
"Brengsek!"
Adam menatap Ashma dengan tatapan dingin, ia menyentuh wajahnya yang terasa gamang akibat tamparan keras Ashma. Emosi Wanita hamil itu meletup-letup seperti lahar gunung yang akan menyembur.
“Mudah sekali kamu mengatakan hal itu. Ini anakku Adam!” pekiknya memburu, meninggalkan embel-embel ‘Mas’ saking hatinya benar-benar hancur berkeping-keping.
Adam menghela nafas berat, ia menetralkan pikirannya yang hampir kacau. Ashma sudah berada diambang batas kesabarannya membuat Adam turut meredam emosi, karena bagaimanapun dia sedang mengandung anaknya.
“Kita akhiri pembicaraan ini sampai disini. Kau tidak perlu lagi membuang-buang energimu untuk marah padaku, saya tidak ingin terjadi apa-apa pada dia” tunjuk Adam pada kandungan Ashma.
Lelaki itu segera melangkahkan kakinya untuk pergi dari kamar mereka, meninggalkan Ashma dengan segala rasa marahnya.
“Dasar lelaki egois!” Hardik Ashma begitu kecewa.
Dia tidak menyangka Adam akan mengatakan hal jahat seperti itu, dia ingin memisahkan ibu dari anaknya. Ashma menangis sejadi-jadinya, dia merengkuh perutnya dengan perasaan takut, takut saat bayinya lahir Adam akan mengambilnya.
“Engga, gak boleh! Ini bayiku dan Adam tidak boleh mengambilnya dariku!” Ashma meracau ketakutan, dia harus berpikir supaya bisa melindungi bayinya. Adam sudah tidak waras ingin memisahkan mereka.
Dalam ruang kerjanya Adam Tengah duduk bersandar di kursi miliknya, ia memijat keningnya yang berdenyut. Putaran ingatan tadi siang terus menghantui pikirannya saat Ashma berani menamparnya.
“Bodoh! Seharusnya kau tidak mengatakan itu brengsek!” gumamnya pada diri sendiri. Adam baru sadar bahwa perkataannya untuk mengambil hak asuh calon anaknya adalah suatu kesalahan besar. Sekarang Ashma benar-benar murka kepadanya dan ia tidak tahu apakah Wanita itu mau memaafkannya.
Seseorang mengetuk pintu ruang kerja Adam, “Adam ini Mama,”
Adam membuka ruang pintu kerjanya, Bibi Marianne menampilkan raut wajah cemas. “Mama tadi mendengar keributan didalam kamarmu, untungnya Lily berada di kamarnya sedang tidur jadi dia tidak mendengar. Kalian ada masalah?”
Adam membawa bibi Marianne untuk duduk di sofa. Adam menampilkan wajah lesu hanya pada Mamanya, dia selalu menuahkan segala kesedihannya pada bibi Marianee. “Adam sudah melontarkan perkataan kurang ajar padanya Ma” lirih Adam memberitahu, bibi Marianne cukup peka permasalah mereka akhir-akhir ini.
“Kamu mengatakan apa padanya?” tanya bibi Marianne, Adam menunduk dan merenung.
“Aku akan mengambil hak asuk calon anakku setelah kami berpisah,” setelah mengatakan itu Adam menghembuskan nafasnya dengan berat.
Bibi Marianne menatap Adam tidak percaya, apa-apaan putranya itu sampai bisa berbicara sembarangan. “Maksudmu?”
Adam kehilangan minatnya untuk berbicara tetapi dia sudah memutuskan untuk memberitahu Mamanya. “Sebenarnya kami menikah tidak melibatkan perasaan Ma. Seharusnya Mama pasti tahu untuk siapa cintaku ini,”
Bibi Marianne sungguh kecewa atas penuturan putranya, dia tidak menyangka Adam tega sekali menyakiti bidadari sebaik Ashma hanya demi keegoisannya sendiri.
“Mama tahu, tapi Mama benar-benar tidak menyangka. Kamu mempermainkan pernikahan kalian hanya karena rasamu pada Lily masih ada. Lalu mengapa kamu memutuskan untuk menikahinya? Adam kamu masih saja terus, terus dan terus terjebak didalam masa lalu mu.” Tutur bibi Marianne, dia ingin menyadarkan Adam bahwa putranya sudah terlalu jauh tersesat dalam lautan masa lalunya.
Adam merengut, dia bangkit dan pergi ke jendela. Menatap taman di Mansion Nya yang tengah riak akan tarian bunga karena diterpa angin sedang. “Apa aku salah ma, mencintai Lily sedalam itu. Apakah Adam salah mengharapkan lagi Lily ma?”
Bibi Marianne menggeleng pelan, “Rasa cintamu tidak salah, tapi itu dahulu sayang. Sekarang kamu hanya mengharapakan sisa dari inginmu yang dahulu sempat tidak kau dapatkan!”
“Ma tidakkah kau lihat Lily Kembali kepada kita, dia juga Kembali untuk cintanya padaku!” Adam tetap kekeh, dia dibutakan oleh harapannya yang semu.
Bibi Marianne benar-benar tidak habis pikir, Adam benar-benar tidak bisa berdamai dengan masa lalu. “Lily mencintai Edward, bukan kau Adam. Sadarlah!”
“Ma dia mencintaiku!” Adam tetap pada pendiriannya yang berlebihan, bibi Marianne benar- benar kecewa pada putranya.
“Dia sudah jadi milik Edward, Adam!” Bibi Marainne membentak dan mempertegas nya sekali lagi, lelah memberitahu Adam yang sangat keras kepala.
“Mama benar-benar kecewa padamu Adam, Mama tidak pernah mengajarkan kamu untuk berlaku buruk pada Wanita, ingat nak kamu akan sadar betapa kamu mencintai Ashma setelah dia tidak berada lagi di sisimu!”
“Kita lihat saja nanti, Mama tidak akan ikut membantumu kalau Ashma benar-benar memilih untuk pergi!” Gertakan dari Mamanya tidak membuat Adam gentar, lelaki itu tetap pada egonya yang terlalu tinggi.
Bibi Marianne pergi dengan rasa kecewa, putranya yang sudah ia besarkan sedari kecil kini beranjak menjadi lelaki dewasa yang keras kepala, penuh dengan ego dan tidak pernah mahu berdamai dengan kenyataan yang ada. Bibi Marianee merasa gagal dalam mendidik Adam, dia menangis didalam kamar karena merasa malu pada mendiang kedua orang tua Adam.
“Maaf, saya gagal mendidik anak kalian.”
Adam masih saja menatap taman didekat ruang kerjanya, dia masih enggan untuk beranjak tetapi dering ponsel di mejanya membuat Adam terpaksa berpindah posisi.
“Tuan, Dexter sudah bergerak!” ucap suruhan Adam dibalik telepon, memberitahu bahwa orang yang sangat ia tunggu-tunggu itu akhirnya bergerak juga.
“Terus awasi pergerakannya. Saya tahu dia pasti marah besar karena rencana pencurian chip itu kita gagalkan, jadi hati-hati dia bisa melakukan apapun untuk mendapatkannya Kembali!” Adam segera menutup teleponnya, dia Kembali duduk pada kursi kerjanya.
Surai-surai hembusan angin menerpa wajah Ashma yang Tengah menatap taman dari jendela kamarnya yang pertama kali ia tempatkan saat menginjakkan kakinya di Mansion Adam. Ashma tidak mahu sekamar dengan Adam, mengingatnya dengan penuh kecewa sampai ia enggan menatap wajah dingin itu yang penuh egois. Ashma tidak lagi menangis namun tatapannya kosong dengan kepala yang penuh dengan bilur.
Ashma sudah memikirkan tentang pelariannya sedari tadi, mungkin malam ini ia akan pergi diam-diam dari kungkungan Mansion Adam yang seperti penjara baginya, dia tidak bisa hidup bebas karena Adam membatasi geraknya, katanya takut Ashma kenapa-napa. Ashma mendengus sebal dia tidak akan merasa takut seperti anak kecil lagi hanya karena ucapan Adam yang penuh tipu daya muslihat.
Ashma sebenarnya tidak tahu harus kemana ia pergi, negara beruang merah ini begitu besar wilayahnya dan Ashma entah nanti harus kemana melarikan diri. Tetapi dia memiliki ide untuk sementara waktu ikut menginap dirumah Maryam, ya Ashma akan meminta bantuan padanya sebelum esok ia akan pergi ke Palestina mengingat Ashma diam-diam sudah memesan tiket pesawat untuk besok pagi.
“Sabar ya nak, esok kita akan pulang ke Palestina. Kita akan memulai hidup yang baru disana.” Ashma mengelus perutnya penuh sayang.
Ashma sudah menyiapkan barang-barangnya didalam tas kecil yang ia bawa ketempat ini, hanya sisa sedikit karena kopernya waktu itu tertinggal di bandara dan itu semua karena ulah Adam. Mengingatnya, dia tidak akan membawa satu barang pun yang dibelikan oleh Adam, Ashma tidak ingin mengambil kenangan menyakitkan tentang lelaki itu.
“Kasihan sekali diriku ini yang terus saja berharap pada cinta manusia, padahal sudah beberapa kali mendapatkan penolakan dan aku dengan tidak tahu malunya tetap ingin mendapatkan.” Ashma tersenyum getir, simfoni gelap kembali mendera hatinya yang menyedihkan.
Matahari menuruni renjana membuat langit perlahan-lahan temaram. Ashma sudah selesai menyelesaikan sholat Maghrib, dia segera meletakkan mukena dan sejadah ditempatnya, Ashma hanya tinggal sabar untuk segera beranjak pergi dari Mansion besar ini.
Adam yang sudah selesai juga melaksanakan tiga rakaat wajib segera pergi ke kamarnya untuk mengecek kondisi Ashma, biar bagaimanapun Adam tetap harus memantau kehamilan Ashma.
Namun saat Adam menarik handle pintu ia tidak melihat Ashma dikamar nya lalu Adam mencarinya dikamar mandi juga wanita itu tidak ada. Adam langsung menuju kamar yang dipakai wanita itu sebelum mereka menikah.
Disana Adam mendapati Ashma yang tengah memainkan ponselnya seketika Ashma yang melihat tetiba Adam membuka pintunya langsung terkesiap, dia memeluk perutnya ketakutan.
Adam melihat dampak buruk dari perkataan nya tadi siang, ternyata sebesar itu sampai Ashma merengut takut memeluk perutnya.
"Pergi Adam!" usir Ashma. Adam juga tidak turut mendekati karena wanita itu pasti benar-benar marah padanya, tidak baik jika dibujuk sekarang dia pasti akan sangat membencinya.
"Apa kamu sudah mengisi perutmu?" tanya Adam, khawatir Ashma mengosongkan perutnya karena kehilangan selera akibat pertengkaran mereka tadi siang.
"Apa pedulimu?" ketus Ashma tidak suka, dia rasa Adam ini benar-benar bermulut manis.
Helaan nafas keluar dari mulut Adam, "saya hanya memastikan kamu sudah makan atau belum, saya tidak terlalu peduli padamu tapi setidaknya pikirkan anak kita!" Ashma semakin membuang muka, dia tidak ingin melihat wajah dingin itu.
Tidak kunjung ada balasan Adam segera memanggil pelayanan, menyuruhnya untuk membawa makanan kedalam kamar yang tengah ditempati Ashma.
"Pelayan segera membawa makanan. Pastikan kau memakannya Ashma, kalau tidak saya sendiri yang akan memastikan makanan itu masuk kedalam mulutmu!" nada suaranya macam perintah dan ancaman membuat Ashma mendengus sebal.
"Pergi!" pekik Ashma tak tahan. Adam menutup kembali pintu kamar itu, dia segera menuju kamarnya dengan wajah dingin.
#TBC