
Malam itu memasuki usia kelima bulan kehamilannya, pada hari yang akan selalu Ashma kenang seumur hidupnya, yang tidak akan ia lupakan sampai kapanpun.
Malam yang indah untuk mulai berkencan dengan suaminya. Adam, dia sudah mau membuka hatinya untuk Ashma, dia mau belajar mencintai nya. Ashma akan memberinya kesempatan, dia juga akan berusaha untuk cintanya.
Ashma melihat penampilannya didalam cermin, dia tersenyum kecil.
Ashma menggunakan abaya berwarna cokelat muda dengan hijab senada, wajahnya disolek tipis agar terlihat lebih segar dan enak dipandang Adam.
Ashma mengabadikan momen itu dengan memotret dirinya di cermin.
"My child."
Handle pintu ditarik seseorang, kepala lelaki itu menyembul. Dia segera membukanya lebar dan menatap Ashma dengan mata penuh kagum.
Adam terpesona ditempatnya oleh kecantikan istrinya, secantik bidadari. Wanita itu menyihir dirinya menjadi patung. Ashma tersenyum kecil dengan wajah malu-malu, dia menarik langkahnya mendekati Adam yang terdiam ditempat masih memandanginya.
"Aku sudah siap Mas," katanya dengan senyuman paling manis.
Adam mengerjapkan matanya, dia tersadar. "Ah ya, itu-- kau sangat cantik!" Puji Adam dia menggaruk tengkuknya yang tak gatal, sedikit linglung juga.
"Benarkah? Terimakasih Mas." Semburat merah diwajahnya kentara itu menambah kecantikannya. Adam mengulurkan tangannya pada Ashma, dia segera meraihnya dengan lembut.
"Are you ready sweetheart? (Apakah kamu siap sayang?"
"Im always ready Mr. Style." (Aku selalu siap)
Mereka berjalan beriringan dengan saling berpegangan.
Adam membukakan pintu untuk istrinya, "silahkan masuk sweetheart," kata-kata manis itu masuk kedalam telinganya membuat Ashma menatapnya dengan penuh kelembutan.
Ashma tersenyum malu-malu, "terimakasih Mas."
Adam mulai melajukan mobilnya pergi dari pekarangan rumah, dia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.
“Apa kau Bahagia?” tanya Adam melirik sebentar Ashma, dia mengangguk kecil, “Ya, mungkin.”
Alis Adam mengerut, “mungkin?”
Ashma fokus melihat jalanan didepan. “Aku tidak ingin menggantungkan harapanku pada sesuatu yang belum pasti.” Katanya dengan tenang.
“Jadi kau meragukan ku?”
Ashma menggeleng pelan, “Tidak, aku hanya ingin melihat kesungguhan dari ucapanmu.”
Adam terkekeh mendengarnya, “Ya.”
Keheningan mulai mendominasi mereka, Adam yang merasakan itu segera menghidupkan musik di mobilnya. Dia memilih lagu dari penyanyi favoritnya, Ed Sheeran, Perfect. Ashma yang mendengar itu tersenyum kecil, itu adalah lagu kesukaannya.
“Darling, you look perfect tonight.” (Sayang kamu terlihat sempurna malam ini). Adam menyanyikan sepotong lirik lagunya, suaranya merdu sekali namun yang membuat Ashma bersemu merah karena mengingat arti dari lirik tersebut. Mereka saling melempar senyuman, seakan dunia milik berdua.
Perjalanan itu akhirnya sampai pada tujuan, Adam membawa Ashma ketempat restoran besar disana, dia membukakan lagi pintu mobil untuk Ashma lalu mengulurkan tangannya sambil membungkuk seperti Ashma adalah seorang putri Kerajaan.
“Terlalu berlebihan Mas,” bisik Ashma melihat kelakuan Adam yang ada-ada saja.
Adam tidak peduli, dia benar-benar frustasi karena kecantikan Ashma yang begitu membuatnya mabuk kepayang saat melihatnya, disisi lain itu juga membuatnya risih karena banyak para mata pria jelalatan yang memandang takjub kearah Ashma. Wanita dengan pakaian tertutup saja masih menjadi pusat perhatian mata laki-laki apalagi jika memakai pakaian terbuka, pikir Adam kesal.
Adam meraih pinggang istrinya, dia menariknya kedekatnya. Ashma sedikit terkesiap saat tangan besar itu memeluk pinggangnya dengan posesif. “Kamu hanya milik saya.”
Mendengar itu Ashma menggeleng kecil, “Ya aku memang milikmu Mr. Adam Kenedy.” Dilanjutkan dengan senyuman manisnya menatap mata biru milik suaminya itu.
Mereka berjalan perlahan memasuki restoran, sebelum itu disambut ramah oleh seorang waiters disana dan mereka langsung diantarkan ke tempatnya.
Ashma tergugu melihat tempat makan mereka, berada di ruangan khusus dan itu sangat romantis.
“Apa kau suka?” tanya Adam melihat wajah istrinya yang masih kagum melihat tempat dinner mereka.
Adam membawa Ashma untuk duduk ditempatnya, setelahnya dia ikut duduk di sebrang meja dengan saling menatap satu sama lain.
Para pelayan segera datang membawa hidangan pembuka untuk mereka, Ashma tersenyum ramah pada mereka.
“Spasiba.” Ashma mengucapkan terimakasih dalam bahasa Rusia.
Mereka menikmati hidangan pembuka itu dengan tenang. Kemudian berlajut pada hidangan utama dan penutup, dibaluri setiap momen mereka dengan iringan lagu romantis.
Setelah selesai dengan dinner mereka Adam segera berdiri dari tempatnya, dia mendekat pada Ashma, memberikan tangannya untuk diraih istrinya.
"Maukah kamu berdansa dengan saya?" Dia menawarkan diri dengan penuh kelembutan, Ashma mengangguk kecil. Namun sebelum itu Adam berjongkok menyamakan dirinya dengan perut besar Ashma, dia menciumnya dengan lembut juga sangat lama entahlah tapi Adam merasakan gejolak merindu yang sangat dalam dengan calon bayinya.
"I love you my child." Katanya berbisik pada perut Ashma dan saat itu juga Ashma merasakan pergerakan dari dalam sana, mereka saling menatap dengan keterkejutan dan senyuman yang merekah.
"Apa kau merasakannya Mas?"
Adam tentu merasakannya, dia mengangguk kecil.
"Dia mencintai ayahnya." Kata Ashma dengan air mata kebahagiaan yang tergenang di pelupuk matanya. Adam sekali lagi mencium perut Ashma penuh haru.
Selesai dengan calon buah hatinya Adam kembali berdiri menyamai tubuh Ashma, dia menatapnya dengan penuh kelembutan.
Ashma terkesiap saat pinggangnya diraih, ia merasakan desiran halus dalam dirinya. Adam membawa tangan mungil itu kedalam genggamannya, satu nya lagi memegang dada bidang Adam.
Adam menuntun Ashma untuk berdansa, dia dengan lihai mengajarinya penuh kelembutan supaya si bayi didalam perutnya juga tidak ikut terguncang.
Masih dalam gerakan berdansa, mereka menyatukan kening mereka saling tersenyum kecil dengan kekehan.
Saat keinginan sudah diujung tanduk Adam yang terlebih dulu meraih tengkuk istrinya supaya dapat menyatu dengan bibir menggoda Ashma.
Mereka terbawa suasana saat momen romantis semakin terasa, yang halus berubah menjadi cumbuan liar beradu dengan hasrat yang membara, tetapi Adam segera melepaskannya dengan paksa, itu sedikit membuat Ashma kecewa tapi akhirnya dia menunduk malu karena menginginkan hal yang lebih dari pada sekedar ciuman.
"Tidak ditempat ini Sweetheart, mari kita pergi." Adam ingin membawa Ashma untuk pergi dari sana namun tangan kecilnya yang menarik tangannya membuat Adam kembali menoleh pada Ashma.
"Ada apa?"
Ashma tidak menjawab atas kebingungan Adam dia malah mendekatinya lagi dan mencium kening Adam sedikit berjinjit.
"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya tapi aku ingin mendengar satu kalimat dari mu Mas, tolong... tolong katakan kau mencintaiku! Tolong katakan walaupun dengan kepalsuan." Ashma memohon kepada Adam dia hanya ingin mendengar perkataan itu dari mulut suaminya, entah mengapa tetapi Ashma benar-benar menginginkan Adam mengatakannya walaupun hanya sekali dia ingin mendengarnya.
Adam menangkup wajah Ashma, dia memandangnya penuh perhatian. "Saya akan mengatakannya, tapi tidak disini sweetheart, saya akan membawamu ketempat yang lebih romantis ketempat yang lebih tepat untuk mengatakannya." Ucap Adam membujuk, dia ingin memperlihatkan tempat yang sangat romantis untuk mereka.
"Apa itu benar?" Tanya Ashma dengan air mata yang tergenang, Adam segera menyekanya.
"Tentu Sweetheart." Melihat keyakinan pada mata suaminya Ashma mengangguk kecil.
Adam membawa Ashma keluar dari restoran itu, dia membuka pintu mobil dan membantu Ashma untuk duduk dengan nyaman. Setelah itu Adam segera beranjak keluar ketempat mengemudinya namun belum juga sempat masuk dia melihat dua orang insan yang sedang tertawa mesra saling menatap dan pergi dari sana tanpa melihat kehadiran Adam.
Adam membelakakan matanya saat ia tidak sedang menatap halu, mereka benar-benar ada disana.
"Lily? Edward?"
Adam mengepalkan tangannya sampai urat-urat nadinya menonjol, rahangnya mengeras dengan tatapan menghunus tajam.
Adam menatap istrinya, "Ashma tunggu lah disini, saya akan segera kembali." Katanya dengan nada suara dan raut wajah yang sudah berbeda, dia terlihat memendam amarah.
Ashma bingung sendiri dan tidak paham maksud perkataan Adam namun belum juga bertanya Adam sudah lebih dulu pergi dari sana dengan berlari, Ashma segera keluar dari mobil dengan tergesa-gesa dan disana--- dia melihat dengan mata kepalanya sendiri ada Lily dan juga seorang lelaki sepertinya itu adalah Edward, lelaki itu adalah suaminya dan Adam mengejar mereka dengan amarahnya yang membumbung dan itu menandakan bahwa Adam sudah berkhianat pada perkataannya.
Ashma melangkah mundur dengan lemas, dia berbalik dari sana dan segera pergi dengan hiliran air mata penuh rasa sakit didalam hatinya.
Adam tidak menepati janjinya dia pergi untuk mengejar wanita yang sebenarnya ia cintai.
Dia ditinggalkan dia benar-benar ditinggalkan.
Ashma terjebak dalam keinginannya sendiri, dalam keinginannya yang memaksa untuk meminta cinta dari Adam dia sangat marah kepada dirinya sendiri karena mengemis cinta dari lelaki yang tidak pernah menginginkannya ada didalam hatinya.
Ashma terduduk lemas sendirian dibangku yang menyuguhkan pemandangan sungai yang mengalir deras, itu seperti tangisannya yang pecah ditengah-tengah hatinya yang terjerat dalam nestapa.
"Aku membencimu Adam! Sekarang tidak ada lagi cinta untukmu aku sungguh membencimu!"
Ashma mengusap wajahnya yang penuh air mata dengan begitu kasar, dia merasakan benda di jarinya dan segera menatapnya dengan miris.
"Cincin pernikahan," Ashma tersenyum lirih, "bahkan aku sendiri yang hanya memakainya." Ashma melepas cincin pernikahannya dari tautan jarinya.
Dia memaksanya untuk melepas cincin itu yang sedikit sulit sampai akhirnya dapat terlepas namun cincinnya jatuh tergelinding kearah jalan.
Ashma menarik tubuhnya untuk bangkit dari duduknya, dia menatap lesu cincin itu ditengah jalan dan kakinya bergerak untuk mengambil cincin itu dengan tatapan kosong, dia terus mendekat kearah jalan untuk segera meraih cincinnya. Ashma mendapatkannya kembali tetapi cincin itu kembali lepas dari genggamannya saat tubuhnya melayang ke udara dan terhempas keras pada aspal jalan, dia merasakan sakit di seluruh tubuhnya namun masih melihat cincin itu bergelinding pergi, itu adalah cintanya yang telah pergi.
Itu adalah cintanya yang telah pergi.
Suara tabrakan yang bergema itu membuat seluruh penghuni di sekitaran jalan menatap kearah asal suara saat mobil dengan keras telah menghantam tubuh wanita yang tengah hamil.
Semua orang segera berlari ketempat kejadian, mengerubungi tubuh Ashma yang sudah bermandikan darah segar.
Dia merasakan tubuhnya remuk dan sakit yang sangat luar biasa sampai-sampai tubuhnya terasa mati rasa namun Ashma mengingat sesuatu didalam perutnya dia memeganginya dengan tangan bergetar yang dipenuhi darah.
"Anakku, anakku... tolong selamatkan anakku." lirihnya, suara Ashma tercekat saat pandangannya semakin mengabur.
Pada saat itu dia mengingat kenangan saat bersama anak yang masih berada didalam kandungannya, dia menantikannya dengan penuh cinta, melihat perkembangannya setiap bulan pada layar monitor dan dia menunggu anaknya lahir kedunia.
Kepada anakku... Sayangku. Tolong bertahanlah.
Sirine polisi dan ambulance bergema disepanjang jalan menuju lokasi tempat Ashma kecelakaan, polisi dan tim medis segera memecahkan kerumunan orang-orang yang mengelilingi tubuh Ashma yang mengenaskan.
Dokter segera mengecek keadaan Ashma.
"Ya Tuhan dia masih hidup." Dokter tersebut langsung melakukan tindakan pertama untuk menolong Ashma sebelum dia dibawa kerumah sakit.
Polisi meminta keterangan saksi mata, dia juga segera menghubungi keluarga Ashma yang ia dapatkan dari ponsel miliknya.
"Hallo Mr. Adam. Saya dari kepolisian kota. Saya ingin memberikan informasi dan berita duka pada anda, Wanita yang bernama Ashma dia mengalami kecelakaan."
Adam dari balik telepon membulatkan matanya penuh keterkejutan itu membuat Lily dan Edward saling memandang acuh tak acuh.
Disaat yang bersamaan suara sirine ambulance memekik kan suara begitu nyaring terdengar di telinga nya.
"Ya Allah, Ashma."
Adam membalikkan tubuhnya dan segera berlari begitu kencang membuat pasangan Edward dan Lily saling bertukar pandangan bingung, namun Lily menaruh curiga saat Adam mengucap kan nama Ashma sambil matanya tertuju pada ambulance yang baru saja lewat ditengah pusat kota itu.
Adam segera mengejar ambulance itu, polisi mengatakan Ashma akan segera dibawa kerumah sakit. Adam benar-benar tidak bisa berpikir jernih saat ia mencoba membuktikan bahwa perempuan yang dimaksud itu bukan istrinya tetapi saat melihat mobilnya yang kosong tidak ada Ashma didalamnya disaat itu Adam kehilangan segalanya.
"Ashma sayangku, Ashma...sa---sayangku." Adam menangis sejadi-jadinya didalam mobil sambil mengemudikan mobilnya penuh kecepatan.
#TBC