
Samar-samar Ashma mendengar suara adzan berkumandang dari ponselnya. Mata yang masih berat itu kini sudah merasa ringan sebab Ashma sudah terbangun dari tidurnya, dia mencoba bangun namun tangan seseorang terasa menimpa perutnya, Ashma menoleh kearah sampingnya dan mendapati Adam yang tengah tertidur begitu damai.
Ashma begitu terkesima memandangi wajah tampan suaminya, dia tidak menyangka akan menikah dengan orang asing, bule pula. Bulu matanya yang lentik menggoda Ashma untuk menyentuhnya namun sebelum itu terjadi Ashma segera menyadari. Lebih baik Ashma segera bangkit dari posisi tidurnya dan membangunkan Adam untuk melaksanakan sholat berjamaah.
Adam telah lama sekali mengenal islam bahkan lelaki itu telah pandai membaca bacaan sholat dan gerakannya, sepertinya Adam banyak belajar dari Daniel tentang islam. Kemarin saat waktu maghrib Ashma merasa tidak percaya Adam bisa dengan lugas dan lancar membaca surat-surat pendek saat melaksanakan sholat Maghrib berjamaah.
Terlepas dari kekagumannya Ashma memanjatkan doa agar Adam dapat selalu istiqomah untuk lebih mengenal islam, supaya mereka dapat sama-sama belajar memperbaiki diri dan saling mengingatkan untuk menggapai ridho-Nya.
Menatap Adam yang masih pulas, Ashma memindai pelan lengan Adam yang berada diatas perutnya, Ashma dengan lembut menepuk-nepuk lengan Adam. “Adam bangun…sudah subuh, ayo kita sholat.” Adam menggeliat kecil namun tidak membuat dia terbangun. Ashma kali ini berbisik ditelinga Adam.
“Man Rabbuka?” Ashma sengaja mengubah suranya menjadi bulat besar seketika itu Adam membuka kelopak matanya perlahan-lahan. Lelaki itu melihat-lihat sekelilingnya sambil mengumpulkan nyawanya. Sedangkan Ashma terkikik geli, Adam yang menyadarinya langsung menarik Ashma hingga dia terjatuh di pelukan Adam.
“Adam apa yang kau lakukan?” Ashma berteriak kecil karena dia terkejut tiba-tiba Adam menarik lengannya dan akhirnya terjatuh dipelukan lelaki itu, Ashma semakin deg-degan karena Adam mengungkung tubuhnya, dia berada diatas Ashma sekarang.
“Kau menjahili ku Ashma?” Tanya Adam dengan suara khas laki-laki baru bangun tidur.
Ashma tidak berani menatap mata Adam yang memabukkan itu.
“Tidak, aku hanya membangunkan mu untuk sholat.” Adam mendapati pipi Ashma yang bersemu merah.
“Benarkah? Bukannya kau juga mencoba menggodaku?” Ashma langsung menggeleng, kecil dia sekarang berusaha melepaskan dirinya dari Kungkungan Adam.
“Adam lepas…Kita harus segera melaksanakan sholat subuh!” Adam menolehkan kepalanya kearah kiri dan mendapati jam yang menunjukan pukul lima lewat sepuluh menit lantas dia segera melepaskan Ashma. Ashma rasanya dapat tenang dan bernapas dengan lega karena lelaki itu melepaskannya.
“Kamu duluan yang bersuci.” Ucap Adam, Ashma mengangguk dan bergegas untuk segera berwudhu. Adam menunggu Ashma sambil berdiri di tepi pintu dengan menyenderkan bahunya, lelaki itu seperti sedang menunggu giliran berwudhu di tempat umum.
Adam yang merasa Ashma tidak kunjung keluar setelah sepuluh menit lantas mengetuk pintu kamar mandi. “Ashma apakah kau sudah selesai berwudhu?”
Ashma yang mendengar Adam bertanya merasa semakin gusar, dia bingung bagaimana harus mengatakannya kepada Adam bahwa dia kedatangan tamu bulan dan merasa bingung bagaimana cara meminta tolong kepada Adam untuk membawakan pembalut didalam tas kecil miliknya.
Namun Ashma tidak memiliki pilihan lain, dengan mengumpulkan keberanian Ashma membuka dengan perlahan pintu kamar mandi, Ashma hanya membukanya setengah.
Adam mendapati wajah Ashma yang masih memerah, Adam bingung sebenarnya Wanita itu kenapa, apakah dia demam? Adam tiba-tiba khawatir.
“Apa terjadi sesuatu denganmu?”Tanya Adam, Ashma mengangguk pelan.
“A-Adam bo-bolehkan aku meminta bantuan mu?” Cicit Ashma terbata-bata.
Adam segera mengangguk, "Katakan Ashma kau butuh bantuan apa?”
"Itu- emh…Bolehkah kamu mengambilkan pembalut didalam tas kecilku. Aku minta maaf Adam karena aku tiba-tiba kedatangan tamu bulan dan aku tidak bisa keluar dengan kondisiku ini,” Ucap Ashma dengan cepat. Adam beberapa saat masih mencerna ucapan Ashma sebelum dia memahaminya.
“Ba-baiklah.”
Lelaki itu segera bergegas mengambil pembalut untuk Ashma dan setelah dapat dia segera memberikannya kepada Ashma. Ashma segera mengambilnya dengan sangat malu.
“Te-terimakasih Adam.” Adam hanya mengangguk.
“Kalau begitu saya akan bersuci ditempat lain.” Ashma mengangguk dan Adam langsung bergegas untuk keluar dari kamarnya. Ashma didalam kamar mandi memukul-mukul pelan pipinya, betapa malunya Ashma, rasanya Ashma ingin sekali menenggelamkan dirinya karena begitu malu jika harus bertemu lagi dengan Adam.
“Aku harus memasang wajah apa nanti padanya? Huaaa..."
...•••...
Pagi sekali Ashma sudah berkutat di dapur untuk mempersiapkan sarapan pagi. Bibi Marianee yang melihatnya langsung menegur halus Ashma pasalnya pelayanan lah yang bertugas untuk menyiapkan makanan.
"Ashma apa yang kau lakukan?"
Ashma tersenyum kecil. "Ini adalah tugasku Ma sebagai seorang istri, aku harus menyiapkan sarapan untuk suamiku." Ucap Ashma sambil melanjutkan kegiatannya di dapur.
Bibi Marianee tersenyum lembut. "Baiklah sayang mama mengerti tapi alangkah lebih baik kamu menunggu saja biar mama yang mempersiapkan sarapan pagi." Ashma berbalik dan mendekati bibi Marianee lalu dia memegang telapak tangannya.
Bibi Marianee tersenyum hangat dan merasa tersentuh dengan ucapan Ashma. Dia memeluk Ashma dengan penuh kasih sayang.
"Ashma, kamu adalah seorang istri yang sangat baik. Aku bangga melihatmu berusaha menjalankan tugas dan tanggung jawabmu dengan penuh cinta kepada suamimu. Tetapi, ingatlah bahwa kita semua di sini untuk saling membantu. Aku akan selalu ada untuk membantumu jika kamu membutuhkannya."
Ashma tersenyum dan merasa lega mendapatkan dukungan dari bibi Marianee. Mereka melanjutkan persiapan sarapan pagi dengan penuh kebahagiaan dan keakraban. Ashma merasa beruntung memiliki bibi Marianee.
Setelah sarapan nya selesai dibuat, Ashma pergi kelantai atas untuk memanggil Adam, nenek dan paman Amith. Saat sudah sampai di depan ruang kerja Adam, Ashma merasa ragu untuk mengetuk pintu, dia masih merasa malu karena kejadian tadi subuh namun Ashma berusaha mengumpulkan keberanian dan mengetuk ruang kerja Adam.
Adam dari dalam yang mendengar suara ketukan lantas mempersilahkan masuk seseorang tersebut. Ashma membuka pintu dengan perlahan lalu mendapati Adam Yang sedang fokus melihat layar laptopnya, lelaki itu menggunakan kacamata dan terlihat maskulin dimata Ashma.
“Ada apa?” Tanya Adam menatap Ashma sekilas lalu pandangannya tertuju lagi pada Laptop.
“Aku sudah membuatkan sarapan untukmu, mari kita makan Bersama.”
Adam melepaskan kaca matanya bersamaan menutup laptop. Tatapan lelaki itu kini menjadi tajam. “Siapa yang mengizinkanmu membuat sarapan untukku?” Ashma mengernyitkan keningnya merasa bingung.
“Memang apa salahnya aku membuatkanmu sarapan, aku ini istrimu Adam,” Adam mengusap wajahnya dengan kasar.
“Itu tugas pelayan Ashma, kau tidak usah repot-repot melakukan hal seperti itu!” Ashma rasanya sangat tidak suka saat Adam mengatakan hal seperti itu padanya.
“Membuat sarapan untuk suami sendiri apakah itu tugas pelayan, jadi istrimu aku atau pelayan?” Protes Ashma kesal.
Adam menghela nafas. “Terserah kau saja Ashma, lebih baik kita kebawah.” Adam menyerah, ia tidak ingin berdebat dengan Ashma.
Dimeja makan sudah ada nenek dan paman Amith yang menunggu Ashma dan Adam segera duduk dimeja makan.
Ashma menyendok kan nasi goreng kedalam piring Adam. Adam tersenyum tipis, rasa-rasanya dia sudah lama sekali tidak makan nasi goreng padahal dulu saat Adam memiliki pekerjaan di Indonesia Adam akan selalu memakan nasi goreng sebagai makanan favoritnya disana.
“Keponakanku memang pandai memasak, dan paman beruntung dapat merasakan masakan Indonesia lagi disini, ini sangat enak.” Ucap paman Amith sambil mengunyah makanannya.
Ashma tersenyum malu karena paman Amith memuji masakannya. “Ashma masih belajar paman, ini tidak seenak buatan Ibu.” Ucap Ashma yang tidak sadar lalu wajahnya langsung berubah sendu, Adam melihat perubahan raut wajah Ashma. Adam rasa Ashma sedang merindukan ibunya.
Nenek memegang bahu Ashma. “Nah sekarang Ashma juga harus makan.” Ashma mengangguk mengerti dan dia mulai menyusul yang lainnya untuk menyantap nasi goreng buatannya.
Setelahnya hanya ada suara sendok yang saling berdenting dengan piring, mereka fokus pada makanannya masing-masing. Paman Amith yang telah selesai pertama lantas memiliki sesuatu yang ingin dibicarakan.
“Ashma, Adam.” Panggill paman Amith, mereka berdua pun menoleh.
“Semalam kami telah memutuskan untuk segera kemabli pulang ke Palestina.” Ashma dan Adam saling memandang setelah mendengar penuturan paman Amith.
Ashma paham akan kondisi itu maka dari itu dia harus merelakan paman dan neneknya untuk pulang Kembali ke Palestina walaupun rasanya sangat berat. Tapi disisi lain Ashma merasa lega mengingat bahaya yang sewaktu-waktu akan datang menghampirinya dan Ashma tidak ingin nenek dan pamannya terlibat, cukup Ashma saja yang sudah terlibat dalam masalah Adam.
“Kami paham akan hal itu. Saya juga akan mengantarkan kalian pulang ke Palestina dengan selamat.” Ucap Adam, paman Amith menggeleng pelan.
“Tidak Adam, sebaiknya kamu tidak usah mengantarkan kami sampai ke Palestina. Itu sangat jauh dan aku tidak ingin kau meninggalkan Ashma.” Tolak paman Amith dengan halus.
Ashma langsung menimpali dengan lembut. “Tidak paman. Adam benar, pokoknya Ashma ingin kalian pulang bersama Adam.” Paman Adam tidak menolak lagi, Ashma menghela nafas lega.
Waktu satu Minggu memang sangat tidak cukup untuk Ashma melepas rindu bersama neneknya tapi apa boleh buat jika keadaan memaksa mereka untuk berpisah kembali. Ashma selalu mendoakan kebaikan, kesehatan, serta keselamatan untuk nenek dan pamannya di Palestina harap-harap selalu dalam lindungan Allah.
Setelah mereka selesai dengan sarapannya Ashma bergegas untuk membereskan meja makan namun langsung dihentikan oleh Adam.
"Biar pelayan saja, kau ikut aku keatas." Ucap Adam sedikit tegas, nenek dan paman Amith terkekeh melihatnya.
"Pergilah Ashma bersamamu suamimu, patuhi dia." Nenek menambahi, Ashma hanya bisa mengangguk pasrah.
Nenek dan paman Amith juga masuk kedalam kamarnya masing-masing karena harus mengemasi barang-barang mereka, siang ini mereka akan segera pulang ke Palestina.
#TBC