
"Ma, Edward itu siapa? Mengapa dia turut hadir diingatan ku?
Bibi Marianee terkejut mendengar pertanyaan putrinya mengenai Edward, dia tidak tahu harus menjelaskannya seperti apa sebab bibi Marianee tidak ingin menyebut-nyebut lagi nama lelaki itu.
"Dia hanya masa lalumu sayang, tidak usah terlalu dipikirin. Lagian pula itu tidak penting, sekarang fokus saja pada kesembuhan dirimu." sahut bibi Marianee tidak ingin menjelaskan.
Lily mendesah lelah, lagi-lagi dia tidak mendapatkan jawaban apapun dari Mamanya.
"Begitu ya, tetapi mengapa aku seolah merindukan lelaki yang bernama Edward itu Ma, aku juga tidak tahu."
Bibi Marianee segera mengelus puncak kepala Lily dengan sayang, "nanti kalau sudah waktunya kamu pasti mengingat kembali ya." Bibi Marianee membawa Lily kedalam pelukannya, mereka kembali menuahkah rindu yang sempat terjeda selama satu tahun lamanya.
...•••...
Adam yang sudah bangun dari tidurnya tidak langsung beranjak, dia sudah cukup lama memandangi wajah Ashma yang damai dalam tidurnya.
Adam mengelus wajah itu penuh kelembutan. Namun tetiba rasa bersalah menggerogoti hatinya mengingat tujuan nya menikahi Ashma hanya karena sebuah tanggungjawab nya dalam melindungi Ashma plus Adam dengan brengsek nya hampir saja melecehkan Ashma pada waktu itu.
Sekarang dia tengah mengandung anaknya, yang dari awal tidak pernah Adam sangka-sangka. Tubuh Ashma membuatnya tidak bisa selalu menahan hasratnya yang membara apalagi Ashma selalu menggodanya dengan pakaian yang biasa para istri pakai untuk mengemban tugas.
Itu adalah pengalaman pertamanya melakukan hal seperti itu karena Adam tidak pernah melakukan nya dengan siapapun apalagi Lily yang notabenenya sangat dia cintai, dia tidak pernah melakukannya kecuali dengan istrinya, Ashma. Adam bukanlah lelaki yang seperti itu, dia sangat menjunjung tinggi harga diri perempuan.
Ashma yang merasakan sentuhan lembut seseorang membuatnya menggeliat, dia terbangun dengan mata yang masih sedikit mengantuk. Mata mereka kembali bertemu menyiratkan kilatan, mencari artinya masing-masing.
"Aku kira kamu tidak akan ada di sampingku lagi. Mengapa? Bukankah wanita yang sangat kamu cintai sudah kembali," ucap Ashma dengan wajah datar. Adam beberapa saat masih berusaha mengartikan tatapan mata Ashma.
"Benar, dia sudah kembali. Sayangnya saya harus menjelaskan pada istri saya supaya tidak terlalu berpikir buruk tentang kami." tandas Adam begitu tenang, dia tahu Ashma begitu terusik dengan jawabannya.
Ashma merengut kesal, apa-apaan Adam itu. Lagipula Ashma tidak peduli apapun yang mereka telah lakukan dibelakangnya.
"Aku tidak peduli kalian berbuat apa di belakangku tetapi aku tetap tidak membela perselingkuhan kalian, walau bagaimanapun kalian tetap salah. Mengapa tidak memberi tahu aku, setidaknya aku tidak akan berpikir yang tidak-tidak tentang kalian." Gerutu Ashma kesal, kali ini ia memperlihatkan emosional nya.
Adam menyentuh lagi wajah Ashma dengan lembut, "Saya tidak berbuat apapun dengan Lily, kami tidak berselingkuh. Saya juga tahu batasan." Adam menjawabnya semudah mulutnya tidak memikirkan perasaan Ashma yang mulai kacau.
"Justru karena kamu tahu batasan mu seharusnya kamu terbuka dengan aku. Walaupun aku hanya pelampiasan mu tetap saja aku ini istrimu!"
Adam seketika marah mendengar penuturan Ashma, dia langsung bangkit dari tidurnya dan mengukung wanita itu didalam tubuhnya yang besar.
"Bisakah kamu tidak mengatakan hal seperti itu lagi? Kamu bukan pelampiasan Ashma!" tegasnya pada Ashma, dia diliputi kabut kemarahan.
Ashma tersenyum kecut, dia berusaha mendorong dada Adam tetapi lelaki itu malah gencar menciuminya di seluruh wajah Ashma.
"Adam he-hentikan!"
Adam tidak juga kunjung memberhentikan aktivitas nya menciumi Ashma, tidak tahu mengapa tetapi melihat wajah Ashma membuatnya gemas sendiri apalagi perutnya yang buncit malah menambah kesan menggemaskan.
Ashma semakin berontak dalam Kungkungan Adam membuat Adam memberhentikan aktivitas nya, dia menarik kembali tubuhnya untuk duduk, melepaskan Ashma dengan jantung yang berpacu cepat.
"Saya hanya tidak suka kamu berkata demikian. Demi apapun kamu bukanlah pelampiasanku!" suara Adam nampak meninggi, sorot matanya dingin tanpa ekspresi.
Ashma ikut duduk dengan sedikit kesusahan karena kehamilannya yang semakin besar, itu membuat Adam turut membantu supaya Ashma dapat duduk dengan nyaman.
"Terimakasih,"
Walaupun Ashma sedang tidak dalam keadaan suasana hati yang baik dia tetap berusaha menghargai suaminya.
"Jadi... Tolong jelaskan!" kata Ashma meminta Adam menjelaskan biduk persoalan mereka.
Adam mengambil napas panjang lalu menghembuskan nya perlahan, itu semua Ashma perhatikan. Apa sebegitu beratnya ya, Ashma rasa dia juga tidak sepenuhnya bahagia kekasihnya kembali, entahlah Ashma tidak terlalu mau tahu.
"Saya tidak pernah menyangka dia masih hidup. Saya sangat bahagia, Tuhan begitu baik pada saya,"
"Dia menenggelamkan dirinya kedasar laut, membiarkan saya dan Edward terjerat dalam lubang nestapa, kami sama-sama kehilangan. Wanita itu gila, dia rela mengakhiri hidupnya hanya untuk melerai kami agak tidak saling membunuh,"
"Walau begitu kami tetap menjadi musuh. Mencari kesempatan untuk saling membunuh,"
Adam memijat pangkal hidungnya, kentara sekali dia sangat berantakan. "Satu tahun berlalu atas kepergiannya, tiba-tiba keajaiban datang pada saya sekarang. Lily masih hidup tetapi dia kehilangan sebagian ingatannya, saya bahagia Lily tidak mengingat Edward tetapi saya marah ingatannya malah membuatnya teringat lagi pada sosok lelaki bedebah itu!"
Ashma tersenyum getir didalam hatinya, sebegitu hebatnya Adam menceritakan hal-hal tentang Lily jujur saja itu membuatnya sakit hati tetapi Ashma tetap berusaha tenang.
"Saya tahu saat Lily membatalkan pernikahan kami lalu pergi dengan Edward karena dia ingin menyelamatkan saya, dan saya juga sangat percaya bahwa Lily mencintai saya."
Ashma mendengus, "percaya diri sekali kamu ini ya Mas, kamu ini benar-benar dibutakan oleh obsesimu, itu bukan cinta! Kamu tidak bisa melihat yang sebenarnya bahwa Lily tidak pernah mencintaimu!"
Adam menatap tajam Ashma, berani sekali wanita itu mengatakan hal yang sama sekali tidak dia ketahui.
"Sepertinya kamu hanya iri dengan perasaanku pada Lily ya?" tanyanya dengan senyum sinis. Ashma tidak gentar saat mendapati tatapan Adam berubah menjadi dingin dan suram.
"Syukurnya aku tidak iri sama sekali! Hanya sedikit kasihan saja pada dirimu!"
Ashma memancing amarah dalam diri Adam, membuatnya tidak bisa berpikir secara benar. Padahal awalnya Adam hanya ingin memberitahunya dengan tenang tetapi Ashma malah memancing keributan.
"Tidak usah menampik, rasa cemburu mu begitu kentara!" Adam juga turut tak ingin kalah, membuat Ashma sebal.
"Terserah kamu saja Mas. Aku tidak peduli. Lagipula cinta sehidup semati mu itu kan sudah kembali jadi bukankah lebih mudah kalau kita segera mengakhiri hubungan pernikahan ini?!"
Adam bangkit dari duduknya, urat-urat disekitaran lehernya kentara menandakan bahwa Ashma benar-benar membuatnya marah.
"Kamu," desis Adam tajam.
"Jangan membuatku marah Ashma!" ucapnya memberi peringatan. Ashma ikut berdiri, dia turut menatap Adam tajam.
"Lalu mengapa kamu masih menahan ku, bukankah seharusnya kamu lega mahu berpisah denganku?!" Kata-katanya dipenuhi amarah.
Mata Adam menjadi gelap, suasana yang damai kini berubah menjadi menakutkan. "Saya akan mengabulkan nya tetapi tidak untuk saat ini!" Adam sebisa mungkin menahan amarahnya yang ingin meledak.
Air matanya dia tahan agar tidak berderai, Ashma tidak ingin kelihatan lemah dan bodoh lagi dihadapan Adam. "Aku tidak menyangka kamu begitu egois! Apakah kamu begitu bodoh sampai tidak bisa melihat istrimu menderita!" Teriak Ashma dengan punggung tegak dan dagu terangkat, dia melupakan sopan santunnya.
Adam begitu frustasi menghadapi Ashma yang terkesan seperti kekanak-kanakan. "Dirimu sendiri yang terjebak dalam penderitaan, jangan salahkan orang lain!"
"Permisi apa?"
"Kamu membuat dirimu menderita sendiri!"
Ashma tertawa sumbang atas perkataan Adam, "sungguh tega sekali dirimu Mas. Kamu membuatku menjadi benci kepadamu!"
"Kamu yang membuatku menderita! Apa bedanya saat dimana kita memulai, kamu juga harus ingat niat awalmu menikahi ku hanya untuk bertanggung jawab! Ashma lepas kendali secara naluriah saat dirinya semakin mendapatkan ucapan menyakitkan Adam.
Adam mencengkram kuat bahu Ashma, "lagi-lagi kamu mengungkitnya!"
"Lepaskan aku!" ratap Ashma, melawan cengkraman Adam. Dia tidak menyadari bahwa Ashma kesakitan.
"Bisakah kamu menurut Ashma! Saya mohon tunggulah sampai satu tahun, sampai dirimu aman dan anak ini lahir."
Ashma berhenti meronta, "lalu apa yang mau kamu lakukan setelah anak ini lahir?"
"Kita akan bercerai lalu, hak asuh anak ini menjadi milikku."
Tamparan keras bergema disiang hari itu, Adam merasakan pipinya menyebarkan kehangatan yang membakar keseluruh wajahnya. Ashma menampar nya keras, membuat tubuhnya mundur satu langkah.
#TBC