
Ashma benar-benar terkejut mendapati hidangan bakso diatas mejanya, yang lebih membuatnya tertegun adalah ketika Adam membawakan seorang chef dari Indonesia yang kebetulan sedang bekerja di Rusia. Ashma semakin menggelengkan kepalanya, lelaki itu benar-benar ada saja kelakuannya. Tetapi Ashma Senang Adam masih perhatian terhadap rasa ngidamnya.
Namun lelaki itu entah kemana perginya, tiba-tiba saja langsung menghilang tanpa pamit padanya. Ashma memang tidak terlalu berharap hanya saja dia ingin merasa dihargai sebagai istrinya.
Ashma segera menepis rasa sedihnya itu lalu memutuskan untuk memanggil seluruh pelayanan disana karena tidak mungkin juga Ashma dapat menghabiskan bakso yang dibuat sebanyak itu oleh Chef suruhan Adam.
para pelayan merasa tak enak harus ikut duduk dimeja makan tuannya, tetapi melihat kelembutan hati Ashma mereka merasa sangat bahagia.
Bibi Marianee turut nimbrung bersama mereka, dia sangat senang melihat interaksi Ashma dengan para pelayan yang sangat ramah. Ashma memang memiliki hati selembut salju namun tetap hangat didalamnya.
Ashma menyantap bakso didalam piring sup yang sangat menggoda matanya sehingga air liur Ashma mengendap banyak sekali didalam mulutnya, dia tidak sabar ingin segera mencicipi makanan yang sangat di idam-idamkan dari malam tadi.
Saat bakso itu masuk kedalam mulutnya rasanya seperti pertama kali dia mencicipi makanan tersebut. Lunas sudah ngidamnya ini, lalu Ashma mengelus perutnya dengan lembut.
Para pelayan juga demikian, Ashma tidak menyangka makanan khas dari Indonesia itu benar-benar cocok di lidah mereka, benar-benar sangat enak. Ashma turut senang melihat para pelayan itu dapat merasakan betapa lezatnya bakso.
Sedang ditempat lain, Adam berada tepat didepan pintu rumah sederhana yang kata orang sekitar itu adalah rumah milik keluarga sepasang suami-isteri yang sudah lansia.
Nomor yang menelponnya tadi pagi berasal dari tempat ini dan Adam merasa ragu jika Edward menelponnya dari tempat seperti ini. Adam hanya takut Edward melakukan kekerasan pada pemilik rumah ini sehingga memaksa mereka untuk menelpon Adam dan menjebaknya.
Adam mengetuk pintu rumah itu dengan pelan, beberapa kali masih juga tidak ada tanda-tanda yang akan membuka pintunya. Saat Adam akan mengetuk lagi tiba-tiba pintu itu terbuka.
Seorang wanita paruh baya yang membuka pintu itu, tetapi kenapa terlihat sangat tenang dan Adam jadi meragukan prasangka nya.
"Selamat sore nyonya," sapa pengawal Adam. Wanita paruh baya itu tersenyum tipis.
"Sore, ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita paruh baya tersebut.
Adam segera menghentikan pengawalnya untuk berbicara, dia yang akan bertanya langsung pada wanita itu.
Adam mengambil Handphone dari balik saku celananya, "saya mendapati nomor ini menelpon saya pagi tadi, apakah ada hubungannya dengan anda?"
Wanita paruh baya itu maju satu langkah dari pintu, melihat layar handphone Adam dengan seksama.
"Syukurlah...iya itu saya yang menelpon dari ponsel seorang wanita didalam sana," ujar wanita paruh baya itu membuat Adam semakin penasaran dengan sosok wanita yang dimaksud olehnya.
Perasaan nya tidak karuan saat ikut melangkah masuk bersama wanita itu, Adam tidak ingin berharap lebih yang pasti dia hanya ingin memastikan saja.
Mata Adam melebar sempurna, Adam diam mematung tanpa bisa berkata apapun. Jantungnya berpacu begitu cepat melihat sosok wanita yang begitu dia rindu selama ini, wanita yang tetap sama berada didalam hatinya sampai kapanpun, dan dia tidak akan pernah terganti.
Mereka saling memandang satu sama lain, pancaran mata hijau laut itu nampak berkilauan bersama air mata yang tergenang di pelupuk matanya pun dengan Adam, dia tidak pernah menyangka wanita yang sangat dia cintai masih hidup dan sekarang tengah duduk diatas ranjang tidur.
Adam yang masih tidak percaya memukul wajahnya, rasa sakit itu menunjukkan bahwa dia sedang tidak bermimpi. Adam segera mendekati Lily dan langsung memeluknya dengan erat. Lily membalas pelukan Adam, mereka saling menitihkan air mata didalam pelukan masing-masing.
"Benarkah kamu Lily ku? Ya Tuhan, rencanamu sangat indah." Ucap Adam, dia begitu bersyukur Tuhan masih memberikan kesempatan kepadanya untuk bisa melihat Lily lagi.
"Aku sangat merindukanmu Adam," tangis Lily pecah dipelukan lelaki yang begitu ia sayangi, kakak nya tercinta.
Adam segera melepasnya perlahan, menangkup wajah cantik Lily begitu lembut lalu ibu jarinya menyeka air matanya yang berjatuhan di pipinya yang nampak sangat tirus.
Jhon, pengawal Adam yang melihat dibelakang Adam beberapa langkah juga syok melihat kekasih Adam ternyata masih hidup. Namun Jhon tidak tahu apakah harus ikut senang atau merasa sedih sebab dia tahu bahwa situasinya sekarang telah berbeda.
"Bagaimana dengan Nona Ashma? Apalagi dia sedang mengandung." Batin Jhon, ia merasa Nona nya begitu sangat malang jika harus mendapati kenyataan yang amat menyakitkan ini.
Adam sendiri seakan tidak ingat dengan istrinya, dia terlalu bahagia karena kekasihnya bisa kembali kedalamnya pelukannya.
"Aku ingin pulang Adam," ucap Lily seketika membuat Adam teringat sesuatu.
"Ashma..." Batinnya nelangsa, dia terlalu bahagia hingga melupakan Ashma yang tengah mengandung buah hatinya.
"Saya ingin berbicara dengan wanita itu dulu," ucap Adam yang segera diangguki oleh Lily.
Adam dan wanita paruh baya itu berbicara di ruangan yang lain, supaya Lily tidak dapat mendengar pembicaraan mereka, sedangkan disana ada Jhon yang menjaga Lily.
"Nyonya, bagaimana anda bisa menemukan dia?" tanya Adam begitu penasaran dan butuh penjelasan.
"Saya menemukannya satu tahun yang lalu dipinggir sungai, dia terluka cukup parah, saat diperiksa dia masih bernyawa. Saya membawa Lily kerumah ini untuk dirawat karena saya tidak memiliki uang untuk membawanya kerumah sakit,"
"dengan pengobatan tradisional yang saya tahu, juga pertolongan dari warga sekitar yang kebetulan ada yang menjadi seorang dokter membantu mengobati luka yang cukup serius dibagian kepalanya. Selama tiga Minggu pula dia tidak sadarkan diri, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan namun keajaiban Tuhan datang, wanita itu akhirnya sadarkan diri selama satu bulan terbaring diatas ranjang."
"Namun sepertinya dia mengalami lupa ingatan, saat saya bertanya dia hanya ingat dengan namamu dan Mama, selainnya dia tidak bisa mengingatnya lagi."
Adam nelangsa mendengarnya, ternyata selama ini Lily telah menderita dan dia bodoh sekali menganggap bahwa Lily telah tiada. Selain itu dia juga mengalami amnesia, Adam jadi bimbang dengan apa yang harus dia lakukan sekarang terlebih lagi dia sudah menikah dengan Ashma dan wanita itu tengah mengandung darah dagingnya.
"Kami juga menemukan ponsel didalam saku celananya, hanya saja ponsel nya sudah tidak bisa digunakan jadi Lily meminta saya menggunakan kartu ponselnya untuk menghubungi mu." Lanjut wanita paruh baya itu.
Adam terdiam beberapa saat sebelum dia mengambil keputusan pada Lily. Adam juga sangat berterimakasih pada wanita itu karena telah menolong kekasihnya.
Adam kembali menemui Lily, wanita itu terlihat kurus, Adam sangat sedih melihatnya, pasti telah banyak hari-hari berat yang telah Lily jalani seorang diri apalagi dengan keadaannya yang amnesia.
Adam telah memutuskan untuk membawa Lily ke apartemen nya saja setidaknya dia akan aman dan merasa tenang disana.
Adam juga tidak ingin menyakiti hati keduanya, biarkan keberadaan Lily untuk sementara waktu akan Adam rahasiakan dulu, terutama dari Ashma. Juga tidak akan membiarkan Edward tahu soal Lily, biarpun dia suaminya tetap saja lelaki itu sangat berbahaya, takut Lily nya kenapa-kenapa lagi dan Adam tidak akan membiarkan itu sampai terjadi.
"Maukah kamu pulang bersamaku?" tanya Adam sambil memposisikan dirinya dengan Lily.
Mata Lily berbinar terang, tangannya menyapu buliran air mata yang akan menetes, segera pula Lily mengangguk antusias.
Adam ikut tersenyum bahagia lalu membantu Lily untuk bangkit dari ranjang tidur, tubuh wanita itu masih sangat lemas dan masih tak seimbang untuk berdiri.
Lily tersenyum haru melihat wanita paruh baya yang telah menolongnya, dia tidak akan melupakan kebaikan wanita itu.
"Nyonya Beatrice, terimakasih telah menolong dan merawat saya selama ini. Kalau bukan karena Nyonya saya tidak tahu seperti apa nasib saya ini," ucap Lily begitu lirih sebab dia akan segera berpisah dengan Nyonya Beatrice.
Nyonya Beatrice tersenyum hangat, dia meraih pundak Lily dan mengusap nya dengan lembut. "Sama-sama, saya sangat senang dapat menolong kamu. Terimakasih juga sudah menemani hari-hari wanita tua ini," ucapnya begitu sedih sebab Lily akan segera pergi, dia sudah menganggap nya seperti anak sendiri dan sudah terbiasa ada Lily disekitarnya.
Adam pun turut mengucapkan rasa berterimakasih nya pada Nyonya Beatrice, dia sangat berhutang budi pada beliau maka dari itu Adam menawarkan tempat tinggal yang layak padanya tetapi nyonya Beatrice menolak sebab rumahnya menyimpan banyak kenangan indah bersama mendiang suaminya.
"Saya turut berbelasungkawa atas meninggalnya suami nyonya," Adam juga merasa iba karena ternyata Nyonya Beatrice hanya tinggal sendirian, dia juga menolak bantuan Adam karena tetap ingin menghabiskan masa tuanya dirumah yang penuh kenangan bersama suaminya.
Lily turut memeluk Nyonya Beatrice, dia akan selalu merindukan beliau karena itu Lily memutuskan untuk sering menengok Nyonya Beatrice. Wanita itu sudah dia anggap seperti ibunya sendiri jadi akan sangat berat hati jika Lily meninggalkan nya sendirian.
Perpisahan diantara mereka menimbulkan rasa haru pada keduanya, Adam juga turut merasakan sebab tidak mudah melepaskan orang-orang yang sudah terbiasa hidup bersama apalagi meninggalkan kenangan indah.
Adam dan Lily segera pamit pada Nyonya Beatrice, meninggalkan nya dengan kesendirian lagi.
Didalam mobil Lily menyenderkan kepalanya pada dada bidang Adam, Lily merasa hangat sebab Adam juga turut mendekapnya.
Jhon yang dapat melihatnya dari kaca mobil turut sedih, Jhon tidak bisa membayangkan akan seperti apa sedihnya Ashma mengetahui suaminya tengah bergelayutan manja dengan wanita lain, walaupun Jhon tahu wanita itu adalah adik angkatnya sekaligus bekas mantan calon istrinya Adam, hanya saja keadaan yang memaksa mereka tidak bisa bersama bahkan sampai saat ini.
Jhon tahu Adam belum pernah bisa ikhlas atas kepergian Lily satu tahun yang lalu karena sebuah insiden bersama Edward, tetapi bagaimanapun juga mereka bukanlah sepasang suami-isteri, yang berhak untuk Adam hanyalah Ashma dan yang berhak untuk Lily hanyalah Edward.
Edward, memikirkan tentang pria itu Jhon tidak bisa terlalu jauh mendeskripsikan nya sebab yang dia tahu Edward tidak pernah berniat mencelakai istrinya sendiri yaitu Lily.
"Aku rindu Mama," ucap Lily mengingat bibi Marianne.
#TBC