A Little Hope For Ashma

A Little Hope For Ashma
39. Ratapan sendu



Ashma tidak melepaskan matanya menatap Adam yang tengah tertidur diatas sofa ruang rawatnya, tubuhnya yang besar membuat ia kesusahan untuk merebahkan diri, dia tidur dengan posisi duduk dan menopang kedua tangannya bersedekap dada.


Ashma masih bersikap dingin kepadanya, tapi jauh didalam hatinya Ashma tidak ingin. Dia selalu merasa bersalah saat mencampakkan Adam.


Jam didinding menunjukan pukul sepuluh malam dan dia tidak bisa tertidur, Ashma sudah berguling kesana kemari tetapi tetap tidak mendapatkan posisi yang nyaman. Dia juga kebelet ingin mengeluarkan hajatnya tetapi kakinya serasa lemas, dia mencoba dan tidak ingin membangunkan Adam, sebenarnya gengsi.


Ashma menurunkan kakinya perlahan menyentuh lantai, dia harus berusaha berlatih supaya dapat sembuh segera. Dia sudah tidak nyaman berada dirumah sakit dengan bau obat-obatan yang menyengat, itu sangat mengganggu penciumannya sehingga selalu mual.


Ashma mencoba melangkah membawa selang infus namun setelah tiga kali melangkah tubuhnya lemas dan mulai limpung, diapun terjatuh, rasanya tidak sakit karena Ashma jatuh diatas tubuh Adam. Suaminya terperanjat kaget saat merasakan kejatuhan seseorang, dia mendapati istrinya yang menghantam tubuhnya.


"Ashma, apa yang kamu lakukan?" tanya Adam cemas, wanita itu nampak meringis. Adam segera membawa tubuh Ashma untuk duduk disofa, dia menatapnya penuh khawatir.


"Kamu mau apa?"


Ashma dengan ringisan dan wajah yang menahan malu membuang pandangannya asal, Adam mendapati istrinya yang nampak blushing, aneh padahal dia tidak menggodanya.


"Kenapa? kenapa dengan wajahmu?"


"Hah A-apa?" cicit Ashma setelah mendapatkan pertanyaan dari Adam.


"Wajahmu memerah," Ashma memegang wajahnya sendiri, ya benar rasanya sangat panas sampai menjalar ke telinganya.


"Tidak, aku itu- aku mau kekamar mandi," cicit Ashma. Mendengar jawaban istrinya Adam menghela nafas dalam, dia tahu pasti Ashma berusaha kekamar mandi sendirian padahal kondisi tubuhnya masih belum pulih.


"Kenapa tidak membangunkan saya?"


Ashma tidak menjawab membuat Adam paham, dia pasti malu. Adam segera memapah tubuh Ashma lalu tangan kirinya memegang selang infus Ashma.


Mereka sampai dikamar mandi, "sudah sampai," kata Adam, Ashma terdiam sejenak. "Berbaliklah Adam!" Adam nampak bingung, untuk apa dirinya berbalik.


"Aku malu!" ucap Ashma terpaksa. Adam mulai paham, dia terkikik geli.


"Padahal saya sudah melihat semuanya," katanya jahil, Ashma langsung melotot mendengar ucapan frontal Adam.


"Adam tolong berbaliklah!" gerutu Ashma tak sabar, akhirnya Adam berbalik dengan malas padahal mereka kan sudah halal jadi sah-sah saja jika melihat hal-hal privasi.


Ashma akhirnya bisa bernafas lega setelah mengeluarkan hajatnya, dia segera membersihkan.


"Aku sudah selesai," katanya setelah Adam menunggu hampir delapan menit, sangat lama dan itu membuatnya sedikit bosan padahal kalau dia tidak berbalik seperti ini Adam pasti tidak akan merasa jengah.


Setelah selesai Adam segera membantu Ashma untuk naik keatas ranjang, dia membenarkan posisi kaki Ashma supaya tidurnya lebih nyaman.


"Sudah pas?" tanya Adam memastikan, Ashma mengangguk kecil.


"Apa ada hal lain yang kau butuhkan lagi?" Ashma segera mengangguk, sudah ditawari jadi secepatnya dia ambil kesempatan penawaran Adam dengan baik.


"Aku ingin minum," Adam meraih gelas disamping ranjang tidur, dia memberikannya pada Ashma.


Adam masih diam tak bergeming disamping Ashma membuat wanita itu ingin tertawa tetapi ia tahan. "Yasudah kembali ke tempatmu!" Ashma mengusir Adam membuat lelaki itu mendesah berat.


Adam dengan langkah Gontai kembali ke sofa yang sempit untuk ia tiduri itu, maklum tubuhnya tinggi dan besar.


Ashma masih juga belum tidur karena diam-diam memperhatikan Adam yang tidak nyaman ditempatnya.


"Adam," panggil Ashma membuat Adam segera membuka matanya, dia tidur ayam.


"Kemarilah!" ucap Ashma menepuk kasur disebelah kiri, mendapatkan penawaran mahal itu Adam segera mendekati Ashma dengan wajah yang berbinar.


"Emang boleh?" Adam masih tidak percaya.


"Ranjang ini lumayan lebar jadi tidurlah disini,"


"Disampingmu?" sekali lagi Adam bertanya, membuat Ashma gemas ingin mencubit perut kotak-kotak nya.


"Kalau tidak mau sana pergi lagi ketempat mu!" ucapnya sambil berdecak. Adam tentu langsung menggeleng.


"Tidak, saya tidak ingin tidur disana!"


Adam segera naik keatas ranjang, berbaring disebelah istrinya dengan nyaman dan juga hangat.


"Ingat ya, aku mengijinkan mu tidur disini karena tidak mahu besok pagi kamu mencak-mencak tidak jelas!" jelas Ashma menyimpan gelitik hatinya yang ingin tertawa.


Adam mengangguk, lelaki itu dengan tidak tahu malunya langsung memeluk pinggang Ashma, dia juga mengelus perut kembung istrinya dengan sayang.


Ashma tidak protes justru dia malah mengantuk dan akhirnya dapat terlelap tidur. Ternyata bayinya merindukan ayahnya, dasar tidak bisa diajak kompromi calon bayinya ini.


Adam memperhatikan wajah Ashma yang sudah tertidur dengan damai, entah dorongan dari mana Adam mengecup sekilas bibir merahnya.


"Kalau polos seperti ini saya jadi ingin menerkam mu!"


...•••...


Pagi segera menyambut dengan riakan udara dingin yang menusuk kulit wajah Adam, dia tengah menelpon seseorang. Adam nampak begitu serius dan juga sesekali melirik kearah Ashma tak jauh dari tempatnya berdiri, dia sedang sarapan.


Adam memikirkan cara untuk membawa Ashma ketempat yang aman terlebih dahulu. Wanita itu tidak boleh tahu, takut akan kepikiran dan berakibat pada kesehatannya lagi.


Adam sudah bersiap dengan hari yang akan datang itu, dimana Daxter sudah bergerak untuk memburu apa yang dia inginkan, sekarang Adam akan bertindak dengan serius tanpa meninggalkan sedikit celah.


Setelah menelpon seseorang Adam kembali mendekati Ashma yang masih sarapan, wanita itu jauh lebih segar dari sebelumnya.


"Adam," panggil Ashma.


"Hmm,"


"Mau pulang!" rengek Ashma, sedari tadi dia mengatakan itu. Adam menghela nafas lagi.


"Kamu belum pulih!"


"Udah. Aku mau pulang!" Ashma tetap kekeh. Adam berpikir sejenak, baiklah Adam memenuhi keinginan wanita itu dan ia akan segera membawa Ashma ketempat yang lebih aman.


"Kalau itu maumu baiklah, tapi saya akan konsultasi dulu dengan dokter Miranda dan jika sudah diperbolehkan saya akan segera mengurusi kepulanganmu." tutur Adam, dia mengusap lembut kepala Ashma yang tertutup hijab.


"Hmm baiklah."


Adam pergi untuk menemui dokter Miranda, syukurnya Ashma diberikan izin untuk pulang tapi dia tetap harus rutin kontrol dan cek kandungannya.


"Baiklah Dokter, terimakasih."


"Sama-sama tuan Adam."


Adam segera menyelesaikan administrasi beserta kepulangan Ashma, dia harus bergegas segera namun matanya menatap sosok tak asing, dia si pria bedebah yang sangat ia benci, Edward.


Adam semakin yakin untuk membawa Ashma segera pergi dari rumah sakit itu, keberadaan Edward disana bisa membahayakan Ashma dan juga Lily apa bila wanita itu tiba-tiba datang untuk bertemu Ashma.


"Sial!" Adam mengumpat kesal, dia tidak boleh terlihat oleh Edward.


Ditempat rawatnya Ashma tengah menyiapkan kepulangannya, membereskan tas ukuran sedang untuk memasukan beberapa baju salin. Ashma tersenyum kecil melihat perutnya yang semakin bengkak juga berbobot.


"Kita pulang ya nak,"


Ditengah kesenangan nya itu Ashma cepat menoleh kearah pintu mendapati Adam yang datang dengan raut wajah tegang.


"Ada apa?"


Adam tidak menjawab juga membuat Ashma semakin bingung, dia akhirnya tidak bertanya lagi karena lelaki itu dalam keadaan cemas.


Suster datang kedalam ruangannya, membawa kursi roda untuk membantu Ashma. Adam segera memangku istrinya dan meletakkannya dengan hati-hati dalam kursi roda.


Lelaki itu tidak juga membuka suara, dia fokus untuk mempersiapkan diri pergi dari sana. Sepertinya terjadi sesuatu sampai perasaannya tak tenang seperti itu.


Ashma berhasil keluar dari ruang rawatnya dan tertegun mendapati beberapa pengawal Adam yg sudah berdiam diri di luar pintu, tetapi tidak ada Jhon.


Mereka seperti anggota Paspampres yang sedang menjaga seorang presiden, itu membuat Ashma sedikit pening kepalanya karena memikirkan gaya hidup Adam yang sesusah ini.


Ashma akhirnya masuk kedalam mobil bersama Adam, suaminya segera meminta pengawalnya untuk melajukan mobil, meninggalkan area rumah sakit.


"Ashma melihat kearah belakang, dia menghela nafas berat karena lagi-lagi pengawalan ketat dari pengawalnya membuatnya dia risih seakan menjadi orang yang begitu penting, dia mungkin bukan orang itu tetapi suaminya tentu saja adalah orang yang begitu berpengaruh.


"Tenanglah, ini demi keselamatanmu!" ucap Adam setelah melihat wajah Ashma yang ditekuk masam.


Ashma sedikit menghangat, dia benar-benar dijaga sedemikian rupa oleh Adam karena keselamatannya. Ashma tetapi tidak terlalu peduli karena dia tidak tahu bahaya apa yang tengah menimpanya. Ashma hanya berusaha berpikir rasional dan tidak terlalu peduli karena dia yakin bahwa ia selalu dalam lindungan-Nya.


Ashma mengingat sesuatu, dia ingin bertanya pada Adam. "Adam, kemana Jhon?"


Kuping Adam berdengung nyeri mendengar pertanyaan istrinya yang tidak penting itu. "Kenapa kau menanyakan dia?" tanya Adam berbalik dengan sensi.


"Tidak, aku hanya bertanya saja." sahutnya begitu saja. Adam mengerang kesal lalu menjatuhkan tatapannya keluar jendela mobil.


Ashma tidak peka bahwa lelaki itu tengah kesal dan menahan diri untuk tidak mengumpat. Bukan karena Ashma awalnya tetapi emosional ini terjadi akibat melihat Edward, namun Ashma menambahinya karena seenaknya bertanya keberadaan lelaki lain disaat dia sedang bersama suaminya.


"Kenapa arahnya berbeda, ini bukan jalan untuk menuju Mansion mu Adam?!" Ashma tentu peka karena seingatnya arah Mansion nya bukan ketempat yang sekarang menjadi rute mereka.


"Ya, kamu perlu istirahat ditempat yang kamu sukai supaya anak kita juga bahagia," sahut Adam, dia berubah menjadi lembut kata-katanya.


Ashma tertegun sebentar, sepertinya ada yang bermasalah dengan lelaki itu. Dia memberikan kelembutannya sedari rumah sakit bahkan tidak pernah lagi menampilkan raut dingin saat berbicara dengannya.


Ashma berusaha untuk tidak terbawa suasana, dia tetap harus berjaga-jaga sebab lelaki itu mudah memperdaya.


"Ashma," lembut, panggilan itu begitu lembut meniup telinganya.


"Hmm,"


Adam meraih telapak tangannya, dia memancarkan ratapan sendu. "Tolong panggil saya dengan sebutan 'Mas' lagi!"


#TBC