
"Apakah kamu ingin memiliki bayi?"
Ashma menoleh cepat pada Adam dan melihat-nya dengan tatapan tak terbaca.
"Seorang wanita yang sudah menikah pastinya ingin sekali memiliki anak." Tutur Ashma dengan pelan.
Adam menghela napasnya dengan berat. "Kamu jangan berharap lebih kepadaku."
Ashma tidak merespon lagi ucapan Adam. Ashma tidak ingin berdebat dalam kondisi seperti ini.
"Kamu bahkan tidak mahu menyentuhku Adam. Tidak apa-apa aku akan berusaha keras, lihat saja malam ini." Batin Ashma sambil tersenyum menyeringai didalam hatinya.
"Munafik jika saya tidak ingin menyentuhmu Ashma, tapi saya tidak bisa, ada janji yang harus saya tepati."
Senyap mengudara antara mereka yang saling membatin satu sama lain. Membiarkan udara dingin makin membuat suasana menjadi hening.
"Adam..." Ashma membuka suara kembali.
"Hm..." Adam berdehem pelan.
"Adam bolehkah kamu mengantarku ketempat penjualan pakaian wanita? Itu- aku ingin membeli beberapa...em..." cicit Ashma terbata-bata karena dia amat begitu malu mengatakannya.
Adam yang paham maksud Ashma segera mengangguk. "Baiklah."
Ashma tersenyum kecil dengan wajah yang memanas, untungnya Adam peka akan hal itu.
Beberapa waktu berjalan akhirnya mobilnya sampai disebuah toko baju khusus untuk wanita.
"Adam, kau sebaiknya tunggu disini saja,"
Adam segera menolak keinginan Ashma. "Tidak!"
Ashma menghela napas panjang. "Apakah kamu tidak malu mengikutiku untuk membeli pakaian da-
Adam membekap mulut Ashma. "Pergilah."
Ashma terkikik geli dalam mulut yang didekap oleh telapak Adam yang besar.
"Aku tidak akan lama."
Ashma mendorong handle pintu mobil lalu segera keluar untuk membeli kebutuhan pakaiannya.
Ashma yang sudah berada didalam toko mencoba mencari-cari baju yang ingin dibelinya.
"Ada yang bisa saya bantu Nona?" Ucap salah satu pegawai disana.
"Ah ya. Aku ingin melihat baju tidur wanita yang sering dipakai untuk em...itu me-melayani suami," Kata Ashma sedikit malu. Pegawai toko itu tersenyum paham, dia segera membantu Ashma mencari pakaian yang diinginkan oleh pelanggannya itu.
Saat pegawai itu menunjukkan pakaian yang diinginkan Ashma seketika mata Ashma membola sempurna melihat begitu banyak pakaian tidur yang menurutnya sangat kurang bahan, tapi memang seperti itulah pakaian yang digunakan kebanyakan para istri.
Ashma jadi ragu, apakah dia harus membelinya? Ashma sangat tidak percaya diri menggunakan baju kurang bahan itu tapi Ashma sekali lagi meyakinkan dirinya bahwa dia harus bisa menjalani misinya.
"Aku ingin membeli beberapa," Kata Ashma, pegawai wanita itu mengangguk lalu mempersilahkan Ashma untuk memilih-milih model pakaian itu.
Tanpa berlama-lama Ashma segera memilihnya, bahkan dia tidak terlalu berminat pada model pakaian tidur yang disebut lingerie itu, tangan Ashma saja sampai bergetar saat memegangnya.
Setelah Ashma membeli semua yang dia inginkan, dia segera kembali kedalam mobil Adam, lelaki itu sedang menunggu nya diluar.
Ashma mendapati wajah dingin Adam, tanpa menghiraukannya Ashma segera masuk kedalam mobil. Adam yang melihat tingkah aneh Ashma pun segera bergegas mengikuti Ashma kedalam mobil.
...•••...
Malam harinya, Ashma tengah bergulat dengan pikirannya sendiri. Dia menelisik penampilannya yang sangat jauh berbeda dipantulan cermin yang tengah menggunakan lingerie berwarna merah, pakaian kurang bahan itu sangat terbuka sekali hingga memperlihatkan bagian-bagian yang sangat privasi.
"Tarik napas Ashma...kamu harus bisa! Demi pernikahanmu!"
Ashma berusaha percaya diri, bagaimanapun juga Ashma harus berusaha mempertahankan pernikahannya dan meluluhkan hati Adam.
Ashma menarik sangat pelan handle pintu kamar mandi, dia mengintip kecil mencari-cari keberadaan Adam, lelaki itu sepertinya sedang berada diruang kerjanya lantas Ashma menghela napas lega setidaknya Ashma bisa mengumpulkan nyalinya terlebih dahulu.
Ashma sudah berada di kamarnya, dia terus memperhatikan dirinya didalam cermin selama kurang lebih delapan menit namun tak lama dari itu tiba-tiba suara handle pintu terdengar akan dibuka pintunya, sontak Ashma segera menarik selimut besar yang terpasang di kasurnya untuk menutupi seluruh tubuhnya.
Adam yang mendapati Ashma menggulung tubuhnya dengan selimut lantas menampilkan raut kebingungan. Apakah udara dikamar mereka sangat dingin sekali sehingga Ashma menggulung dirinya dengan selimut? Batin Adam.
"Kamu kenapa?" Tanya Adam sambil mendekati Ashma.
Ashma menggeleng pelan dengan wajah yang memerah. "Anu- itu aku..."
Adam yang mulai khawatir takut Ashma ketularan demam darinya langsung memegang pelipis Ashma dengan lembut.
"Suhu badanmu normal tapi wajahmu mengapa memerah?"
Ashma tidak tahu harus menjawab apa tapi demi misinya untuk menaklukkan Adam Ashma menepis rasa malunya. Segera mungkin dia membuka selimut yang menutupi tubuhnya dengan cepat.
Mata Adam seketika membola sempurna mendapati penampilan Ashma yang sangat berbeda dan sangat berani itu.
"A-ashma..." Ucap Adam dengan mengeratkan rahangnya yang tegas. Bagaimanpun juga Adam adalah pria normal, melihat Ashma berpenampilan terbuka seketika otaknya dipenuhi pikiran liar. Adam berusaha memalingkan penglihatannya tapi pesona Ashma membuatnya tidak bisa melepaskan pandangannya kemanapun.
Kepala Adam menjadi sangat pening, Adam berusaha menahan kesadaran dan keinginannya untuk menyentuh wanita itu, dia harus bisa menepati janjinya untuk tidak menyentuh Ashma.
"Kamu ke-kenapa menggunakan pakaian seperti itu?" Tanya Adam sambil menahan keinginannya yang menggebu-gebu.
Ashma sebisa mungkin memberanikan diri sambil terus menampilkan raut wajah yang biasa.
"Memangnya kenapa? Lagian tidak dosa ini kan didepan suami sendiri?"
Adam yang mendengar jawaban Ashma merasa bahwa istrinya sengaja menggunakan pakaian tersebut untuk meruntuhkan pertahanannya.
"Terserah kamu saja Ashma,"
"Saya masih banyak pekerjaan, kamu tidurlah duluan saya tidur diruang kerja saja." Kata Adam masih berusaha meredam gejolak inginnya menyentuh Ashma. Adam juga berdalih alasan tersebut karena dia tidak mahu melanggar janjinya.
Ashma tahu gelagat suaminya maka dengan cepat dia tarik tangan Adam yang ingin beranjak pergi.
Namun Ashma malah bertabrakan dengan dada bidang Adam. Mereka saling berhadapan dan merasakan deru napas mereka masing-masing.
"Apa yang kau lakukan?" Ucap Adam semakin menahan untuk meredam keinginannya.
Ashma mendongak sedikit menatap penuh manik mata Adam yang berwarna biru. Tatapan itu penuh kabut keinginan, Ashma tahu itu.
"Apakah Karena aku berpakaian seperti ini membuatmu terganggu, karena takut tidak bisa menahan ya Adam?" Ucap Ashma dengan pelan, tangannya menyentuh rahang Adam yang dipenuhi rambut-rambut halus baru bertumbuh. Ashma menggodanya dengan perasaan malu luar biasa.
Adam benar-benar berusaha untuk tidak tergoda dengan Ashma, tetapi wanita itu mengapa sangat mempesona sekali apalagi Adam tidak bisa berhenti mencuri-curi pandang pada bibir Ashma yang terlihat merah muda segar.
"Kamu menguji keimananku Ashma!" Suara Adam sangat besar dan serak, lelaki itu makin merasa hilang akal.
"Aku tidak melakukan apapun Adam," Ashma berbisik kecil dengan buaian menggoda sehingga menciptakan atmosfir gila diantara mereka.
Adam segera menyambar bibir Ashma yang merah menggoda itu. Adam hilang akal dan melupakan janjinya untuk tidak menyentuh Ashma, dia ingin berhenti tetapi tubuhnya berkhianat padanya.
Mereka saling terbuai dalam akal yang semakin menginginkan hal yang lebih. Tubuh Ashma menggelinjang hebat kala Adam mencium lehernya dengan sangat lembut.
Adam membawa Ashma menuju ranjang tidur ditengah pergelutan pagutan mereka yang belum juga lepas.
Dalam kilatan keinginan yang membara Adam melepaskan pakaian miliknya hingga terpampang lah tubuh kekar lelaki itu. Ashma menatap malu dengan semu merah yang terpampang jelas di pipinya yang bulat.
Saat Adam ingin kembali mendekati Ashma, dia menahan dada Adam. Adam menampilkan raut kecewa, apakah Ashma mulai menyesalinya? Adam juga tidak ingin berharap lebih karena Adam tidak menginginkan hal ini sebenarnya terjadi.
"Kamu menyesal? Padahal kamu yang menggodaku," Kilah Adam tersenyum kecut.
Ashma menggeleng pelan, "Tidak, bukan itu. Alangkah lebih baik kita melakukan sholat Sunnah terlebih dahulu supaya apa yang kita lakukan di Ridhoi-Nya."
Adam terkesiap mendengar penuturan Ashma. Tetiba dia menjauh dari Ashma, memakai kembali bajunya yang tergeletak dilantai.
"Saya seharusnya tidak melakukan ini," Ucap Adam mengingat janjinya.
Ashma bangkit menutupi tubuhnya dengan selimut, menempati diri dihadapan Adam dengan tatapan kecewa.
"Aku tidak percaya kalau alasannya lagi-lagi hanya untuk tanggungjawab mu. Ada hal lain kan?" Ashma menuntut jawaban dari Adam.
Diam, Adam hanya diam tanpa memberi tahu membuat Ashma semakin kecewa.
Adam hendak melangkah pergi tetapi Ashma mencegahnya, dia menghempas selimutnya dan langsung memeluk Adam.
Adam menegang, lagi-lagi Ashma membuatnya berat untuk melangkah.
"Itu karena Lily kan?" Tanya Ashma didalam pelukan Adam, tidak dia yang memeluknya.
"Begitu sangat spesial ya, aku tahu. Tapi sekarang aku adalah istrimu Adam, bukan Lily!"
Adam menggeram tertahan, menghempas tubuh Ashma hingga terlentang diatas kasur. Mata Adam menyiratkan gairah tertahan juga ditambah raut wajah yang sulit untuk diartikan.
"Ya benar!" Adam kembali melepaskan pakaiannya dan kali ini dia tidak bisa lagi menahannya. Adam tidak peduli lagi pada janjinya untuk tidak menyentuh wanita itu, melihat Ashma sekarang entah mengapa Adam menggebu-gebu ingin sekali menyentuh Ashma.
Tetapi untuk yang kedua kalinya Ashma menghentikan Adam lagi sehingga kali ini Adam benar-benar dirundung kesal.
"Apalagi Ashma? Bukankah ini yang kamu inginkan?!"
"Kamu tidak sabaran Adam, setidaknya baca doa dulu," Adam mengusap wajahnya dengan kasar, Ashma mengapa tiba-tiba menjadi sangat menggemaskan dan Adam benar-benar tidak tahan untuk segera menerkam Ashma.
Mereka sama-sama mengucapkan doa sebelum melakukan hubungan suami-istri. Ashma tertegun lagi mendapati Adam yang sangat fasih dalam mengucapkan doanya.
Setelahnya Adam dan Ashma mulai melakukan kegiatan yang sudah halal untuk mereka, mendapatkan kenikmatan tiada Tara yang terus mereka lakukan berulang pada malam yang penuh peluh itu.
"Terimakasih... Kamu benar-benar telah menjaganya untuk suamimu."
#TBC