A Little Hope For Ashma

A Little Hope For Ashma
48. Bangunan tanpa pondasi



Ashma menghela nafas berat, dia menunggu kepulangan Adam entah jam berapa dia akan sampai tapi Ashma rasanya tidak sabar,


Dia menunggu di depan teras sambil memandang indah pemandangan didepan rumah kecil yang sangat tenang ini.


Dia memikirkan segala hal yang terjadi belakangan ini padanya, ada banyak hal-hal yang tidak terduga dan tidak pernah ia pikirkan sampai sejauh ini.


Ashma menatap perutnya yang semakin membesar, dia sudah memutuskan untuk bersabar dan menunggu lagi, sampai perpisahan mereka benar-benar terjadi dan sampai hari itu datang dia tidak akan melirik lagi kebelakang.


Ashma tau, walaupun dirinya mencoba kuat dan terlihat baik-baik saja itu tidak cukup untuk menghilangkan rasa kesepiannya.


Ashma juga tahu Adam selalu ada bersamanya, raganya, dia juga memberika perhatian dan menjaganya dengan baik tapi Ashma tidak pernah mendapatkan kepuasan atas segala pemberiannya, dia tidak membutuhkan  belas kasihan seperti itu dia hanya ingin dicintai oleh Adam hanya ingin dicintainya dengan tulus.


Ibadah pernikahan mereka dari awal saja sudah tidak sejalan, pondasi yang sedang dibangun sedari awal tidak pernah mau berdiri sebab penyangganya tidak pernah bisa terselesaikan untuk dibuat, itu adalah perumpamaan pernikahan mereka.


Ashma harus mengakui bahwa dirinya terlalu naif mengharapkan cinta yang tulus dari Adam, dia memang senaif itu, tapi demi Tuhan dia berusaha untuk menumbuhkan perasaan Adam kepadanya. Ashma tidak pernah lupa meminta kepada sang maha pembolak balik hati untuk kebaikan pernikahannya, dia tetap berusaha. Entah seperti apa endingnya nanti, tapi Ashma selalu yakin bahwa takdir Allah itu lebih baik dari pada segala rencana yang ia buat, itu pasti akan sangat indah.


“Lima bulan,” bisisknya pada langit terang yang menyilaukan matanya.


Dia mengingat saat pertama kali bertemu dengan Adam, tidak pernah mengira pria berwajah dingin yang ia temui di pesawat waktu itu dengan segala huru-haranya ternyata itu cara Tuhan mempertemukan mereka.


Adam sekarang adalah bagian dari takdir Ashma, jadi mana mungkin Ashma akan menyerah begitu saja pada Adam. Tidak, itu adalah jawabannya. Dia akan berusaha mencoba meretakkan ke keras kepalaan lelaki itu terhadap cinta semu kepada Wanita yang tidak menginginkannya, demi tuhan Ashma akan berusaha sebisanya, perihal hasilnya biarlah Allah yang menentukan.


“Nona…”


Suara bariton yang cukup besar melepaskan Ashma dari lamunannya. Jhon berdiri diantara tangga dengan wajah sedikit menerka-nerka ada apa dengan Nonanya.


“Ah maaf Jhon.” Katanya dengan sedikit menunduk sebab mata lelaki itu melihatnya dengan begitu intens, Ashma hanya berusaha menjaga pandangannya.


“Apa kau baik-baik saja Nona?” tanya Jhon khawatir, sedari tadi ia memanggil nama Ashma namun Wanita itu terlalu asik bermain dengan pikirannya sendiri sehingga tidak mendengar suaranya memanggil.


Ashma menggeleng kecil dengan seulas senyuman tipis. “ Aku tidak apa-apa, hanya saja terbawa suasana oleh pemandangan yang luar biasa ini.”


Jhon menghembuskan nafas lega, setelahnya dia tidak ingin lancang bertanya yang lain-lain. Kedatangannya adalah untuk mengambil berkas didalam ruang kerja Adam.


“Maaf Nona, saya ingin meminta izin pada nona untuk mengambil berkas di ruang kerja tuan Adam,” Ucapnya meminta izin, Ashma segera memberinya jalan.


“Ya, silahkan Jhon.”


Jhon beranjak dari tempatnya untuk masuk kedalam ruang kerja milik Adam, dia mengambil berkas untuk pekerjaannya.


Sebelum Kembali ketempatnya, Jhon memikirkan sejenak tentang Ashma. Nonanya nampak tidak bersemangat, Jhon kira Adam membuat hatinya kacau balau lagi ditengah-tengah kepergiannya.


Sebenarnya ini benar-benar bukan ranahnya tapi melihat wanita sebaik Ashma terus tertekan seperti itu mana bisa dia membiarkannya.


Jhon melangkah kakinya keluar ruang kerja Adam, matanya langsung tertuju pada Ashma. Jhon masih merasakan raut wajah yang sedih itu.


“Saya sudah selesai mengambil berkasnya nona, jadi terima kasih,” Ashma mengangguk kecil dia sedari tadi tengah memikirkan apa yang ingin ia tanyakan pada Jhon tapi Ashma ragu-ragu.


“Sepertinya nona ingin mengatakan sesuatu?” tebaknya, Jhon rasa memang seperti itu.


Ashma mengerjapkan matanya, Jhon sepertinya membaca gelagatnya. “Hmm, ya. Jika itu tidak membuat pekerjaanmu terganggu karena aku.”


Jhon segera menggeleng, mana mungkin dia menolak kesempatan ini, “ tidak, saya memiliki waktu luang. Jadi apa yang ingin nona tanyakan?”


Ashma memilin-milin ujung hijabnya, dia Nampak ragu-ragu tapi penasaran jika tidak ditanyakan.


“Itu- mengenai suamiku.” Katanya dengan halus membuat Jhon geli mendengar kata pengakuan suami seperti Adam dari istri sebaik Ashma.


“Tentu saja, saya akan mendengarkan atau mungkin menjawab apa yang nona ingin tanyakan.” Jhon menerbitkan seulas senyumannya.


Ashma melihat suasana mengobrol mereka yang sedikit kurang nyaman maka dari itu Ashma meminta Jhon untuk duduk disebrang meja yang menjadi pembatas antara mereka.


Jhon turut mengikuti kemurah hatian Ashma, dia duduk dengan tenang dan sedikit perasaan Bahagia.


Ashma mengambil udara untuk bernafas, dia sedikit tidak yakin tapi tetap ingin bertanya.


“Ini mengenai dirinya, aku hanya berharap kamu mau memberitahu sedikit saja. Mungkin ini terkesan kurang pantas tapi aku tidak pernah bisa mengerti isi kepala Adam ataupun perasaannya.” Itu adalah ucapan malang yang berhasil ia lontarkan pada Jhon, pengawal kepercayaan Adam dan entah bagaimana Ashma ingin sekali bertanya kepadanya.


“Jika itu yang Nona inginkaan maka saya akan memberitahu sedikit, tidak lebih dan biarkan itu menjadi urusan pribadi kalian.” Ucapnya dia masih tetap menempatkan kesopanannya.


Ashma tentu paham, dia mengucapkan terima kasih padanya, setidaknya Jhon telah membuktikan bahwa dia memegang teguh kesetiannya pada Adam.


“Jadi apa yang ingin Nona tanyakan?”


“Sebenarnya ini hanya pertanyaan yang tidak penting tapi aku membutuhkan jawaban dari sudut pandang lain,” Katanya dengan wajah yang serius.


“Jhon apa menurutmu Adam benar-benar mencintai Lily?”


Jhon terkekeh pelan, “Dia sangat mencintainya tapi dia seorang yang memiliki perasaaan kepada adik tirinya sendiri dan saya rasa itu kurang pantas. Singkatnya cintanya bertepuk sebelah tangan.” Jhon begitu miris saat mengatakan fakta itu.


Ashma terlihat seperti memiliki harapan, dia bertanya-tanya didalam dirinya apakah dia masih memiliki harapan?


Jhon melihat raut wajah Ashma yang sedikit putus asa, “Apa nona ingin menyerah begitu saja untuk menggeser posisi nona Liliy didalam hatinya? Lagipula menurutku mereka tidak akan pernah bisa bersama, karena Lily juga sudah memiliki seorang suami. Bukankah itu sudah termasuk kedalam perselingkuhan?"


Ashma terdiam, perkataan Jhon benar. Dia terlalu abai pada kebenaran itu padahal dia juga sudah ikut berdosa karena membiarkan nya.


"Ya Allah..." lirihnya dengan wajah muram.


Jhon bangkit dari duduknya dia pamit pada Ashma untuk kembali ke tempatnya.


"Tapi kalau nona ingin menyerah, saya bisa membantu pelarian Nona. Hanya saja itu bukanlah keputusan yang baik untuk situasi sekarang. Nona pasti tahu bahwa nyawa Nona tengah terancam jadi saya harap Nona dapat bertahan sebentar lagi." Itu adalah ucapan terakhir dari Jhon sebelum dia pergi untuk kembali keruang kerjanya.


Ashma tentu tidak akan gegabah lagi dalam bertindak, ini juga demi keselamatan anaknya yang belum lahir, demi sang calon bayinya dia akan berusaha untuk bertahan.


...•••...


"Menyebalkan!"


Lily melempar handphone nya keatas kasur, dia begitu kesal pada Adam. Lelaki itu malah semakin mempersulitnya sekarang untuk bertemu dengan Edward, itu semua gara-gara pengawalnya Jhon diganti dengan pengawal lain yang lebih acuh tak acuh dari Jhon, Lily saja muak melihat wajah Gerald si pengawal arogan itu.


Dia tidak memiliki ruang gerak apapun untuk bertemu Edward karena Gerald, dan dia begitu marah pada Adam sampai-sampai ditelepon tadi dia memaki-maki nya dengan penuh emosi.


Ditengah gejolak emosinya itu tiba-tiba ponsel Lily berdering, disana terdapat telepon masuk dari Edward langsung saja Lily mengangkatnya.


"Hallo Ed," katanya dengan wajah memelas.


"Baby apa kau baik-baik saja? Nafasmu terdengar tidak beraturan." tanya Edward dari balik telepon dengan raut wajah cemas.


Lily mendesah berat, "tidak Ed. Aku tidak baik, ini semua gara-gara Adam!"


Edward menarik keningnya hingga berkerut. "Apa yang dia lakukan?" nada suara Edward berubah menjadi dingin.


"Dia mengganti Jhon dengan pengawal lain. Ruang gerakku untuk bertemu denganmu semakin sulit Ed!" Gerutunya amat begitu kesal.


Edward menukik senyuman dibalik telepon, "apa kau marah hanya gara-gara itu saja baby?"


Lily mengernyitkan dahinya bingung, "tentu saja Ed, bukankah kita tidak bisa lagi bertemu?"


Edward tertawa lepas itu semakin membuat Lily bingung sekaligus kesal. "Apa si Ed, kau jangan membuatku semakin kesal!"


Edward berhenti tertawa dia kembali fokus pada percakapannya dengan Lily. "Kau hanya perlu tenang dan menunggu sayang, kita pasti akan selalu bisa bertemu."


Lily ber oh ria, "benarkah? Apa itu sangat mudah bagimu?" Lily sedikit meremehkan Edward.


"Ada banyak jalan menuju Roma, baby!" Katanya dengan keyakinan penuh.


Lily berdecak kesal, "hah aku lupa kalau kamu ini lelaki cerdik."


"Sure." (Tentu)


"Tetap tenang Lily ku, kau tidak usah khawatir takut tidak bisa bertemu dengan suamimu lagi, karena itu tidak akan pernah aku biarkan terjadi!" Edward begitu sangat percaya diri dan Lily menyukai keberanian dan rasa percaya dirinya.


#TBC