A Little Hope For Ashma

A Little Hope For Ashma
43. Tekad wanita lincah



Adam membawa Ashma sore itu berkunjung ke rumah nyonya Tanya, demi sang istri yang tengah mengidam dia akan melakukan apapun.


Mereka sudah berada tepat didepan pintu rumah milik nyonya Tanya, Adam mengetuknya perlahan dan tidak lama dari itu pintu pun terbuka, disana nyonya Tanya memberikan sambutan untuk mereka.


"Maaf kami menganggu waktu istirahat anda nyonya Tanya," kata Adam dengan sopan.


Nyonya Tanya segera menggelengkan kepalanya pelan, "tidak boy, aku sangat senang kalian datang berkunjung. Nah silahkan masuk," ucap nya mempersilahkan masuk.


"Nyonya Tanya sebenarnya saya datang kemari karena istri saya ingin bertemu dengan cucu anda, Gelya. Ashma tertarik pada gadis kecil itu ia sedari tadi merengek ingin berkenalan dengan cucu Anda." Kata Adam menjelaskan, sedari tadi siang Ashma terus merengek ingin bertemu dengan gadis kecil bernama Gelya.


Nyonya Tanya tersenyum senang, "Wah ternyata gadis itu menarik perhatian ibu hamil ini ya, baiklah saya akan memanggil dia dulu." Nyonya Tanya pamit pergi sebentar untuk memanggil cucu nya.


Tidak lama itu nyonya Tanya datang bersama Gelya, dia nampak berjalan malu-malu dibelakang tubuh neneknya.


Senyum Ashma merekah mendapati gadis kecil itu datang bersama nyonya Tanya.


"Kemari sayang," Ashma meminta gadis itu untuk mendekat, Gelya dengan malu-malu berjalan mendekati Ashma.


Gadis itu menunduk kecil dengan wajah yang memerah itu sangat kontras karena kulitnya yang seputih salju.


"Apa aku boleh berkenalan dengan kamu?" tanya Ashma meminta izin, Gelya manggut-manggut kecil dengan masih menunduk.


Mendapatkan izin dari Gelya Ashma senang sekali, wanita itu seperti tengah mendapatkan mainan favoritnya.


"Namaku Ashma Zehra, nah nama kau siapa gadis cantik?"


"Aku- namaku Ge-gelya." dia memperkenalkan namanya dengan terbata juga tidak ada akhir untuk menutup nama depannya.


"Gelya saja?"


Gelya mengangguk kecil, "iya hanya Gelya saja Aunty!" Gadis itu sedikit menegaskan ucapannya, Ashma tersenyum kecil dan mengusap kepalanya dengan sayang.


Rambut pirangnya yang dikepang dua menambah kesan menggemaskan pada wajahnya yang imut, dia memiliki bola mata cokelat yang besar diikuti dengan bulu mata lentiknya yang panjang. Gadis itu sangatlah elok, cantiknya rupawan ditambah lagi rona-rona merah menghiasi pipinya yang kontras sekali dengan kulit seputih salju.


"Masyaallah, namamu cantik seperti orangnya. Ashma memberikan pujian pada gadis kecil itu, dia sangat suka melihat pipinya merona dan matanya menjadi berbinar saat matanya sudah percaya diri menatap Ashma.


Gadis itu nampak melihat sesuatu aneh pada diri Ashma, itu terlihat seperti menonjol, lantas dia bertanya dengan penasaran.


"Aunty, ada apa dengan perutmu? Kenapa seperti ikan buntal?" Pertanyaan polos gadis kecil itu membuat Ashma tertawa geli, dia benar-benar gadis yang sangat lucu.


Adam sedari tadi melihat interaksi mereka, dia pikir Ashma menginginkan seorang bayi perempuan.


"Perutku, oh- didalam sini terdapat manusia kecil, dia sedang bertumbuh didalam. Nah nanti kalau sudah waktunya tiba dia akan lahir ke dunia." Katanya memberitahu Gelya yang masih kebingungan.


"Bukankah itu terdengar sangat mengerikan, manusia kecil didalam perutmu," ucapnya takut, Gelya ngeri sendiri membayangkan nya.


Ashma meraih pipi Gelya yang sangat halus, "tidak sayang, dia hanya manusia kecil yang akan menangis dan tersenyum saat lahir kedunia. Gelya, kamu juga dulu berada didalam perut ibumu dan menjadi manusia kecil loh."


Gelya semakin penasaran, dia mendekat kearah Ashma. "Apa itu benar? Jadi dulu aku juga berada didalam perut, lalu lahir kedunia dengan menjadi manusia kecil?"


Ashma terkekeh pelan, "benar sayang, Gelya dulu sekecil ini." Ashma memperagakan tangannya, mata Gelya berbinar dengan mulut kecilnya yang takjub.


"Wow... jadi Gelya juga pernah sekecil itu!" Ucapnya begitu antusias. Semua orang disana tertawa kecil melihat tingkah gemas Gelya.


"Ashma ini sudah hampir petang!" Bisik Adam ditelinga Ashma, wanita itu mengangguk kecil.


"Ashma, kalau kita lanjutkan besok mengobrol nya bagaimana?" tanya Ashma dengan perasaan sedih, Gelya terdiam sejenak lalu segera mengangguk kecil.


"Baiklah besok kita bertemu dan bermain bersama ya,"


Gelya mengangguk lagi, kali ini dia begitu antusias dengan matanya yang berbinar.


Setelah pertemuan kecil itu Adam dan Ashma pamit pulang karena sudah semakin petang, Ashma nampak sedih karena masih ingin berbicara banyak dengan Gelya tetapi karena keadaan nya yang tidak memungkinkan juga waktu yang semakin sore membuat nya terpaksa menghentikan pembicaraan dengan gadis cantik yang telah mencuri perhatiannya.


Ashma mengangguk antusias, "gadis itu mengingatkan aku pada masa kecilku Mas, bedanya dia tumbuh tanpa kedua orang tuanya dan aku sangat sedih mendengarnya." Dia juga berkata lirih setelahnya mengingat Gelya yang kecil itu tumbuh tanpa sosok ibu dan bapak.


Adam melirik istrinya yang menunduk. "Dia akan tumbuh menjadi gadis yang kuat, seperti dirimu! Dia mengatakannya begitu yakin membuat Ashma tersenyum tipis.


Mereka berjalan beriringan dengan tangan yang saling menggenggam, itu adalah kenangan yang tidak akan pernah terlupakan.


Saat matahari sore telah membuat bayangan panjang ditanah, Adam dan Ashma sampai di rumah kecil mereka. Senyuman manis terukir di wajah Ashma sebelum mereka melanjutkan langkahnya masuk kedalam rumah.


...•••...


Lily mondar-mandir dengan perasaan gelisah didalam kamarnya, dia selalu memikirkan pertemuannya kemarin dengan Edward, lelaki yang mengaku-ngaku sebagai suaminya.


Bahu Lily merosot lesu. "Mengapa aku belum juga mengingat?!" ucapnya begitu frustasi.


Dia membuat kamarnya seperti kapal pecah karena mencari-cari apapun yang bisa memberikan bukti tentang Edward, tetapi nihil tidak ada, itu seperti sengaja telah di sembunyikan.


"Arghhh!"


"Percuma juga bertanya pada Mama ataupun Adam, mereka tidak akan pernah membuka suara. Aku harus mencari tahu sendiri!" Katanya bertekad pada diri sendiri, dia tidak bisa terus diam dan menunggu Mama dan Adam menjelaskannya, itu mungkin tidak akan terjadi.


Menghela nafas panjang, Lily menghapus jejak-jejak air matanya dengan kasar, dia harus bertemu lagi dengan Edward.


Malam kemarin Lily mendapatkan surel dari seseorang yang tidak dikenal, dan dia memberitahu bahwa dia adalah Edward.


Lily segera mengirim pesan kepadanya, meminta untuk bertemu malam ini sekaligus memerlukan bantuan agar pengawal Adam terutama Jhon tidak mengetahui dirinya yang akan pergi malam ini, Lily yakin Edward bukanlah seorang pria dewasa biasa, dia pasti seorang yang cerdik.


Pesan yang dikirim Lily masuk dalam surelnya, Edward segera membuka dan membaca isi pesan itu yang ingin bertemu sekaligus meminta bantuan supaya pengawal Adam tidak tahu kepergiannya.


Edward tersenyum senang, malam ini dia akan bertemu lagi dengan kekasihnya, istrinya tercinta.


"Baiklah baby (emotikon love)."


Lily segera membaca balasan dari Edward, dia tidak menampilkan raut wajah apapun, hanya membacanya lalu menutup lagi surel dari Edward.


...•••...


Dalam keheningan yang dingin, malam itu Lily menjalankan aksinya untuk pergi bertemu Edward, dia adalah wanita yang sangat lincah juga tahu trik kabur dari Mansion besar milik kakaknya yang menyebalkan.  Dulu Lily juga pernah berusaha kabur dari Mansion Adam sebab Adam mengurungnya karena ia mengetahui Lily berpacaran dengan teman sekolahnya.


Adam begitu over protektif padanya dahulu sampai sekarang, entahlah dulu karena apa tapi setelah mendapatkan kejelasan bahwa dia memiliki perasaan kepadanya itu membuat Lily begitu marah, sampai sekarang dia bahkan tidak bisa menerima perasaan Adam karena dia sudah mengingkari janjinya sebagai saudara.


Lily meraih kesadarannya pada waktu sekarang, dia sudah bersiap untuk bermain-main kecil dengan pengawal Adam dan Itu sangat menantang sampai seringai tipis menghiasi wajahnya mengingat betapa menegangkannya keadaan diluar mansion.


"Menjengkelkan! Ada apa dengan Adam sampai menjaga Mansion seketat ini?!" Lily mendecih sebal saat melihat penjagaan yang begitu ketat.


Dia melangkah hati-hati lalu bersembunyi dibalik dinding, dia mengecek Ponsel pintarnya dan mendapati pesan dari Edward.


"Apa, jalan rahasia?" Lily terkejut mendapati pesan Edward yang memberitahunya bahwa ada jalan rahasia dibalik Mansion Adam.


Lily segera menuju ruang baca, ya dibalik lemari buku itu terdapat pintu rahasia, Lily segera mendorong nya dan dia benar-benar terkejut mendapati pintu rahasia dibalik ruang baca yang selalu ia datangi. Lily tidak habis pikir dengan Adam, lelaki itu ternyata memiliki rahasia seperti ini didalam rumahnya.


Tapi tunggu dulu, Lily berpikir bagaimana bisa Edward mengetahui pintu rahasia ini, dia benar-benar penasaran dengan sosok Edward yang sebenarnya.


Pintu itu memiliki tombol merah disebelahnya untuk membuka, dia benar-benar keheranan.


Namun belum juga memencet tombol itu, tangan seseorang menghentikan gerak tangannya. Lily segera menoleh dan mendapati pengawal Adam yang sedang menampilkan raut wajah tidak bersahabat.


"Jhon?!"


#TBC