
Sesuai janjinya Ashma menemani Adam untuk menemui sahabat lamanya. Didalam mobil mereka sama sekali tidak membuka suara, Ashma fokus menatap kagum disekitarnya, melihat kota moscow yang begitu sangat indah. Ashma berulang kali mengucapkan kekagumannya didalam hati, matanya berbinar setiap kali melihat sesuatu yang sangat menyenangi matanya.
Mata Ashma terus mengamati pemandangan di sekeliling mereka. Dia melihat gedung-gedung yang menjulang tinggi, jembatan yang menghubungkan sungai-sungai yang indah, dan hamparan taman yang asri.
Adam memperhatikan ekspresi Ashma yang penuh kekaguman dan senang. Dia tersenyum melihat Ashma begitu terpesona oleh keindahan kota Moscow. Mata Ashma yang berbinar seperti anak kecil itu membuat Adam terlena, perempuan itu bak bidadari surga.
"Ashma..." Panggil Adam pelan.
"Hm..." Ashma menjawab dengan gumaman. Pandangannya masih tertuju melihat pemandangan dari kaca pintu mobil.
"Setelah kita pulang bertemu teman saya, saya akan menunjukan sesuatu padamu." Ashma menoleh pelan, dia lalu tersenyum tipis dan mengangguki ajakan Adam.
Perjalanan mereka berlanjut di tengah keindahan kota Moscow. Mereka melewati jalan-jalan yang ramai dengan mobil dan pejalan kaki. Ashma terus mengamati setiap detail yang ada di sekitarnya, tidak ingin melewatkan satu pun momen indah di kota ini.
Setelah beberapa saat, mobil mereka akhirnya berhenti di depan sebuah masjid yang sangat megah. Adam membuka pintu mobil dan mempersilahkan Ashma keluar. Ashma melangkah keluar dengan penuh rasa kagum.
Ashma berdiri di depan masjid yang megah dengan mata terbelalak. Dia melihat keindahan arsitektur masjid tersebut, dengan detail-detail ukiran yang begitu memukau. Pintu masjid terbuka lebar, mengundang Ashma untuk memasukinya.
Adam berjalan mendekati Ashma sambil tersenyum. "Ini adalah Masjid Katedral Moskowa, masjid terbesar di kota Moscow sekaligus menjadi salah satu masjid terbesar dan tertinggi di Rusia dan terluas di Eropa." Jelas Adam.
"Masjid ini yang akan menjadi saksi saya bersyahadat."
Ashma rasanya sangat terharu mendengar keputusan Adam. "Kamu yakin Adam atas keputusanmu?" Tanya Ashma meyakinkan. Adam berpikir sejenak lalu dia tersenyum singkat kearah Ashma.
"Saya yakin."
Ashma mengikuti langkah Adam memasuki masjid yang sangat agung itu, tidak lama mereka disambut oleh seorang lelaki berperawakan jangkung Adam langsung berjabat tangan dan memeluk lelaki itu.
"Adam memang benar-benar lelaki yang sangat misterius." Ucap Ashma didalam hatinya.
Adam memperkenalkan lelaki itu, sahabat Adam yang bernama Daniel Amirov. Ashma tersenyum kecil dan memperkenalkan diri.
Adam dan Ashma lalu mengikuti langkah Daniel dan dia meminta Ashma duduk sedikit berjauhan dengan mereka, disana sudah terdapat beberapa orang yang sepertinya menunggu kedatangan Adam, Adam pun dipersilahkan duduk oleh mereka.
Ashma tidak menyangka Adam akan secepat itu memutuskan untuk bersyahadat, namun jauh di lubuk hatinya Ashma masih ragu terhadap keputusan Adam, bukan karena ia melarang hanya saja Ashma takut niat sebenarnya Adam hanya ingin bertanggung jawab pada Ashma atas apa yang telah terjadi malam itu.
Namun Ashma langsung menepis pemikiran buruknya tentang Adam. Ashma beristighfar memohon petunjuk apabila dia keliru menilai Adam. Dan Ashma sungguh malu dan bersalah telah meragukan kekuasaan Allah yang telah memberikan hidayah kepada Adam.
Sementara mereka menunggu, Daniel mulai bercerita tentang perjalanan hidupnya sejak dia memeluk agama Islam. Dia berbagi pengalaman dan kesulitan yang dia hadapi, serta kebahagiaan dan kedamaian yang dia rasakan setelah menemukan kebenaran dalam Islam. Ashma mendengarkan dengan antusias dan merasa terinspirasi oleh cerita Daniel.
Ketika tiba giliran Adam untuk bersyahadat, suasana menjadi hening. Adam duduk di depan kelompok orang yang hadir, termasuk Ashma, dan dengan penuh keyakinan mengucapkan dua kalimat syahadat.
"Asyhadu Allaa ilaaha illallah..." (I bear witness that there is no god but Allah). Adam mengikuti syahadat yang diucapkan oleh Daniel.
"Wa asyhadu anna muhammadarrasuulullah..." (And I bear witness that Muhammad is the Messenger of Allah).
Setelah Adam selesai bersyahadat takbir bergema begitu indah didalam masjid yang begitu agung, mereka semua memberikan selamat padanya dan memberikan dukungan penuh. Ashma tanpa sadar menitihkan air matanya dan bersyukur atas keputusan Adam.
Mereka semua melanjutkan dengan doa bersama untuk Adam, memohon agar Allah memberkahi dan memberikan kekuatan padanya dalam perjalanan barunya sebagai seorang Muslim. Ashma merasa beruntung dapat menyaksikan momen penting ini dan berbagi kebahagiaan dengan Adam dan teman-temannya.
Setelah itu Adam berpamitan dengan Daniel juga yang lainnya. Ashma tidak menyangka ternyata lelaki itu sudah lama mengenal islam, kalau begitu Ashma tidak perlu terlalu khawatir mengenai keputusannya menikah dengan Adam karena hatinya sudah mantap dan yakin dengan lelaki itu.
"Ashma..." Panggil Adam dengan lembut.
Ashma membalas senyuman Adam. "Selamat Adam kau telah menjadi seorang muslim."
"Terimakasih Ashma."
Melihat kebahagian di wajah Ashma membuat keputusan Adam untuk menikahinya semakin mantap.
Adam melanjutkan, "Ashma, ada yang ingin saya bicarakan denganmu, tapi tidak disini."
Ashma yang merasa penasaran dengan perkataan Adam, menjawab dengan antusias, "Tentu, Adam. Kita bisa pergi ke tempat yang lebih tenang untuk berbicara." Mendapatkan persetujuan dari Ashma Adam berencana membawa Ashma ketempat yang telah dia janjikan tadi saat diperjalanan.
Adam meminta supirnya untuk menuju ketempat yang akan mereka datangi. Sebelum mobilnya melaju Adam bergegas pergi sebentar untuk membeli makanan. Sementara Ashma menunggu didalam mobil sambil bershalawat kecil. Setelah beberapa menit, Adam kembali dengan tas berisi makanan yang dia beli. Adam lalu meminta supirnya untuk bergegas menuju tempat yang telah Adam beritahu.
Setelah beberapa waktu mobil mereka akhirnya tiba di tempat yang tenang dan indah. Adam membuka pintu mobil untuk Ashma, dan mereka berdua keluar dan berjalan menuju pemandangan yang indah.
"Subhanallah...Adam, tempat ini benar-benar cantik," ujar Ashma, terpesona dengan pemandangan yang mereka lihat.
Mata Ashma membulat seperti anak kecil. "Jadi tempat ini yang ingin kau tunjukan kepadaku Adam, ini sangat indah." Adam memberikan waktu bagi Ashma untuk menikmati suasana disekitarnya, Adam ingin memberikan kesan yang baik bagi Ashma
Setelah beberapa menit berlalu akhirnya Adam mulai membuka pembicaraan dengan Ashma. "Ashma..."
"Hm..." Ashma berbalik menatap Adam dari jarak yang tidak terlalu jauh.
"Ashma, saya tidak bisa memikirkan perlakukan saya pada kamu tempo lalu. Saya tahu kamu takut dan merasa jijik dengan saya, tapi ijinkan saya untuk bertanggung jawab. Untuk itu... Menikahlah denganku Ashma."
Ashma tidak melihat sedikitpun keraguan dari wajah Adam dia juga sudah yakin dengan keputusannya untuk menikah dengan Adam. "Adam, aku menerimamu. Mari kita jalani hidup ini bersama dalam ikatan pernikahan."
Adam tersenyum simpul atas jawaban Ashma. "Terima kasih, Ashma."
Adam melanjutkan. "Lalu saya juga akan segera membawa paman dan nenekmu untuk menghadiri pernikahan kita, tanpa pamanmu saya tidak bisa melakukan ijab qobul." Mata Ashma membulat sempurna mendengar ucapan Adam, apakah Ashma tidak salah dengar bahwa Adam akan membawa keluarganya untuk menghadiri pernikahan mereka? Namun Ashma tidak melihat sedikitpun kebohongan dimata Adam, lelaki itu tidak main-main dengan ucapannya.
"Adam kau serius, paman dan nenek akan datang?" Adam mengangguk. Ashma menangis haru, ia benar-benar merindukan neneknya.
Tetapi Ashma mengingat satu hal dan ia langsung bertanya pada Adam. "Adam bukankah aku harus menjauh untuk sementara waktu dari keluargaku?"
"Itu benar, tapi saya akan menjamin keselamatan untuk mereka, dan ini saya lakukan untukmu." Ashma terharu mendengarnya.
"Tapi setelah itu, paman dan nenekmu harus segera kembali dan itu untuk keselamatan mereka." Lanjut Adam, Ashma sebenarnya tidak setuju akan itu karena Ashma ingin melepas rindu begitu lama dengan neneknya namun demi keselamatan keluarganya Ashma harus menyetujuinya.
"Demi keselamatan mereka, aku setuju," kata Ashma dengan tegas. "Tapi tolong, pastikan mereka aman Adam."
Adam menganggukkan kepala dengan yakin. "Tentu, Ashma. Saya akan melakukan segalanya untuk memastikan keselamatan mereka. Saya tidak akan membiarkan apa pun terjadi pada mereka."
Ashma merasa lega mendengar janji Adam. Meskipun dia sedih harus menjauh dari keluarganya, dia tahu bahwa Adam mengutamakan keselamatan mereka. Walaupun Ashma masih belum mengetahui bahaya apa yang sebenarnya tengah mengancam dirinya sampai dia harus berakhir bersama Adam dan takdir membawa Ashma untuk menikah dengan lelaki itu.
#TBC