
Ashma menyibukkan dirinya bersama Bibi Marianee didalam dapur dengan membuat kue. Mereka pun sesekali bersenda gurau, menceritakan hal-hal menarik dan lucu.
Ashma merasa sangat bahagia bisa bertemu dengan bibi Marianee, dia sangat merindukan kasih cinta dari seorang ibu yang sudah lama tidak dia dapatkan.
Tanpa sadar air mata Ashma menetes, bibi Marianee yang melihat itu segera mendekati Ashma.
"Sayang kamu kenapa menangis?" Tanya bibi Marianee khawatir.
Ashma menggeleng sambil menyeka air matanya, "aku hanya merindukan ibuku." Bibi Marianee memeluk Ashma, mengelus halus punggungnya.
"Sangat berat pastinya bagi seorang anak ditinggalkan sosok seorang ibu, mama tahu rasanya dan itu tidak mudah," ujar bibi Marianee begitu halus.
Beberapa saat mereka saling merengkuh. Bibi Marianee memahami perasaan Ashma, menantunya pasti sangat merindukan sosok ibunya.
Ashma yang merasakan perasaan sedih sehingga membuat dadanya sesak beberapa saat lalu seketika telah menyusut saat dia menuahkan-nya dipelukan bibi Marianee.
Ashma segera melepas perlahan pelukan tersebut dan menyeka air matanya.
"Maaf Ma, aku malah menangis," Ashma merasa bersalah karena dirinya malah menangis padahal sebelumnya sedang bersenda gurau dengan bibi Marianee.
"Tidak apa-apa sayang, perasaan rindu itu normal untuk kita, manusiawi."
Seperti mendapatkan suntikan positif, Ashma tersenyum senang. Sekali lagi dia peluk bibi Marianee begitu antusias.
"Sudah-sudah sayang, nah sekarang lebih baik kamu siapkan kue yang kamu buat ini untuk suamimu."
Ashma mengangguk paham segera dia siapkan kue yang sudah dia buat kedalam piring, Ashma pamit pada bibi Marianee untuk menemui Adam.
"Semoga Adam menyukai kue buatanku." gumam Ashma sambil berjalan menuju ruang kerja Adam berharap suaminya itu menyukai kue buatannya.
Dengan perlahan Ashma mengetuk pintu Adam, mendapati suara Adam yang mempersilahkannya untuk masuk, segera Ashma melangkahkan kakinya.
Ashma mendapati Adam yang tengah memeriksa dokumen-dokumen yang sangat banyak menumpuk diatas mejanya, lelaki itu juga menggunakan kaca mata membuat karismanya menyeruak begitu kentara. Ashma tidak bisa memungkiri bahwa Adam benar-benar sangat tampan.
"Aku membuat kue dengan mama, juga membuatkannya untukmu," ucap Ashma dengan suara yang sayup-sayup membuat Adam segera memusatkan matanya untuk melihat Ashma. Sepertinya wanita itu sudah tidak merajuk lagi padanya.
Adam bangkit dari tempat duduknya untuk segera mendekat diri pada Ashma. Setelah berada dihadapan Ashma, Adam membawa Ashma untuk duduk di sofa. Ashma merasakan tangan besar Adam yang menyentuh pinggangnya dengan lembut.
"Kamu habis menangis?" Tanya Adam mendapatkan mata Ashma yang sembab.
Ashma mendapati raut wajah Adam yang menghangat tidak dingin seperti biasanya.
"A-aku hanya merindukan Ibuku," cicitnya dengan wajah bersemu karena ditatap penuh perhatian oleh Adam.
Adam manggut-manggut kecil lalu pandangannya beralih pada kue yang Ashma letakan diatas meja.
"Bolehkah saya mencicipinya?"
Ashma segera mengangguk, "ini memang untukmu, cobalah."
Adam mengambil satu potong kue cokelat kesukaannya. Dengan mata yang berbinar dia segera menyantap kuenya dengan perlahan-lahan, tidak lupa Adam juga beroda terlebih dahulu membuat Ashma semakin terkesima.
Saat Adam mendapatkan gigitan pertamanya dia langsung terdiam sesaat sambil merasa-rasa kue didalam mulutnya.
Ashma menunggu-nunggu pendapat Adam tentang kue yang dia buat itu, ada perasaan sedikit cemas karena takut Adam tidak menyukainya.
Adam yang mendapati wajah Ashma mendambakan sesuatu, lantas terkekeh kecil karena wajah istrinya itu sangat menggemaskan.
"Kenapa kamu tertawa, apa kuenya tidak enak?" Ashma menerka-nerka.
Adam menggeleng pelan, "bukan karena itu tapi karena wajahmu yang begitu mendamba sesuatu seperti anak kecil, itu sangat menggelitik perutku."
Ashma yang mendengar penuturan Adam seketika merasa sangat malu.
"Nah bagaimana rasanya? apakah enak?" Tanya Ashma sekali lagi begitu antusias seperti anak kecil yang ingin diberikan pujian.
Adam belum menjawab, lelaki itu malah mengambil lagi potongan kue di piring dan segera melahapnya.
"Adam aku bertanya..." Rengek Ashma dengan kesal.
"Hmm," Adam hanya berdehem sebagai jawaban namun tidak memuaskan bagi Ashma.
Adam yang mendapati wajah Ashma yang menampilkan ekspresi kesal segera mengambil satu potong kue lagi, namun kini dia memberikannya untuk Ashma.
"Pasti kamu belum mencicipinya," Ashma mengambil kue dari tangan Adam, kemudian dia mencobanya dengan perlahan-lahan.
Ashma merasa-rasa kue buatannya sendiri, dia rasa kuenya enak hanya saja rasanya kurang manis dan memang sesuai yang diberitahukan oleh Bibi Marianee bahwa Adam tidak terlalu suka manis.
"Kuenya sangat enak Ashma, kamu juga menggunakan pemakaian gula yang tidak terlalu banyak, pas di mulutku."
Mendengar komentar positif dari Adam, Ashma tersenyum senang, "Mama yang memberitahuku katanya kamu tidak terlalu suka manis."
Adam manggut-manggut lalu perhatiannya berpusat pada bibir Ashma yang terdapat bekas remahan kue menempel disudut bibirnya.
Adam mengusap sudut bibir Ashma begitu lembut, dia menyingkirkan sisa-sisa kue dibibir Ashma. Ashma yang merasakan sentuhan lembut tangan Adam di bibirnya membuat darahnya berdesir.
Seakan ada simfoni mendamba diantara keduanya membuat ruangan kerja Adam hening. Mereka saling memandang satu sama lain dengan perasaan yang bergejolak.
Mereka saling mendekatkan diri memperpendek jarak hingga dapat merasakan deru napas masing-masing seperti tersihir oleh suasana yang romantis.
Mengikis jarak yang sudah satu centi meter, lalu kedua insan itu saling berpagutan penuh kelembutan hingga keduanya merasa hilang akal dan berubah menjadi liar.
Ditengah-tengah aktivitas mereka yang panas, Ashma terlebih dulu menyadari bahwa pintu ruang kerja Adam belum dikunci maka dari itu dia melepaskan pagutannya dengan Adam dan mendorong sedikit keras dada bidang suaminya.
"Apakah saya boleh melakukannya?" Ucap Adam meminta izin pada Ashma, matanya mengkilat-kan gairah yang menginginkan lebih.
Adam merasa bahwa dia seingin itu melakukan ibadah halal dengan istrinya yang entah sejak kapan membuat dirinya kecanduan hingga dengan berani-beraninya membuat Adam lupa dengan janjinya pada untuk tidak lagi menyentuh Ashma, ternyata tubuhnya selalu berkhianat kejam.
Ashma yang mendapati keinginan suaminya itu bersemu merah menahan malu, dia juga mengangguk kecil sebagai jawabannya.
Adam mengulurkan tangannya membuat Ashma kebingungan, bukannya Adam mau mengunci pintu mengapa dia malah mengulurkan tangannya.
"Apakah kamu berpikir kita akan melakukannya disini?" Ujar Adam menerka-nerka.
"Saya si tidak masalah mau melakukan dimana pun tapi apakah kamu mau?" Lanjut Adam dengan kata-kata yang sangat frontal dan menggelikan bagi Ashma.
"Tidak! lebih baik kita lakukan-nya dikamar!" Ucap Ashma dengan cepat tanpa menyadari ucapannya, Adam tersenyum kecil membuat Ashma yang tersadar semakin malu dan membuang wajahnya kesembarang arah.
"Duh aku ngomong apa sih?!!" Batin Ashma seakan tidak memiliki harga diri lagi didepan Adam.
Uluran tangan Adam yang sudah mengudara lama akhirnya disambar juga oleh Ashma, wanita itu mengikuti langkah besar suaminya dengan wajah yang bersemu merah.
Saat sudah sampai didalam kamar mereka, Adam segera mengunci pintunya. Ashma mulai merasa gelisah pasalnya dia akan melakukannya lagi dengan Adam dan Ashma sangat bingung apa yang harus dia lakukan ditengah-tengah atmosfir berbahaya yang akan terjadi nanti.
"Apa kamu gelisah dan takut?" Adam membuka suara mendapati istrinya terlihat gugup.
"Saya tidak akan melakukannya jika kamu tidak mengijinkan," ucapnya melanjutkan sambil menyenderkan bahunya pada dinding pintu.
Ashma memilin-milin hijabnya, dia juga tidak berani menatap Adam.
"A-ayo kita lakukan," cicit Ashma terbata-bata. diaa menberanikan diri untuk menatap Adam dari jarak yang cukup jauh.
"Sekarang pukul sembilan, tenanglah Ashma saya akan berhenti sebelum Dzuhur," Adam melangkah mendekati Ashma setelah mendapatkan persetujuan dari istrinya.
Ashma ditempatnya sebisa mungkin menetralkan napas dan wajahnya yang terasa panas.
"Tenang Ashma tenang, bagaimanapun juga ini adalah kewajiban mu!"
Setelah sampai didepan istrinya Adam segera mengucapkan doa diikuti dengan Ashma. Adam dengan perlahan menyentuh kedua pipi Ashma begitu lembut sehingga membuat sang empu merasakan desiran aneh didalam tubuhnya.
Adam melepaskan hijab panjang Ashma dengan sangat hati-hati. Rambut hitam Ashma yang terikat dia lepaskan perlahan, ikatan di rambutnya juga lepas lalu Adam dapat menghirup aroma wangi dari rambut istrinya, membuat Adam mabuk kepayang dengan rasa membuncah ingin segera mendapatkan jatahnya.
Tanpa menunggu waktu lagi Adam segera menyambar bibir menggoda Ashma. Mereka saling berpagutan, merasakan simfoni mendamba satu sama lain hingga akhirnya melakukan ibadah yang sudah halal bagi keduanya.
Beberapa waktu mereka melakukannya hingga akhirnya mencapai puncak kenikmatan masing-masing. Adam menepati janjinya untuk berhenti sebelum Dzuhur maka dari itu mereka segera membersihkan diri.
Ashma sangat terharu, entah rasa-rasanya dia tidak bisa menguraikan nya dengan sederhana, yang jelas Ashma sangat bahagia bisa melakukan ibadah suami-istri dengan Adam.
Sekarang mereka sudah menunaikan sholat Dzuhur berjamaah.
Ashma semakin penasaran dengan sosok Adam, seorang mualaf yang baru sekitar satu bulan namun sudah mengenal Islam sangat baik.
Ashma menyalami tangan Adam dengan hidmat, lelaki itupun setelahnya memandangi Ashma dengan tatapan tidak terbaca.
Sekilas Adam melihat Lily dalam diri Ashma. Ketulusan Ashma yang membuat Adam selalu terpesona dengannya seperti mendiang kekasihnya. Tetapi walaupun begitu mereka tetaplah berbeda. Lily adalah cintanya sedangkan Ashma adalah tanggungjawab nya, terdengar sangat kejam memang tetapi jujur saja sampai saat ini yang ada dihatinya hanya Lily seorang.
Tidak akan mampu Adam melupakan mendiang kekasihnya yang telah banyak berkorban untuk dirinya, bahkan disaat-saat terakhirnya Adam selalu mengingat hal menyakitkan itu.
"Aku penasaran denganmu Adam," Ashma membuka suara hingga memecahkan pikiran-pikiran Adam tentang Lily.
"Kau ingin tahu apa?" Tanya Adam pada intinya.
"Aku ingin tahu sedikit latar belakangmu bisa mengenal Islam," ujar Ashma menjelaskan keingintahuannya.
Adam tersenyum sekilas lalu pandangannya berlaih menuju pada jendela, melihat langit yang sangat biru.
"Saya yakin Mama sudah menceritakan sedikit latar belakang hidup saya pada saat saya masih kecil," Ashma yang sudah mengetahuinya manggut-manggut kecil.
"Saya dibesarkan dengan keluarga yang sangat menjunjung toleransi, keluarga Bibi Marianee, mama saya seorang muslim yang taat tetapi dia tahu cara memberikan kebutuhan spiritual kepadaku sesuai dengan apa yang saya percayai juga karena sebelumnya terlahir dari keluarga Kristen yang taat.
Walaupun kedua orang tua saya sudah tidak ada, mama rela membesarkan saya dengan tulus dirumah kecilnya dulu di Amerika, bersama dengan anak kandungnya tanpa seorang suami.
Saat umur saya 10 tahun saya mulai mengenal Islam, pada saat mama membaca sesuatu yang membuat hati saya begitu damai, dan pada saat itu saya mulai tertarik dengan apa yang dia baca.
Mama memberitahu saya kitab yang selalu dibaca umat muslim, beliau menjelaskan banyak tentang Islam karena saya selalu penasaran dan bertanya banyak kepada bibi Marianee.
Tidak ada keluhan yang keluar dari mulut Mama saat dia membesarkan saya. Saya sangat menyayangi Mama maka dari itu dengan keadaan yang serba kekurangan saya memutuskan untuk membantu Mama bekerja di ladang tetangga miliknya, merasakan kerasnya kehidupan.
Walaupun begitu, Mama tetap menyekolahkan saya yang bukan anak kandungnya sampai saya bisa melanjutkan studi pada salah satu universitas di Amerika.
Kehidupan kami berangsur membaik karena saya sudah bisa mendapatkan uang sendiri, dan akhirnya saya memutuskan untuk bekerja menjadi seorang agen rahasia yang ditentang keras oleh Mama. Tetapi demi batu loncatan untuk balas dendam pada pria bedebah itu saya harus melakukan pekerjaan yang sekarang masih saya geluti ini.
Tanpa saya sadari saya telah banyak mengundang hal-hal berbahaya bagi keluarga saya, sampai suatu ketika orang yang saya cintai harus pergi karena ambisi saya, dia tiada didepan mata saya. Namun setelah kepergiannya, ambisi saya untuk balas dendam pada pria itu semakin besar, ini juga salah satu alasan mengapa saya selalu melarang kamu untuk keluar."
Ashma terkejut dengan penuturannya yang mengatakan bahwa Lily sebenarnya sudah almarhum, berarti wanita yang dicintainya itu sudah tiada.
Namun Ashma tidak terlalu memahami perkataan terakhir Adam, "Maksudmu?"
Adam menatap Ashma dengan tatapan sayunya, "dia telah merenggut kekasih saya, Lily dan sekarang pria bedebah itu juga menginginkan kamu Ashma."
Ashma terkejut mendengar alasan Adam yang selama ini selalu tidak memberikan izin pada Ashma untuk keluar dari Mansion nya. Tetapi Ashma belum begitu paham sebenarnya mengapa pria yang dimaksud oleh Adam itu menginginkannya seperti wanita yang dia cintai.
"Aku masih belum mengerti, tolong jelaskan! Sebenarnya mengapa pria yang kamu maksud itu menginginkan aku?"
#TBC