A Little Hope For Ashma

A Little Hope For Ashma
35. Mala Petaka



Ashma mencari celah supaya bisa keluar dari Mansion Adam. Ashma cukup kesulitan karena penjagaan diluar sangat ketat, dia tidak tahu harus keluar lewat mana. Tetapi Ashma tetap tidak putus asa.


Untung saja di Mansion Adam pukul delapan malam sudah sunyi jadi Ashma tidak terlalu sulit mengendap-endap sampai dia sampai diujung pintu belakang.


Tetapi ada rasa mengganjal didalam dirinya, haruskah dia pergi seperti ini? namun Ashma sudah tidak tahan atas perlakuan Adam yang begitu plinplan.


Ashma meyakinkan tekadnya, dia hanya ingin terbebas dari Kungkungan Adam, hanya itu.


Ashma terus mencari jalan keluar tetapi tidak ada sama sekali, jalan satu-satunya hanya ada di gerbang utama. Tapi bagaimana, Ashma tidak mungkin merangkak keatas pagar dalam keadaan nya yang seperti ini. Dia juga pasti ketahuan, karena didepan sana banyak sekali pengawal Adam.


Ashma bingung, dia juga putus asa. Bohong kalau dia tidak takut tetapi Ashma berusaha menghadapinya seorang diri.


"Saya akan pergi untuk bertemu dengan kenalan tuan Adam, kalian harus menjaga Mansion ini dengan ketat. Daxter sudah bergerak." ucap Jhon yang samar-samar Ashma dengar, kesempatan itu Ashma ambil untuk berusaha masuk kedalam bagasi mobil.


Ashma mengendap-endap supaya tidak ketahuan oleh pengawal Adam, dia diam-diam masuk kedalam bagasi mobil Jhon, Ashma berhasil dan segera menutupnya dengan pelan-pelan.


Semua pengawal tidak menyadari juga Jhon. Ashma didalam sedikit sesak namun ia akan bertahan sampai bisa keluar dari pelataran Mansion Adam.


Ashma juga tidak tahu Jhon akan pergi kemana, tetapi tidak ada cara lain selain harus melakukan hal seperti ini.


Mobil itu sudah melaju, Ashma merasa lega karena langkah awalnya berhasil kini ia harus memikirkan langkah selanjutnya.


Ashma sudah berada didalam bagasi itu selama sepuluh menit dan rasanya ia sudah tidak tahan menahan sesak. Ashma masih berusaha menahan, dia berharap semoga secepatnya Ashma dapat keluar dari bagasi mobil.


Dewi Fortuna benar-benar berpihak padanya. Mobil yang dikendarai Jhon nampak berhenti, diluar juga terdengar riuh suara sirine polisi. Ashma yang mendapatkan kesempatan itu segera keluar dari bagasi sesudah mengecek ternyata Jhon sedang keluar dari mobil untuk melihat keadaan didepan jalan yang menyebabkan kemacetan.


Ashma yang takut ketahuan Jhon segera menjauh dari mobil itu, dia berlari pelan sejauh yang dia bisa. Sedangkan di Mansion, Adam tengah tertidur di ruang kerjanya, entahlah hari itu ia benar-benar lelah dan mengantuk jadi setelah melaksanakan sholat isya Adam langsung memejamkan matanya hingga ia tertidur pulas diatas kursi kerjanya.


Sedari tadi remote kecil untuk menjangkau keberadaan istrinya memberikan tanda merah dan berbising tetapi Adam tidak terganggu, seolah damai dalam tidurnya padahal tanda itu memberitahu jangkauan istrinya yang semakin menjauh dari Mansion.


Lama kelamaan Adam terganggu dengan suara bising itu, ia mulai membuka matanya san segera membenarkan posisi duduknya. Matanya membulat sempurna mendapati alat kecil untuk menjangkau keberadaan Ashma memberi tanda merah.


Adam dengan tergesa-gesa langsung keluar dari ruang kerjanya menuju kamar yang ditempati wanita itu. Tidak ada Ashma disana, Adam menuju kamar mereka dan lagi-lagi Adam tidak mendapati istrinya dimana-mana.


"Bodoh!"


Adam segera turun kebawah untuk mencari keberadaan Ashma. Diluar, Adam langsung berteriak pada para pengawalnya yang tengah berbincang ria.


"Dimana istri saya?!"


Mereka semua terkesiap kaget mendengar teriakkan tuannya.


"Istri anda? Kami tidak melihatnya sedari tadi tuan," jawab salah satu pengawalnya.


"Apakah ada yang keluar dari sini?" tanya Adam lagi. Mereka segera mengangguk.


"Jhon, perintahnya dia diberikan tugas oleh tuan untuk bertemu seseorang."


Adam langsung bergegas menuju mobilnya, dia segera mencari Ashma. Jangkauan Ashma sudah semakin jauh kearah barat.


"Berani-beraninya kau kabur Ashma!" Adam berteriak frustasi dengan perasaan penuh cemas.


Adam menghubungi Jhon, "Jhon cepat kau cek bagasimu!" Jhon dari sebrang sana segera memenuhi perintah Adam.


"Ada apa tuan? Disini tidak ada apapun,"


Adam mendesah berat, dia harus secepatnya membawa Ashma kembali sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


"Ashma pergi!" ucapnya nelangsa.


Jhon langsung terkejut, ia segera kembali pada kemudinya. "Saya akan mengejarnya tuan. Kira-kira kearah mana?"


"Barat. Jhon temukanlah Ashma secepat mungkin. Ini benar-benar berbahaya baginya!"


Jhon segera menyalakan mesin mobilnya untuk memutar arah. Dia harus segera mencari keberadaan Nona nya yang melarikan diri dalam kondisi hamil.


"Nona kau benar-benar nekat!"


Ashma menaiki taxi, dia merasa lega karena pelariannya dari Mansion Adam berhasil. Sekarang dia hanya berharap semoga secepatnya bisa sampai kerumah Maryam, itu adalah harapan satu-satunya. Walaupun nanti dia akan dicerca banyak pertanyaan, Ashma akan segamblang itu mencurahkan keinginannya yang tidak bisa untuk singgah lagi ditempat Adam, mungkin juga didalam kehidupannya.


Ashma menarik nafas nya dengan tenang tanpa memikirkan sesuatu kejahatan yang mungkin saja bisa terjadi pada dirinya, tidak sama sekali Ashma memikirkannya. Apalagi ini bukan di Indonesia, Ashma tidak tahu kejahatan seperti apa yang bisa terjadi di negara beruang merah itu.


Wanita itu terlalu asik mengelus perutnya dengan wajah tersenyum sampai melupakan pengemudinya yang sedari tadi diam-diam melihat selalu kearah Ashma.


Seketika Ashma diliputi cemas dan takut, ia segera menegur supir itu barang kali dia lupa arah.


"Tuan, arah tujuan saya bukan kesini! tolong putar arah!"


Supir itu tersenyum menyeringai membuat Ashma menjadi yakin bahwa ia sedang berada dalam keadaan yang berbahaya.


"Tidak apa-apa. Saya ingin bersenang-senang denganmu dulu," ucap pria itu dengan senyuman menakutkan.


Ashma berusaha membuka pintu mobil namun supir itu sudah lebih dulu menguncinya. Tubuhnya bergetar hebat dan Ashma langsung merengkuh takut perutnya.


"Jangan macam-macam kau brengsek!" hardik Ashma, dia masih berusaha mencari cara untuk keluar dari mobil si supir gila itu.


Ditempat lain Adam tengah fokus menatap jalan mengikuti titik merah yang berada di ponselnya, Adam langsung memiliki perasaan buruk karena arah tujuan Ashma tiba-tiba berubah, bukan menuju rumah Daniel.


Adam semakin menambah kecepatan mobilnya dengan kepala yang dipenuhi rasa cemas akan istrinya.


"Mengapa kau nekat Ashma?" Adam begitu frustasi.


Ashma dalam ketakutan yang semakin besar itu menjadi sulit berpikir saat si supir memberhentikan taksinya. Ashma masih berusaha membuka pintu mobil tetapi nihil tetap tidak bisa.


Supir gila itu mendekati Ashma membuat Ashma merengut kan tubuhnya menjauh. Dia terjebak dalam situasi berbahaya yang berada tepat didekatnya.


"Ayolah sayang kita senang-senang sebentar saja!" pria gila itu mahu memegang Ashma namun Ashma secepat mungkin menangkisnya dengan kasar.


Pria gila itu sedikit kesal, "kau tidak akan bisa kabur jadi lebih baik kita bersenang-senang saja!"


Pria gila itu semakin mendekati Ashma dan saat hampir saja tangan kotorannya menyentuh wajah Ashma, dia langsung menyemprotkan disinfektan tepat pada kedua matanya membuat lelaki itu meringis merasakan perih disekitaran matanya.


saat Ada kesempatan, Ashma segera membuka pintu mobil dan keluar dengan tergesa-gesa.


"Dasar wanita j*a*l**g!" teriak pria gila itu, Ashma secepat mungkin lari darinya.


"Adam..." nama itu bergema didalam hatinya, meminta Adam untuk segera datang menolongnya.


"Ya Tuhan tolong aku!"


Ashma masih berusaha lari dari pria itu, berharap ada seseorang disana tetapi kenyataannya tempat itu sangat sepi dan tidak ada siapapun orang disana.


Ashma yang baru sadar langsung mencari handphone nya didalam tas, dalam pelariannya dia berusaha menghubungi Adam.


Adam yang mendapatkan telepon dari istrinya segera mengangkat, "Adam tolong aku!" ucap Ashma tergesa-gesa, Adam begitu terkejut juga semakin cemas mendengar rintihan istrinya.


"Ashma kau tenang dulu, tunggu saya! Saya akan segera kesana!"


"Cepat Adam!" Ashma menangis, dia tidak tahu lagi harus seperti apa. Menunggu Adam, apakah mungkin lelaki itu akan sampai secepat itu.


"Tarik nafas mu Ashma. Jangan matikan panggilan ini, dan carilah tempat bersembunyi!"


Ashma segera mencari tempat persembunyian, dengan perasaan takut Ashma berusaha menarik nafas nya supaya bisa berpikir jernih untuk segera mencari persembunyian.


Dia mendapatkannya dibalik dinding besar, Ashma memegangi perutnya yang terasa kram, sepertinya gara-gara ia berlari tadi.


Tubuh Ashma sungguh bergetar hebat, kakinya seakan lemas. Ashma tidak berpikir sejauh ini, dia hanya ingin pergi dari hidup Adam tetapi malah petaka yang dia dapatkan.


"Sayangku kau dimana?" suara lelaki itu bergema, membuat Ashma dirundung ketakutan lagi. Adam dibalik handphonenya mendengar suara itu, urat-urat disekitaran lehernya kentara menahan emosi, Adam segera manambah kecepatan mobilnya begitu kencang, membelah jalanan sepi seperti seorang panther yang mengejar mangsanya dimalam hari.


Ashma sekarang tengah main kucing-kucingan dengan pria gila itu, tidak ada yang dia pikirkan lagi selain harus sembunyi darinya.


Ashma merasa aman sedikit karena jangkauannya lebih jauh dari posisi pria gila itu, tetapi tetap Ashma masih tidak bisa tenang sebelum Adam datang menolongnya.


Ashma yang dalam ketakutan itu tetiba merasakan tangan dingin seseorang menyentuh pundaknya. Ashma takut, dia benar-benar ketakutan namun suara dingin itu membuatnya lega, Ashma segera menoleh dan mendapati Adam dibelakangnya.


Mata mereka bertemu, dalam keheningan malam yang sepi itu. Ashma yang sudah menungguinya sedari tadi langsung memeluk kuat tubuh Adam, sang empu membalas pelukan istrinya, tubuhnya terasa bergetar. Wanita itu jelas-jelas ketakutan, dia menangis sejadi-jadinya dipelukan Adam.


"Pria itu sudah diamankan oleh Jhon, kau tidak usah takut lagi." Adam mengelus halus punggung istrinya, dia juga menciumi puncak kepala Ashma. Adam tidak akan mungkin memaafkan dirinya jika terjadi sesuatu pada Ashma dan calon bayi mereka.


Ashma nekat seperti ini karena dirinya yang melontarkan kata-kata menyakitkan padanya, Adam lain kali harus bisa menahan diri supaya Ashma tidak melakukan aksi nekat lagi.


"Aku takut Adam."


#TBC