
"Ashma! Apakah semuanya baik-baik saja? Kenapa kamu tidak bisa pulang ke Palestina?" Paman Amith begitu cemas dari sebrang sana.
"Paman Amith, maaf telah membuatmu cemas. Ada beberapa hal yang mendadak terjadi dan membuatku harus tinggal di sini untuk sementara waktu. Paman tenang saja, setelah masalah disini selesai aku akan segera pulang ke Palestina."
Paman Amith menghela nafas lega mendengar perkataan Ashma, tetapi masih memiliki kekhawatiran pada keponakannya, bagaimana tidak saat dia menjemputnya ke bandara Ashma tidak ada disana, itu sangat aneh.
"Baguslah jika kamu memastikan akan segera pulang. Paman sangat khawatir tentang keadaanmu. Kabari paman jika ada kabar terbaru, baik? Dan nenekmu juga sangat mengkhawatirkan mu. Apakah kau ingin paman memberitahunya?"
"Terima kasih, Paman. Aku akan selalu mengabarimu. Tolong beri salamku pada nenek dan sampaikan bahwa aku baik-baik saja. Aku tidak ingin membuatnya khawatir."
"Baik, akan paman sampaikan pesanmu pada nenek. Tolong kabari selalu kami disini."
Ashma merasa lega bisa mengabari paman Amith. Setelah mengabari pamannya entah mengapa Ashma sulit sekali untuk tertidur bahkan ia merasa tidak mengantuk sama sekali.
Karena Ashma masih juga terjaga akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari kamar. Ashma berjalan pelan menuruni anak tangga, semua orang di mansion ini pasti sudah tertidur.
Ashma melihat ruangan disekitarnya sudah dipadamkan lampunya tetapi pandangan Ashma tertuju pada satu ruangan yang masih menyala maka dari itu Ashma pergi untuk mengeceknya.
Ashma melihat seseorang disana dia mengenali punggung lebar itu, Adam berada disana dan Ashma memutuskan untuk kembali kekamarnya karena tidak ingin mengganggu atau mengacaukan momen pribadi Adam. Ashma berbalik dan melangkah kembali untuk naik tangga. Namun, sebelum Ashma bisa melangkah lebih jauh, Adam tiba-tiba memanggil namanya.
"Ashma."
Ashma terkejut dan berbalik menghadap Adam. "Oh, maaf jika aku mengganggu. Aku hanya ingin melihat apa yang terjadi di sini. Aku sulit tidur."
Adam berjalan sedikit sempoyongan mendekati Ashma dimana dia berdiri sekarang, entah mengapa Ashma merasa aura Adam sedikit menakutkan.
"Aku sangat merindukanmu lily, sangat." Adam meracau dibawah kesadarannya dan menganggap bahwa Ashma adalah lily kekasihnya.
Ashma terkejut mendengar kata-kata Adam. Matanya memandang ke arah Adam dengan campuran kebingungan dan kecemasan.
"Apa yang kau maksud, Adam? Aku bukan Lily, aku Ashma!" jawab Ashma dengan nada tinggi.
Adam semakin melangkah mendekati Ashma, wajahnya penuh dengan ekspresi kebingungan dan kekecewaan. "Tidak mungkin... Lily, itu namamu. Aku tahu kau adalah Lily. Bagaimana mungkin kau bisa lupa dengan namamu?"
Ashma merasa semakin tidak nyaman dengan situasi ini, dia mencoba menjaga ketenangan dan menjelaskan kepada Adam dengan hati-hati, "Adam kau mabuk, aku bukan Lily."
"Kau... kau tidak bisa bukan Lily," gumam Adam, suaranya penuh dengan ketidakpercayaan. "Kau terlihat persis seperti dia, bicaramu, gerak tubuhmu, semuanya sama."
"Apa kau ingin menghindar lagi dari diriku? Lily aku benar-benar mencintaimu tetapi kenapa kau malah membatalkan pernikahan kami?" Adam semakin meracau tak jelas Ashma semakin takut dengan aura Adam maka dari itu Ashma memutuskan untuk segera pergi dari sana akan tetapi Adam berhasil menarik tangannya dan membawa Ashma yang dia kira Lily kedalam dekapannya.
Ashma merasa panik dan cemas. Dia berusaha melepaskan diri dari genggaman Adam yang kuat. "Adam, lepaskan aku! Aku bukan Lily! Aku Ashma! Kau salah!" pekik Ashma dengan rasa takut yang membumbung tinggi.
Namun, Adam terus mempertahankan cengkeramannya dan berbicara dengan suara terputus-putus, "Jangan berbohong, Lily! Aku tahu kau masih mencintaiku. Kau tidak bisa meninggalkanku begitu saja!"
Ashma mencoba meredakan ketegangan dengan tenang, "Adam, dengarkan aku. Aku benar-benar bukan Lily. Aku tidak tahu apa yang terjadi di antara kalian berdua, tetapi aku adalah Ashma, bukan Lily. Tolong lepaskan aku sekarang!"
Dalam kepanikan, Ashma mencoba memanfaatkan situasi sebaik mungkin. Dia mencoba menenangkan Adam dengan suara lembut, "Adam, dengarkan aku. Aku tahu kau sedang bingung dan marah, tetapi aku bukan Lily. Adam sadarlah."
Namun, usahanya tampaknya tidak membuahkan hasil. Adam tetap tidak mendengarkan permohonan Ashma. Cemas akan keselamatannya, Ashma mulai merasa terdesak dan mencari cara untuk melarikan diri. Tetapi bagaimanapun ia berusaha kekuatannya kalah dengan tenaga Adam yang lebih besar, Ashma sungguh takut.
Ashma sangat terkejut saat tiba-tiba Adam menciumnya, Ashma sangat marah ia ingin menghindar, namun kekuatan Adam masih terlalu kuat bagi Ashma. Ashma mencoba melawan dan menendang Adam dengan sekuat tenaga yang dia miliki, berusaha melepaskan diri dari cengkeramannya yang kuat.
Bukannya melepaskan Adam malah semakin memperkuat pagutannya, situasi semakin memburuk ketika Adam membawa Ashma kedalam kamar. Ashma berusaha keras untuk melepaskan diri, tetapi kekuatan Adam yang besar membuatnya sulit untuk melarikan diri. Dia merasa semakin terdesak dan takut akan apa yang mungkin dilakukan Adam.
Dalam keputusasaan, Ashma mencoba berteriak minta tolong berharap ada orang yang akan mendengar dan datang membantu. Namun, suasana yang tenang di mansion tersebut membuat suaranya terdengar samar dan tidak sampai kepada siapapun, sepertinya kamarnya juga kedap suara.
Adam menghempaskan tubuh Ashma keranjang kasur lalu ia kembali mencium bibir Ashma dengan rakus. Adam berhasil melepaskan hijab yang digunakan oleh Ashma hingga rambut hitam panjangnya terurai, Ashma menangis sejadi-jadinya ia sudah merasa sangat kotor. Ashma terus melakukan pemberontakan, dia mencengkram keras bahu Adam akan tetapi lelaki itu seperti tidak merasakannya sama sekali.
Dibawah pengaruh minuman keras otak Adam semakin menggila, tanpa sadar Adam berhasil merobek gamis yang Ashma kenakan lelaki itu benar-benar sudah dikuasai oleh nafsunya
"A-aku mohon he-Hentikan!" pekik Ashma sangat begitu marah.
"Aku Ashma bukan Lily." Ashma menangis dan suara lemah itu perlahan-lahan membuat kesadaran Adam kembali, ia menajuhi tubuhnya dari Ashma. Adam segera memperhatikan Ashma yang menangis di dekatnya, dan ekspresi wajahnya menunjukkan ketakutan yang mendalam.
Adam memukul-mukul kepalanya yang sangat pening dia merasa sangat pusing dan pergi ke toilet untuk membasuh wajahnya. Sementara itu, Ashma yang masih ketakutan mengguncang-guncangkan tubuhnya karena merasa sudah sangat kotor, dia lalu menutupi tubuhnya dengan selimut.
Adam membasuh wajahnya dengan frustasi, dia mengingat perbuatan brengseknya, bagaimana bisa Adam mengira Ashma adalah lily, Adam tidak pernah seperti ini sebelumnya.
Adam kembali dari toilet setelah mencuci wajahnya, dia melihat Ashma yang terguncang dan menangis diatas tempat tidur dengan hijab dan gamisnya yang sudah berantakan. Adam merasa sangat menyesal dan bersalah atas tindakannya terhadap Ashma. Dia menyadari bahwa dia telah membuat kesalahan besar dengan mengira Ashma adalah Lily dan hampir saja melecehkan Ashma. Adam mendekati Ashma dengan hati-hati, mencoba menenangkan gadis itu.
"Ashma, maafkan saya," ucap Adam dengan suara lembut.
Ashma mengangkat wajahnya yang masih basah oleh air mata. Dia menatap Adam dengan campuran perasaan takut dan marah. Suara Ashma bergetar, "ke-kenapa kamu mengira aku Lily? Aku Ashma, bukan kekasihmu!" pekik Ashma karena merasa jijik sekali dengan tubuhnya sekarang.
"K-kau ja-jangan mendekat!"
Adam berhenti di tempatnya, memberikan jarak di antara mereka sebagaimana yang Ashma minta. Dia memahami bahwa Ashma masih merasa takut dan tidak nyaman.
"Maafkan saya, Ashma," kata Adam dengan suara lembut. "Saya tidak tahu apa yang terjadi padaku tadi. Saya terkejut dan kehilangan kesadaran. Saya mengira kau Lily karena wajahmu terlihat mirip dengannya. Tapi sekarang saya tahu bahwa kamu Ashma, bukan Lily. Saya minta maaf atas kesalahpahaman itu."
"Saya tidak akan mendekat atau menyakitimu. Saya akan menjaga jarak, kecuali jika kau merasa nyaman untuk berbicara denganku. Saya minta maaf saya-"
"Pergi Adam!" Ashma mengusirnya, dia saat ini benar-benar ketakutan.
Adam mengangguk dengan sedih, "Baiklah, saya mengerti. Saya akan pergi sekarang. Maafkan saya, Ashma. Saya benar-benar menyesal." Dengan hati yang berat, Adam meninggalkan kamar itu dan memberikan ruang kepada Ashma untuk menenangkan diri.
Dia segera masuk kedalam kamarnya dan menatap dirinya di cermin. Dia melihat dirinya yang begitu brengsek karena hampir saja melakukan tindakan tak senonoh pada wanita yang seharusnya dia lindungi.
#TBC