A Little Hope For Ashma

A Little Hope For Ashma
37. Takut ditinggalkan



"Jadi, kenapa kamu harus tidak nyaman mendengarnya?" Lily bertanya pada Adam, mereka hanya berdua duduk ditepi kolam renang dan tentu saja dengan pengawasan bibi Marianee yang tidak jauh duduk dikursi santai.


Adam terjebak dalam emosinya terhadap Ashma tadi pagi saat mereka tengah sarapan. Sialnya gara-gara Adam tidak terima Ashma mengatakan hal demikian bahwa mereka akan segera berpisah dan tidak hidup bersama lagi, itu menyinggung perasaannya.


Penafsiran yang dapat Adam kemukakan adalah bahwa ia adalah suami yang meninggalkan istrinya begitu saja ditengah kehamilannya dan tidak bertanggungjawab atas nafkah lahirnya.


"Tidak, hanya saja percakapan seperti itu seharusnya tidak terjadi ditengah-tengah aktivitas sarapan ataupun dijam makan apapun!" Adam mengatakannya mencari aman, tidak mungkin juga dia jelaskan sebabnya segamblang itu kalau mereka adalah sepasang suami-isteri pada Lily.


Lily tetap tidak puas atas jawaban Adam. "Tapi kau tidak usah membentaknya seperti itu, dia wanita dan kau juga tidak berhak memarahinya lagipula dia orang lain dan bukan istrimu!"


Adam mencari-cari jawaban yang tepat, "apa penjelasan ku masih kurang jelas Lily?"


Lily memainkan air, dia menatap nya tengah bergoyang ria akibat sentuhan tangannya. "Apa kau memiliki perasaan kepadanya?" Lily beralih menatap Adam yang nampak ragu-ragu, itu terlihat dari sorot matanya.


Adam sontak menampilkan raut wajah semrawut, "Omong kosong apa yang kau tanyakan itu Lily. Bukankah kau sudah tahu untuk siapa cintaku ini?!"


Lily mendesah berat, "semuanya bisa pudar Adam, lagipula setelah aku menghilang selama satu tahun apakah masih tersisa rasa cintamu itu padaku hah?"


Adam berdecak kesal, "dari dulu sampai sekarang masih tetap sama!"


Lily tertawa sumbang, "sudahlah Adam, jangan memaksakan kehendak. Lagipula aku tidak bisa menerima lelaki yang tidak bisa membaca isi hatinya sendiri."


Adam menatap sendu Lily, kalau saja ia tahu bahwa mereka hampir saja menikah tetapi Lily sendiri memilih menyelamatkan nya dengan caranya sendiri.


Adam selalu mengingat hari dimana pernikahan nya gagal, saat Lily lebih memilih Edward dan diam-diam menyelamatkannya. Wanita itu berani bertaruh nyawa untuk menikah dengan lelaki berdarah dingin, bukankah itu sudah cukup membuktikan bahwa Lily mencintainya, tetapi dia malah menampiknya sekarang. Adam maklum karena Lily hilang ingatan dan belum mengingat yang sebenarnya, setelah dia mengingat Adam yakin Lily pasti akan mengingat cinta mereka.


Ashma didalam kamar merenungi kejadian tadi pagi, Adam membentaknya sekeras itu hanya karena jawaban Ashma pada pertanyaan Lily yang menanyai perihal suaminya.


"Kenapa kau mengatakan seperti itu!" teriak Adam dengan nada suara yang tinggi membuat Ashma terkesiap ditempatnya.


Seharusnya itu tidak membuat Adam murka, dan tidak mempermasalahkan apa yang Ashma katakan bahwa mereka memang akan berpisah.


Ashma memijat keningnya yang berdenyut nyeri, memikirkan tentang hubungannya sekarang dengan Adam membuat kepala Ashma sakit akhir-akhir ini. Perutnya juga sering kram, Ashma sempat bertanya pada dokter kandungan melalui telepon katanya pemicunya itu adalah karena stress, Ashma segera diminta dokter untuk segera periksa.


"Tuan, Nona masih juga tak kunjung keluar dari kamarnya padahal ini sudah siang dan dia belum mengisi perutnya," ujar pelayan itu.


Adam segera beranjak dari kursi kerjanya dan mengambil nampan yang berisi makanan untuk Ashma.


"Berikan padaku?" Adam menuju kamar mereka, dia membuka handle pintu dengan hati-hati. Pemandangan yang pertama kali ia lihat adalah Ashma yang tengah tertidur dengan bermandikan darah disekitar daerah tubuh bawahnya. Mata Adam membelakak kaget, ia langsung menaruh nampan makanan diatas nakas dan segera menuju ranjang tidur.


"Ashma," panggil Adam halus dengan guncangan kecil. Dia benar-benar takut mendapati Ashma tak kunjung bergerak.


Adam langsung menggendong tubuh istrinya yang lemas, Adam akan membawanya kerumah sakit. Dia diliputi ketakutan.


Jhon yang mendapatkan penampakan mengerikan itu langsung bergegas menuju Adam yang tengah membawa istrinya menuruni tangga.


"Tuan Ada apa dengan Nona Ashma, mengapa dia berdarah?" Jhon tak kalah cemas melihat kondisi Nona nya.


"Saya tidak tahu. Jhon tolong siapkan mobil!" Jhon segera beranjak dari tempatnya untuk menyiapkan mobil.


Adam segera membawa Ashma masuk kedalam mobil, "Jhon cepatlah jalan!" suara Adam nampak serak, dia tidak tega melihat Ashma dalam keadaan lemah seperti ini.


"Bertahanlah Ashma," gumam Adam parau, dia membelai surai wajah Ashma yang pucat.


Jhon semakin menampilkan wajah tak suka melihat ketakutan di wajah Adam yang munafik itu. Nonanya seperti itu pasti karena ulahnya sendiri.


"Jhon lebih cepat lagi!" Teriak Adam frustasi. Tangan Ashma semakin dingin dan Adam benar-benar takut.


Ingatan saat melihat ibu kandungnya bersimpah darah kembali terlintas didalam kepalanya, Adam takut ditinggalkan lagi dalam keadaan seperti itu.


"Tuan sudah sampai," ucap Jhon memberitahu. Adam langsung membawa Ashma untuk segera ditangani oleh dokter.


Sudah beberapa kali Adam mondar-mandir tak tenang menunggu pintu pemeriksaan Ashma terbuka, dia terus berdoa didalam hatinya semoga istri dan anaknya dapat selamat.


Ponsel Jhon berdering menampilkan panggilan masuk dari Nyonya Marianne, "Ya nyonya,"


"Tuan Adam masih menunggu hasil pemeriksaan,"


"Baiklah," Jhon mematikan sambungan itu, dia segera memberi tahunya pada Adam tetapi lelaki itu acuh seakan tidak mendengar, dia hanya fokus menatap pintu pemeriksaan Ashma.


"Tuan tenanglah, Nona Ashma dan bayinya pasti akan baik-baik saja," ucap Jhon berusaha menenangkan Adam yang sudah frustasi.


"Bagaimana saya bisa tenang sedangkan didalam sana Ashma tengah menderita!" Lelaki itu tidak lagi menyerukan karismanya, dia tampak lesu dan berantakan. Jhon tak pernah melihat lagi Adam yang seberantakan ini, terakhir kalinya saat dia kehilangan Lily.


Setelah menunggu beberapa saat akhirnya pintu ruangan Ashma terbuka juga Adam langsung menghampiri dokter Miranda yang keluar dari ruangan itu.


"Dokter Miranda, bagaimana dengan Ashma dan bayinya?" tanya Adam cepat, dokter Miranda menatap nya serius.


Adam segera masuk kedalam, dia melihat Ashma yang tengah terbaring lemas diatas brankar dengan selang infus disebelahnya.


Ashma menatap wajah Adam sekilas lalu beralih kearah lain, tatapan wanita itu lebih dingin dari sebelumnya.


"Bagaiman keadaanmu?" tanya Adam, dia meraih telapak tangan Ashma dengan lembut.


Tidak ada respon dari istrinya, Adam berusaha mengerti lalu ia beralih untuk mengusap perut Ashma.


"Anaknya Daddy baik-baik saja kan?" Adam mencoba berinteraksi dengan calon bayinya itu yang mampu mengalihkan perhatian Ashma.


"Maaf ya sayang Daddy tidak bisa menjaga Mommy dan kamu dengan baik," lirih Adam lelaki itu terlihat menahan air matanya, Ashma sampai tidak percaya melihat mata lelaki itu berkaca-kaca.


Adam memunggungi Ashma, dia mengusap matanya yang tengah menahan genangan air mata.


"Dasar gengsi!" batin Ashma sebal.


Dokter Miranda datang dan meminta Adam untuk ikut keruangannya, sebelum pergi Adam mengecup sekilas kening Ashma, wanita itu tetap masih menampilkan raut wajah dingin.


Didalam ruangan dokter Miranda, Adam tengah mendengar penjelasan tentang keadaan Ashma sekarang ini.


"Ashma mengalami pendarahan yang cukup serius, tapi syukur kau cepat membawa Ashma tepat waktu untuk segera ditangani. Kandungannya masih sangat rentan dan lemah ini juga dipicu karena sang ibu stress juga bisa terjadi karena adanya goncangan yang berat,"


"Adam apakah kau berhubungan baik dengannya?" tanya dokter Miranda merujuk pada aktivitas suami istri.


"Tentu saja, mana mungkin saya kasar,"


"Apa ada aktivitas berat yang dia lakukan?" tanyanya lagi. Adam mengingat kejadian malam tadi sepertinya gara-gara Ashma yang mencoba menyelamatkan diri dari supir jahat itu jadi berdampak besar bagi kandungannya.


"Dasar bedebah!" batin Adam menghardik perbuatan menjijikan supir taxi itu, lihat saja Adam pasti membuatnya tersiksa didalam penjara.


"Ya, dia malam tadi harus berlari karena ada yang ingin menjahatinya," ujar Adam, dokter Miranda peka maksud lelaki itu karena dokter Miranda mengenal Adam, lelaki itu pasti memiliki banyak saingan bisnis disekitarnya dan berimbas pada keselamatan istrinya.


"Kau benar-benar harus menjaganya sebaik mungkin, kejadian seperti itu tidak boleh terjadi lagi! Satu hal lagi, Ashma tidak boleh stress!"dokter Miranda memberikan peringatan supaya Adam menjaga Ashma dengan baik.


"Tentu, itu tidak akan terulang lagi, saya juga akan menjaganya dengan baik!"


Dokter Miranda memberikan hasil pemeriksaan kepada Adam, "kau bisa mengambil obatnya. Ashma akan segera dipindahkan keruang rawat, kita akan menunggu perkembangan nya setidaknya menunggu selama dua hari."


Adam mengangguk paham lalu pamit untuk menebus obat dan membayar Administrasi. Setelahnya dia langsung menuju ruangan rawat Ashma, dia sudah dipindahkan.


Ashma mencoba meraih gelas diatas nakas namun ia kesulitan sebab gelas itu letaknya lumayan jauh, Adam yang sudah sampai diruangan istrinya segera membantu Ashma untuk mengambil gelas.


Ashma meraih gelas berisi air putih dari tangan Adam. Setelahnya Adam meraih kembali gelas bekas istrinya minum.


"Apa kau lapar?" tanya Adam, Ashma mengangguk kecil seingatnya dia belum makan siang.


"Suster akan segera membawanya," kata lelaki itu dengan senyuman tipis, tatapannya berubah hangat dan sangat menganggu bagi Ashma.


Tidak lama itu suster datang membawa makanan khusus untuk pasien, dia meletakanya diatas nakas.


"Biar saya saja," kata Adam mengambil alih makanan yang dibawa suster.


"Kalau begitu saya permisi," suster itu berlalu pergi setelah menyelesaikan tugasnya.


Adam duduk disebelah Ashma, dia berniat menyuapi istrinya tetapi Ashma segera menolak. "Biar aku saja!" istrinya masih berbicara ketus padanya, Adam berusaha sabar dan tidak terlalu mengambil pusing.


Ashma berusaha menyendoki sendiri tetapi tangannya sangat lemas hingga sendok yang ia pegang kembali jatuh.


"Jangan keras kepala! biar aku yang menyuapimu!" sergah Adam gemas. Mau tidak mau Ashma harus disuapi oleh Adam, ah itu sangat menjengkelkan.


Ashma meraih suapan dari sodoran tangan Adam, dia mengunyahnya sambil berasa-rasa. Ashma merasa tidak berselera karena makanannya tidak pas berada didalam lidahnya.


"Mengapa?" tanya Adam penasaran karena melihat raut wajah Ashma seperti menahan sesuatu.


"biarkan ini jadi suapan terakhir!" kata Ashma karena semakin tak enak makanan itu berada didalam mulutnya. Adam langsung mengerti namun ia tidak ingin Ashma makan sedikit sekali.


"Kau harus menghabiskan nya!"


"Tidak mau!" tolak Ashma tetap tidak ingin lagi.


"Yang makan bukan cuma kamu tapi ada bayi kita juga!" Ashma langsung teringat, ya dia seharusnya tidak egois.


"Baiklah tiga sendok lagi!"


#TBC