
Peristiwa malam tadi masih terbayang-bayang dibenak Ashma, saat bagaimana Adam melakukan hal menjijikan itu padanya. Ashma tidak bisa lagi tinggal di mansion lelaki itu, dia takut Adam akan melakukan tindakan yang lebih dari pada semalam. Tapi Ashma merasa sangat jijik terhadap tubuhnya, Adam lelaki itu telah mencuri ciuman pertama yang seharusnya untuk suaminya kelak.
Sedangkan Adam yang berada tepat diluar pintu kamar Ashma merasa kebingungan juga, apakah Adam harus mengetuk pintu kamar wanita itu dan memintanya untuk berbicara tentang kejadian semalam tetapi Adam takut Ashma akan menolaknya.
Namun sebelum Adam mengetuk pintu kamar Ashma, wanita itu sudah lebih dulu membuka pintu kamarnya. Adam mundur dua langkah kebelakang sedangkan Ashma kaget bukan main, dia juga masih takut dan trauma mengingat kejadian semalam.
Ashma menatap Adam dengan ekspresi campuran antara ketakutan, kejijikan, dan kebingungan. Matanya berkaca-kaca, dan jantungnya berdebar kencang. Dia tidak yakin apa yang harus dia katakan atau lakukan saat ini.
Adam, meskipun merasa ragu, mencoba mengambil langkah ke depan untuk mengatasi situasi ini. Dia ingin meminta maaf kepada Ashma dan memastikan bahwa kejadian semalam tidak akan terulang lagi. Namun, dia memutuskan untuk membiarkan Ashma memberikan kesempatan padanya untuk berbicara terlebih dahulu.
Dengan gemetar, Ashma akhirnya membuka mulutnya. Suaranya lemah terdengar saat dia mencoba mengungkapkan apa yang ada di benaknya. "Adam, apa yang kamu lakukan semalam sangat tidak pantas. Aku merasa jijik dan takut padamu. Aku tidak bisa tinggal di sini lagi, dan aku merasa sangat terganggu dengan apa yang terjadi."
Adam merasa menyesal mendengar nada suaranya yang bergetar dia benar-benar ingin memperbaiki situasi ini.
"Ashma, saya benar-benar menyesal atas tindakanku semalam. saya tidak memiliki alasan atau pembenaran untuk apa yang saya lakukan. Tapi saya mohon, kamu jangan pergi dari sini sebelum situasinya aman."
Ashma mengeratkan giginya merasa marah seharusnya Adam sadar perbuatannya semalam sudah membuat Ashma tak aman dan ketakutan. "Kau ini benar-benar gila Adam" Ashma menatapnya nyalang. Adam tahu dirinya sudah melakukan kesalahan fatal dan dia harus mengambil tanggung jawab penuh atas perbuatannya.
Adam merasa semakin menyesal dan menyesal, menyadari betapa serius konsekuensi dari perbuatannya. Dia berdiri di depan Ashma dengan rasa malu yang mendalam. "Saya sungguh-sungguh menyesal, Ashma," katanya dengan suara penuh penyesalan. "Saya tahu saya telah melanggar batas dan membuatmu merasa tidak aman. Saya bertanggung jawab atas perbuatan saya, dan saya akan melakukan segalanya untuk memperbaikinya."
Ashma masih memandang Adam dengan pandangan tajam lagi-lagi Ashma mengingat bagaimana adam melakukan hal itu kepadanya, mata Ashma berkaca-kaca dia tidak kuasa menahan tangis.
"Kamu ha-hampir saja merenggut kehormatan yang aku jaga untuk suamiku kelak, kamu dengan beraninya menciumku dan hampir melakukan itu Adam."
Ashma berteriak cukup kencang membuat beberapa pelayan di mansion itu ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi salah satu pelayan senior yang menyadari tuannya sedang ada masalah dengan sigap memerintahkan pelayan yang lain untuk fokus pada pekerjaannya masing-masing.
"Saya akan bertanggung jawab atas perbuatanku semalam Ashma..." Adam berbicara dengan suara rendah. " Ashma, Ashma, saya sepenuhnya menyadari betapa serius dan tak pantas tindakan saya semalam. Saya tidak bisa menghapus apa yang telah terjadi, tetapi saya berjanji akan bertanggung jawab."
"Bertanggung jawab? apa yang akan kau pertanggung jawabkan Adam sedangkan kau telah dengan berani-beraninya menyentuhku."
Adam menatap Ashma dengan berani. "Saya akan menikahi mu."
Ashma terkejut mendengar kata-kata Adam. Matanya membelalak tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Apa maksudmu, Adam? Bagaimana bisa kamu menikahi ku setelah apa yang terjadi semalam?" suaranya penuh dengan ketidakpercayaan dan kebingungan.
"Menikahlah dengan saya Ashma, saya akan bertanggung jawab atas perbuatanku semalam." Adam sekali lagi mengatakannya, tentu Ashma tidak mengerti jalan pikiran lelaki itu, Adam sebenarnya menginginkan apa darinya atau mungkin semua ini adalah skenarionya, Adam memang sengaja menjebaknya dari kejadian di pesawat waktu itu hingga koper mereka tertukar dan berakhirlah Ashma berada di mansion lelaki itu.
"Kenapa kamu ingin menikahi saya setelah semua ini? Apa yang kamu rencanakan?" tanyanya dengan suara gemetar, tatapannya penuh selidik.
"Saya berjanji ini hanya untuk satu tahun setelahnya saya akan mengembalikan kamu kepada keluargamu di Palestina, seperti apa yang kamu minta sebelumnya."
Mata Ashma membelakak kaget, "Apa yang kamu maksud dengan menikahiku hanya untuk satu tahun?" Ashma bertanya dengan suara gemetar. "Dan mengapa kamu berpikir itu akan memperbaiki segalanya? Atau mungkin karena aku terlihat sekilas seperti kekasihmu itu hah?"
Adam melihat ke dalam mata Ashma dengan serius. "Saya tahu bahwa tidak ada kata-kata yang bisa menghapus apa yang terjadi semalam, tapi saya ingin melakukan apa yang benar. Saya mengerti bahwa kamu merasa kotor dan terganggu oleh tindakanku. Dalam keadaan ini, menikah adalah satu-satunya cara bagi saya untuk memberikanmu status dan perlindungan yang seharusnya kamu miliki setelah apa yang sudah saya lakukan semalam."
Ashma tidak bisa mengatakan apapun lagi pada Adam dia masih mencerna pada situasi sulit yang membingungkan ini, mengapa semua ini harus dirasakan oleh Ashma? Ashma rasanya tidak sanggup dan sangat lelah, Ashma hanya ingin pulang. Dia hanya ingin hidup damai bersama neneknya di Palestina.
"Leave me alone Adam."
Adam memahami keputusannya yang tiba-tiba ini membuat Ashma sangat bingung, tapi Adam benar-benar akan bertanggung jawab dengan menikahi gadis itu bagaimanapun keputusan Ashma nanti Adam akan tetap menikahinya karena Adam adalah lelaki yang akan menepati janjinya.
Seperti yang dikatakan Ashma tempo lalu bahwa lelaki yang dapat menyentuhnya hanyalah suaminya kelak, dan Adam telah kurang ajar menyentuh Ashma. Adam tetap akan bertanggung jawab setidaknya sampai Ashma dapat kembali kepada keluarganya dengan Aman.
"Tolong pertimbangan kata-kataku, saya minta maaf Ashma." Adam meninggalkan Ashma dengan perasaan yang campur aduk. Tubuh tegap lelaki itu semakin menjauh sampai siluetnya tidak dapat Ashma lihat lagi.
Di taman belakang, Ashma duduk sendirian terdiam dan bingung. Di dalam hati, Ashma merasa bahwa menikah dengan Adam hanya akan mengikatnya lebih dalam dalam situasi yang rumit. Dia merasa lelah dan ingin kembali ke kehidupan yang tenang.
"Menikah dengan lelaki yang baru aku kenal? kesan pertemuan yang berbahaya dengannya saat di pesawat, hingga takdir membawaku bersamanya. Apakah ini adalah bagian dari rencana mu ya Allah?" Gumam Ashma sambil memandangi langit biru yang sedikit silau dipandang.
"Tapi mengapa harus dengan cara yang seperti ini?"
...•••...
Ashma dan Adam duduk di meja makan, tetapi suasana di sekitar mereka terasa tegang dan canggung. Setiap kali sendok atau piring mereka bersentuhan, bunyi berdenting yang dihasilkan semakin memperkuat suasana yang tidak nyaman itu. Ashma dan Adam saling menatap dengan ekspresi tegang di wajah mereka, mereka tidak tahu harus berkata apa.
"Dengar, Ashma," ujar Adam akhirnya dengan suara yang sedikit tegas, "Mungkin kita perlu membicarakan masalah ini. Kita tidak bisa terus-terusan merasa canggung seperti ini."
"Tidak ada lagi yang harus dibahas."
Adam menghela napas sebelum ia melepaskan oto yang terpasang di dadanya kemudian menghapus jejak-jejak makanan di bibirnya dengan tisu, Ashma memperhatikan itu dan melihat Adam yang berubah menjadi serius.
Ashma sempat menunggu Adam membuka suara sambil memakan makanannya akan tetapi lelaki itu belum juga memulai pembicaraannya lagi. Ashma masa bodo dan kembali menghabiskan makanannya yang masih tersisa banyak di piring.
Setelah Ashma selesai dengan makan malamnya dia lalu berniat membereskan bekas makannya seperti kebiasaan Ashma jika seusai makan. Adam yang melihat itu langsung membuka suara. "Tidak usah dibersihkan, biarkan pelayan yang membereskannya!"
Ashma tidak memperdulikan ucapan Adam dan ketidakpatuhannya membuat Adam sedikit frustasi. "Ashma hentikan!" Intrupsi kedua kalinya dari Adam baru membuat Ashma berhenti.
"Aku hanya ingin membereskannya."
Adam menghela napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya sebelum melanjutkan pembicaraan. "Mari kita bicarakan soal pernikahan."
Ashma menatap Adam dengan heran, tetapi setuju untuk membahas topik yang lebih serius itu.
"Mari kita bicarakan tentang pernikahan," ucap Ashma menyetujui. Adam tertegun, secepat itukah Ashma memutuskannya? Wanita itu memang tidak terduga.
Ashma mencoba menetralkan jantungnya yang berdetak kencang. "Aku tidak bisa menikah denganmu." ucapnya langsung. Adam sudah menduga Ashma pasti akan menolak tawaran pernikahannya. "Saya tidak menerima penolakan!"
Raut wajah Ashma berubah marah "Apa-apaan itu?"
"Saya akan tetap menikahi mu!" Adam tetap pada keinginannya.
"Tidak Adam, tidak bisa! Aku sudah pernah mengatakan kepadamu sebelumnya bahwa aku hanya akan menikah dengan lelaki yang seiman denganku dan dapat memegang prinsip-prinsip kepercayaan ku."
Ashma menatap lurus kedalam mata Adam, mencoba menjelaskan dengan tegas. "Adam, aku menghargai perasaanmu yang merasa bersalah, tetapi pernikahan adalah komitmen seumur hidup. Bagi aku, keyakinan agama dan nilai-nilai kepercayaan sangat penting. Aku tidak ingin menghadapi konflik atau kompromi dalam hal-hal yang begitu fundamental."
"Saya tahu, saya juga telah memikirnya sematang mungkin Ashma," Adam meyakinkan Ashma bahwa dirinya tidak mungkin melupakan kepercayaan mereka masing-masing. "Tolong bantu saya untuk bisa memeluk agamamu."
Ashma masih menatap Adam tak percaya, apakah lelaki itu sedang mempermainkan urusan sebesar ini yang menyangkut dengan urusan kepercayaan. Ashma merasa ragu dan tidak yakin dengan apa yang Adam katakan. Dia memperhatikan ekspresi wajah Adam dan mencoba mencari tahu apakah ada tanda-tanda bahwa Adam mungkin tidak serius atau hanya mencoba mempermainkannya. Setelah beberapa saat berpikir, Ashma memutuskan untuk memberi kesempatan pada Adam untuk membuktikan kesungguhannya.
"Dengar, Adam," kata Ashma dengan suara hati-hati, "ini bukanlah hal yang bisa diambil begitu saja. Kepercayaan adalah sesuatu yang sangat penting bagi saya. Jadi, jika kamu benar-benar serius dan ingin memeluk agamaku, kamu harus menunjukkan komitmen yang sungguh-sungguh."
"Jangan jadikan pertanggung jawaban untuk menikahi ku menjadi alasan kamu ingin masuk islam, kamu harus memilihnya atas dasar kemauan mu dan kepercayaanmu."
Adam mengatur napasnya sebelum melanjutkan ucapannya, "saya tidak akan menggunakan pernikahan kita sebagai alasan untuk masuk Islam. Saya yakin bahwa kepercayaan kepada Tuhan dan agama itu adalah suatu keputusan yang sangat pribadi. Saya ingin memilihnya dengan sepenuh hati dan keyakinan sendiri."
Ashma melihat keseriusan dari wajah Adam, tapi memikirkan soal pernikahan Ashma tidak yakin dengan hal itu, apalagi ini semua sangat mendadak.
"Aku tidak tahu apa yang membuat dirimu yakin ingin memeluk islam, atau mungkin kamu sudah mencari tahu sebelumnya, tapi semoga itu adalah hidayah terbaik yang diberikan oleh Allah. Namun, berbicara mengenai pernikahan atas tanggung jawabmu karena kejadian malam tadi aku harus memikirkannya lagi karena pernikahan bukanlah suatu ajang untuk dimainkan, pernikahan adalah sebuah ibadah yang sangat panjang dan aku tidak bisa langsung menerimamu."
Adam berdiri dan menatap Ashma dengan penuh harapan. Dia berharap bahwa Ashma akan melihat niat baiknya dan memberinya kesempatan untuk membuktikan komitmen yang dia tunjukkan.
"Kalau begitu maukah kamu menemani saya bertemu dengan teman lama saya? Dia dapat membantu saya memeluk agama islam." Ucap Adam dengan penuh keseriusan, netra cokelat Ashma melihat kesungguhan dari perkataan Adam.
Ashma masih tertegun atas keputusan Adam namun tak lama itu dia mengangguk sebagai jawaban menyetujui, entah mengapa sosok lelaki itu yang dia kira angkuh dan tidak berperasaan tiba-tiba berubah menjadi selembut ini.
Ashma juga tidak bisa menyalahkan Adam atas apa yang terjadi semalam, itu semua terjadi karena kecelakaan. Adam yang tidak sadar karena pengaruh alkohol dan dia mengira Ashma adalah Lily.
"Mungkin mantan kekasihnya." Monolog Ashma didalam hatinya.
"Kalau itu adalah keputusanmu, aku bersedia menemanimu Adam. Terlepas dari peristiwa semalam aku tidak bisa sepenuhnya menyalahi mu." Lelaki itu tersenyum tipis entah mengapa perasaan Ashma menjadi menghangat padahal semalaman dia ketakutan karena perbuatannya.
"Untuk jawaban soal pernikahan, tolong beri aku waktu satu minggu."
Adam mengangguk kecil, "terima kasih, Ashma."
#TBC