
Kaki nya menapaki lantai yang dingin dengan perlahan, walaupun dilanda lemas dia tetap berusaha untuk kokoh berjalan dengan bantuan tangannya yang menyangga pada tiang khusus untuk membantunya berjalan.
Satu dua langkah wanita itu masih mampu namun saat akan melangkah ketiga kalinya dia mulai kehilangan keseimbangannya sebab lemas merundung tubuhnya tapi dia tidak terjatuh kelantai, suaminya membantunya dengan telaten penuh kecepatan.
Adam menyangga tubuhnya dari belakang, dia tidak memikirkan lagi Ashma yang masih sangat membenci sentuhan tubuhnya dia tetap ingin melindungi Ashma walaupun wanita itu seribu kali telah menolak dirinya, dia tetap akan egois untuk menjaganya.
Ashma mendongakkan wajahnya menatap Adam dengan wajah cemas, lelaki itu dia merengut tidak ingin untuk melepaskan pelukan Adam namun dia tetap tidak ingin melepaskannya.
“Jangan seperti anak kecil Ashma, menurutlah kau ini jangan keras kepala!” ucap Adam sedikit kesal, persetan dengan raut wajah tidak suka istrinya dia tetap tidak akan melepaskan Ashma.
Ashma akhirnya menyerah saat tubuhnya memang benar-benar lemas dan tidak bisa lagi berontak.
Dokter Alicia yang melihat pasangan sejoli itu menggeleng kecil, dia tahu bahwa mereka tengah perang dingin. Entah karena apa tapi dokter Alicia yakin mereka pasti memiliki masalah yang sangat rumit, semoga mereka segera berbaikan.
Adam menuntun Ashma untuk membantunya berjalan pelan-pelan, entah sadar atau tidak tetapi ini adalah kesempatan baik untuknya setidaknya Adam jadi bisa berdekatan dengan wanitanya.
“Pelan-pelan sayang,”
Ashma tidak menghiraukan ucapannya, dia tetap berusaha untuk melepaskan tangan Adam yang bertengger di perutnya.
Suster tiba-tiba datang dan memberitahu dokter Alicia bahwa ada pasien baru yang harus segera ditangani, dokter Alicia meminta izin kepada mereka mau tidak mau Ashma merelakan dokter Alicia pergi untuk mengemban tugasnya.
Kini yang ada di ruangan itu hanya mereka berdua saja, itu menjadi hal yang sangat tidak menyenangkan bagi Ashma karena harus berduaan dengan Adam, dia hanya tidak ingin hatinya akan goyah apalagi melihat Adam yang berusaha untuk meruntuhkan pertahanannya lagi.
Tidak. Ashma tidak akan lagi jatuh dalam perangkap yang sama, sekalipun itu akan menyakiti keduanya Ashma tetap tidak akan jatuh lagi dalam kebohongan yang dibuat oleh Adam.
“Aku bisa sendiri, jadi lepaskan!” Ashma melepaskan tangan Adam sekeras yang ia bisa, dia juga berontak sebab lelaki itu tetap kokoh memeluk tubuhnya.
“Aku bilang lepaskan tuan!” pekik Ashma menepis tangan Adam, dia sudah kehilangan batas kesabarannya saat air mata turut hadir dalam emosinya yang menggebu-gebu, disaat itu Adam melepaskan pelukannya dari Ashma.
Adam menatapnya dengan perasaan gamang, saat tangan lemah itu menepisnya dengan penuh perjuangan.
“Aku memohon dengan sangat tuan Adam. Tolong jangan coba berbohong lagi, jangan goyahkan aku jangan mencoba-coba jadi pengemis cinta aku sudah tidak butuh itu lagi aku tidak menginginkan cintamu lagi jadi aku mohon tolong…tolong lepaskan aku!”
Adam menyunggingkan senyuman saat istrinya mulai melantur, dia mendekatinya dengan langkah goyah dan tangannya terulur untuk meminta digenggam oleh Ashma.
“Saya memohon padamu, jangan seperti ini Ashma. Tolong… saya meminta dirimu Kembali padaku juga jangan mengacuhkan perasaanku lagi.”
Lelaki itu berjongkok dihadapannya, merendahkan diri demi meminta kembali cintanya, dia sudah gila ya benar Ashma rasa Adam sudah tidak waras lagi karena tidak bisa mendapatkan cintanya lily sebab Wanita itu mencintai orang lain dan sekarang Adam malah melampiaskan kepadanya untuk memberikan lagi cintanya pada lelaki yang haus akan cinta itu.
“Tidak, sekarang yang bisa kuberikan hanyalah kebencian Adam aku sungguh membenci mu, aku tidak percaya lagi padamu!” dia marah namun dia menangis dengan tubuh yang bergetar.
Adam mengusap wajahnya dengan kasar, “lalu apa yang kau inginkan?” suaranya terdengar lebih kuat dari sebelumnya, dia mencoba mengatur emosinya agar tidak meledak.
Ashma menatapnya seperti dia adalah manusia yang tercela, “tolong lepaskan ikatan ini, aku ingin pulang ke rumahku di Palestina!”
Saat ucapan itu melayang di udara dan masuk kedalam pendengarannya Adam mulai kehilangan batas kesabarannya, dia dengan penuh amarah memukul dinding dengan begitu keras hingga jari kukunya yang memutih itu terluka dan mengeluarkan darah segar, Ashma tentu syok sampai membekap mulutnya.
“Bisakah kau tidak mengatakan hal mustahil seperti itu Ashma, saya tidak akan pernah memutuskan hubungan kita sampai kapanpun, kamu istriku dan selamanya tetap akan menjadi istriku!” Nada suara Adam meninggi membuat orang-orang yang berlalu Lalang diluar Nampak bertanya-tanya dan penasaran apa yang sedang terjadi didalam ruangan itu.
Adam mendekatinya dengan napas yang memburu tetapi Ashma mencoba sekuat tenaganya untuk menjauh dari jangkauan Adam.
Syukurnya saat ia sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk melangkah mundur suster datang tepat waktu, Ashma segera meminta suster itu untuk membawa ia pergi dari sana.
Adam yang melihat itu begitu frustasi, dia mengacak rambutnya dengan kasar, lagi-lagi dia sudah mengacaukan segalanya. Ashma pasti semakin takut dan membencinya.
“Bodoh, dirimu memang bodoh Adam!” hardiknya begitu kesal pada dirinya sendiri. Dia sudah lepas kendali dihadapannya.
Sedangkan istrinya tertunduk penuh air mata didalam ruang rawatnya, dia memeluk anaknya dengan penuh kasih sayang.
“Bahkan dia masih menyakitiku dengan memberi harapan palsu. Apakah ini tampak seperti lelucon baginya?!" Dia berseru dengan air mata mengalir diwajahnya.
Ashma hanya ingin melepaskan ikatan yang menyakitkan ini, seperti inginnya lelaki itu, janjinya bahwa mereka akan berpisah. Adam sendiri yang mengatakannya dengan gamblang walaupun harus menunggu satu tahun, tidak Ashma tidak akan menunggu selama itu lagi untuk perpisahan mereka.
Tapi sekarang dengan keadaanya ini mana mungkin, jadi Ashma akan menyembuhkan diri sampai dia kembali kuat untuk melangkah dan berdiri dihadapannya lagi untuk meminta perpisahan padanya dengan mantap dan penuh berani, dia tidak akan tergoyahkan lagi.
...•••...
Adam duduk sambil melamun di kursi taman rumah sakit, angin berhembus kencang meniup rambutnya yang memanjang. Adam belum mencukur rambutnya lagi, bahkan dia tidak terlalu memperdulikan bagaimana penampilannya sekarang, dia hanya terus memikirkan bagaimana caranya bisa membuat Ashma percaya kepadanya lagi bahwa dia mencintainya, dia sudah jatuh cinta kepada wanita itu.
Mungkin dia dulu tidak sadar bahwa dia sebenarnya sudah jatuh hati pada Ashma, ya benar Adam memang telah dibutakan oleh cinta semu nya pada Lily sehingga ia menutup perasaan yang sebenarnya pada Ashma.
"Kalau begitu saya harus apa Ashma?"
"Kalau saya harus mengemis meminta cinta kepadamu itu sangat tak apa bagiku Ashma." ucapnya begitu lirih, Adam seperti lelaki yang butuh dikasihani.
"Setidaknya itu yang bisa saya lakukan seka--"
"Tidak!"
"Saya memiliki Allah, saya bisa memintanya. Saya bisa meminta kamu kepadanya untuk tetap berada disamping saya."
"Saya-"
Adam teringat ucapan Daniel sahabatnya tempo lalu.
"Sebesar apapun cintamu kepada manusia maka jangan sampai kadarnya melebihi rasa cintamu kepada Allah."
Ucapan Daniel terngiang-ngiang di kepalanya, dia selalu mengingatnya.
"Benar, saya bersalah dan saya keliru."
Adam tertunduk malu karena dia terlalu terobsesi untuk mendapatkan cintanya manusia tanpa pernah mau merayu Tuhannya dengan cinta kepadanya.
#TBC