
Ashma mendapati dirinya didalam cermin sambil memperhatikan ruam-ruam merah pada tubuhnya, seketika Ashma dibuat sangat malu karena mengingat malam tadi menyaksikan Adam yang begitu sangat liar.
Tidak disangka-sangka misi pertamanya langsung berhasil, dan dia sangat bahagia bisa menjadi istri seutuhnya sekarang.
Adam, lelaki itu malam tadi membuatnya begadang semalaman pasalnya mereka baru bisa tidur pada pukul tiga dini hari, stamina Adam benar-benar membuat Ashma kewalahan.
"Ashw..." ringis Ashma merasakan linu disekitaran kakinya.
"Ini sangat sakit sekali," gumam Ashma sambil berusaha berjalan dengan tertatih-tatih menuju lemari bajunya.
Ashma segera menggunakan pakaiannya dan berniat untuk segera turun kebawah menyiapkan sarapan untuk Adam dan bibi Marianee.
Adam masuk kedalam kamarnya dan mendapati Ashma yang sedang mengeringkan rambut panjangnya.
Adam membawa nampan yang berisi makanan, lalu meletakkannya diatas meja. Ashma segera menoleh dan menghela napas berat, sepertinya Ashma benar-benar kecapean sehingga bangun telat dan tidak bisa membuat sarapan untuk Adam dan bibi Marianee.
"Aku minta maaf Adam karena bangun telat," ucap Ashma merasa bersalah.
Adam mendekati Ashma lalu meraih hairdryer di tangan Ashma untuk membantu mengeringkan rambut Ashma yang masih basah.
"Tidak perlu minta maaf. Itu semua ulahku, maaf kamu sampai harus begadang hingga dini hari,"
Ashma menggeleng pelan dengan wajah yang bersemu, "aku harap kamu yang tidak menyesal Adam."
Sejujurnya Adam merasa bersalah karena telah melanggar janjinya untuk tidak menyentuh Ashma tetapi apa boleh buat jika tubuhnya malah berkhianat. Adam tidak bisa menampik lagi bahwa Ashma memang benar-benar mempesona, hingga tidak tahu mengapa Adam sulit meredam hasratnya yang membara.
"Saya yang seharusnya bertanya seperti itu, apakah kamu menyesal Ashma? Lagipula saya melakukannya karena kau menggoda saya."
Perkataan Adam menorehkan rasa sakit di hati Ashma, mengapa lelaki itu terus saja mengelak, padahal malam tadi Adam sangat menginginkan dirinya bahkan mereka melakukannya dengan sadar tanpa ada paksaan masing-masing. Toh juga kalau misi pertama Ashma gagal dia bisa mencobanya dilain hari.
"Aku tidak akan pernah menyesal, lagian Kalaupun aku menggoda mu juga tidak akan dosa, yang ada malah dapat pahala," Jelas Ashma sangat percaya diri membuat Adam tertegun untuk beberapa saat.
"Terserah kamu saja." Sahut Adam sesingkat itu tanpa mau berdebat lagi dengan Ashma.
...•••...
Hari-hari berlalu begitu cepat, tidak terasa pernikahan Ashma dan Adam sudah berjalan selama satu bulan. Tidak ada perubahan yang signifikan diantara hubungan mereka, tetapi Ashma terus berusaha memperjuangkan pernikahannya.
Walaupun terkadang Adam bersikap manis dan memberikan perhatian lebih kepadanya tidak menampik bahwa Ashma semakin bingung dengan hubungan mereka yang entah akan dibawa kemana.
Ashma juga merasa bahwa dia belum memiliki perasaan kepada Adam walaupun Ashma selalu berusaha untuk mencintai Adam rasa-rasa nya Ashma semakin pesimis mengingat Adam yang berubah-ubah sikapnya kadang manis, ataupun dingin bahkan acuh tak acuh.
Ashma sudah menghela napas beberapa kali, dia masih menunggu kedatangan suaminya yang sudah tidak pulang selama satu minggu. Ashma selalu menunggu walaupun dia tidak tahu apakah Adam akan pulang atau tidak, wajar saja jika Ashma sangat cemas bagaimanpun juga Adam adalah suaminya.
Apalagi Adam selalu pulang dengan pakaian yang berdarah-darah sebab dia selalu membawa luka-luka ditubuhnya, itu membuat Ashma semakin takut mengingat pekerjaan suaminya yang sangat berbahaya.
Waktu yang sudah menunjukkan pukul satu dini hari membuat matanya terasa berat dan sangat mengantuk, Ashma membaringkan tubuhnya diatas sofa sambil terus menunggu suaminya yang belum ada kepastian untuk pulang.
Namun tak lama dari itu nampak terdengar suara mesin mobil dan pagar yang terbuka, Ashma kembali membuka matanya.
"Adam..." Gumamnya dengan tidak karuan.
Ashma segera membuka pintu dan pertama kali yang dia lihat adalah wajah letih Adam. Ashma bernapas dengan lega karena kali ini Adam tidak pulang dengan darah yang selalu menempel di bajunya.
Adam membawa tubuhnya yang letih untuk masuk kedalam mansion dengan diikuti Ashma.
Adam meletakan dirinya untuk duduk di sofa, menghela napas lega sambil menyenderkan kepalanya pada tumpuan sofa.
Ashma segera menyampaikan rasa gelisah nya, walaupun disisi lain dia lega atas kedatangan suaminya tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa Ashma tetap menginginkan kejelasan dari Adam perihal pekerjaannya yang berbahaya itu.
"Aku selalu cemas Adam," Ucap Ashma mengatakan hal yang sama setiap Adam pulang dari pekerjaannya.
"Setiap kali mendapati kamu pulang dalam keadaan terluka," lanjut Ashma. Raut wajah Adam nampak tidak berekspresi apapun, dingin dan datar seperti biasanya saat Ashma mengatakan hal tersebut berulang.
Ashma mengerti akan hal itu, tetapi dia seperti tidak mendapatkan kejelasan dari hubungan pernikahannya. Ashma beberapa kali selalu berusaha memenuhi perannya sebagai seorang istri juga berjuang mempertahankan hubungan mereka yang memang dari awal sudah diawali dengan ketidak jelasan.
"Selama ini kamu menganggap aku apa Adam? Apa aku hanya istri pajanganmu yang sengaja kamu nikahi karena kesalahan dan rasa tanggungjawab mu hah?" Ashma mulai terbawa emosi.
Adam mengeratkan rahangnya mendengar penuturan Ashma, baru saja pulang tetapi istrinya sudah mau membuat keributan.
"Ashma bisakah jangan berdebat sekali ini saja? Saya mohon."
Ashma membuang wajahnya dengan kesal, tanpa berniat membuka suara lagi dia segera naik keatas untuk menyiapkan air hangat.
Adam memijat pelipisnya diikuti dengan perasaan gamang yang mendera hatinya, menukik kearah punggung Ashma yang semakin jauh menaiki anak tangga.
Beberapa saat Adam mengistirahatkan tubuhnya diatas sofa segera dia bangkit untuk pergi ke kamarnya.
Didalam kamar Adam mendapati Ashma yang sudah berbaring diatas ranjang tidur dia juga sudah terlelap, sepertinya Ashma kelelahan. Wangi itu juga sering menungguinya hingga larut kadang pula saat Adam pulang dini hari dia mendapati Ashma tertidur disofa ruang utama.
Adam segera membenarkan posisi Ashma agar dia dapat tertidur dengan nyaman. Untuk beberapa saat Adam terdiam sambil duduk disebelah istrinya. Adam memandangi Ashma yang sedang tertidur, tangannya turut mengelus wajah Ashma yang sangat menawan.
"Sejujurnya saya sangat merindukanmu, setiap hari saat saya tidak berada di mansion maupun melihat wajahmu rasanya saya tersiksa."
"Setelah malam dimana kita melakukannya, saya tidak bisa memungkiri perasaan gundah jika tidak berada di sisimu. Entah mengapa saya takut pada perasaan ini, disisi lain kamu selalu mengingatkan saya pada Lily, saya hanya kesal jika memang itu adalah bentuk pelampiasan kepadamu saya benar-benar telah melakukan kesalahan, tapi saya tidak pernah menjadikanmu seperti orang lain, kamu tetaplah Ashma."
Adam membatin lirih, dia takut jika terus menuruti kata hatinya Adam hanya akan membelenggu Ashma dan membuat dirinya semakin dalam bahaya bersama Adam, maka dari itu Adam selalu menampik hatinya untuk tidak pernah dibuka lagi, dia tidak akan pernah mencintai orang lain selain Lily.
Ashma sedari tadi sebenarnya belum tertidur dia sengaja membaringkan tubuhnya di atas kasur dan berpura-pura menutup matanya. Ashma tidak menyangka Adam akan mendatanginya dan mengelus halus pipinya hingga rasa nyaman itu berlarut membuat Ashma benar-benar mengantuk dan akhirnya dia tertidur.
"Tuhan, mengapa engkau mendatangkan perempuan ini untuk saya?" Gumam Adam yang belum mau beranjak dari sisi Ashma.
...•••...
Waktu berjalan begitu cepat hingga pagi turut menyapa mereka lagi. Seperti sekarang ditengah ruang makan, dengan hanya ada suara dentingan sendok dan garpu mendominasi keheningan yang menguasai mereka.
Bibi Marianee yang turut berada disana hanya bisa menghela napas melihat putra dan menantunya hanya diam-diam tanpa ada yang mau membuka suara, mereka seperti orang asing yang hidup di satu atap yang sama.
Tidak lama dari itu seorang lelaki bertubuh tegap dengan menggunakan pakaian serba hitam mendatangi Adam dan Ashma diruang makan, orang itu adalah salah satu pengawal Adam, Jhonny pengawal kepercayaan Adam.
Lelaki itu berbisik pada Adam hingga membuat Adam memberhentikan aktivitas sarapan pagi dengan segera beranjak pergi bersama pengawalnya tanpa mengucapkan sepatah katapun pada nya maupun bibi Marianee.
Ashma juga tidak berniat menanyainya atau sekedar membuka suara, biarkan lah Adam pergi toh dia juga masih kesal pada lelaki itu yang sampai sekarang tidak mau memberikan kejelasan perihal hubungan pernikahan mereka.
Sedangkan Adam diruang pribadinya tengah berbicara serius dengan Jhon.
"Sejak kapan?"
"Satu Minggu tuan."
Adam mengeratkan rahangnya, dia yakin yang mengirim bunga setiap hari untuk Ashma itu adalah musuhnya.
"Sial!" Adam menggebrak meja dengan keras.
"Perketat lagi keamanan di setiap sudut mansion! Jika ada buket bunga atau apapun yang datang segera laporkan padaku," ucap Adam memberikan perintah kepada Jhon.
Jhon mengangguk mengerti, segera dia pergi dari ruangan Adam untuk memenuhi tugasnya.
"Kamu adalah anugerah." Gumam Adam membaca tulisan pada surat yang tertera didalam buket, dengan perasaan dongkol Adam meremasnya dan membuang buket serta suratnya kedalam tong sampah.
"Bedebah kau Edward! Apapun yang terjadi saya akan melindungi istri saya. Saya tidak akan membiarkan peristiwa yang sama terulang lagi untuk kedua kalinya!"
#TBC