbahaya dan sangat beracun sampai Ashma tidak ingin mempercayainya.


"Saya tidak akan melepaskan mata saya untuk berpaling darimu lagi."


Lontaran ucapan itu keluar dari mulutnya dengan wajah yang sangat serius dan meyakinkan. Ashma sempat bimbang namun ia secepatnya menepis ucapan Adam seperti angin lalu.


Ashma menarik nafas panjang, dia memutuskan untuk segera pergi kebawah menyiapkan sarapan.


"Ah ibu Hamil," kata Lily menyambut kedatangan Ashma dengan antusias.


"Sepertinya aku terlambat turun kebawah, maaf ya jadi tidak bisa membantu kalian,"


Lily segera menggeleng kecil, "Terlambat apanya Ashma? Kamu ini kan perawat bukan pelayan disini! Lagian kami saja sudah cukup untuk membuat sarapan pagi ini," ujar Lily, Ashma melupakan satu hal bahwa ia harus merahasiakan identitasnya dari Lily untuk sementara waktu.


"Tidak enak saja soalnya setiap pagi aku selalu membantu bibi Marianee," tandas Ashma, Lily manggut-manggut kecil lalu membawa Ashma untuk duduk diatas kursi.


"Ibu hamil tidak boleh banyak bergerak, sini duduk dulu,"


Ashma tertegun mendapati perhatian dari Lily, wanita itu memang sungguh baik dan tulus pantas saja Adam begitu mencintai Lily, dia juga anak perempuan satu-satunya bibi Marianee jadi tidak dihiraukan lagi didikannya.


"Aku tidak enak Lily, kalian sibuk menyiapkan sarapan sedangkan aku malah bersantai," tutur Ashma merasa tidak enak hati. Lily tetap tidak memperbolehkan Ashma untuk membantu mereka, interaksi itu dilihat oleh Adam yang sedang berjalan menuju meja makan.


Ashma menyadari kehadiran seseorang ia menoleh cepat dan mendapati Adam sedang membaringkan bokongnya untuk duduk dibangku yang bersebelahan dengan Ashma.


"Selamat pagi istrinya Mas," ucap Adam berbisik menyapa Ashma tidak biasanya bahkan menggunakan embel-embel godaan yang membuat Ashma mendesis.


Ashma tidak menjawab, dia tidak mau meladeni Adam karena tak ingin mendapatkan kekecewaan lagi.


Adam hanya tersenyum tipis mendapati respon Ashma yang dingin. Tidak lama itu Lily dan bibi Marianee ikut duduk bersebrangan dengan mereka.


Lily menatap Adam dengan tatapan menghunus, sepertinya ada yang salah dengan lelaki itu.


"Sejak kapan kau mahu sarapan dirumah?" tanya Lily tak percaya pasalnya lelaki itu dari dulu tidak pernah mahu sarapan dirumah dengan alasan tidak ingin terlambat masuk sekolah dan saat sudah bekerja dia juga masih melakukan kebiasaan yang sama maka dari itu bibi Marianee selalu membuatkan bekal untuk Adam.


Adam menarik pandangannya sekejap pada Lily, "Itu sudah lama jadi sekarang sudah berbeda!" jelas Adam sambil melirik sebentar Ashma. Adam juga baru menyadari nya, padahal dia dulu sangat enggan untuk sarapan dirumah tetapi semenjak menikah dengan Ashma lelaki itu malah tidak ingin kehilangan waktunya untuk melahap masakan yang selalu dihidangkan oleh Ashma, mungkin itu hanya bentuk menghargai kerja keras istrinya dan tidak ada maksud lain.


Lily masih merasa tidak percaya sebab lelaki itu tidak pernah mudah merubah sesuatu tanpa ada alasan dan bukti yang benar-benar jelas. Tetapi manusia kan bisa berubah dan Lily juga tidak turut menyaksikan sebab ia tidak tahu apa yang terjadi pada Adam satu tahun terakhir. Lily memutuskan untuk tidak bertanya lebih, nanti saja saat mereka sudah selesai sarapan.


Ashma hanya diam saja mendengar percakapan singkat mereka, dia juga tidak terlalu risih sebab Ashma merasa Lily seperti menganggap Adam hanya sekadar seorang Kakak saja, tetapi itu masih mungkin dan Ashma tidak bisa menerka-nerka lebih jauh lagi.


Ashma kembali fokus pada sarapannya lalu beberapa saat kemudian ia berniat mengambil gelas yang berisi susu tetapi Adam segera menghentikannya.


Ashma seketika langsung menatap sensi, "kenapa kau mengambil gelas ku?"


Adam tidak turut menjawab, dia malah bertanya pada bibi Marianee.


"Ma ini susu apa?"


"itu susu-" bibi Marianee menghentikan ucapannya karena baru menyadari sesuatu.


"Astaghfirullah, Itu bukan susu ibu hamil, maaf Mama sampai lupa. Untungnya kamu peka!"


Adam langsung beranjak dari duduknya, dia segera menuju dapur untuk membuatkan Ashma susu khusus ibu hamil.


Lily memperhatikan interaksi mereka, sedikit aneh melihat Adam perhatian pada Ashma padahal dulu dia sangat dingin dan selalu mencampakkan perempuan-perempuan disekitarnya yang menggilai dirinya. Melihat perhatian kecil Adam untuk wanita lain tidak membuat Lily uring-uringan karena ia sebenarnya tidak pernah mencintai Adam, dia hanya menganggap nya sebagai seorang kakak laki-laki, tidak lebih dari itu.


"Ashma apa aku boleh bertanya?" tanya Lily meminta izin, Ashma segera mengangguki.


"Kamu kan bekerja disini dalam keadaan mengandung lalu dimana suamimu?" pertanyaan Lily yang sensitif itu membuat Ashma bergeming. Adam turut mendengar dan menunggu bagaimana respon Ashma, lelaki itu yakin Ashma tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya.


"Suamiku, aku akan segera berpisah dengannya jadi kami tidak tinggal bersama lagi." Jawab Ashma dengan senyuman tipis sedangkan Adam yang tengah mengaduk susu, darahnya mendidih hebat. Dia sangat tidak suka atas jawaban Ashma.


Bibi Marianee turut terkejut namun tidak memperlihatkan raut wajahnya yang sedih, ia yakin pasti anak dan menantunya bertengkar lagi.



(Berikut adalah Visualisasi pemeran sebagai Ashma. Karena saya suka gambar digital jadi saya buat deh visual cast Ashma hehe, walaupun berantakan soalnya sambil nulis bab ini wkwk. Menurut kalian gimana nii? Komen ya!)


#TBC