A Little Hope For Ashma

A Little Hope For Ashma
23. Takut perasaannya akan goyah



Ashma tentu peka pada perubahan tubuhnya akhir-akhir ini, setelah seminggu berlalu dengan rasa pening dan mual kini dia merasa lebih baik, bahkan rasa mual yang menganggu itu sudah hempas.


Ashma melihat di tanggal terakhir dia kedatangan tamu bulan, dan di bulan ini dia sudah telat selama satu Minggu biasanya Ashma akan lebih cepat kedatangan tamu bulannya.


Ada perasaan yang bercampur antara kecemasan, dan harapan. Ashma takut hasilnya mengecewakan tetapi dia tetap harus melakukan tes untuk mengetahui hasilnya.


Ashma sudah memegang tiga tas pack ditangannya, menggenggam erat-erat. Bibi Marianee yang membelikannya, karena dia yang pertama kali menyadari perubahan pada tubuh Ashma, juga ciri-ciri wanita yang sedang mengandung, sepertinya dia terkena morning sickness.


Ashma mana boleh keluar dari Mansion, bahkan entah tahu dari mana suaminya itu tahu pergerakan Ashma. Maka dari itu bibi Marianee segera membeli tes kehamilan untuk Ashma, berharap menantunya positif hamil.


"Bismillah..."


Pagi itu Ashma melakukan pengecekan kehamilan melalui taspack, dia sudah selesai mengambil sedikit air seni-nya, Ashma segera meletakan taspack kedalam wadah yang berisi urin.


Dengan perasaan campur aduk, antara gembira, takut dan sedih memenuhi ruang hatinya. Bahkan detak jantung Ashma lebih cepat berpacu sehingga dia berusaha menetralkan napasnya beberapa kali.


Setelah beberapa saat menunggu akhirnya dia bisa melihat hasil testpack yang menunjukan dua garis merah, lalu Ashma melihat ke dua testpack lainnya yang menunjukkan kesamaan dua garis yang sama. Tubuhnya lemas, dia masih tidak menyangka diberikan rezeki secepat ini, Ashma sangat bahagia dan ingin segera memberi tahu Adam.


Suara ketukan pintu terdengar, segera Ashma keluar dari kamar mandi untuk membuka pintu kamarnya, bibi Marianee menampilkan raut wajah penuh harapan.


"Bagaimana sayang?" Tanya bibi Marianee antusias.


Ashma tersenyum, dia mengelus perut ratanya. "Alhamdulillah Ma, positif."


"Alhamdulillah..." Ucap bibi Marianee mengucapkan syukur, dia terharu mendengar menantunya positif hamil.


"Adam sudah diberi tahu?"


Ashma menggeleng pelan, dia memutuskan untuk memberi tahu Adam saat dia pulang, biar menjadi kejutan untuk suaminya.


"Saat dia pulang aku akan memberikannya kejutan Ma," Bibi Marianee mengangguk paham, dia membantu Ashma untuk duduk di sofa.


"Jaga kandunganmu baik-baik Ashma, Mama harap anak ini bisa menjadi penguat pernikahan kalian," ujar bibi Marianee, karena dia tahu putranya Adam masih belum bisa melepaskan masa lalunya. Bibi Marianee hanya takut Adam akan menyesal suatu hari nanti karena telah menyia-nyiakan perempuan sebaik Ashma.


Ashma menatap bibi Marianee dengan sendu, dia juga berharap calon bayi mereka menjadi tali penguat pernikahannya dengan Adam.


"Doakan saja Ma,"


Bibi Marianee tersenyum tipis, dia ikut duduk disebelah Ashma. "Apakah kamu masih merasa mual?"


"Akhir-akhir ini aku sudah tidak merasa mual Ma, hanya saja ada waktu dimana aku sangat menginginkan sesuatu." Tuturnya sambil mengusap perutnya yang masih datar.


"Ya Allah, mengidam ya. Nah apa yang kamu inginkan Ashma?"


Ashma tersenyum kecil, raut wajahnya malu-malu. "I-itu, saat ini aku hanya ingin memeluk Mas Adam. Setiap malam selalu menginginkan hal yang sama jadi ashma selalu memeluk baju Adam dimalam hari sampai tertidur. Itu juga yang mengurangi rasa mual ku, Ma."


Bibi Marianee merasa kasihan dengan Ashma, menantunya ini pasti tersiksa setiap harinya karena merindukan suaminya ditengah-tengah kehamilan nya saat ini.


"Sepertinya calon bayi kalian merindukan Papanya."


"Kalau Adam masih belum juga pulang, kita periksa kandungan kamu ya." Ucap bibi Marianee melanjutkan. Ashma mengangguk, dia juga harus memeriksa kandungannya, setidaknya pemeriksaan dokter akan lebih valid dan lebih tahu bagaimana kondisi kandungannya.


Sementara, didalam pesawat seorang lelaki sedang memejamkan matanya begitu tenang namun tidak dengan hatinya yang gelisah. Pikirannya selalu dipenuhi oleh wajah istrinya, bahkan dia sudah tidak tahan menahan rindu yang segera ingin dibebaskan ini.


Adam sempat menyangkal terhadap perasaannya ini karena dia masih menaruh luka atas kepergian Lily, itu sebabnya Adam belum berani membuka hatinya untuk wanita manapun, mungkin juga Ashma, istrinya. Perasaannya masih begitu rumit untuk diuraikan sebab luka dimasa lalu masih membekas di kepala Adam.


Adam juga tidak pernah menyangka akan menjadi seperti ini, yang awalnya hanya ingin melindungi Ashma karena wanita itu sekilas mirip Lily sehingga membuat hatinya tergerak menyelamatkan nya saat berada didalam pesawat tempo lalu.


Selain itu, Edward musuhnya itu mulai mengetahui keberadaan Ashma yang tentunya Edward tidak akan tinggal diam, apalagi Ashma memiliki wajah yang sedikit mirip dengan Lily.


Adam akan melindungi Ashma dengan nyawanya apapun yang terjadi, kali ini tidak akan Adam biarkan miliknya direnggut lagi oleh Edward.


...•••...


Malam ini Ashma tidur dengan memeluk baju Adam lagi, wangi khas dari tubuhnya menyeruak dalam indra penciuman Ashma, merasakan ketenangan ditengah-tengah kerinduan yang semakin menjadi.


Ashma juga menjadi cepat mengantuk, karena itu setelah sholat isya Ashma sudah tertidur lalu terbangun lagi setiap pukul dua dini hari, pada kesempatan itu dia gunakan untuk melaksanakan sholat tahajud.


Ketika malam masih pekat dan semesta masih terhampar dalam kegelapan, dua orang insan terlelap dalam syahdunya kehangatan.


Ashma merasakan pergerakan disampingnya, mungkin dia bermimpi lagi Adam berada disisinya. Tetapi pergerakan itu semakin pasti, Ashma membuka matanya perlahan-lahan segera menoleh kesamping dan mendapati Adam tengah tertidur disampingnya sambil memeluk tubuhnya dari belakang.


Ashma usap perlahan wajah tampan suaminya, ternyata benar dia tidak bermimpi dan sosok yang sangat dia rindukan berada tepat dihadapannya. Air mata Ashma luruh, dia benar-benar merindukan Adam.


Wajah damai itu terlelap nyenyak walaupun tadi sempat bergerak mencari kenyamanan. Setelah dua Minggu tidak bertemu, akhirnya Ashma dapat melihat Adam lagi dengan nyata disampingnya.



Lelaki itu tetap tidak terganggu dari tidurnya, Adam sepertinya sangat lelah bahkan dia tidur tanpa bersalin baju.


"Lelaki ini begitu gila kerja," gumam Ashma, tangannya masih mengusap lembut wajah tampan suaminya.


Beberapa menit memandangi wajah Adam dia memutuskan untuk segera bangun dari tempat tidur untuk mengambil air wudhu.


Ashma melaksanakan sholat tahajud dengan khusyuk. Dibawah naungan keheningan malam yang damai itu dia mengadahkan tangannya, berdoa dengan sendu memohon pengharapan yang begitu mendalam pada sang pemilik kuasa. Mencurahkan segala inginnya dengan begitu lirih.


Ashma menghabiskan waktunya pada dini hari itu untuk bermunajat pada Allah juga menyempatkan diri dengan Murajaah hafalannya yang sudah lama dia tinggalkan sebab kelalaian dirinya yang berkedok mencari sibuk.


Waktu bergulir begitu cepat. Matahari mulai memunculkan binar cahayanya di ufuk timur dengan warna cerahnya, menyinari dunia dengan kehangatan yang menakjubkan.


Pagi itu begitu istimewa bagi Ashma sebab suaminya telah berada didekatnya. Ashma juga semakin tidak sabar untuk segera memberitahu kehamilannya pada Adam.


Sedangkan Adam yang duduk ditempat tidur dengan begitu tenang mengamati Ashma yang tengah menyisir rambut panjangnya. Wanita itu terlihat sangat bersinar, bahkan senyuman nya selalu terbit jika bertemu dengan pandangan Adam.


"Apa yang membuatmu begitu senang?" tanya Adam, lelaki itu melangkah mendekati Ashma yang sedang duduk didepan cermin.


Ashma melihat bayangan Adam dibalik cermin. "Aku senang karena kamu sudah kembali," tuturnya, menyimpan penyisir rambut diatas meja. Ashma beranjak dari duduknya, membalikan badannya untuk memandang wajah Adam yang kini telah nyata didalam penglihatan Ashma.


Mereka saling berhadapan dengan jarak yang yang begitu dekat, Ashma segera meraih pinggang kekar Adam dengan kedua tangannya, menangkup tubuh Adam sampai dada bidang suaminya bersentuhan dengan tubuh Ashma.


Ashma mendongak sedikit karena tubuh Adam lebih tinggi darinya, tatapan mereka terkunci satu sama lain saling menyiratkan penuh kerinduan didalamnya.


"Aku sangat merindukanmu Mas, entah mengapa rasanya berat tanpa ada kamu saat aku ingin tidur. Resah pikiranku, takut terjadi apa-apa denganmu. Apalagi kamu jarang mengabariku padahal kamu berjanji akan selalu memberi kabar," ungkapnya dengan lirih.


Adam tertegun mendapati ekspresi wajah Ashma yang sangat tulus itu. Adam takut hatinya akan goyah menatap pancaran mata Ashma yang begitu lembut.


"Aku tidak peduli seperti apa perasaan mu kepadaku, tetapi kamu harus mengetahui satu hal Mas bahwa, Aku mencintaimu."


Kata-kata keramat itu keluar dari mulut Ashma, membuat seorang Adam mematung ditempatnya, tidak dapat melakukan pergerakan bahkan pelukan Ashma sama sekali tidak dia balas.


Luka ditinggalkan itu kembali menyeruak didalam jiwanya, sehingga membuat Adam mati rasa untuk berusaha mencintai lagi, orang baru didalam hidupnya.


#TBC