
"Mas, ini sudah malam. Kenapa tidak besok saja berangkat nya?!"
Ashma tidak habis pikir, Adam ini memang sangat suka keluyuran tidak peduli waktunya kapan, dini hari pun jadi.
"Emang ada pekerjaan yang harus berangkat pada dini hari seperti ini?" tanya Ashma sekali lagi, Adam yang sudah berada didekat pintu kamarnya kembali membalikan badan.
"Ini sangat penting, saya harus bertemu dengan seseorang." Ucapnya dengan tegas, Ashma menghela napas panjang tidak tahu lagi harus seperti apa menahan Adam agar tetap tidak pergi dini hari seperti ini.
Adam terlambat sekali untuk pergi ke apartemen nya, padahal dia sudah berjanji pada Lily malam tadi akan datang ke apartemen, tetapi karena pesona istrinya yang membuat Adam tergoda hingga dia tidak bisa menahan hasratnya yang membara untuk segera dituntaskan membuat dia lupa dengan janjinya.
"Bolehkah sekali saja aku memohon padamu, tolong jangan pergi kali ini saja!" mohon Ashma begitu lirih berharap Adam mahu menuruti keinginannya sekali saja.
Adam tertegun mendapati wajah Ashma yang penuh harap, "saya tetap harus pergi Ashma!" Adam kembali melanjutkan langkahnya membuat Ashma turut mengikuti Adam.
"Seandainya suatu hari nanti aku pergi tanpa memberitahu mu, apakah kamu akan mencariku?" pertanyaan Ashma lagi-lagi menghentikan langkahnya. Adam membalikkan badan dengan raut wajah yang dingin.
"Tentu saja tidak, karena pada saat itu tiba kita bukan lagi siapa-siapa." Adam melontarkan kata-kata itu tanpa dia sadari seperti lolos begitu saja dari mulutnya.
Runtuh sudah pertahanan Ashma selama ini hanya karena satu kalimat yang benar-benar memporak-porandakan hatinya. Ucapan manis lelaki itu beberapa jam yang lalu membuat Ashma sekarang merasa jijik, seharusnya Ashma sadar dari awal bahwa Adam hanya menginginkan tubuhnya saja.
Adam berlalu pergi meninggalkan Ashma dengan kekecewaan yang sudah tidak bisa diredam lagi, sekarang dia tahu langkah apa yang harus Ashma ambil selanjutnya.
"Maaf Mas, tapi kali ini aku sudah tidak bisa lagi menunggu dirimu yang tidak pasti, plin-plan dengan pilihanmu." Ashma menyeka air matanya dengan kasar, kali ini dia akan bersikap tegas pada dirinya sendiri.
Beberapa waktu berlalu begitu cepat, tidak terasa kehamilan Ashma telah memasuki bulan ketiga. Perutnya juga sudah terlihat membuncit, Ashma bersyukur sekali bisa merasakan nikmatnya menjadi seorang ibu hamil.
Sekarang ini dia tengah menyibukkan dirinya membuat kue di dapur, juga membantu merealisasikan Mood nya yang terkadang berantakan, setidaknya hobinya membuat kue dapat melepas beban pikirannya yang tentunya tidak baik untuk seorang ibu hamil.
"Kamu sudah meminum susu?" tanya Adam yang tengah berjalan menuju tempat istrinya membuat kue.
"Hm," dehem Ashma, menjawabnya juga tidak berniat.
Adam menghela napas berat, sudah dua bulan berlalu Ashma bersikap dingin padanya membuat Adam frustasi dan galau berat.
Terkadang Ashma selalu mencak-mencak tidak ingin tidur sekamar dengannya padahal ada saat momen dimana Adam ingin mengelus perut Ashma, dia sangat merindukan calon bayi mereka. Tetapi mengingat ucapan dokter, bahwa ibu hamil tidak boleh banyak pikiran maka dari itu Adam menurut saat Ashma ingin mereka tidur terpisah. Al hasil, setiap malam Adam selalu datang kekamar mereka saat istrinya sudah tertidur lelap hanya untuk mengelus dan menciumi perut Ashma saking rindunya pada si utun.
Adam tahu sebab perubahan sikap istrinya ini bermula setelah perdebatan kecil tempo lalu. Saat pulang ke Mansion beberapa hari setelahnya, tiba-tiba Ashma sudah bersikap dingin padanya, bahkan Ashma tidak pernah lagi memperlihatkan senyuman hangat pada Adam.
Awalnya Adam tidak peduli dengan perubahan sikap istrinya itu, tetapi semakin lama Adam merasa semakin terusik dengan sikap dingin Ashma. Adam tidak suka saat istrinya mampu memperlihatkan senyuman manisnya pada para pelayan dan pengawalnya sedangkan tidak untuk Adam.
"Sampai kapan kamu bersikap dingin padaku?" tanya Adam dengan kesal. Ashma tidak sedikitpun mahu melihat wajah Adam, kue didepannya lebih menarik dari pada harus melihat suaminya.
Adam tidak tahan lagi didiami Ashma seperti ini maka dari itu dia segera mendekat dan meraih pinggang Ashma dengan hati-hati mengingat kandungannya yang sudah terlihat menyembul.
Ashma tetap tidak mahu memandang Adam, setiap kali Adam melakukan hal seperti ini Ashma tetap kukuh pada pendiriannya untuk tidak terlalu peduli, biar Adam merasakan perasaannya yang selama ini selalu dijatuhkan harapannya berkali-kali oleh Adam.
Adam mencekal kedua rahang istrinya dengan pelan, memposisikan wajah Ashma supaya mahu melihat Adam.
"Saya tidak ridho kamu memandang selain wajah saya!" Ultimatum Adam berhasil membuatnya mahu menatap suaminya, selalu saja ancaman itu membuat Ashma tidak dapat berkutik.
Mata mereka bertemu dengan tatapan tajam satu sama lain, tidak ingin saling kalah dengan ego masing-masing.
"Sampai kapan mahu seperti ini Ashma?" geram Adam.
Ashma tersenyum sinis, "sampai kita berpisah Mas!"
Adam yang mendengar jawaban itu berulang kali langsung menyambar bibir Ashma dengan kasar, Ashma langsung saja memukul-mukul dada bidang Adam supaya Adam mahu berhenti.
Air mata Ashma luruh ditengah-tengah cumbuan Adam yang begitu kasar, dia jadi teringat pertama kalinya Adam merenggut ciuman pertamanya dengan kasar.
"Kau membuatku takut!" Ashma berlalu pergi meninggalkan Adam dengan rasa bersalah.
Ashma menangis sejadi-jadinya didalam kamar, semakin kecewa dengan perlakuan Adam yang selalu berubah-ubah kadang manis, dingin ataupun tidak peduli, padahal Ashma sudah berusaha tidak berharap mendapatkan perhatian ataupun cinta dari Adam lagi, tetapi lelaki itu malah menampilkan sikap tidak relanya atas perlakuan Ashma.
"Kalau seperti ini terus bukankah berpisah lebih cepat pasti lebih baik, setidaknya tidak akan ada lagi harapan-harapan semu terhadap lelaki itu." Gumam Ashma dengan perasaan gamang.
Ashma yang akan beranjak bangun tiba-tiba urung karena Adam masuk kedalam kamar, wajahnya menampilkan raut tak terbaca sehingga membuat Ashma menerka-nerka.
Adam berdiri disudut pintu dengan wajah memelas. "Maaf,"
Ashma menyeka air matanya dengan kasar, membuang wajahnya ke sembarang arah karena rasa kesal masih bercokol saat melihat Adam.
"Saya hanya ingin kamu jangan mendiami saya lagi Ashma!" Adam ikut duduk dilantai, disebelah kanan istrinya sambil menekuk lututnya.
"Biarkan seperti ini saja Mas, lagipula nanti juga kita berpisah. Aku tidak ingin membebankan perasaanku lagi!"
Adam mengusap wajahnya dengan frustasi, Adam juga tidak tahu mengapa dirinya seperti ini tetapi dia benar-benar tidak ingin mendengar kalimat perpisahan dari mulut Ashma.
"Aku sudah memutuskan Mas, mari kita bercerai." Adam seketika menoleh kearah Ashma dengan wajah yang memanas, enteng sekali Ashma berkata demikian padahal dirinya saja tidak pernah melontarkan kata perceraian.
Ashma ikut beralih menatap Adam kali ini dengan tatapan dingin yang seakan sudah lelah dengan semuanya.
"Berani-beraninya kamu mengatakan kalimat itu Ashma!" desis Adam tajam, dia tidak terima Ashma berkata seenaknya.
Ashma terkekeh pelan mendapati respon Adam yang membingungkan, "kenapa kamu marah, inikan memang akan terjadi!"
Adam mengeram marah, "bisakah untuk saat ini tidak mengatakan tentang hal seperti itu?!'
"Satu tahun itu lama Mas kenapa harus menunggu nanti kenapa tidak sekarang saja?!" Sarkas Ashma, diliputi rasa pilu yang mendera hatinya karena sebenarnya Ashma tidak ingin berkata seperti ini, demi Tuhan dia tidak ingin namun apa boleh buat jika setiap saat harus mengemban luka.
"Saya bilang tidak bisa sekarang! Apa susahnya menunggu beberapa bulan lagi Ashma!" Pekik Adam dengan nada suara yang semakin meninggi. Adam bangkit untuk berdiri lalu menggendong tubuh Ashma supaya tidak duduk dilantai.
"Lepas!" ronta Ashma memukul-mukul dada bidang Adam. Adam tidak mengindahkan rontaan istrinya, segera dia bawa tubuh Ashma untuk duduk diatas sofa.
Mereka hening beberapa saat dengan ego masing-masing, membiarkan udara menetralkan amarahnya masing-masing.
Adam menghela napas panjang, dia ikut duduk disebelah Ashma namun istrinya itu malah menjauh. Adam memilih mengalah karena mengingat kesehatan Ashma dan calon bayinya.
"Saya tidak ingin bertengkar denganmu Ashma. Jangan diami saya lagi!" ucap Adam parau dengan wajah muram.
Ashma tetap tidak mau merespon ucapan suaminya dia memilih untuk kembali mendiami Adam, biar saja. Ashma ingin melihat seberapa dirinya dibutuhkan didalam hidup Adam.
Ashma Tidak kunjung merespon membuat Adam frustasi. Adam tahu dirinya sudah keterlaluan tempo lalu atas ucapan yang tanpa sadar melukai hati Ashma namun Adam tidak bisa ingkar janji harus menemui Lily dini hari itu juga.
Mengingat Lily, wanita itu sudah semakin sehat karena Adam memberikan perawatan terbaik untuknya. Namun Adam sedikit takut sebab ingatan Lily mengenai Edward selalu membuatnya penasaran dan banyak bertanya pada Adam.
Lily juga rewel sekali ingin bertemu bibi Marianee namun Adam masih belum siap sebab tidak tahu apa yang harus dia jelaskan pada bibi Marianee terutama Ashma, apalagi Lily tidak boleh tahu bahwa dirinya sudah menikah dengan wanita lain.
Adam yang sadar dari lamunannya segera melihat kearah Ashma yang masih sama tidak berpaling kearahnya. Dengan inisiatif Adam memeluk Ashma dari belakang, menaruh kepalanya diceruk leher Ashma yang tidak tertutup hijab.
"Tolong jangan diami saya lagi. Jangan usir saya juga malam ini, saya tidak bisa tidur jika tidak mengelus perutmu." Ujar Adam lembut berusaha meluluhkan Ashma yang merajuk padanya.
Ashma mendengar ucapan suaminya geli sendiri. Sebenarnya dia tahu saat malam hari Adam selalu datang kekamar mereka hanya untuk mengelus dan mengecup perutnya, bahkan dia juga pernah beberapa kali mendengar celotehan Adam yang berbicara dengan calon bayi mereka agar membantu meluluhkan ibunya yang tengah merajuk.
"Biar kamu merasakan Mas perasaan aku selama ini seperti apa. Bohong sekali sepertinya jika dirimu tidak memiliki perasaan apapun kepadaku. Hanya karena belum berdamai dengan masa lalu kamu bahkan tidak peka akan perasaan mu sendiri."
#TBC