
Ashma mengulum senyum saat mendapati kepulangan suaminya yang membuatnya begitu amat senang, dia segera berlari kepelukan Adam melihat itu Adam langsung saja panik, bisa-bisanya Ashma berlari disaat dia tengah hamil muda.
“Mengapa kamu lari Ashma, itu sangat berbahaya!” kata Adam dengan nada marah. Ashma yang didalam pelukannya meminta maaf, saking semangatnya Ashma sampai melupakan bahwa dirinya tengah berbadan dua.
“Maaf aku lupa," Adam menghela nafas pelan, “Jangan diulangi lagi!”
Adam melepas pelukan mereka dengan lembut dia meraih wajah Ashma yang tertunduk untuk mendongak kearahnya. “Bukankah kau sangat menginginkan ramen hmm?”
Ashma mengangguk kecil dengan masih merasa bersalah atas kecerobohannya tadi.
Adam tersenyum kecil, “kau harus menatap lawan bicaramu saat sedang mengobrol Ashma!” Adam memintanya untuk menatap dirinya, Ashma mengangkat pandangannya.
“Jangan sedih lagi, saya tidak suka melihat kamu murung!” tutur Adam dengan membelai wajahnya yang halus dan Ashma tersenyum tipis, dia mengangguk kecil.
Adam mengangkat satu alisnya, “lalu mengapa terlihat masih bersedih, saya tau itu senyumana palsu.”
Ashma hanya memberi jawaban dengan gelengan kecil itu membuat Adam semakin penasaran, apa karena ia menggertaknya tadi tapi dia rasa tidak mungkin.
“Sepertinya saya terlalu lama sampai-sampai membuatmu murung seperti ini ya Ashma, ibu mengidam ini tidak sabaran sekali menunggu chefnya.” Kata Adam menerka-nerka.
Senyum Ashma terbit lebih tulus dan itu membuat Adam menghela nafas lega. “Baiklah saya akan membuatkan kamu ramen terlezat yang pernah kamu makan, jadi maukah kamu menunggu dulu?”
Ashma terkikik geli, “tentu saja aku akan selalu menunggumu.” Adam yang mendengar perkataan itu sedikit aneh namun segera ia tepis. Adam membawa Ashma masuk kedalam, mereka sampai lupa dengan keberadaannya yang masih berada diluar.
Ashma duduk manis sambil menonton Adam yang tengah memasakan Ramen untuknya, dia terkikik geli melihat Adam yang memasak sambil melihat tutorial cara membuat ramen di Youtube. Sepertinya mengidam nya ini telah menyusahkan dan mengerjai suaminya, Ashma bukannya kasihan dia malah senang sendiri.
Ashma senyum-senyum sendiri, saat memasak aura ketampanannya menambah tiga kali lipat, dia terlihat seperti seorang chef professional.
“Mas,” panggil Ashma, Adam melirik sekilas lalu fokus lagi pada masakannya.
“Hmm?”
“Mama dan Lily bagaiman kabarnya?”
“Mereka baik,” jawabnya begitu singkat.
“Lily apakah sudah semakin membaik, itu mengenai ingatannya apa—” Adam segera memotong ucapan Ashma.
“Fokus saja pada dirimu dan kandunganmu Ashma!” tandas Adam begitu dingin saat Ashma mulai menanyakan tentang Lily. Ashma tidak membuka suara lagi dia menepis keinginan tahuannya lagi.
Sekitar satu jam itu tidak ada percakapan lagi antara mereka, Ashma sudah lebih dulu memutuskan pergi dari ruang makan sedari tadi, dia berada di kamarnya untuk membaca novel online. Ashma sangat bosan menontoni Adam memasak mungkin juga karena kecanggungan yang tiba-tiba terjadi diantara mereka jadi itu terasa membosankan.
Adam yang akhirnya selesai dengan masakannya segera mengunjungi Ashma didalam kamar, wanita itu pasti sudah menunggu-nunggu.
Adam mengetuk pintu dengan pelan dan dia membuka handle pintu dengan tarikan sedang, dia melihat Wanita dengan perut yang besar itu tengah tertidur meringkuk sambil masih memegang handphone ditelapak tangannya.
Adam mengusap halus bulu matanya yang begitu lentik tapi tak kunjung membuat Ashma terbangun yang ada dia malah semakin nyenyak tertidur.
“Ashma…”
“Ramen mu sudah jadi,”
“Istriku…” Adam menepuk nepuk halus pipinya dan akhirnya shma menggeliat kecil karena merasa terganggu dengan sentuhan seseorang. Dia membuka matanya perlahan, wajah tampan suaminya tepat berada diepan wajah Ashma.
“Apa aku bermimpi?” gumamnya dengan kebingungan karena wajah Adam benar-benar maskulin, dia mengiranya seperti itu sampai membuat Adam memiliki ide jahil untuk membuatnya sadar.
Adam mendekatkan wajahnya dengan wajah Ashma hingga mereka dapat merasakan deru nafas masing-masing, Ashma segera sadar dan ingin beranjak namun Adam menindih kedua tangannya dengan tangan besar miliknya, lebih tepatnya Adam mendidih tubuh Ashma dalam tubuh besarnya.
“Ini mimpi Ashma,” bisik Adam ditelinganya membuat darah Ashma berdesir hebat.
Dengan jantung yang berdebar dan juga pipinya terasa memanas jelas saja itu membuktikan bahwa dia sedang tidak bermimpi.
“Mas menjauhlah!” kata Ashma berusaha mendorong dada bidang Adam.
“Kenapa hmm? Bukannya ini yang kamu mau?” Adam terus menggoda istrinya, Ashma tidak kuasa untuk melepaskan dirinya dari Adam, lelaki itu tenaga nya sangat besar.
“Apasih Mas, lepasin aku!” Ashma masih terus berontak di dalam situasi yang sangat berbahaya baginya.
“Menjauhlah Adam!” Ashma terlontar ucapan tanpa embel-embel 'Mas' itu memancing Adam untuk semakin menjahilinya.
CUP
Adam mengecup kening istrinya Ashma segera menutup matanya, Ashma kira Adam akan mencium yang lain tapi syukur juga lelaki itu masih menahan diri.
Adam beranjak bangun membuat Ashma dapat bernafas lega bisa bebas dari kungkungan tubuh besarnya. Ashma ikut bangkit dari tidurnya, dia merapikan rambut Panjangnya yang berantakan, itu menjadi pusat perhatian menarik untuk Adam.
“Tidak usah melihatku seperti itu, sana pergi!” Ashma mengeluarkan mode garang, dia sebal dengan kelakukan Adam yang usil dan suka menggodanya.
Adam menautkan alisnya, “mana bisa seperti itu Ashma, setelah membuat ramen dengan susah payah kau seenaknya ingin mengusirku pergi, apa-apaan itu?!” desis Adam kesal. Ashma menepuk keningnya pelan, bisa-bisanya dia melupakan perjuangan Adam dalam memenuhi keinginan mengidam nya.
“Ah, ya aku lupa dan aku minta maaf.” Ashma terkekeh pelan, dia melemparkan senyum manisnya pada Adam dan membuat dia berdecak kesal.
“Apa-apaan aku ini?” batin Adam saat merasakan hatinya berdesir karena melihat senyuman Ashma yang sangat— manis.
Adam segera menepisnya dengan cepat, “sudahlah ayok kemeja makan, disana hidangan yang sangat kau idam-idamkan sudah siap, jadi tunggu apa lagi.
Ashma turut mengikuti Langkah Adam dari belakang, dia kesenangan sendiri karena sebentar lagi akan merasakan ramen buatan tangan suaminya. “Huaa aku tidak sabar!” Ashma membatin begitu antusias.
Aroma khas dari kuah kari masuk kedalam indra penciumannya, sesuai dengan request darinya yang menginginkan ramen dengan kuah kari, mata Ashma dibuat kagum atas plating yang menakjubkan dibuat Adam, itu sangat indah dan menggoda matanya.
“Mayaallah, kamu sudah berjuang dengan keras Mas, terima kasih ya.” Adam senang sendiri atas pujian istrinya itu, dia ingin sekali berteriak dengan menggelora kesenangan tetapi itu tidak akan pernah terjadi.
"Huaa enak!” itu adalah deklarasi kemenangan untuk Adam yang sudah berhasil membuat ramen untuk pertama kalinya.
Adam seketika itu melebarkan senyumnya, akhirnya dia berhasil setelah berjuang dengan sangat keras dalam membuat ramen dan Ashma terlihat sangat puas dengan ramen buatannya.
“Makanlah dengan pelan-pelan, nanti kamu malah tersedak.” Ucapnya memperingati Ashma yang kalap melahap makanannya. Ashma manggut-manggut kecil dengan masih fokus mengunyah.
Adam ikut mencicipi masakan nya sendiri, Adam langsung menerbitkan senyum penuh kepuasan.
"Pantaslah ini memang lezat." Katanya membatin, itu adalah ungkapan pujian untuk dirinya sendiri.
Adam melirik mangkuk Ashma disamping, wanita itu begitu lahap sekali. "Mau tambah lagi?"
Ashma menggeleng pelan setelah berdoa setelah makan, "tidak Mas, Alhamdulillah perutku sudah kenyang."
Adam menuangkan air kedalam gelasnya, itu menjadi tontonan untuk Ashma.
"Mas,"
"Apa?"
"Terimakasih."
Itu adalah ungkapan rasa terimakasihnya kepada Adam karena mau menuruti keinginan ngidamnya, tapi itu adalah hal normal untuk seorang laki-laki yang akan menjadi ayah tentunya akan selalu direpotkan oleh mama dan calon bayinya.
"tidak usah mengucapkannya lagi!" Adam sedikit terganggu karena Ashma selalu mengatakannya.
"Tapi itu adalah ungkapan apresiasi tau!" cibir Ashma, padahal niatnya baik memberi apresiasi.
"Ya baiklah."
Mereka yang masih berdiam diri diruang makan mendengar seruan merdu yang berasal dari bilik kamar mereka. Itu adalah suara adzan ashar. Adam sengaja memasangkan pengingat sholat wajib dikamar nya supaya mereka tidak kelupaan.
"Alhamdulillah sudah Ashar." Ashma mengambil gelasnya dan meneguk sisa setengahnya hingga tandas tak bersisa, mereka menunggu adzan hingga selesai.
Adam masih berusaha menghabiskan ramen didalam mangkoknya, dia tidak seperti Ashma yang makannya sedikit cepat.
"Aku mau membersihkan piring dan perabotan kotor nanti kalau sudah selesai beri padaku ya Mas," ucapnya sambil berniat mangkir ke wastafel, tempat cuci piring. Sedangkan Adam mengerutkan keningnya dan langsung menahan tangan Ashma.
"Kenapa mas?"
Adam langsung berdiri dan meraih pundak Ashma, "tidak usah kau duduk saja."
Ashma merengut tidak suka, "apasi kamu, engga lah pokoknya aku mau cuci perabotan kotor itu!" Ashma menunjuk perabotan kotor bekas Adam masak.
"Iya Ashma tapi itu biarkan saya saja yang membersihkan."
"Aku bilang aku aja Mas, apa aku selemah itu?" Ashma tetap kekeuh ingin membersihkan perabotan kotor, Adam merengut pasrah dia memberikan tugas itu pada Ashma.
"Oke, ya kau boleh melakukannya." Adam mempersilahkan tangannya untuk Ashma menuju wastafel. Ashma tersenyum menang, sedangkan Adam kembali duduk untuk menghabiskan makanannya.
Istrinya membersihkan perabotan dan dia sudah selesai menghabiskan ramen miliknya di mangkuk, Adam segera membawanya pada Ashma.
Tangan kekar itu memeluk pinggang nya dari belakang, Ashma cukup terkejut dan hampir saja melepaskan piring ditangannya.
"Mas buat kaget saja tau!" cibir Ashma sedikit kesal.
"Maaf."
Lelaki itu bukannya membiarkan Ashma menyelesaikan tugasnya malah dia ikut mencuci perabotan dibelakang tubuh Ashma dengan mengukung tubuhnya dari belakang.
Jantung Ashma tidak aman, berdetak kencang tak karuan mengingat posisi mereka yang terlihat intim.
"Udah sana gausah ikut-ikutan!" Ashma berusaha mengusir lelaki modus itu.
Adam tentu saja tidak mau mendengarkan perkataan Ashma, "bukannya seperti ini normal buat pasangan yang sudah menikah ya, lebih mesra." suaranya menyapu telinga Ashma membuat sang empu merinding bukan main.
"Mas, sana ih!"
"Gak mau!"
"Mas ganggu tau!"
"Terserah saya!"
"Nyebelin!"
"Tapi kamu suka kan?"
"Enggak! Percaya diri banget sih!"
CUP...
Adam mengecup kepala Ashma, "udah jangan banyak bicara, lakukan saja membersihkan perabotannya sampai selesai biar bisa segera melaksanakan empat rakaat wajib."
Tadinya Ashma mau merajuk pada Adam tetapi setelah mendengar penuturannya yang lembut dia mengurungkan niatnya.
"Iya."
#TBC