
Adam memenuhi janjinya pada Ashma untuk menjenguk istri Daniel dan bayinya. Wajah Ashma langsung berbinar namun setelahnya langsung menampilkan ekspresi dingin lagi setelah melihat Adam.
Adam menggeleng pelan lalu matanya kembali fokus untuk menyetir. Walaupun disepanjang perjalanan keheningan membersamai mereka Adam tetap merasa senang sebab Ashma mahu sedikit tersenyum padanya walaupun hanya beberapa saat dan itu cukup mengobati galaunya.
Wanita itu punya kebesaran hati yang luas, membuat Adam selalu terpesona saat dia melakukan hal-hal yang tak terduga. Disaat dirinya tengah marah dan merajuk padanya Ashma tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri, dia selalu menyiapkan makan, kesigapan menyiapkan pakaiannya untuk bekerja, dan apapun itu yang menyangkut tentang kebutuhannya sehari-hari. Ashma tidak pernah mengeluh padahal dia selalu disakiti oleh dirinya.
Beberapa jam mengemudi akhirnya Adam telah sampai dikediaman sahabatnya, Daniel. Ashma segera turun dari mobil dan mendapati rumah sederhana milik keluarga kecil Daniel yang sangat menenangkan, jauh dari pemukiman kota.
Mereka langsung disambut hangat oleh Daniel dan Maryam yang tengah menggendong bayi mereka.
"Masyaallah cantik sekali bayi kalian," mata Ashma berbinar mendapati bayi mungil yang tengah menggeliat dipangkuan ibunya.
"Maaf ya kami baru bisa menjenguk sekarang," ucap Adam sambil menenteng buah tangan untuk mereka.
"Tidak apa, kami sangat senang kalian datang kesini. Mari masuk kedalam." Daniel mempersilahkan mereka untuk masuk kedalam rumahnya.
Adam dan Ashma duduk bersama, sebenarnya Ashma ingin membagi jarak dengan Adam namun sepertinya tidak baik dilihat oleh Daniel dan Maryam, takut menerka-nerka mereka sedang memiliki masalah.
Tidak disangkanya tangan Adam malah meraih pinggang Ashma sambil mengusap perut buncitnya. Mesranya mereka membuat Daniel dan Maryam turut bahagia.
"Semoga Allah merahmati pernikahan kalian," ucap Daniel mendoakan pernikahan Adam dan Ashma.
"Amin," jawab Adam, sedang Ashma hanya tersenyum simpul. Tidak ingin memusingkan kebenaran pernikahan yang sebenarnya, Ashma memilih memusatkan perhatiannya pada si bayi yang tengah digendong ayahnya sedangkan Maryam pergi untuk menyiapkan camilan.
"Sudah berapa bulan?" tanya Adam.
"Tiga bulan," jawab Daniel. "Lalu kandungan istrimu Adam?" Daniel balik bertanya sedangkan si bayi mungil menggeliat mencari sumber kehidupannya.
"Zaujati, Fatimah sepertinya haus," ujar Daniel mendapati bayi Fatimah menangis, Maryam segera meraih buah hatinya setelah selesai memberi jamuan untuk tamunya.
Ashma yang melihat itu tersenyum tipis. Adam menoleh kearah istrinya yang tengah memperhatikan bayi kecil itu, wajahnya sangat bahagia dengan mata berbinar.
"Maaf ya," kata Daniel, Adam dan Ashma sangat memaklumi.
"Ashma, mari ikut denganku!" ajak Maryam, dia tahu Ashma tengah mengandung melihat perutnya yang berisi.
Ashma ikut dengan Maryam yang akan menyusui Fatimah, meninggalkan Adam dan Daniel untuk leluasa bercakap-cakap
Ashma ikut duduk disebelah Maryam yang tengah menyusui baby Fatimah. Baby Fatimah benar-benar sangat antusias mendapatkan sumber kehidupannya, Ashma semakin terharu melihat perjuangan seorang ibu dalam mengasihi anak mereka begitu sabar.
"Kandunganmu sudah berapa bulan Ashma?" tanya Maryam.
"sudah jalan tiga bulan," jawab Ashma sambil mengelus perutnya.
"Masyaallah, bagaimana rasanya?"
Ashma tersenyum hangat, "luar biasa sangat bahagia, Baik sekali Allah memberiku rezeki dengan sangat cepat, menumbuhkan kuasanya didalam rahimku."
"Seperti itu juga aku memiliki baby Fatim," tambah Maryam, lalu dia mengusap lembut wajah putrinya.
Ashma menatapi Baby Fatimah yang tengah menyusu, dia jadi ingin bertanya pada Maryam perihal menyusui.
"Apakah menyusui itu sakit?"
Maryam tersenyum tipis, "awalnya iya tapi saat milikmu diraih oleh si bayi pasti rasa sakit itu menghilang karena air susunya sudah disalurkan," Ashma manggut-manggut, jujur saja banyak sekali perubahan pada tubuhnya, apalagi dibagian air kehidupan untuk calon bayinya yang ukurannya membesar.
Baby Fatimah melepas miliknya, bayi mungil itu tidak tertidur membuat Ashma gemas ingin menggendongnya.
"Baby Fatimah ingin digendong bibi Ashma ya," gumam Maryam pada putrinya yang melihatnya dengan bola mata biru berbinar.
Ashma meraih tubuh mungil Fatimah dengan hati-hati dari tangan Maryam, digendongnya dengan penuh kelembutan dengan sedikit takut, maklum walaupun dia seorang perawat yang sudah terbiasa menggendong bayi tetap saja Ashma masih ada rasa takut.
Ashma mengajak baby Fatimah mengobrol membuat bayi mungil itu tersenyum memperhatikan wajah Ashma, jiwa keibuan Ashma benar-benar menyeruak membuat Maryam turut ikut tersenyum.
Setelah beberapa waktu mereka menjenguk Maryam beserta bayinya kini saatnya mereka untuk pulang. Ashma sebenarnya masih belum mau berpisah dengan baby Fatimah tetapi ia juga tidak mungkin berlama-lama dirumah Maryam.
"Terimakasih ya kalian sudah mahu menyempatkan diri untuk mengunjungi kami," ucap Daniel tersenyum ramah.
"Itu sudah pasti karena kalian adalah saudara kami," jelas Adam, lalu dia bersalaman dengan Daniel.
"Sering-sering main kerumah kami, baby Fatimah pasti sangat bahagia bermain dengan bibinya yang Masyaallah cantik sekali ini,"
Ashma tersenyum kecil mendengar pujian Maryam, "terimakasih ya, sudah memberi izin untuk menggendong baby Fatimah."
"Dia sangat senang saat kamu tadi menggendongnya, baby Fatimah memang senang bertemu orang baru." lanjut Maryam. Baby Fatimah tengah tertidur pulas di dalam gendongannya.
"Nah kalau begitu kami pamit pulang," tutur Adam, mereka mengangguk kecil. Adam dan Ashma segera naik kedalam mobil setelah ucapan pamitnya pada Daniel dan Maryam.
Mobil melaju meninggalkan pekarangan rumah Daniel, Ashma masih menatapi dibalik kaca spion lambaian tangan Maryam, dia tersenyum kecil.
Adam mendapati wajah Ashma yang berseri-seri, dia juga turut senang istrinya dapat tersenyum penuh kebahagiaan.
"Setelah ini jangan diami saya lagi ya," ucap Adam membuka suara, Ashma menoleh sebentar melihat wajah penuh harap itu.
Ashma kembali tidak menjawab, saking bahagianya karena pertemuannya dengan baby Fatimah dia jadi melupakan hubungan mereka yang tengah tidak baik-baik saja.
"Jadi masih ingin mendiami saya hmm?" tanya Adam lagi, kali ini nada suaranya nampak sedikit kesal tetapi Ashma berusaha tidak peduli, biar saja.
"Fokus saja mas kedepan jalan!" ucap Ashma acuh membuat Adam menghela napas berat, memberi pengertian pada dirinya bahwa dia harus belajar lebih sabar lagi dengan sikap dingin Ashma.
Adam menuruti keinginan istrinya untuk tetap fokus menyetir dan tidak berniat bertanya lagi, selama menempuh jalan yang beberapa kilometer itu mereka sama sekali tidak membuka suara, hanya dibalut alunan musik yang Adam nyalakan supaya tidak terlalu membosankan.
Adam melirik kearah bangku disebelahnya dan mendapati Ashma sudah tertidur pulas, Adam tersenyum tipis melihat wajah lugu Ashma saat tertidur.
"Sekarang kamu terlihat seperti gadis remaja Ashma." Batin Adam terkikik geli.
Adam melepas sealtbet di badan Ashma dan membawa tubuh kecil itu untuk masuk kedalam gendongannya. Adam melangkah dengan hati-hati mengingat ada nyawa lain didalam perut istrinya.
Setelah sampai dikamar nya, Adam meletakan tubuh Ashma dengan perlahan supaya tidak mengganggunya tidur. Selesai membaringkan istrinya diatas ranjang, Adam berniat mengganti pakaiannya namun tiba-tiba tangannya malah dicekal oleh Ashma.
Mata Ashma masih terpejam tetapi tangannya malah bergulir nakal, "baiklah, akan aku turuti inginmu Ashma." Adam segera ikut berbaring disebelah Ashma, memperhatikan wajah cantik itu dengan seksama lalu meraih bibirnya untuk dia kecup.
"Sial, ini terlalu manis!"
Bukannya berhenti Adam malah semakin menyesap bibir mungil Ashma sehingga membuat Ashma menggeliat karena merasakan sentuhan seseorang. Ashma mulai terbangun dari tidurnya dan betapa terkejutnya Ashma saat bibirnya tengah bersentuhan dengan bibir Adam.
Ashma segera mendorong dada bidang Adam, membuat Adam menjauhkan dirinya dari Ashma.
"Ma-maaf," sesal Adam, dia begitu bodoh melakukan hal seperti itu disaat istrinya tengah tertidur. Ashma pasti semakin marah padanya, dan dia akan semakin mendiami Adam, ah... mengingatnya saja Adam sudah frustasi.
Ashma tidak mengatakan apapun, mereka saling terdiam dengan pikirannya masing-masing. Namun setelah beberapa saat, Ashma segera meraih kerah baju suaminya sehingga wajah Adam berada tepat didepan wajah istrinya. Ashma langsung menarik Adam semakin dekat dan benda kenyal itu saling bertautan satu sama lain.
Adam awalnya terkejut atas ciuman Ashma yang tiba-tiba itu namun dia langsung ikut meresapi tautan bibir itu yang semakin lama semakin dalam dan panas hingga menuntut pada hal-hal yang lain.
Wajar saja jika Adam langsung senang bukan main mendapatkan keinginannya selama ini, pasalnya selama dua bulan ini Adam menahan dirinya untuk tidak menyentuh Ashma karena wanita itu yang tengah merajuk dan mendiaminya. Adam maklum, bagaimanapun juga sikap istrinya yang berubah menjadi dingin itu jelas-jelas memang karena dirinya.
"Boleh?" pinta Adam meminta izin pada Ashma. Ashma tidak langsung menjawab namun setelah itu dia langsung mengangguk kecil, membuat Adam ingin sekali berteriak saking semangatnya.
#TBC