
Lily mengetuk pintu kamar Ashma, sang empu didalam sana segera membukakan pintu dan menyuruhnya untuk masuk kedalam.
“Aku ingin berbicara denganmu kakak ipar, apa boleh?” tanya lily meminta izin pada Ashma barang kali Wanita itu tengah ingin beristirahat.
Ashma tersenyum kecil dia tentu saja mempersilahkan Lily, “kamu ini bicara apa, tentu saja boleh Lily.”
Lily tersenyum kecil, mereka duduk disofa bersamaan.
"Jadi apa yang ingin kamu bicarakan denganku?" Tanya Ashma sambil tersenyum tipis.
"Aku ingin membicarakan tentang Adam, aku tidak ingin menjadi benalu diantara kalian, sungguh aku tidak ada maksud seperti itu."
Lily tidak mau ada kesalahpahaman lagi antara mereka, dia juga ingin membantu memperbaiki hubungan Adam dan Ashma karena bagaimanapun ini semua terjadi karena dirinya.
Ashma menarik napasnya dengan perasaan gamang, "tidak itu bukan salah kamu. Aku dan Adam, masalah kami bukan terjadi karena kamu."
"Iya atau tidak tapi tetap aku ikut terlibat Ashma," ujar Lily.
Ashma terdiam sejenak, “jadi apa yang ingin kamu katakan ?”
Lily menatapnya dengan penuh harap, “aku tau kamu pasti tidak suka mendengarnya tapi aku mohon, tolong kali ini percaya dengan Adam, dia sungguh telah mencintai kamu.” Ucap Lily dengan penuh permintaan atas kepercayaan Ashma, dia hanya ingin melihat mereka bahagia.
Ashma menghela napas lelah, “kepercayaanku kepadanya sudah sepenuhnya hilang Li, sulit sekali menerima nya lagi. Hatiku sangat sakit saat dia selalu saja tidak menepati janji dan ucapannya. Dia hanya memberikan harapan-harapan kosong.” Lirih Ashma, dia begitu terluka setiap kali mengingat janji dan harapan-harapan palsu yang dibuat suaminya.
“Apa kamu masih percaya bahwa Adam masih menyimpan perasaannya untukku?” tanya lily ingin sekali tahu takutnya kakak iparnya ini masih menyimpan ketakutan akan hal itu.
Ashma terdiam cukup lama, benar dia hanya takut Adam membohonginya lagi dan dia sudah tidak memiliki alasan untuk percaya kepadanya lagi.
“Bukankah itu mungkin saja, dia pernah mengatakan padaku bahwa dia tidak akan pernah lagi jatuh cinta kepada orang lain selain satu-satunya untuk dirimu, dia hanya akan mencintai dirimu dan aku merasa memang cintanya Adam padamu terlalu besar, aku tidak memiliki ruang apapun dihatinya jadi aku tidak percaya lagi kalau dia bisa membuka hatinya untuk aku, cintanya sudah habis pada orang pertama dan itu kamu Lily. Mungkin dia tiba-tiba berubah seperti itu karena ada anak diantara kami, ada bayi ini dan dia hanya tidak ingin kehilangannya.” Tuturnya dengan berderai air mata, Ashma sudah menahan perasaan ini agar tidak tumpah ruah didepan Lily tapi dia tidak bisa menahannya lagi.
Lily mendengar keluhan hatinya Ashma, dia tahu pasti tidak mudah Ashma menghadapi bagaimana kerasnya hati Adam pada saat itu.
"Aku hanya ingin kamu mengerti, aku sudah lelah bertahan disisinya, aku juga tidak serta merta memutuskan ini sendiri,"
"Maksud kamu?"
Ashma kadung membumbung perasaannya yang sakit jadi dia ingin Lily mengetahuinya juga.
"Sedari awal Adam sudah menjanjikan perpisahan Li, maka dari itu aku tidak punya alasan lagi untuk bertahan disisinya." Tukas Ashma, biarlah Lily mengetahui seperti apa sebenarnya hubungan mereka karena sejak awal saja sudah diiringi dengan huru hara.
Lily membulatkan matanya, dia terkejut karena mendengar hal seperti itu.
"Apa, apa benar dia sudah menjanjikan perpisahan denganmu?"
Ashma mengangguk lemas, dia tidak memiliki kekuatan lagi untuk menceritakan hal-hal yang memang tak seharusnya diketahui orang tentang rumah tangganya.
"Aku tidak tahu hubungan pernikahan kalian ternyata serumit ini Ashma, aku hanya berpikir ini semua karena aku dan aku ingin membantu memperbaiki nya."
Ashma segera menggeleng dan meraih kedua tangan Lily, "aku tidak pernah menyalahi mu, dan kamu jangan pernah merasa bersalah karena persoalan rumah tangga kami. Dari awal aku bertemu dengan Adam pun sampai kami memutuskan menikah memang banyak sekali hal-hal rumit yang telah terjadi."
Lily segera memeluk Ashma, wanita itu pasti sangat cape menghadapi segala biduk persoalannya apalagi dia ini tengah mengandung bahkan sampai mengalami kecelakaan hebat hingga dia koma, tapi Tuhan benar-benar maha baik padanya. Ashma masih diberikan umur panjang berserta bayi didalam kandungannya, itu adalah anugerah yang sangat luar biasa.
"Allah tahu kamu ini wanita kuat dan hebat jadi dia memberikan ujian yang hebat juga karena dia tahu kamu mampu melaluinya Ashma." Ucap Lily masih memeluk Ashma.
Ashma menangis dipelukan Lily, perasaannya yang rumit sedikit teruraikan karena perasaan mereka yang sama-sama sebagai seorang perempuan bisa mudah saling memahami.
•••
Adam dan rekannya Zavier mengintesvigsi rumah dinas seorang hakim yang terlibat dengan kejahatan Daxter, dia juga tentunya sudah mengantongi izin dari polisi.
Dia dan Zavier fokus untuk memecahkan beberapa teka teki dari pembunuhan hakim benama paul remer. Kasus kematiannya terduga bunuh diri tetapi Adam mendapati hal janggal karena penyelidikannya berbeda dengan kasus kematiannya yang beredar, dia menemukan catatan didalam koran yang selalu dibaca paul Remer setiap minggunya, lelaki tua itu sangat gemar membaca berita koran mingguan.
“Tidak kah kau berpikir ini aneh Adam, kematian paul ramer tidak sesedehana ini, tapi kenapa para polisi menyebutkan bahwa paul ramer mati karena mengkahiri hidupnya dan terlebih lagi kasus kematiannya cepat sekali ditutup?!” ucap Zavier karena merasa janggal dengan kasus kematian hakim itu.
“Hm, saya juga menemukan catatan yang ditinggalkan Paul pada koran mingguan terakhir yang dia baca,”
Zavier turut melihat catatan itu.
"Minggu kemarin saya membaca koran mingguan didepan teras sambil menyesap kopi, minggu depannya lagi saya akan terus membaca koran dan tidak akan pernah mati. Tertulis tanggal –” Zavier membacanya, keningnya mengerut.
“Ini ditulis pada seminggu sebelum dia meninggal tepat pada hari minggu dan kematiannya juga tepat pada hari minggu,” ucap Adam melanjutkan dia sedikit memahami tulisan yang sepertinya sengaja ditinggalkan oleh Paul ramer sebagai sebuah petunjuk.
“Itu artinya dia tidak pernah berniat mengakhiri hidupnya sendiri. Sial, jika benar dia dibunuh berarti isu yang beredar bahwa dia mati karena bunuh diri itu tidak benar!"
"Cih,"
"Polisi-polisi itu sepertinya sudah ditutup mulutnya oleh uang, dasar!" Zavier begitu kesal dan dongkol.
“Saya curiga pada daxter,” gumam Adam, karena bagaimanapun Adam pernah menyelidiki Paul ramer yang bekerja sama dengan daxter.
Hakim itu pernah memutuskan perkara seorang narapidana dengan kasus kejahatan pembunuhan dan pelecehan seksual pada seorang gadis muda yang terjadi di hotel Xx di fransisco dan memberikan terdakwa hukuman mati, padahal setelah Adam selidiki pelaku yang telah ditetapkan menjadi tersangka itu bukanlah pelaku yang sebenarnya karena dia terpaksa menggantikan pelaku yang asli demi melindungi keluarganya yang diancam oleh Daxter tetapi saat itu Adam terlambat memberikan bukti yang sebenarnya pada kejaksaan sehingga hukuman mati sudah selesai dilakukan saat dia masih berusaha mencari bukti yang sebenarnya.
Adam dapat menyimpulkan bahwa Paul remer bisa jadi diancam juga oleh Daxter untuk melakukan kecurangan dalam memberikan terdakwa pada kasus itu.
Selain itu juga sepertinya Paul remer sudah tidak sanggup lagi menutupi kejahatan Daxter, dia pasti memiliki bukti kejahatannya yang sangat kuat sehingga Daxter membunuhnya untuk menutupi segala jejak kriminalnya.
Adam tahu betul Paul Remer adalah hakim yang jujur, jadi dia yakin Daxter adalah otak dibalik pembunuh Paul remer.
Daxter, mafia itu begitu cerdik hingga kasus yang dia buat hilang begitu cepat jejaknya dan Adam sungguh sudah geram sekali ingin menyeret tubuhnya kedalam penjara dan segera melumpuhkannya.
“Tentu saja orang itu pasti menyuap orang-orang di kantor hukum, apalagi dia itu memiliki kekuatan dibelakangnya.” Ucap Adam, dia yakin sekali bahwa dibalik semua ini adalah ulah Daxter, manusia bengis itu memang harus segera dilumpuhkan kalau tidak akan semakin banyak korban yang berjatuhan karena perbuatan kotornya.
“Menyusahkan!” desis Zavier karena di tahu seberapa berbahayanya Daxter dan seberapa sulitnya menangkap mafia itu dengan segala akal bulus dan kecerdikan otaknya dalam mengelabui mereka.
Adam mendesah berat saat dia teringat kasus kecelakaan istrinya juga karena Daxter, dia semakin bernafsu untuk memburu Mafia keparat itu.
#TBC