A Little Hope For Ashma

A Little Hope For Ashma
64. Pagi-pagi merusuh



Suasana hati Ashma pagi itu begitu sangat baik sampai-sampai selalu tersenyum sendiri sambil menyiapkan sarapan pagi untuk keluarganya.


Dia masih teringat subuh tadi bersama Adam, setelah ucapannya yang membuat hatinya bergetar haru Ashma mendapatkan pula hadiah lantunan ayat suci Al-Quran dari mulutnya langsung yang diperuntukkan untuk sang jabang bayi mereka, dia membaca surah Maryam untuk anaknya.


Ashma saat itu tidak bisa mengatakan apapun saking terkesima dengan tingkah laku Adam yang sangat adem dilihat.


Dari arah tangga, Lily yang melihat kakak iparnya tengah senyum-senyum sendiri lantas menarik alisnya bingung.


"Kakak ipar," panggil Lily, Ashma segera menengok keasal suara.


"Morning Lily," sapa wanita itu berseri-seri. Lily menjawab sapaan Ashma ikut tersenyum sepertinya suasana hati Ashma hari ini begitu baik.


"Apa yang membuatmu bahagia kakak ipar?"


Ashma menggeleng kecil lalu dia kembali fokus untuk menyiapkan sarapan yang belum selesai, dia tengah memanggang roti, membuat telur mata sapi dan membuat salad sayuran.


"Heumm aku tidak pandai menebak Ashma, tapi apapun itu aku turut bahagia juga." Ucap Lily senang melihat Ashma bisa memasang wajah bahagianya pagi itu.


Diruang kerjanya Adam yang baru saja mendapatkan informasi mengenai kejahatan Daxter segera menyiapkan dirinya untuk bergegas pergi ke markas tempat dia dan yang lainnya berkumpul.


Adam menuruni tangga dengan langkah besarnya untuk menemui istrinya yang tengah berkutat didapur.


Kedatangan Adam yang sudah sangat rapih itu segera mendapatkan pertanyaan dari Lily yang tengah membantu Ashma.


"Hei tuan Kenedy kau mau kemana sudah rapi saja?"


Ashma segera menoleh dan melihat kedatangan Adam didapur, harum parfum nya semerbak masuk kedalam indera penciuman Ashma.


Adam menghiraukan pertanyaan Lily dia meloyong mendekati istrinya yang masih mematung ditempatnya.


Adam berhenti tepat dihadapan Ashma, wanita itu masih diam membisu sambil melihat wajah nya.


"Sayang, mas pagi ini harus segera pergi untuk bertugas jadi tidak apa saya tinggal lagi?" Tanya Adam meminta izin pada istrinya.


Ashma membuang pandangannya, dia kembali fokus memasak telur mata sapi. Sedangkan Lily sedari tadi sudah pergi dari sana untuk memberikan ruang bagi mereka berbicara.


"Sweetheart?"


Adam tidak kunjung mendapatkan jawaban dari Ashma, dia mendesah panjang namun tetap sabar menunggu jawaban dari istrinya.


"Kenapa meminta izin padaku? Tinggal pergi saja apa susahnya!" Jawabnya ketus, Adam menghela napas lagi. "Karena kamu istri saya sayang." Adam memeluk Ashma dari Belakang sambil mengelus perut istrinya.


Ashma cukup terkejut dengan kenakalan lelaki itu yang tiba-tiba memeluknya dari belakang, kalau dilihat mama mertua atau yang lainnya mereka bermesraan seperti ini betapa malunya Ashma nanti.


"Adam lepas!"


"Tidak mau!"


"Lepas, nanti dilihat yang lain."


"Tidak peduli!"


"Ish ngeselin!"


Pagi-pagi sudah merusuh saja. Ashma mencebik kesal, lelaki ini sungguh menyebalkan sekali.


"Aku masih membencimu ya jadi lepaskan, jangan ambil kesempatan dalam kesempitan terus!" Gerutu Ashma dia merajuk lagi pada Adam membuat lelaki itu semakin meredam gemasnya untuk tidak mencium Ashma.


"Yasudah jawab saja boleh tidak saya pergi?"


Ashma mengangguk malas, "iya sana pergi saja!"


"Loh kok menggerutu, kamu gak ikhlas saya pergi itu..."


Ashma mendesah kesal, "terserah kamu deh aku cape!"


Adam terkekeh kecil, "yaampun kamu kok gemesin sih saya jadi gak tahan pengen cium bibir kamu." Adam malah semakin menggoda istrinya padahal Ashma tengah kesal setengah mati. Dia memilih untuk diam saja dari pada harus meladeni Adam yang semakin menjadi.


"Yasudah kalau begitu mas pamit dulu ya sayang." Adam mengecup puncak kepalanya dari belakang tubuhnya lalu dia pergi dari dapur meninggalkan Ashma dengan rasa kesalnya.


"Udah aku cape-cape buatin sarapan malah gak dilirik atau ditanyain dasar gila kerja!" Gerutu Ashma sambil mengambil tempat bekal.


Adam diluar sana sudah bersiap dan tinggal masuk kedalam mobil namun seorang pelayan segera memanggil Adam sambil berlari.


Adam membalikkan tubuhnya, dia melihat pelayan itu yang tengah berlari kearahnya sambil membawa kotak bekal.


"Tu-tuan," katanya sambil mengatur napasnya.


"Ini ada bekal sarapan pagi dari nona Ashma untuk anda, katanya harus dimakan jangan sampai tidak." Ucapnya memberitahu seketika senyum cerah terbit di wajah Adam.


"Kalau begitu terimakasih."


"Ya tuan."


Adam masuk kedalam mobilnya dia segera meminta supir untuk jalan.


Ditengah perjalanan, Adam membuka kotak bekal yang disiapkan oleh istri tercintanya, dia tidak sabar untuk memakan sarapan paginya.


"Untungnya saya sedang lapar sekali jadi ini pasti habis!" Gumam Adam kegirangan.


Supir melihat wajah tuannya dari balik kaca depan, dia sungguh senang melihat tuannya bisa sebahagia itu sekarang.


Adam yang akan menggigit roti itu seketika terhenti dan langsung mentap kearah supirnya dari balik kaca depan.


"Ini dari istri saya jadi saya tidak akan berbagi dengan orang lain!" Ucapnya galak tetapi malah membuat supir itu tertawa geli, "ya tuan, tenang saja saya tidak akan meminta milik anda."


Setelah satu jam berlalu menempuh perjalanan akhirnya Adam sampai di markas besar tempat perkumpulan dia dan rekan-rekan yang lainnya.


Disana terdapat sosok Zavier yang langsung mendatangi Adam.


"Tumbun kau lama sekali Adam?" Tanya Zavier karena baru kali ini temannya itu tidak tepat waktu.


"Maklum saya sudah beristri."


Zavier seketika mendecih geli, "seorang Adam Kenedy memang selalu gila perihal cinta."


Adam tidak menghiraukan perkataan Zavier, dia meneruskan langkahnya untuk masuk kedalam ruangannya,


sedangkan Zavier mengikuti nya dari belakang.


Adam duduk dikursi kerjanya dia segera melihat bukti pembunuhan Daxter pada Paul Remer.


"Dugaanmu benar, Daxter pelaku yang sudah membunuh Paul Remer. Polisi dan orang-orang kita sedang memburu Mafia itu, hanya saja aku tidak seyakin itu mereka bisa menangkap Daxter karena dia begitu cerdik, tak ayal dia selalu lepas dari jeratan polisi."


Adam tersenyum sinis, "ya sepertinya jika hasilnya masih nihil kita yang harus turun tangan."


Zavier tentu mengangguk pasti, tatapannya lalu kembali lagi melihat Adam yang tengah tersenyum kecil memandangi ponselnya.


"Eyy kau tidak lupa kan setengah jam lagi ada pertemuan dengan pimpinan?" Zavier mengingatkannya karena dia tahu sekarang ini Adam tengah gila cinta.


"Heumm..." gumamnya, dia masih memperhatikan layar handphonenya sambil mesem-mesem.


Zavier memutar bola matanya dengan malas. "Istrimu itu, apa benar kau sudah jatuh hati padanya?"


Adam memalingkan wajahnya dari layar handphone yang tengah melihat potret istrinya kearah Zavier.


Adam mengernyit bingung, "kenapa kau bertanya seperti itu?"


Zavier duduk di sofa dengan memangku sebelah kakinya.


"Aku masih tidak percaya saja jika kau sudah berpaling hati pada wanita lain, ya yang aku tahu bukannya kau cinta mati dengan adikmu itu?"


Adam mengeram kesal mendengar penuturan Zavier.


"Cih kau ini sok tau sekali!"


Zavier memasang wajah sinisnya, dia beranjak dari duduk dan menepuk bahu Adam yang tengah kesal padanya.


"Saat pertama kali melihatnya aku saja langsung suka pada istrimu, nah Adam kalau kau tidak menginginkannya berikan saja dia padaku." Ucap Zavier membuat Adam langsung menatapnya dengan tatapan membunuh.


Adam seketika itu langsung menepis tangan Zavier dengan kasar, Zavier segera lari dari sana sambil tertawa keras.


Adam menatapnya begitu tajam, darahnya mendidih hebat.


"Aku hanya bercanda tuan Kenedy!" ucap Zavier diambang pintu masih sambil menertawai kecemburuan Adam.


"Sial kau Zav!"


Zavier menghilang dari sana dan Adam pun telah dibuat kesal setengah mati olehnya, lelaki itu memang sering mengerjainya dan membuat Adam selalu naik pitam.


...•••...


Ashma menatap dirinya didalam cermin, dia mendesah panjang karena merasa pertahanannya sudah mulai goyah.


"Tidak-tidak! Aku tidak boleh goyah!"


"Biarkan dia berjuang jika itu maunya, aku tidak boleh runtuh hanya karena kata-kata manis dari Adam. Ingat dia selalu berkata-kata manis dan menghancurkan kepercayaan ku berulang kali jadi aku akan menguatkan lagi benteng pertahanan ini!"


Dia mempertegas diri sendiri untuk tetap bertahan dan kembali memperkuat pertahannya lagi supaya tidak mudah goyah.


Ashma ingin melihat seberapa besar perjuangan Adam jika memang dia sudah benar-benar mencintainya.


Bagaimanapun luka yang dia torehkan pada hatinya masih membekas, Ashma tidak boleh selemah itu untuk yang kedua kalinya .


Dia masih mengingat bagaimana Adam mengatakan bahwa dia hanya mencintai Lily, Lily-nya, Lily-ku, hanya dia satu-satunya yang ada didalam hatinya, tidak bisa tergantikan.


Bukankah tidak salah Ashma sekarang tidak mempercayainya lagi?


Ashma hanya ingin menjaga hatinya agar tidak sakit hati lagi.


Ashma memegangi perutnya, "maaf sayang kamu harus terlibat dengan perasaan Umma yang rumit ini." Ucapnya lirih pada bayi didalam kandungannya.


#TBC