A Little Hope For Ashma

A Little Hope For Ashma
46. Harus merindu lagi



"Paman tampan!" Teriak Gelya menyapa Adam dari kejauhan, dia tersenyum kecil melihat kedatangan istri dan teman kecilnya itu. Kemarin gadis itu masih malu-malu namun secepat kilat dia mudah beradaptasi dengan Ashma.


Mereka membawa satu keranjang sedang dengan buah persik didalamnya, ya Adam baru mengingat buah itu tengah panen.


Air muka kentara sekali terlihat dari dahi Ashma, wanita itu terlihat lebih bahagia dari sebelumnya sepertinya karena si kecil Gelya benar-benar menjadi mood booster untuk Ashma.


Mereka sampai di teras, Ashma langsung duduk diatas kursi sedangkan Gelya dengan kelincahannya memberikan keranjang berisi buah persik pada Adam.


"Paman tampan ambilah, coba rasakan!" ucapnya menawarkan Adam. Adam tersenyum kecil, "Baiklah gadis kecil!" Adam mengambil satu buah persik, dia menggigitnya dengan perlahan. Saat rasa manis bercampur masam itu masuk kedalam mulutnya, Adam sedikit meringis tapi rasanya juga sangat segar ditengah terik matahari yang membuat tenggorokannya terasa kering.


Ashma memperhatikan interaksi mereka, seperti keluarga kecil yang bahagia. Itu mengingatkannya pada calon bayi mereka yang sedang bertumbuh didalam perutnya.


Dia menatapnya dengan sendu namun dia juga bahagia. Walaupun semuanya nanti akan berakhir, Ashma akan menikmati kebersamaannya dengan Adam dengan sisa waktu mereka.


"Gelya sayang Aunty masuk kedalam dulu ya, kamu mau ikut?" tanya Ashma barangkali Gelya ingin ikut kedalam.


Gelya menggeleng kecil, "tidak Aunty, Gelya mau disini bersama Paman tampan memakan buah persik."


Ashma tersenyum kecil, "baiklah sayang. Mas, aku masuk dulu kedalam mau melaksanakan sholat Dzuhur, kamu sudah?"


Adam mengangguk pelan, "sudah, ya masuklah."


Ashma sedikit kelelahan hari ini mungkin karena kehamilannya yang semakin besar, tapi dia juga bahagia sebab bersama Gelya dia menemukan kehidupan yang baru yang lebih menyenangkan.


Ashma segera bergegas kedalam bilik kamar mandi di kamarnya untuk mengambil air wudhu.


Saat air membasuh wajahnya itu terasa begitu segar, lelah dan ngantuknya hilang entah kemana. Setelahnya Ashma segera melaksanakan empat rakaat wajib dengan penuh khusyu.


Selesai mengerjakan sholat, Ashma kembali pergi keluar teras. Disana dia melihat pemandangan yang menghangatkan hatinya, saat Adam menggendong Gelya yang tertidur di pangkuannya.


"Mas, Gelya tidur ya?"


Adam yang akan masuk kedalam sambil menggendong Gelya mengangguk kecil.


"Saya mau baringkan gadis kecil ini didalam," katanya sembari momong Gelya yang menggeliat kecil.


"Baringkan dikamar kita saja Mas," katanya sambil mengusap kelapa Gelya dengan lembut. Adam setuju, dia membawa langkahnya untuk menidurkan Gelya diatas kasur mereka.


Dengan hati-hati Adam membaringkan tubuh kecilnya, tidurnya terlihat seperti panda yang manja pada sang induk sampai-sampai Adam mau tak mau ikut berbaring disebelahnya karena Gelya terus mencengkram kerah bajunya.


"Ashma berbaringlah disebelahnya juga," kata Adam meminta istrinya untuk ikut berbaring, dia pasti kelelahan karena sudah bermain ria dengan si kecil Gelya.


Ashma ikut berbaring disebelah Gelya, dia menatap gadis kecil yang tertidur itu dengan senyuman kecilnya. Gelya pasti kelelahan bermain hampir seharian ini.


Mereka terlihat seperti keluarga bahagia, ayah, ibu dan seorang anak.


"Ashma," panggil Adam.


"Hmm?"


"Malam ini saya akan pergi ke Mansion, apakah tidak apa-apa saya tinggalkan?" ucapnya meminta izin, Adam merasa berat meninggalkan Ashma dengan Jhon, walaupun dia sudah memberi amanah padanya tetap saja Adam tidak tenang.


Ashma menghela nafas panjang, sebenarnya dia tidak ingin ditinggalkan Adam seperti lelaki itu akan pergi dalam kurun waktu yang lama.


"Apa kau akan pergi dengan kurun waktu yang lama? Seperti saat aku di Mansion mu?"


Adam menangkap nada khawatir dari istrinya, dia semakin berat meninggalkan Ashma.


"Tidak, saya hanya akan mengecek kondisi Lily dan bibi Marianee."


Ashma tidak bisa mengatakan apapun lagi kalau lelaki itu berniat mahu melihat kondisi Lily dan Ibu mertuanya di Mansion.


"Kalau seperti itu, silahkan Mas."


Adam mendengar nada suara Ashma yang tidak rela, sepertinya dia tak ingin ditinggalkan.


"Besok saya segera pulang, kau jangan khawatir." Katanya berniat menenangkan. Ashma tidak membuka suara lagi, dia memilih untuk memejamkan matanya.


...•••...


Malam pun segera menyambut. Ashma sedari tadi memperhatikan Gelya yang sedang makan, gadis itu tidurnya lumayan lama mungkin juga karena kecapean maka dari itu Ashma memintanya untuk menginap sekalian menemani dia. Ashma juga sudah meminta izin pada Nyonya Tanya, beliau memberikan izinnya.


"Aunty ini sangat lezat!" Katanya dengan wajah berseri-seri.


"Benarkah? Kalau begitu Aunty bakal sering masakin buat Gelya ya?"


Gelya segera mengangguk, gadis kecil itu terlihat sangat menyukai masakan yang dibuat oleh Ashma.


Dari arah belakang punggung Ashma, Adam berjalan kearah mereka menuju tempat makan.


"Iya Mas?"


"Saya mau berangkat sekarang. Besok saya akan segera kembali jadi kamu jaga diri ku kamu baik-baik, jaga anak kita juga si kecil Gelya." Ucapnya sambil melirik Gelya yang tengah lahap makan.


"Baik Mas!" Ashma beranjak untuk berdiri, dia meraih punggung tangan suaminya untuk menyalami.


Adam meraih kedua pundaknya, dia tersenyum kecil lalu beralih menangkap kedua pipi Ashma yang semakin berisi.


CUP...


Adam mencium kening Ashma begitu lama, entahlah yang pasti dia akan merindukan aroma istrinya malam ini karena tidak bisa tidur dengannya.


Mereka saling menyatukan kedua kening mereka, namun Ashma yang keburu menyadari ada Gelya segera menjauhkan dada bidang Adam darinya, untungnya saat menoleh kearah Gelya, gadis itu masih asik dengan makanannya.


"Ada Gelya!" Bisik Ashma sedikit ketar-ketir, bisa bahaya kalau Gelya melihat tingkah mereka.


Adam tersenyum tipis lalu dia mencium kening istrinya sekali lagi sebelum dia akhirnya melangkahkan kaki kearah pintu keluar.


Ashma mengantarnya sampai depan teras, sampai tangan suaminya melambai dan mobilnya meninggalkan pelataran rumah barulah Ashma kembali masuk kedalam lalu segera mengunci pintu.


Dirumah itu hanya ada dia dan Gelya saja sedangkan Jhon berada di rumah sebelah yang masih milik keluarga Adam.


Malam ini mungkin akan begitu dingin karena tidak ada pelukan hangat dari suaminya. Ashma menghela nafas berat, rasanya dia rindu berat padahal baru ditinggal pergi beberapa menit yang lalu oleh Adam.


"Aunty cantik!" Panggil sikecil Gelya membuat lamunan Ashma buyar.


"Kenapa Aunty melamun disitu?" Ashma tersenyum kecil dia baru ingat kalau Gelya ada dirumahnya jadi dia tidak akan begitu kesepian, mungkin juga malam yang dingin itu tidak akan terjadi malam ini karena dia akan memeluk Gelya sepanjang malam.


Ashma kembali ke ruang makan, dia kembali duduk untuk menemani Gelya. Dia dan Adam sudah terlebih dulu makan tadi sore, Gelya sikecil ini sedikit sulit dibangunkan jadi mereka makan duluan.


"Pinter nya Gelya, lahap ya makannya," Ashma mengusap sisa makanan di sudut bibir Gelya.


Gelya tersenyum lebar, "masakan Aunty enak soalnya, Gelya jadi tak bisa menahan gejolak ingin menghabiskan!" katanya begitu lucu dan polos membuat Ashma semakin gemas dan ingin selalu mencubit pipi gembulnya.


"Aunty akan masak buat Gelya setiap hari kalau begitu, nanti Gelya harus mencicipi masakan dari negara Aunty ya!"


Gelya mengingat lagi, "Indonesia ya Aunty?" katanya cepat tanggap, gadis itu memang pandai mengingat.


"Iya sayang."


...•••...


Adam berdiri tepat di Mansion nya, lelaki itu segera masuk kedalam setelah disambut kecil oleh para pengawalnya.


Dia segera bergegas kekamar bibi Marianee, mengetuknya dengan pelan agar tidak terlalu mengganggu barang kali Mamanya sudah tertidur.


Tidak lama itu pintu kamar bibi Marianee terbuka, Adam menyalami takzim punggung tangan Mamanya.


"Adam kok kamu sudah pulang? Ashma mana?" tanya bibi Marianee karena tidak melihat Ashma bersamanya.


"Ashma tidak ikut Ma, Adam juga tidak mengijinkan dia untuk pergi kemana-mana dulu, kejadian kemarin saja saat dia mengalami pendarahan membuat Adam takut terjadi apa-apa dengan Ashma juga bayinya, jadi lebih baik dia disana untuk sementara waktu." katanya mengingat hal mengerikan tempo lalu.


Bibi Marianee turut mengerti, dia juga lega mendengar menantunya bisa tinggal disana, siapa yang tahu orang spesial yang akan Adam bawa kerumah kecil miliknya di tepi sana adalah Ashma.


"Hm, benar. Disana adalah tempat terbaik untuk Ashma mengingat sering kali memikirkan dirimu yang selalu membuatnya frustasi jika disini!" bibi Marianee mengucapkannya dengan nada yang sedikit menggertak Adam, sang empu menghembuskan nafas pasrah.


"Ya, aku bersalah Ma."


Bibi Marianee mengangguk kecil, "setidaknya disana kamu jangan membuat dia stress dan banyak pikiran lagi! Kalau itu sampai terjadi Mama sendiri yang akan turun tangan dan kali ini gak ada toleransi kalau kamu sampai menyakiti hatinya!" ucap bibi Marianee. Dia menggertak Adam supaya anak nakal itu tidak berbuat ulah lagi. Itu terdengar seperti catatan peringatan yang harus Adam jalani dengan sebaik mungkin.


"Ya Ma."


Adam teringat Lily, "lalu Lily bagaimana keadaan nya sekarang?"


Bibi Marianee menghela nafas berat, "dia masih belum mengingat apapun, tapi akhir-akhir ini Lily tidak terlalu rewel, biasanya dia akan bertanya terus tentang Edward."


Adam mendengar nama itu jengah sendiri, bahkan disaat hilang ingatan Lily masih menanyai tentang Edward.


"Apa dia sudah tidur?" tanya Adam ingin memastikan supaya dia tidak mengganggunya jika sudah terlelap.


"Sudah sedari tadi, kualitas tidurnya juga menjadi baik." bibi Marianee tersenyum kecil mengingat kondisi Lily yang berangsur membaik. Adam turut lega karena sebelumnya Lily sangat sulit untuk tertidur malam sampai-sampai ia harus meminum obat tidur yang diberikan oleh dokter.


"Baiklah, Adam akan menemuinya besok. Selamat istirahat Ma." ucapnya lembut lalu kembali mencium punggung tangan bibi Marianee.


Adam segera memutar arah untuk pergi keruang kerjanya, dia harus bertemu dengan pengawal pengganti Jhon yang bertugas untuk menjaga dan mengawasi Lily sementara waktu.


#TBC