A Little Hope For Ashma

A Little Hope For Ashma
25. Ashma mengidam



Ashma terbangun dimalam hari, entah mengapa air liurnya mengendap banyak dimulutnya, Ashma teringat salah satu makanan Indonesia yang sangat dia gemari yaitu bakso.


Menengok kesamping, Ashma mendapati Adam yang tertidur pulas, kasihan juga jika tidur nya harus terganggu.


Tetapi Ashma ingin sekali makan bakso, namun dia juga bingung sebab tidak mungkin ada bakso di negara beruang merah ini.


Ashma ingin menepis keinginannya itu tetapi semakin dia menepis semakin pula keinginan untuk merasakan bakso itu menggebu-gebu.


Ashma mengganti posisi tidurnya mencari kenyamanan tetapi dia tetap saja sulit untuk tertidur lagi.


Merasakan ranjangnya bergerak Adam menggeliat dalam tidurnya, membuka matanya perlahan mendapati istrinya yang berusaha mencari kenyamanan.


"Kenapa belum tidur?" tanya Adam dengan sura serak yang berat.


Ashma bingung harus menjawab apa sebab kalau dia memberitahu keinginannya ini pasti membuat Adam kelimpungan.


"A-aku lapar," cicit Ashma dengan suara pelan.


Adam bangkit dari tidurnya, dia memposisikan tubuhnya sama dengan Ashma. "Apa kau mengidam?" tanya Adam peka, lelaki itu juga baru mempelajari tentang kehamilan tadi siang setelah pulang dari rumah sakit.


Ashma mengangguk kecil, "sepertinya begitu."


Adam menarik sudut bibirnya tersenyum tipis. "Kamu ingin makan apa?" tanyanya sekali lagi.


"Bakso!" sahut Ashma dengan cepat membuat Adam kebingungan dengan nama makanan yang baru saja Ashma sebutkan.


"Apa itu?"


"Makanan Indonesia, aku sangat ingin tetapi mana ada ditempat ini makanan seperti yang aku inginkan." Gumam Ashma membuat perasaannya sedikit sedih.


Adam memikirkan ide lain, karena bagaimanapun makanan yang diinginkan Ashma itu sulit dicari di negara ini.


"Bagaimana dengan steak?" tawar Adam namun Ashma segera menggeleng. Adam berpikir kembali membuat Ashma bahagia karena setidaknya dia mendapatkan perhatian kecil darinya.


"Bagaimana kalau yang berkuah?" tanya Adam, Ashma mengangguk karena dia juga ingin makan yang berkuah-kuah selain dari bakso.


"Tidak apa-apa kan kalau bukan bakso? Maaf."


Ashma segera menggeleng kecil, hatinya menghangat mendapat perlakuan manis dari suaminya.


"Tidak apa-apa Mas, walaupun sebenarnya aku ingin tapi seketika hempas saat kamu yang menawariku."


Adam tertegun sebentar, dia tahu wanita hamil itu jika sedang mengidam pasti akan selalu kekeh pada keinginannya, tetapi makanan yang diidamkan Ashma tidak mudah untuk didapatkan di Negara ini, jadi Adam akan mendatangkan Chef dari Indonesia untuk membuatkan makanan yang diinginkan oleh istrinya.


"Bagaimana dengan chicken noodle soup?" tawar Adam merekomendasikan.


"Kedengarannya itu sangat enak, baiklah."


Adam segera pergi untuk membasuh wajahnya, setelah merasa segar Adam membawa Ashma kelantai satu, dia mendudukkannya dimeja makan tepat mengarah kearah dapur.


"Jadi kamu akan masak Mas?" tanya Ashma dari beberapa meter tidak jauh.


Adam menebarkan senyuman hangat, "tentu saja, saya ingin calon anak saya tumbuh baik. Apalagi mendapati ibunya yang sedang mengidam jadi harus siap siaga."


Mendengar itu wajah Ashma bersemu, walaupun sederhana tapi cukup untuk membuat hatinya menghangat.


"Maaf ya jadi harus merepotkan mu, apalagi malam-malam begini malah masak," katanya tak enak hati, padahal lelaki itu tadi sedang nyenyak tidur.


"Sudah saya katakan sebelumnya, saya harus siap siaga untuk kalian."


Ashma mendekati Adam di dapur, ingin melihat lelaki itu memasak. Tangan Adam lihai sekali dalam memotong sayuran, seperti sudah terbiasa.


"Kamu seperti Chef," Ashma kagum sekali melihat kehebatan Adam dalam memasak. Adam yang mendengar pujian istrinya tersenyum tipis.


"Mama yang mengajariku," Ashma manggut-manggut. Walaupun Adam dan bibi Marianee tidak memiliki ikatan darah tetapi hubungan mereka sudah seperti ibu dan anak sesungguhnya.


Bahkan pertama kali Ashma menginjakan kaki di Mansion Adam, dia mengira bibi Marianee adalah ibu kandungnya padahal kenyataannya lain, dan itu membuat Ashma terkejut mendapati kenyataan yang sebenarnya.


Setengah jam lebih sudah berlalu Adam yang hampir siap dengan masakannya segera memanggil Ashma, wanita itu izin melaksanakan sholat tahajud.


Sebelum Adam memanggilnya Ashma sudah terlebih dahulu menampakan batang hidungnya, Adam segera membawa tubuh Ashma untuk duduk diatas kursi dengan hati-hati.


"Hidangannya sudah siap," ucap Adam ikut duduk disebelah Ashma.


Mata Ashma berbinar melihat sup yang terhidang diatas meja. "Masyaallah, kelihatannya saja sudah enak."


"Ini enak mas," puji Ashma, Adam turut senang.


Ashma memakan masakan Adam hingga tandas dalam mangkuk nya. Sedangkan lelaki itu sedang mengangkat telepon yang tiba-tiba menghubunginya dini hari seperti ini. Ashma mendapati Adam yang sedikit menjauh, sepertinya sangat penting hingga raut wajahnya berubah menjadi serius.


Ashma setelah makan memutuskan untuk mencuci peralatan masak yang kotor. Ashma sangat fokus hingga tak menyadari Adam berada tepat dibelakangnya lalu dengan perlahan memeluk Ashma dari belakang, tangan lelaki itu ikut membantu mencuci peralatan yang sudah disabuni oleh Ashma.


Darah Ashma berdesir hebat merasakan lembutnya sentuhan Adam, ah kalau seperti ini mana bisa dia tidak jatuh hati pada suaminya ini.


"Mas, biar aku saja. Kamu lebih baik kembali kekamar barang kali mengantuk," ucap Ashma menyuruh Adam untuk kembali tidur.


"Saya akan tidur lagi kalau kamu sudah berada disamping saya."


Ashma selalu saja berdebar jantungnya kalau mendengar kata-kata romantis dari Adam, walaupun dia tahu lelaki itu hanya mengucapkannya setengah hati.


Setelah selesai, mereka segera mencuci tangan. Adam membalikkan tubuh Ashma, menatap manik cokelat Ashma dengan intens.


"Ashma, saya tidak mengantuk," ujar lelaki itu dengan siratan mata yang menginginkan sesuatu. Ashma paham akan tatapan mata Adam hingga pipinya bersemu merah.


"Mas ingin?" Adam tahu Ashma segera peka dengan keinginannya, segera dia mengangguk.


"Saya akan melakukannya dengan hati-hati,"


Ashma melintangkan tangannya dileher Adam dengan malu-malu, melihat persetujuan dari Ashma, Adam segera membawa tubuh Ashma dalam gendongannya.


...•••...


Paginya Adam tengah berkutat dengan tumpukan berkas didalam ruang kerjanya. Sesekali Adam memijat pangkal hidungnya, dia melirik handphone yang terletak diatas meja berdering, sontak Adam segera mengangkat nya.


Mata Adam melebar sempurna melihat nama panggilan tidak terjawab, Adam segera beranjak dari duduknya dengan jantung yang berpacu cepat.


"Tidak mungkin!"


"Itu tidak mungkin Lily!"


Adam segera menelpon orangnya untuk melacak nomor tersebut yang telah menelponnya beberapa menit lalu dari Lily. Adam rasa tidak mungkin sebab Lily nya sudah meninggal, dia pikir itu pasti rencana Edward untuk menjebak dirinya.


Sebisa mungkin Adam tetap tenang, dan meyakinkan diri bahwa yang menelponnya adalah Edward. Dia sengaja melakukan itu supaya Adam percaya dan jatuh dalam perangkapnya.


Suruhan Adam segera menelpon kembali memberitahu bahwa panggilan itu baru saja terjadi di Siberia, namun setelahnya nomor handphone nya tidak aktif lagi.


Mata Adam menukik tajam sambil mengepalkan tangannya. Dia yakin dibalik si penelpon itu adalah Edward, pria bedebah yang sangat Adam benci. Namun untuk membuktikannya Adam akan segera datang ke wilayah bagian Rusia tersebut.


"Bedebah sialan!" Maki Adam untuk Edward.


Dilain tempat Ashma tengah melakukan video call dengan Nenek-nya, Ashma memberikan kabar bahwa dia tengah mengandung dan neneknya di Palestina sangat bahagia juga terharu mendengarnya.


"Sayang, Nenek selalu mendoakan mu, semoga kamu sehat-sehat disana. Juga sekarang ada bayi didalam perutmu. Sampaikan salam juga pada suamimu ya Ashma."


Ashma mengangguk dengan buliran tergenang disudut matanya, "Aku sangat merindukan nenek."


Mereka berdua larut dalam rindu dibalik jarak jauh yang sulit untuk ditempuh, hanya bisa berbagi kabar lewat ponsel pintar tanpa bisa merengkuh tubuh.


Adam yang sudah berada tepat didepan pintu kamarnya urung masuk karena melihat dibalik celah pintu yang sedikit terbuka istrinya sedang melakukan video call dengan keluarganya. Dia menunggu sambil bersandar pada dinding, rasa nyaman itu membuatnya melamun meratapi takdirnya.


Hembusan kecil keluar dari mulut Adam, menarik kepalanya untuk menengok kearah jendela yang menuju pada balkon dilantai dua. Adam melangkah perlahan, mengikuti alur keinginan hatinya yang tiba-tiba tergerak ingin kesana padahal sebelumnya Adam tidak pernah ingin, sebab kenangan bersama Lily masih tercetak jelas ditempat itu.


Ashma yang sudah selesai melakukan video call dengan benek-nya segera beranjak keluar, ingin menyampaikan salam dari neneknya untuk Adam.


Saat sudah berada diluar kamar Ashma menoleh kearah kiri, melihat suaminya berada di balkon seperti sedang meresapi sesuatu. Ashma segera menyusul Adam dengan langkah sedang.


Merasakan kehadiran seseorang Adam segera melihat kebelakang, mendapati Ashma berada dekat dengannya. Adam terdiam sejenak sambil menikmati wajah istrinya, lalu segera Adam membawa tubuh Ashma masuk kedalam pelukannya


Ashma yang mendapati perlakuan tiba-tiba Adam ini sedikit terkejut tetapi dia langsung membalas pelukan Adam.


"Ada salam dari nenek untukmu Mas," ucap Ashma dengan lembut.


"Hmm," Adam hanya bergumam.


Ashma mencoba melepas pelukan Adam perlahan tetapi lelaki itu malah semakin mengeratkan pelukannya.


"Biarkan dulu seperti ini!" Ingin Adam, dia merasa nyaman memeluk Ashma. Meredakan sedikit rindunya pada Lily, ya pada Lily nya.


#TBC