A Little Hope For Ashma

A Little Hope For Ashma
63. Ana uhibbuka fillah ya zaujati



Peluh membasahi wajah istrinya, dia sepertinya bermimpi buruk. Adam segera menghampiri Ashma di ranjang tidur, dia mencoba menenangkan istrinya.


"Sayang, hei tenanglah..." Adam mengelus pipi Ashma dengan lembut.


Saat dia mengelus pipinya seketika itu Ashma berhenti merintih, raut wajahnya kembali tenang.


"Saya ada disini," bisik Adam ditelinga nya.


Tidurnya sudah tenang lagi maka dari itu Adam berniat kembali ke sofa namun tangannya dicekal oleh Ashma. Adam segera menoleh dan mendapati istrinya masih tertidur namun tangannya bergerak memegangi tangan Adam.


Adam tersenyum kecil, "baiklah kalau ini maumu sayang." Adam memutuskan untuk berbaring disebelah Ashma, dia juga tidak berniat kembali lagi untuk tidur di sofa. Sudah badannya besar, tidak muat, pegal-pegal pula badannya, lengkap sudah penderitaan Adam setiap malam jika harus terus tidur di sofa.


Adam menatap Ashma, agar tidak membuatnya terusik sehingga terbangun dan mengusir Adam dari tempat tidur jadi dia mencoba naik keatas ranjang dengan penuh kehati-hatian, kalau Ashma sampai bangun dan melihatnya berada disampingnya bisa-bisa mereka perang malam itu juga.


Adam berhasil berbaring disebelah istrinya dia tersenyum puas karena bisa memandangi wajah Ashma sedekat ini.


"Istri Mas seperti bidadari," gumamnya mesem-mesem sendiri.


Pandangan Adam lalu turun melihat perut Ashma, ah dia lupa untuk mengajak anaknya berbicara.


Adam kembali bangun dari rebahannya untuk mencondongkan diri kedepan perut Ashma.


"Kamu pasti kangen sama ayah kan Dede bayi?" Adam mengajak ngobrol anak yang berada diperut ibunya, ajaib nya dia merespon dengan merusuh didalam perut ibunya.


"Dede bayi jangan merusuh nanti kalau ibumu bangun ayah bisa ditendang dari sini." Katanya menggurutu kecil pada calon anaknya.


Adam mencium perut besar Ashma dengan penuh kelembutan dia sangat sesayang itu pada anaknya yang masih berada didalam kandungan istrinya.


"Beginikah definisi mencintai tanpa melihat rupanya seperti apa?" Gumam Adam dengan penuh kebahagiaan yang memenuhi jiwanya.


"Terimakasih sudah bertahan ya sayang bersama ibumu hingga sekarang, ayah akan berjuang untuk mendapatkan kembali cinta ibumu jadi tolong bantu ayah."


Adam kembali berbaring setelah mendaratkan ciuman terakhirnya pada calon anaknya.


Dia masih memandangi wajah Ashma sebelum akhirnya ikut terlelap disamping istrinya, dia tidak peduli pagi nanti akan bagaimana yang penting sekarang dia bisa tidur disamping istrinya.


Ashma yang mendengar suara adzan dari handphonenya terbangun namun dia merasakan napas hangat yang menerpa lehernya, Ashma menoleh kesamping dan terkejut mendapati Adam berada disampingnya, jarak wajah mereka pun sangat dekat sekali. Ashma ingin sekali menghempas tubuh itu agar menjauh darinya tapi urung karena Ashma merasa nyaman dengan posisi mereka sekarang.


Namun karena adzan subuh sudah berkumandang dia segera memutuskan untuk segera berwudhu, Ashma melepaskan diri dari tubuh Adam yang menempel didekatnya, sang empu menggeliat dan akhirnya ikut terbangun.


Dengan masih mengumpulkan nyawanya Adam mengucek matanya yang masih terasa berat.


Ashma menatapnya dengan kesal, "bisa ya ambil kesempatan dalam kesempitan?!" Ucapnya sensi karena Adam sudah melewati batas.


"Sayang gak gitu," sahut Adam dengan suara serak yang berat, dia ikut duduk mengikuti Ashma.


Ashma mencebik kesal dia segera bangun dari duduknya dengan tergesa-gesa.


Adam kelimpungan sendiri melihat istrinya merajuk, "sayang jangan marah, mas minta maaf." Dia mengejar Ashma sampai kekamar mandi.


Ashma menatapnya dengan tajam, "ih sana keluar malah ikut masuk kedalam!"


"Mas minta maaf, tapi beneran gak berniat tidur disamping kamu semalam kamu mengigau terus pegangin tangan mas gamau dilepas yasudah mau gak mau saya tidur disamping kamu." Ucapnya memang faktanya seperti itu.


Ashma terdiam sebentar, dia memang sering memimpikan kedua orang tuanya dan biasanya bangun tengah malam dengan resah tapi malam tadi tidurnya malah menjadi nyenyak.


Ashma mendelik tajam, "pokoknya kamu sudah mengambil kesempatan dalam kesempitan!"


Adam menggeleng frustasi, "engga sayang engga..."


Ashma mendengus sebal, "udah deh kamu keluar sana ih aku mau wudhu!"


"KELUAR!"


Adam menghela napas pasrah, "iya mas keluar." Dia keluar dari kamar mandi dengan lesu, Adam mendesah berat karena membuat Ashma semakin marah padanya.


Adam segera mengambil air wudhu setelah menunggu Ashma didalam bilik kamar mandi, mereka sempat beradu tatap namun Ashma lebih dulu memutuskan kontak mata mereka.


"Huft..." Adam menghela napas panjang lalu segera mengambil air wudhu.


Ashma yang sudah siap dengan mukena nya segera menggelar sajadah dan hendak memulai sholat namun Adam segera memberhentikannya.


"Tunggu sayang, kita jamaahan." Adam segera bergegas untuk mengimami shalat, Ashma tidak protes karena kalau perihal ibadah mana bisa dia kudu menolak Adam yang ingin mengimami.


Air bekas wudhu di rambutnya berjatuhan, itu membuat aura Adam semakin mempesona. Ashma mencuri-curi pandang kearahnya, jujur dia tidak bisa memungkiri betapa tampannya lelaki itu.


"Nanti setelah sholat kamu bisa pandangi mas sepuas yang kamu mau sayangku," ucap Adam menggoda istrinya karena dia tahu Ashma dari tadi curi-curi pandang kearahnya.


"Ih apaan sih!"


Adam tidak menghiraukan ucapan ketus Ashma dia segera menghadap kearah kiblat dan memulai sholat wajib dua rakaat.


Subuh itu vibes nya begitu berbeda dan menenangkan bagi mereka. Adam segera menghentikan istrinya yang ingin beranjak seusai sholat, dia ingin Ashma tetap duduk bersamanya diatas sajadah.


"Sweetheart,"


"Apa?"


"Duduk dulu,"


"Hmm, kenapa?"


Adam menatap istrinya penuh senyuman dia begitu bersyukur bisa diberikan kesempatan oleh Allah untuk mencintai Ashma.


"Saya sempat lihat postingan random di Instagram, kamu tahu ustadz Adi Hidayat kan?" Tanya Adam tiba-tiba membuat Ashma mengernyitkan dahinya bingung tetapi dia mengangguk kecil sebagai jawaban.


"Lalu?"


Tatapan mata Adam begitu lembut menatapnya. "Ustadz Adi bilang, 'Menikahi yang dicintai itu harapan, tapi mencintai yang dinikahi itu kewajiban.' Kurang lebih seperti itu perkataan beliau yang saya tangkap, jadi...saya memiliki kewajiban untuk mencintai kamu terlepas seperti apa perasaanmu sekarang kepadaku."


"Ashma, saya menyesal karena sempat terjerat dalam masa lalu yang tentu sudah tidak bisa saya ubah atau diperbaiki, tapi sekarang Allah memberikan saya kesempatan untuk mencintai kamu, maka dari itu saya akan terus berusaha memintamu kepada-Nya. Biarkan doaku di langit membumbung banyak meminta kamu untuk menjadi pendamping hidup dan bidadari saya kelak di surga nanti. Demi Allah saya mencintai kamu Ashma."


Ashma sungguh tersentak mendengar ucapan Adam, dia juga turut terdiam dengan haru didalam hatinya.


Mata lelaki itu menyiratkan kesungguhan dan penuh pengharapan, Ashma ingin sekali menjawab ucapan indah yang baru saja dikatakan oleh suaminya hanya saja tenggorokannya terasa kelu untuk mengeluarkan suaranya yang terasa tercekat.


"Jadi jangan larang saya untuk terus memperjuangkan kamu Ashma, saya tidak akan mundur ataupun gentar." Dia melanjutkan ucapannya membuat Ashma tertunduk bingung harus merespon seperti apa.


Ashma masih memiliki ketakutan padanya, dia takut Adam membohonginya lagi dan mempermainkan perasannya. Dia takut.


Adam tersenyum tipis melihat respon istrinya yang masih diam. Dia meraih dagu Ashma untuk menatap matanya, tatapan mereka bertemu saling memandang penuh kelembutan.


"Tapi saya tidak akan memaksa jika kamu sudah tidak memiliki perasaan lagi kepada saya."


Ashma semakin bingung dan tidak tahu harus menjawab apa, dia hanya bisa terdiam tanpa merespon ucapan Adam.


Adam terkekeh pelan lalu mendekatkan wajahnya pada Ashma untuk mencium kening istrinya, dia sangat lega sudah mengungkapkan perasaannya sekarang tanpa meminta pamrih darinya, benar-benar tulus didalam lubuk hati Adam.


"Ana uhibbuka fillah ya zaujati."


#TBC