A Little Hope For Ashma

A Little Hope For Ashma
16. Adam demam



Pukul dua dini hari Ashma yang terbangun dari tidurnya berniat untuk melaksanakan sholat tahajud namun saat matanya menatap Adam, lelaki itu Nampak tidak tenang dalam tidurnya dengan peluh membasahi sekitar wajahnya.


Ashma segera memegangi kening Adam yang terasa panas, tubuh Adam menggigil sepertinya Adam demam, dia cukup heran padahal kemarin Ashma yang merasa tidak enak badan tapi malah Adam yang terkena demam.


“Adam…” Ashma menggoyangkan lengan Adam perlahan.


Adam membuka matanya sedikit, melihat wajah Ashma samar-samar. “Dingin…”


Gumam Adam, Ashma segera menyelimuti Adam sampai menutupi bagian dadanya.


Ashma mengusap halus peluh di wajah Adam. “Sebentar ya Adam, aku ambilkan termometer didalam tasku," Ashma segera turun dari ranjang tidur untuk mencari termometer didalam tas medisnya.


Setelah mendapatkannya Ashma segera menempatkan termometer pada bagian ketiak Adam, dengan hati-hati Ashma membuka perlahan baju yang dikenakan Adam.


Termometer menunjukan suhu badan Adam yang menunjukan angka 38° celcius, Ashma segera beranjak keluar kamar untuk menyiapkan kompresan untuk Adam. Setelah membawanya Ashma mengompres kening Adam dengan penuh kelembutan.


Adam membuka kedua bola matanya dengan perlahan dan mendapati Ashma yang tengah mengompres dirinya. Adam ingin membuka suara namun terasa tercekat, Ashma dengan sigap memberinya air minum yang sudah ia sediakan diatas nakas.


Ashma membantu mendudukan tubuh Adam untuk bersandar pada kepala ranjang tidur.


“Nah minumlah,” Adam meneguk nya hingga tandas, lalu matanya beralih menatap Ashma dengan mata sayu yang sedang menaruh gelas diatas nakas.


“Apa tenggorokanmu sudah lebih baik?” Tanya Ashma sambil meletakan Kembali kompresan didahi suaminya.


Adam masih tidak melepaskan tatapannya dari Ashma. “Hmm…” Adam hanya berdehem.


“Alhamdulillah."


"Kalau Demam mu masih juga tidak kunjung turun segera kita periksa kedokter ya?” Ucapnya penuh perhatian. Adam mengangguk kecil dengan senyum tipis menghiasi wajahnya yang pucat.


“Apa kamu menginginkan sesuatu?”


Adam mengangguk kecil, lalu dia meraih jemari Ashma. “Bolehkah kau memijat keningku, rasanya sangat pening.” Mendengar keinginan Adam segera Ashma mengangguk untuk memenuhi permintaannya.


Ashma memijat kening Adam dengan penuh kelembutan sehingga membuat Adam merasa sangat nyaman dan beban pening di kepalanya sedikit berkurang.


“Ashma…” Panggil Adam begitu pelan.


“Hm…”


“Apakah perkataanmu waktu itu serius?”


Ashma mengernyit merasa bingung, perkataan yang mana yang dimaksud oleh Adam itu.


“Perkataan yang mana?” Adam terdiam sejenak, dia menelan salivanya dengan perlahan. “Kamu akan berusaha mencintaiku.” Sambungannya dengan suara yang sayup-sayup.


Ashma sedikit terkejut dengan pertanyaan Adam namun tak lama dari itu Ashma segera menjawabnya dengan senyum tipis. “Tentu saja.”


Adam mendapati jawaban Ashma yang sangat percaya diri itu, “sekalipun saya tidak bisa mencintaimu?”


Ashma menghela napas dengan berat. “Belum bisa, bukan tidak bisa. Lagian aku juga sedang berusaha.” Adam meraih tangan Ashma yang sedang memijat keningnya, dia letakan diatas tumpuan telapak tangannya yang besar.


“Tidak usah membebani perasaanmu. Saya tahu kamu masih sangat mencintai pak dokter itu kan?” Ujar Adam dengan senyum mengejek. Ashma tidak suka mendengarnya.


“Tidak boleh berprasangka seperti itu kepada istrimu sendiri. Adam kamu harus ingat kata-kataku ini, bahwa aku akan mencintai lelaki yang menjadi suamiku! lagipula dokter Gilang sudah memiliki kehidupan barunya bersama dokter Halifa."


Adam menelisik kedalam netra Ashma dengan seksama mencari keraguan diwajahnya yang seperti bulan purnama itu, sangat benderang dan menenangkan hati.


“Mudah sekali Wanita melupakan kami para pria,” gumam Adam.


Ashma menampung raut wajahnya menjadi kesal, “kata siapa? Sepertinya aku harus meluruskan persepsimu ya Adam. Tidak semua Wanita seperti itu, bahkan menurutku bukannya sebaliknya ya, justru para pria lah yang sangat mudah melupakan kami para wanita. Aku juga harus memperingatkan kepadamu bahwa aku hanya akan mencintai pria yang menjadi suamiku!” Ucap Ashma mempertegas supaya suaminya tidak terus menyepelekan perkataannya.


Adam tertegun atas jawaban istrinya yang sangat yakin, apakah mungkin wanita itu akan mencintai pria sepertinya yang justru belum selesai dengan masa lalunya.


Ashma mendapati Adam yang menatap nya terus. Jujur saja Ashma tidak bisa menampik bahwa Adam sangat mempesona, lelaki bule itu sangat tampan, matanya yang sebening lautan kadangkala bersinar saat wajahnya tersenyum. Proporsi tubuhnya yang sempurna, terbentuk pula otot-otot disebagian tubuh yang biasa laki-laki atletis suka pamerkan.


Suatu penggambaran sempurna atas pahatan tuhan yang maha luar biasa penciptaannya. Ashma jadi mengingat kisah nabi yang diabadikan didalam al-quran yaitu Nabiyullah Yusuf A.S.


Zulaikha saja ibu tirinya sampai terpesona akan ketampanan Nabi yusuf, bahkan saking ingin memilikinya Zulaikha membuat fitnah besar terhadap Nabi yusuf. Luar Biasanya lagi Nabi yusuf menolak ajakan Zulaikha untuk melakukan perbuatan keji, beliau lebih baik memandang tanah dari pada kecantikan fana Zulaikha yang akan membuat Allah murka kepadanya.


Memiliki wajah tampan dan cantik merupakan anugerah yang diberikan oleh allah tapi bagaimana caranya kita bisa mengelolanya dengan baik, bisa saja ketampanan dan kecantikan itu menjadi sumber kebaikan atau justru menjadi sumber fitnah, mengingatnya saja Ashma menjadi ngeri.


Adam yang merasa aneh dengan ekspresi melamun Ashma itu lantas menepuk lengannya perlahan, Ashma tersadar dari lamunannya dan merasa linglung sebab malu ditatap aneh oleh Adam.


“Apa yang kamu pikirkan Ashma? Wajahmu sampai aneh begitu, mana senyum-senyum sendiri.” celetuk Adam karena heran memandangi wajah istrinya yang senyum-senyum sendiri.


Ashma memalingkan wajahnya dari Adam, sangat malu dan entah harus menjawab apa.


“Apa kau membayangkan wajahku yang sangat tampan ini?” Goda Adam. Ashma menoleh cepat dan mendelik tak suka. “Sok tau!”


“Tapi saya rasa memang seperti itu.”


“Adam kau ini sedang sakit bukannya diam malah bawel!”


“Kalau sedang tidak enak badan saya memang suka banyak bicara apalagi... sekarang ada istri saya di samping saya." Adam lagi-lagi menggoda Ashma.


Ashma mengembangkan pipinya seperti bakpao, Adam langsung mencoleknya dengan gemas.


"Kalau kamu seperti ini, saya jadi tidak tahan."


Ashma yang merasa tak aman atas ucapan Adam maka dari itu dia segera beranjak dari kasur menuju kamar mandi untuk berwudhu.


Adam tertawa lepas karena berhasil menggoda Ashma. Didalam kamar mandi Ashma tersenyum senang saat dia dapat mendengar suara Adam yang tertawa lepas, lelaki itu aslinya manusia penuh komedi ternyata.


Seusai berwudhu Ashma segera memakai mukena nya untuk segera melaksanakan sholat tahajud.


Adam tidak lepas memerhatikan Ashma yang sedang melaksanakan sholat tahajud. Didalam hatinya dia sangat memupuk rasa bersalah terhadap Ashma, namun semuanya sudah terjadi, dan terus-menerus mengeluh tidak akan membukakan jalan keluar apapun.


Ashma tengah berdoa dengan khusyuk, bait-bait cinta yang dia langitkan kepada Allah terus dia rapalkan. Selain mendoakan nenek dan pamannya di Palestina, diam-diam Ashma mendoakan untuk Adam juga pernikahan mereka dengan perasaan sendu didalam hatinya, meminta kekokohan dalam rumah tangga mereka.


Tidak lama itu Ashma sudah selesai melaksanakan sholat tahajud, dia segera memutar tubuhnya 90° untuk melihat Adam.


Netra Ashma yang berwarna cokelat bertemu dengan netra Adam yang berwarna biru sebening laut, untuk beberapa saat hening mendominasi mereka yang sama-sama saling menatap satu sama lain.


Ashma segera menyadarinya dan dia melepas tatapannya dengan Adam. Ashma membuka mukena yang dia pakai lalu melipatnya lagi.


"Aku kira kamu tertidur Adam," Ucap Ashma masih dengan gerakan tangannya yang sibuk melipat mukena.


"Saya tidak bisa tertidur," Kata Adam sambil memperbaiki posisi bersandarnya.


Setelah selesai melipat mukena, Ashma menggulung rambut hitamnya yang bergelombang dan segera menggunakan hijab yang dia kakungkan dengan asal. Ashma meraih Al Qur'an yang dia taruh diantara jajaran buku-buku tentang Islam milik Adam.


Ashma duduk disebelah Adam dengan perlahan, Adam masih tidak lepas memandangi istrinya itu.


"Nah, kalau kamu tidak bisa tidur maukah mendengarkan aku membaca ayat suci Al Quran?"


Adam yang seakan tersihir oleh wajah cantik istrinya yang seperti rembulan itu hanya mengangguk kecil sebagai jawaban.


Ashma tersenyum bahagia lalu dia segera menyuruh Adam untuk berbaring.


Adam mengikuti perintah Ashma untuk berbaring. "Surah apa yang akan kamu baca?" Tanya Adam.


Mata Ashma berbinar mendengar pertanyaan Adam. "Surah Maryam." Adam manggut-manggut kecil lalu Ashma mulai membaca ta'awudz.


Suara Ashma yang sangat merdu saat membaca Al Qur'an membuat perasaan Adam menjadi tenang, kepalanya tidak terlalu berdenyut nyeri. Tidak berselang lama Adam mulai dikuasai oleh kantuk, sayup-sayup Adam menutup matanya perlahan, lalu dia tidak mendengar lagi suara Ashma yang sedang membaca surah Maryam.


Ashma membacanya hingga selesai, setelahnya dia langsung melihat Adam yang sudah tertidur dengan damai dan dengkuran halus yang terdengar dipendengaran Ashma.


Ashma meletakan Al-Qur'an ditempatnya kembali, lalu ia menuju ranjang tidur lagi. Sebelum berbaring Ashma mengganti kompresan Adam lalu menggantinya dengan perasan air yang baru.


Ashma ikut berbaring disamping Adam dengan jarak yang dekat. Ashma mendekati Adam lalu mengelus halus puncak kepala suaminya dengan lembut.


"Cepat sembuh ya suamiku."


Setelahnya Ashma memutuskan untuk ikut mengarungi mimpi bersama Adam.


...•••...


Karena demam Adam yang tak kunjung turun Ashma menyarankan Adam untuk pergi ke dokter, untungnya Adam mahu mendengar perkataannya.


Ashma sedang menunggu Adam yang tengah diperiksa oleh dokter. Adam tidak ingin Ashma menemaninya didalam sana, bukan maksud Adam risih tapi dia hanya ingin diperiksa tanpa ada seseorang yang menemani didalam.


Ashma beberapa kali menghela napas panjang saat dia melihat kanan dan kirinya, tentu dia tidak sendiri melainkan bersama dengan pengawal suruhan suaminya. Ashma sebenarnya merasa risih tapi bagaimana lagi jika memang harus seperti ini.


Tidak lama dari itu pintu ruangan periksa Adam terbuka. Adam tersenyum tipis pada Ashma


"Bagaimana pemeriksaan mu?" Tanya Ashma khawatir.


Adam mengusap kepala Ashma yang tertutupi hijab dengan lembut. "Hanya demam biasa."


Ashma merasa tak yakin lantas dia bertanya sekali lagi. "Kamu tidak berbohong kan?"


Adam terkekeh kecil. "Adakah wajah-wajah pembohong dari diriku?"


Ashma menghela napas pelan. "Kamu terlalu blak-blakan!" Adam mencubit pipi Ashma dengan gemas.


"Lebih baik kita menunggu untuk pengambilan obat." Kata Adam mengalihkan topik pembicaraan.


Ashma mengangguk kecil. "Baiklah."


Adam dan Ashma sedang menunggu obat yang sedang diracik. Sedangkan tanpa mereka sadari ada seseorang yang sedang memperhatikan mereka dari jauh.


Adam yang merasa tidak beres segera memberi kode kepada para pengawal nya untuk berjaga-jaga dan mengawasi sekitar mereka.


Beberapa waktu menunggu pengambilan obat untuk Adam akhirnya sudah selesai, setelah mengurusi biaya administrasi segera Adam membawa Ashma untuk pergi dari rumah sakit.


Saat mereka akan menaiki mobil, seseorang berhasil memotret mereka, orang misterius itu segera beranjak pergi setelah mendapatkan apa yang dia inginkan.


Didalam mobil Ashma melihat Adam yang nampak cemas, Ashma takut Adam merasakan hal yang tidak enak pada tubuhnya.


"Adam kau baik-baik saja?" Tanya Ashma khawatir.


Adam mengangguk kecil. "Saya baik-baik saja." Adam menetralkan dirinya untuk bersikap lebih tenang.


Adam memikirkan sesuatu yang baru saja dia ingat. "Ashma..." Panggil Adam pelan.


Ashma menoleh lagi. "Ya?"


"Maaf, saya tidak bisa memenuhi janji untuk menjenguk istri Daniel beserta bayinya."


Ashma yang mendengar perkataan lembut Adam itu tersenyum kecil. "Tidak apa-apa Adam, kesehatanmu lebih penting. Kita bisa menjenguk mereka lain waktu,"


Ashma beralih menatap jalan dibalik kaca mobil. "Maryam tadi subuh mengirimkan foto bayinya, kamu tahu Adam dia sangat cantik dan begitu kecil." Ucap Ashma dengan senyum manis yang menghiasi wajah cantiknya.


Adam tertegun mendapati ekspresi wajah Ashma yang terlihat mendamba itu, dia paham betul maksud ucapan Ashma.


"Apakah kamu ingin memiliki bayi?"


Ashma menoleh cepat pada Adam dan melihat-nya dengan tatapan tak terbaca.


#TBC